GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Penjahat kelamin


__ADS_3

Pagi ini Milano akan menghadiri panggilan pihak kepolisian kerajaan Artefea. Seluruh anggota kerajaan Madison sudah di periksa atas kasus ledakan istana Sauveron yang meninggalkan jejak orang-orang Madison.


Tentu saja hal itu adalah rencana Milano. Ia meledakan kerajaan Sauveron tapi meninggalkan jejak yang identik dengan orang dari Madison. Ia tak akan melewatkan kesempatan emas ini sedetik-pun.


"Mau kemana?" Tanya Latizia yang baru saja bangun.


Ia melihat Milano sudah rapi dengan stelan jas formal yang tampak semakin beraura di tubuh gagahnya. Ketampanan pria berambut abu tua itu memang tak main-main. Latizia mengakui semua itu dan di setiap momen.


"Aku harus ke dapartemen kepolisian!"


"A..apa kau di tangkap?" Tanya Latizia syok. Milano yang tadi mengambil makanannya di atas nakas seketika terdiam.


"Milano! Apa karena kematian Delvin kau di tangkap?"


"Hm, mungkin!" Jawab Milano duduk di tepi ranjang. Ia mengaduk bubur yang ada di dalam mangkuk masih tampak panas.


Ekspresi santai Milano justru membuat Latizia cemas. Ia tak ingin hanya karena dia Milano mendekam di penjara.


"Aku ikut! Aku akan jelaskan pada mereka!"


"Pikiranmu terlalu pendek," Gumam Milano meniup bubur di sendoknya lalu mendekatkan itu ke mulut Latizia yang mematung.


"Aku serius. Kau tak salah. Delvin yang mencoba membunuhku, disana juga ada pisau yang ia pegang."


"Orang-ku sudah mengatur semuanya," Jawab Milano menyentuh bibir Latizia dengan ujung sendok.


"Ta.."


"Makan!" Tegas Milano menyuapi Latizia yang tadi membuka mulut. Alhasil Latizia tak menolak. Ia yang bersandar di kepala ranjang itu terus menerima suapan dari Milano yang telaten merawatnya.


"Emm...apa Delvin sudah di makam-kan?"


"Masih di otopsi," Singkat Milano kembali menyendok bubur itu.


"Bagaimana kalau mereka tahu kau yang membunuhnya?"


"Aku akan di hukum mati."


"Astaga!" Syok Latizia merasa bersalah. Melihat itu Milano menghela nafas ringan seraya meraih gelas di nakas.


"Milano! Sebaiknya kau pergi dari sini segera."


"Minum!"


Latizia menurut tapi ia kembali bicara. Ntahlah, ada rasa senang di hati Milano saat melihat Latizia cukup mencemaskannya.


"Ambil penerbangan pagi ini!"


"Hm, kau begitu mencemaskan aku rupanya."


"Aku hanya...hanya merasa bersalah. Bagaimana-pun hari itu kau melindungiku?!" Decah Latizia mengelak.


Milano hanya diam. Ia menyuapi Latizia sampai mangkuk itu kosong walau harus meladeni omelan wanita ini.


"Prince!"


Darren yang sudah siap segera muncul di depan pintu. Milano segera bangkit meletakan mangkuk di nakas lalu mengelap tangannya dengan tisu.


"Jangan keluar. Jika ada apa-apa cukup kau panggil Keanu!"


Latizia mengangguk. Ia membiarkan Milano berlalu menuju pintu keluar tapi sebelum benar-benar pergi, Milano berbalik.


"Ada yang tertinggal?" Tanya Latizia heran saat Milano mendekat ke arahnya.


Dengan raut bingung Latizia melihat ke sekeliling mencari barang yang mungkin Milano tinggalkan tapi..


Cup..


Lagi-lagi ia tercekat saat Milano mengecup keningnya. Kali ini Latizia benar-benar mematung dengan kedua pipi bersemu.


"Jadilah penurut!" Ucap Milano tersenyum tipis kala Latizia tak menjawab dan justru memandangnya kosong.


Latizia seperti orang bodoh menatap Milano yang sudah berjalan pergi ke luar pintu.


"Lagi?!" Gumam Latizia memeggangi dadanya lalu memekik.


"Ya tuhan! Aku akan gila karena ini."


Latizia mengacak rambutnya frustasi. Lama menormalkan perasaanya, Latizia ingat jika ia masih punya bisnis dengan Ximus.


"Aku harus medesain beberapa model rangkaian bunga," Gumam Latizia ingat itu.


Ia memencet tombol panggil di dekat ranjang hingga tak beberapa lama setelahnya, dokter Keanu masuk ruangan bersama asistennya.

__ADS_1


"Nona! Kau sudah lebih baik?"


"Yah. Bisa beri aku kertas dan peralatan menggambar?"


Dokter Keanu mengangguk. Dokter Dee segera pergi menyiapkan hal itu jika tidak prince-nya akan marah besar.


"Bagaimana perasaanmu? Apa ada keluhan?"


"Hanya sedikit pusing dan mual. Tak begitu parah," Jawab Latizia membiarkan dokter Keanu memeriksanya.


Luka-luka di wajah dan leher Latizia sudah membaik. Perban di kepala wanita ini akan di lepas setelah hari ini.


