
Berita soal penyerangan elang secara ganas tadi sudah tersebar ke seluruh media. Banyak korban yang di larikan ke rumah sakit karena di serang secara brutal saat sedang beraktifitas di luar.
Tampaknya hal itu sampai menarik perhatian para para Ilmuan dan pakar Geografi yang ikut menyatakan pendapatnya.
"Menurut mereka kejadian itu adalah fenomena migrasi elang tahunan. Kalau menurutmu?" Tanya Latizia pada Milano yang tengah duduk di sampingnya.
Milano yang tadi fokus pada laptop beralih menatap televisi yang tengah gencar memperlihatkan kondisi langit tadi siang.
"Hukum alam!"
"Maksudnya?" Tanya Latizia bingung.
Ia tetap memakan salad buah yang ada di mangkuk atas pahanya seraya menatap Milano intens.
"Kau tak akan paham."
"Ayolah, bagaimana cara melakukan itu? Ajari aku!" Pinta Latizia nyaris seperti rengekan mengguncang lengan Milano yang tengah bekerja.
"Aku sibuk."
"Kalau sibuk pergi ke ruang kerjamu. Kenapa duduk di dekatku?!" Kesal Latizia menarik telinga Milano yang terbiasa dengan cubitan ini.
"Baiklah!"
"Benarkah?! Ayo, ajari aku!" Pinta Latizia meletakan mangkuk saladnya di atas meja sofa.
Keduanya saling pandang sampai Milano mengetuk bibirnya penuh makna tapi Latizia tak mengerti.
"Apa?"
"Bayarannya mahal!" Jawab Milano menyeringai mesum. Latizia yang syok seketika berubah kesal.
"Kau tak jauh-jauh dari semua itu."
"Ya sudah," Gumam Milano ingin kembali bekerja tapi tak di sangka Latizia benar-benar menciumnya kilat.
"Sudah."
"Terlalu cepat!" Acuh Milano tak puas hingga Latizia melakukan lagi.
"Sudah?"
"Tak terasa," Jawabnya memancing amarah Latizia yang segera menangkup kedua rahang Milano ke arahnya lalu menghujami bibir pria itu dengan ciuman yang cepat dan penuh penekanan.
"Kalau belum, aku akan memukul wajahmu!!" Geram Latizia emosi sekaligus kesal.
Milano hanya tersenyum tipis. Ia menutup laptopnya lalu berdiri, Latizia yang mengira Milano akan mengajarinya juga ikut bangkit dengan mata penuh binar harapan.
"Ayo!"
"Kemana?" Tanya Milano pura-pura lupa.
"Ajari aku!"
"Siapa yang ingin mengajarimu?" Tanya Milano mempermainkan Latizia yang seketika berapi-api.
Ia ingin menjambak rambut Milano yang sudah cepat berjalan pergi menaiki tangga menuju ruang kerjanya.
__ADS_1
"Milanooo!!!" Teriak Latizia melempar bantalan sofa ke arah Milano yang acuh hanya mengulum senyum.
Ia berpapasan dengan Franck yang baru keluar kamar. Pria itu tersenyum mendengar umpatan Latizia di bawah sana.
"Kau jangan membuatnya kesal. Jika tidak kau akan tidur di luar malam ini!"
"Aku bisa menerobos," Jawab Milano menepuk bahu Franck yang menahan lengannya.
"Adik! Ada yang ingin kakak katakan padamu!" Dengan ekspresi serius.
"Hm, baiklah!"
Milano berjalan ke arah ruang kerjanya diikuti Franck. Tak beberapa lama mereka masuk ke ruangan khusus itu dimana banyak sekali lemari buku dan meja kerja besar yang penuh dengan dokumen penting.
"Milano! Kau sudah menemukan orang itu?"
"Belum," Jawab Milano meletakan laptop di atas meja lalu duduk di kursi kerjanya.
Franck mengambil nafas dalam. Terlihat jelas ada raut cemas yang sedari siang ia pendam.
"Ada apa?"
"Adik! Kakak merasa jika orang ini dia sama sepertimu," Ujar Franck yang di angguki Milano.
"Orang spritual."
"Yah. Dia juga menuntut ilmu yang sama. Menurutmu di luar sana, apa ada tempat berguru untuk menguasai ilmu sejenis itu?"
Milano diam sejenak. Ia tahu maksud Franck bagaimana dan sudah paham sejak lama.
"Dimana kau belajar hal seperti itu?" Tanya Franck penasaran.
"Valley!"
