GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Pembunuhan pertama


__ADS_3

Malam ini tiba-tiba saja Franck menelpon Milano. Ntah kenapa nada bicara pria itu terdengar sangat marah bahkan Milano yang mendengarnya ikut merasa gelisah.


"Pulang sekarang, Jika kau masih mau melihatku!!"


Milano membisu. Latizia yang tadi ada di dalam mobil mendengar suara keras Franck yang tak biasanya sampai membentak seperti itu.


Ekspresi wajah Darren yang ada di samping Milano juga terlihat tegang.


"Milano!!"


"Aku akan pulang," Datar Milano tapi ada rasa hormat dan patuh di dalamnya.


"Bisa-bisanya kau membohongiku!!"


"Kak! Aku.."


"Kau sekarang di Madison-kan? Apa yang kau cari sana, ha?! Apa kau tak menganggap-ku kakakmu lagi?" Suara marah dan kecewa Franck yang terdengar memburu dan sangat menakutkan.


Milano menatap tajam Darren yang menggeleng cepat seakan mengatakan jika ia tak pernah memberitahu Franck soal keberadaan prince-nya.


"Milano!!"


"Aku pulang!" Tegas Milano hingga panggilan itu dimatikan oleh Franck.


"Prince! Aku bersumpah tak pernah memberitahu pangeran soal ini."


"Kenapa?" Tanya Latizia yang keluar dari mobil. Ia berdiri diantara Milano dan Darren dengan jas besar milik Milano terbalut ke punggungnya.


"Pangeran tahu jika prince ada di Madison. Dia marah besar, nona!"


"Bagaimana bisa?!" Gumam Latizia tak percaya itu. Selama ini Milano selalu berhati-hati bahkan anggotanya tersebar di seluruh penjuru untuk menjaga rahasia itu.


Milano yang diam dengan ekspresi tenang tak berubah memandang jauh ke area pantai. Yah, mereka masih di resto karena olahraga berat yang menghabiskan banyak waktu.


"Prince! Aku akan mencari tahu semua ini!" Ucap Darren segera pergi agak menjauh untuk menghubungi anggota mereka.


Sekarang tinggal-lah Milano dan Latizia yang tahu jika elang Madison ini tengah gelisah.


"Tenanglah! Kakakmu pasti baik-baik saja."


"Ini tak pernah terjadi," Gumam Milano masih tegas dan penuh wibawah.


"Mungkin kakakmu tak sengaja membaca berita soal kau dan.."


"Apa aku seceroboh itu?!" Tanya Milano dan Latizia langsung diam. Ia mulai paham, apa yang di pikirkan Milano soal ini adalah orang yang ada di balik pemerintahan gelap Madison.


"Dia sudah bergerak. Dan tahu keberadaan kakakku!"


"Mungkin, karena kondisi kerajaan Madison sekarang tak stabil. Jadi, dia ingin menyerang-mu untuk membalikan situasi."


Milano mengambil nafas dalam. Ia sudah punya satu rencana besar tapi jika sekarang Franck tahu ia ikut terlibat dalam kekacauan Madison, maka Milano tak bisa menjamin akan bisa keluar dari kediaman dengan leluasa.


"Milano! Delvin sudah tiada dan sekarang hanya kau yang tersisa di mata mereka. Mungkin, untuk mencegah- mu naik tahta dia membuat pengalihan."


"Orang ini sangat jeli," Gumam Milano menatap wajah serius Latizia yang ternyata juga pengamat yang baik.


"Tunggu, jika Raja Barack dan Ratu Clorris masih ada di departemen kepolisian lalu istana sekarang di pimpin oleh siapa?"


"Para pejabat berotak kosong!" Jawab Darren yang datang karena sudah selesai bicara dengan anggota mereka.


"Lalu, kenapa kalian tak bergerak? Ini waktunya kalian mengambil alih kerajaan Madison!"


Ucapan Latizia hanya di jawab keheningan. Milano tak ada niat untuk menjelaskan begitu juga Darren yang seperti tak mau buka suara.


"Kalian merahasiakan sesuatu dariku?"


"Angin di luar dingin," Ujar Milano membuka pintu mobil dan mendorong pelan Latizia yang tak mengerti dan terus bertanya.


"Kenapa? Apa yang terjadi di istana?"


"Merpati murahan-mu sudah di pindahkan," Ucap Milano segera menutup pintu mobil.


Latizia akhirnya mendengus. Ia bersandar di kursi mobil menatap ke arah depan dimana ada lampu-lampu resto yang masih menyala.


Namun, sesaat kemudian ada kabut yang cukup tebal tiba-tiba datang menyelimuti area sekitar.


"Aku rasa udara dingin di luar tak begitu beku sampai ada kabut seperti ini," Gumam Latizia semakin memperjelas penglihatannya dan ia melihat ada beberapa bayangan yang berlalu kilat dan sangat cepat.

