
Perkataan Milano barusan terbayang-bayang oleh Franck sampai ke titik terdalam benaknya. Ia tak bertanya lebih lanjut takut kecewa akan kenyataan hingga, Franck memilih pergi untuk menyibukkan dirinya.
Tapi, seorang Latizia mana mungkin hanya diam saja. Ia mencecer Milano dengan pertanyaan ganda bahkan tak mau melepaskan pria tampan itu sebelum menjawab kebingungannya.
Masih di ruang tamu istana yang luas, Latizia tak peduli dengan para pelayan yang membersihkan serpihan porselen di lantai.
"Petani apa? Siapa wanita itu?"
"Kenapa kau sangat ingin tahu?" Tanya Milano menatap intens manik ungu mistik Latizia.
"Dia calon kakak iparku. Jelas aku penasaran."
Sebelum menjawab, Milano lebih dulu menghela nafas. Ia bersandar ke sofa mengusap-ngusap paha Latizia yang terus menunggu.
"Dia adalah wanita yang dulu menolong kami. Kau ingat jika kakak melarikan diri dari istana bersamaku?"
Latizia mengangguk dengan wajah serius. Ia tak ingin menyela apapun kisah yang di ceritakan Milano.
"Saat lari dari istana, jelas kami di kejar habis-habisan. Panglima Ottmar saat itu hanya bisa melindungi dari dalam istana dengan kedoknya pengabdi raja. Hanya kakak yang pergi melarikan diri di tengah keterbatasan tubuhnya yang cacat. Dia masuk ke hutan menggendongku yang baru berusia 3 tahun dan melarikan diri dari kejaran prajurit istana."
"Lalu?" Latizia cukup frontal dan tegang.
"Saat itu dia merasa putus asa. Hutan gelap di jelajahi semakin terasa menakutkan untuk kakak sampai, dia menerobos semakin jauh hingga terjatuh ke dalam jurang."
Latizia syok. Ada rasa empati, iba bahkan tak menyangka jika Franck dan Milano akan menjalani hal seburuk itu.
"Awalnya kakak pikir dia akan mati tapi, masih sempat melindungi-ku dari ringkukan tubuh kecilnya. Terus bergulir sampai dia terdampar ke tepi sungai asing. Saat itu aku menangis karena kakak tak sadarkan diri. Tak ku sangka tangisan itu di dengar oleh anak kecil seusia dengan kakak yang tengah mencari ikan di sekitar sungai."
"Jadi, anak itu menolong kalian?"
Milano mengangguk. Ia tahu itu karena mendengar cerita Franck dan tumbuh sampai usianya 7 tahun di sana.
"Anak itu punya penampilan sederhana. Dia memanggil ayahnya yang sedang mencari ikan dan membawa kami ke rumah mereka yang tak jauh dari sungai. Hanya ada gubuk satu-satunya di sana dan terpelosok. Anak itu yang merawat Franck dan aku sampai kakak siuman. Dia juga sangat baik dan hangat. Dia orang pertama yang mengajak kami berkebun karena mereka memang petani handal."
"Lalu, bagaimana bisa berpisah?" Tanya Latizia masuk dalam cerita Milano.
Sebelum menyambung ceritanya, Milano tampak sangat geram dan marah. Masih ada luka masa lalu yang terkubur dalam manik coklat pekatnya.
"Suatu malam tiba-tiba ada penyerangan. Kakak yang saat itu tidur juga terbangun mendengar suara riuh dan ramai dari luar. Saat keluar kamar kecil itu, kakak syok melihat prajurit kerajaan datang mengepung gubuk. Di sana ayah anak itu di pukuli karena tak mau memberitahu soal kami sampai gubuk itu di bakar. Kakak ingin keluar dan saat itu umurku sudah 7 tahun, masih terlalu belia menghadapi prajurit istana. Alhasil, ayah anak itu mengisyaratkan agar putrinya membawa kami lari dari hutan. Anak itu bersedia mengantar sampai ke area paling aman yang dekat dengan perbatasan hutan dan kota tapi, dia tak ikut," Jelas Milano dengan tatapan mulai berkabut sesal.
"Dia anak yang baik," Gumam Latizia merasa sangat kagum.
"Dia pamit pada kakak dan aku dengan menangis dan tampak berat hati. Dia juga memberikan sisa tabungan yang sempat ia bawa dan di berikan pada kakak yang saat itu tak mau menerimanya. Kau tahu Latizia?! Saat itu aku melihat kakak benar-benar terpukul dan aku tak bisa berbuat apa-apa." Milano mengepalkan tangan erat.
Latizia beralih mengusap dada bidang Milano yang pasti merasa benci dengan situasi itu.
"Semuanya sudah berakhir. Kau menyelesaikan dengan baik."
"Aku ingat saat kakak terpaksa pergi dan mau tak mau menerima uang yang di berikan anak perempuan itu ia sampai menangis membawaku pergi ke kota. Untung saja panglima Ottmar cepat menemukan kami dan membawa pergi ke luar negara ini. Di sana kakak berjuang keras di dukung panglima Ottmar sampai memulai bisnis kecil dengan kemampuannya."