Franck terkejut. Ia tahu jika Valley adalah lembah kematian yang jarang di temukan oleh orang awam. Lembah ini sangat di kenal di dunia bawah karena tak pernah ada yang selamat setelah masuk ke dalamnya.
Lembah itu di gambarkan sebagai ladang bangkai dan mayat hidup. Pilihan keluar dari sana hanya ada dua dan tak ada yang bertahan.
"B..bagaimana bisa?"
"Kak! Itu tempat yang paling menyenangkan," Jawab Milano membuat Franck ngeri. Ntah apa yang di temukan bocah ini saat kecil sampai tumbuh jadi semiterius itu.
"Dimana tempatnya?"
"Di seluruh penjuru. Hanya saja butuh kekuatan besar untuk menemukannya!"
"Bagaimana caranya?" Tanya Franck saling pandang dengan Milano yang mengetuk-ngetuk meja kerjanya.
Jendela di samping sana bergetar kecil dengan embun lengket menutupi pandangan.
"Pergi ke puncak paling tinggi dan korbankan hal paling berharga dari dirimu!" Gumam Milano memandang Franck intens.
Seseorang yang sedari tadi mendengar obrolan mereka dari luar jendela sana seketika langsung pergi bak kilatan asap hitam tanpa jejak.
"Milano! Apa yang kau korbankan untuk mendapatkan itu?"
"Kenapa kau sangat ingin tahu? Kak!" Tanya Milano membuat Franck langsung mendengus.
__ADS_1
"Kakak hanya penasaran. Siapa tahu kau ingin berbagi pengalaman, begitu."
"Main saja dengan Latizia!" Jawab Milano kembali membuka laptopnya.
"Baiklah. Latizia memang adik ipar yang baik."
"Jika dia tidur jangan di ganggu!!" Pinta Milano kala Franck sudah keluar ruangan. Ia menghela nafas mengeluarkan ponsel di sakunya.
Ada banyak laporan di kirim anggotanya yang mengawasi istana.
Milano menghubungkan ponselnya dengan laptop lalu memeriksa semua informasi ini.
"Prince!"
Darren yang baru masuk membawa hasil dari lab. Ia berdiri di samping kursi Milano yang fokus melihat laptopnya.
"Ini hasil uji racun Zehen dari lab. Racun itu tak punya sifat membunuh tapi hanya melumpuhkan beberapa sel syaraf pusat dalam waktu tertentu. Di bandingkan dengan racun di botol kemaren, ini tak berbahaya. Hanya saja, ada sedikit bahan yang sama."
Milano diam dengan wajah datar tenang tapi otaknya bermain jauh.
"Dengan ilmu beladiri Zehen yang masih rendah, seharusnya mereka dengan mudah membunuhnya!" Imbuh Darren curiga.
"Hm. Dia sengaja melepaskan Zehen agar memberi informasi jika dia menculik pria tua itu!"
"Aku yakin ini bukan masalah pengobatan pangeran," Gumam Darren merasa ada yang aneh.
Drett..
Ponsel Milano menyala. Terdapat notif pesan yang masuk dari ponsel Latizia yang sudah ia sadap sebelumnya.
Wajah Milano semakin dingin kala melihat nama pesan dari Ximus yang menanyakan kabar Latizia.
"Pangeran Ximus memang berani ambil resiko. Padahal salah satu perusahaan besar mereka sudah gulung tikar," Batin Darren ngeri kala Milano sudah bertindak.
Dan parahnya lagi, Ximus menjadikan urusan pekerjaan mereka sebagai alasan untuk bertemu.
"Prince! Kerajaan Artefea cukup menyita perhatian publik karena sigap menangani kasus pembunuhan Delvin kemaren."
"Para penjilat selalu mengambil keuntungan," Gumam Milano mematikan ponselnya.
"Apa yang akan kita lakukan? Prince!"
"Kembali ke kerajaan!" Jawab Milano mengambil keputusan besar karena ingin melihat, apa yang akan di lakukan pria itu lagi?!
"Membawa pangeran Franck?"
"Kakakku berhak atas istana itu. Bersihkan seluruh tikus kotor yang ada disana!" Titah Milano yang diangguki Darren.
Ia segera pergi dari ruangan itu seraya menghubungi panglima Ottmar agar segera mengeksekusi para pejabat menjijikan itu sekarang.
Milano diam memandang datar area jendela. Tatapan yang penuh dengan pemikiran dan rencana yang bertahap sudah maju ke titik puncak.
"Akan-ku lihat, sejauh mana kau akan memata-mataiku!"
......
Vote and like sayang..
__ADS_1