__ADS_1


"Milano!" Panggil Latizia ke area jendela mobil dan Milano tak ada di sana. Latizia yang bingung mencoba membuka pintu mobil tapi terkunci.


"Kemana mereka?!" Gumam Latizia memukul-mukul ringan kaca mobil dan melihat area di sekeliling mobil yang terasa menyeramkan.


"Milano!!! Kau jangan main-main!!" Pekik Latizia mulai gelisah karena ini benar-benar sunyi.


Tak ada siapapun selain dia bahkan resto yang tadi siang menjadi tempat bercinta-pun sudah seperti rumah hantu yang lengang.


"Aku merinding."


Latizia mengusap tengkuknya bergidik. Ia menyalakan ponsel mencari kontak pria itu tapi segera mengumpat saat lupa jika ia tak pernah mau menyimpan nomornya.


Karena tak tahan menunggu disini, Latizia membungkukkan tubuhnya pergi ke area depan kemudi menonaktifkan kunci pintu mobil.


"Syukurlah!" Gumam Latizia saat pintu mobil itu bisa di buka. Ia segera keluar dan melihat kiri kanan tak ada lagi jejak dua manusia itu.


"Milanoo!!!" Panggil Latizia seraya mengeratkan jas di punggungnya. Udaranya terasa lebih dingin dari yang tadi. Suara ombak pantai juga meningkat nyaring dengan embun yang menempel di kaca mobil.


"Dia mengerjai-ku lagi?! Yang benar saja," Gumam Latizia kesal bukan main. Ia berjalan ke area depan mobil yang masih di selimuti kabut misterius.


Di setiap langkah kakinya Latizia merasa di ikuti, ia melirik ke belakang dengan perasaan waspada lalu berbalik cepat.


"Siapa???" Tanya Latizia menajamkan matanya. Tak ada orang sama sekali bahkan hanya sekumpulan kabut yang bertebaran seperti baru di tembus seseorang.


Jelas-jelas aku merasa ada seseorang di belakangku tapi kenapa menghilang?! Pikir Latizia dengan indra pendengaran serta penglihatannya yang menajam.


Ntahlah, Latizia jadi bisa mendengar suara ombak dengan lantang dan hembusan nafas seseorang di sekitarnya. Makin lama terasa jelas bahkan langkah kaki menginjak tanah yang nyaring membuat Latizia segera menoleh.


"A..ada denganku?!" Gumam Latizia bingung dengan semua indra di tubuhnya. Semuanya jadi sensitif dan peka terhadap apapun yang ada di sekitar.


Brugh..


Latizia terkejut saat ada sesuatu yang menghantam mobil dengan keras sampai lampu benda baja itu menyala dan berbunyi.


Suasana sangat terasa tegang dan genting. Latizia perlahan berjalan ke area samping mobil dengan jantung berdegup tak karuan.


"M..milano! A..apa itu kau?" Tanya Latizia dengan kedua tangan meremas pinggiran dressnya dan..


Degg..


Latizia melihat ada tubuh seseorang yang sudah berlumuran darah tergeletak di dekat ban mobil. Latizia pucat menutup mulutnya dengan langkah mundur ketakutan.


"Aku disini!"


"Kau.."


Latizia yang berbalik seketika terperanjat saat melihat sesosok pria bertubuh tinggi yang memakai pakaian serba hitam dengan wajah di tutupi kain.


"K...kau siapa?"


"Aku akan melenyapkan-mu," Desis pria itu memeggang pisau yang sudah berdarah. Latizia mundur perlahan dengan tubuh mendingin.


"A..apa yang kau inginkan?"


"Nyawamu," Geramnya langsung menyabetkan pisau itu ke arah wajah Latizia yang mengelak merapat ke depan mobil.


"D..dimana Milano? A..apa yang kau lakukan padanya?" Gemetar Latizia cemas jika Milano dalam bahaya.


Pria tinggi besar menakutkan itu seperti menyatu dalam gelap. Latizia sungguh takut tapi disini tak ada siapapun.


"Hubungan kalian tampak spesial."


"Dimana dia?? Apa yang kau lakukan padanya, ha?" Bentak Latizia tapi pria itu tak bisa di ajak bicara.


Ia menarik lengan Latizia yang memberontak kuat menendang ************ pria itu lalu merebut pisau yang ada di tangannya.


"Kau..kau jangan mengusikku!!" Ancam Latizia mengacungkan pisaunya.


Pria yang tadi tertolak mundur karena terjangan kaki jenjang itu kembali berdiri. Ia melihat Latizia tak bisa memeggang pisau untuk melenyapkan seseorang.


"Kau bukan pembunuh."


"MENJAUH DARIKU!!" Tekan Latizia mundur saat pria itu terus melangkah mendekat.


"Bunuh jika kau berani!"


"Menjauh dariku," Gumam Latizia terus mundur. Nyatanya pria itu tak punya kesabaran lebih.