Latizia merenung. Ia memeluk Milano yang pasti begitu merasa bersalah saat itu tapi, ia juga punya masanya sendiri.
__ADS_1
"Semuanya sudah berakhir dengan baik. Mereka juga menerima ganjarannya."
"Aku ingin kakak juga bahagia. Dia pantas mendapatkan lebih dari itu," Gumam Milano membenamkan wajahnya ke dada lembut empuk Latizia yang menjadi tempat paling bisa membuatnya tenang.
Terutama pelukan dan belaian tangan wanita itu di kepalanya. Sulit bagi Milano menepis rasa cintanya yang hebat terhadap Latizia.
Beberapa lama kemudian, Latizia melihat para pelayan yang tak ada lagi di sudut sana.
"Milano!"
"Hm?" Mengangkat wajahnya dari dua bantalan empuk itu.
"Dimana wanita itu?"
"Aku sudah mengatur pertemuannya. Tapi, mungkin ada yang salah disini," Gumam Milano berpikir.
"Begini saja, aku akan menemui wanita itu dan kau urus kakak Franck. Kita adakan makan malam di luar, bagaimana?"
"Mereka bisa bertemu tanpa kita," Malas Milano tak mau ikut campur terlalu jauh.
"Ayolah! Dengan kepribadian kakakmu yang sangat santun dan tak bisa memulai itu kau yakin mereka bisa bicara dan berdekatan?!"
"Tapi,.."
"Susst!! Kau tenang saja. Aku akan urus semuanya," Sela Latizia mengecup bibir Milano kilas lalu bergegas pergi.
Milano memandang dengan hampa tapi juga tak masalah akan hal itu.
Ia bangkit dari duduknya dan segera pergi ke luar ruang tamu. Suasana istana memang berbeda dari sebelum baby Arch lahir.
"Prince!"
Darren yang datang dari arah pintu utama. Pria muda dengan perawakan lebih enerjik itu tampak membawa dua undangan pernikahan yang mewah.
"Prince! Ada berita baik."
"Hm. Katakan!" Titah Milano dengan kedua tangan masuk ke saku celananya angkuh.
"Prince! Ini undangan pernikahan pangeran Ximus dan putri Athena."
Milano tak begitu merespon lebih. Wajah datar tampan yang angkuh itu sangat acuh tapi, tak bisa menyembunyikan jika ini kabar baik yang cukup menghibur.
"Baguslah. Lebih cepat lebih baik."
"Tapi, kalian di undang secara terpisah. Ini khusus untuk nona Latizia dan ini untukmu."
Memperlihatkan dua undangan dengan desain berbeda. Hal itu sudah pasti di berikan oleh sepasang pengantin yang tak rela menikah.
Undangan Latizia lebih feminim bahkan sangat mewah dari segi perniknya. Sedangkan milik Milano lebih cool tapi seperti menyimpan pesan masa lalu.
"Buang saja!"
__ADS_1
"Prince! Kau yakin tak mau menunjukan pada nona?" Tanya Darren meyakinkan.
Tapi, ia tak lagi menunggu jawaban dari Milano karena wajah pria itu sudah sangat mengancam.
"Baiklah, prince! Aku akan buang."
Milano acuh. Ia pergi menaiki tangga menuju ruang kerjanya. Milano sempat berpapasan dengan Franck yang sudah rapi dan tampaknya ingin keluar.
"Mau kemana?" Tanya Milano berhenti di pertengahan tangga.
Franck tampak ragu tapi, dia jelas menyembunyikan sesuatu dari Milano.
"Ada urusan di luar. Mungkin akan pulang larut!"
"Malam ini ada acara makan. Jangan kecewakan Latizia, kak!"
Franck diam sejenak. Ia meremas ponsel di tangannya dengan tatapan gelisah.
"Makan malam?"
"Hm. Bisa?"
Franck mengangguk. Milano ingin melanjutkan langkahnya tapi Franck berbalik dan menahan lengannya.
"Adik!"
Milano terhenti. Ia menoleh dengan tatapan datar bersahabat.
"Ada apa?"
"Emm..itu, kakak akan sibuk dalam beberapa hari. Dan kau merencanakan kencan, bukan?!"
Milano mengangguk sudah tahu arah pembicaraan Franck.
"Benar. Lalu?"
"Siapa namanya? Maksud kakak tentu kami akan saling mengenal dulu, bukan?" Canggungnya tak bisa membendung rasa penasaran.
"Dia seorang wanita yang berasal dari negara pertanian terbesar di wilayah barat. Namanya .."
"A..apa Iriszen?" Gugup Franck sampai berkeringat dingin meremas tangannya.
"Bagaimana kakak tahu?"
Degg..
Lagi-lagi Franck di buat lemas. Jelas ia sangat merindukan sosok itu tapi Milano tak melihat keberanian di mata Franck.
"A..adik. Batalkan saja! Kakak...kakak belum mau menikah."
Franck pergi dengan kegundahan. Ia tak punya keberanian dan lebih tepatnya merasa bersalah akan kejadian bertahun-tahun lalu. Menemui gadis itu sekarang, ia merasa tak layak.
__ADS_1
....
Vote and like sayang