__ADS_1


Ia dengan cepat menarik tangan Latizia yang memberontak ingin menendang di bagian tapi pria itu memutar lengan Latizia ke belakang hingga lengan wanita itu tertekuk.


"Lepasss!!"


"Lihat, bagaimana aku mengeluarkan isi perutmu?!" Bisik pria itu mengambil alih pisau di genggaman Latizia yang melihat perutnya ingin di sobek dan..


"JANGAN SENTUH PERUTKUUU!!!" Teriak Latizia berbalik cepat mengarahkan tangan pria itu untuk menggorok lehernya sendiri.


Darah menyembur membasahi tangan Latizia yang terkejut langsung gemetar kala pria itu jatuh tepat di depan kakinya.


Wajah Latizia pucat dan matanya mengigil menatap mayat pria di depannya dan darah yang menyembur di tangan dan pakaiannya.


"A..aku m..membunuhnya!" Lirih Latizia mundur dengan mata berair.


Milano yang melihat di belakang sana hanya diam setia dengan wajah datarnya. Ia tak berniat membantu Latizia walau tangannya gatal untuk mematahkan leher pria itu.


"Prince! Kenapa kau tak membantu nona?!" Tanya Darren yang tadi menyelesaikan para mata-mata yang lain bersama Milano yang dalam sekejap menumbangkan seluruhnya.


Tapi, saat ada satu musuh yang mendekati Latizia tiba-tiba saja Milano diam mengamati dari balik kegelapan.


"Prince! Nona pasti sangat ketakutan. Dia tak pernah melakukan itu sebelumnya."


"Dia harus terbiasa," Jawab Milano tegas dan barulah berjalan mendekati Latizia yang bersandar di body mobil seperti menahan bobot tubuhnya.


Melihat kedatangan Milano, tentu saja Latizia linglung dan gemetar.


"M..milano! Aku..aku m..membunuh orang. Aku.."


"Tenanglah!" Ucap Milano mengusap pipi Latizia yang tampak sangat panik.


"A..aku membunuhnya! Aku..Milano aku membunuh, hiks!"


"Dia pantas untuk itu," Tegas Milano segera menggendong Latizia ke arah bibir pantai.


Latizia tampak masih syok. Ia terus memandang tangannya yang penuh darah dengan mata berair.


Milano paham perasaan Latizia karena inilah yang terjadi ketika orang awam pertama kali membunuh sesamanya.


"Bersihkan tanganmu!"


"Milano! Aku..aku membunuh. D..dia manusia, dia.."


Milano mendudukkan Latizia di atas batu yang cukup besar di dekat bibir pantai dan memeggang kedua pergelangan tangan wanita itu.


"A..aku membunuhnya. Aku.."


"Tatap mataku!" Pinta Milano membuat pandangan keduanya beradu. Ada rasa takut, panik dan kecemasan yang besar manik ungu mistik itu bahkan terguncang kuat.


"Latizia! Dunia indah yang di buat dan di ceritakan oleh ayahmu sudah berakhir!"


Latizia diam dengan bibir bergetar dan air mata mengalir di pipinya. Milano seakan membaca isi pikiran dan apa saja yang terjadi di hidupnya selama ini.


"Bangun dari dunia dongeng itu. Lihat kenyataan di dekatmu, paham?"


"A..aku.."


Latizia tak bisa berkata-kata. Ia selama ini hidup di kerajaan Garalden yang penuh cinta dan kasih sayang ayah dan ibunya.


Latizia tak boleh membunuh seekor semut sekalipun karena menurut pengajaran ayahnya, seluruh mahluk di dunia ini punya kehidupan seperti mereka.


"Sekarang kau tengah di buru oleh kematian. Siapapun bisa menjadi malaikat maut bagimu, SEMUANYA!"


"Milano, hiks!" Isak Latizia menyandarkan kepalanya ke bahu kokoh itu. Tekanan batin yang Milano rasakan dalam diri Latizia begitu kuat tapi wanita hanya meredamnya selama mungkin.


"Aku tahu. Ayahmu pasti mengatakan jika membunuh itu adalah dosa besar tapi, jika kau di kepung ribuan hewan buas kau tak ada pilihan lain."


"A..apa yang harus-ku lakukan, hiks? A..aku sendirian!"


Milano mengusap kepala Latizia. Ia menangkup wajah sembab wanita itu dalam raupan tangan kekarnya.


"Kau tak sendirian. Harapan ayah, ibu dan seluruh rakyat Garalden ada bersamamu. Jangan kecewakan mereka!"


Latizia diam dengan pandangan yang mulai lebih tenang. Bicara dengan Milano memang merusak pikiran tapi pendapat pria ini adalah kenyataan sebenarnya.


"Bersihkan dulu tanganmu!"


.........

__ADS_1


Vote and like sayang..


__ADS_2