"Ini kemajuan pesat. Untuk mual dan pusing itu wajar karena kau sedang hamil. Dalam beberapa hari kemudian pasti akan hilang."


"Mana ponselku?" Tanya Latizia butuh itu. Dokter Keanu kebetulan juga ingin memberikan benda itu atas perintah Milano.


"Ini, nona!"


"Apa yang terjadi di luar sana?" Tanya Latizia menerima ponsel yang di sodorkan dokter Keanu.


"Prince pasti mengurus semuanya dengan baik. Kau tenang saja!"


"Jawabanmu sungguh membosankan," Gumam Latizia mengotak-atik ponsel itu.


Dokter Keanu hanya mengusap tenguk canggung. Wanita seperti ini agak aneh jika bisa memikat hati prince-nya.


"Apa kau tahu tentang orang-orang yang dekat dengan Milano?"


"Tidak juga. Aku hanya tahu jika prince punya kakak dan sedang sakit. Kami tak begitu akrab. Memangnya kenapa?" Tanya dokter Keanu menatap Latizia yang tengah berpikir.


"Aku hanya ingin tahu orang-orang yang pernah berhubungan dengannya."


"Mungkin Darren bisa membantu. Dia sudah lama mengikuti prince selama ini," Jawab dokter Keanu memberi saran.


Latizia hanya mengangguk. Ia masih kepikiran soal pria paruh baya yang di bunuh Delvin di penjara. Bagaimana pria itu bisa tahu ia hamil? Dan kenapa dia juga seperti dekat dengan Milano?!


"Nona! Sebaiknya kau tanyakan langsung pada prince. Dia tak suka kau menyembunyikan hal sekecil apapun darinya."


"Memangnya dia siapa?!" Ketus Latizia masa bodoh sampai membuat dokter Keanu membelo jengah.


Melihat ego Latizia, muncul niat jahil dokter Keanu yang agak penasaran dengan respon Latizia.


"Nona! Kau harus hati-hati."


"Kenapa?" Tanya Latizia mengernyit.


Latizia diam. Ada rasa jengkel di hatinya tapi tetap saja Milano terlalu menyebalkan.


"Rebut saja, itupun jika dia mau," Acuh Latizia kembali melihat ponsel.


"Prince-itu sangat suka bermain dengan wanita. Tapi, sepertinya nona yang menang. Aku kagum!"


"Jangan aneh-aneh. Keluar sana!" Ketus Latizia kesal bukan main.


Dokter Keanu hanya tersenyum kecil. Setelah memastikan Latizia baik-baik saja, ia segera pergi dan berpapasan dengan dokter Dee yang masuk membawa peralatan desain.


"Nona!"


"Kemari! Apa kau kosong hari ini?" Tanya Latizia menerima peralatan lukisnya.


"Aku khusus melayani nona! Aku dokter kandungan-mu!"


"Ouh, begitu rupanya. Nanti bantu aku menilai hasil desainnya!"


Dokter Dee mengangguk duduk di dekat Latizia. Wanita yang tak begitu jauh usia dengan Latizia itu terlihat kagum kala melihat keterampilan tangan Latizia dalam menggores pensil.


"Nona memang berbakat."


"Kau bisa saja. Ini hanya hal biasa, tak ada yang spesial," Jawab Latizia tak sombong. Ia bisa membuat siapa-pun yang berinteraksi dengannya menjadi nyaman.


.........


Di gedung dapartemen kepolisian Madison yang bekerja sama dengan aparat negara Artefea kini semakin kewalahan menghadapi media.


Begitu banyak orang di depan gedung mengejar kedatangan Milano yang di dampingi oleh dua aparat kepolisian yang menahan masa.


"Prince! Apa kau terlibat dalam kasus ini?"


"Kemana saja kau saat terjadi pembunuhan pangeran Delvin?"


"Prince! Apa kau tak merasakan apapun?"


Pertanyaan beruntun di layangkan pada Milano yang hanya berjalan tegas setia dengan raut datarnya.

__ADS_1


Milano masuk ke dalam gedung besar ini di sambut banyak aparat kepolisian yang segera mengiringnya ke ruang interogasi.


"Prince! Semuanya sesuai rencanamu!" Bisik salah satu aparat kepolisian di samping Milano.


Ada dua kamera yang sedari tadi terus memotret mereka dan berhenti saat tiba di depan arena ruangan interogasi.


Ternyata disini sudah ada Raja Barack dan Ratu Clorris. Dua manusia itu baru saja keluar dari ruangan penyidikan dan menyambut Milano dengan tatapan marah.


"Ternyata kalian sudah duluan kesini!"


"Milano! Kau kemana saja?" Geram Raja Barack tapi Milano hanya memberi senyuman sarkas.


"Apa yang bisa putramu lakukan selain bermain di luar, ayah!"


"Kauu.."


"Jangan saling bicara!" Sela Jenderal Seefen yang segera mendekati Milano.


"Kami butuh keprofesionalan kalian. Aku tahu kalian keluarga kerajaan tapi kasus ini perlu di selesaikan dengan benar."


"Hm, lakukan saja," Gumam Milano santai masuk ke ruang interogasi.


Ratu Clorris dan Raja Barack di giring oleh para pengawal istana untuk pergi ke ruang tahanan untuk sementara sampai team penyidik memutuskan data.


Sementara Milano di dalam sana tampak duduk dengan angkuh. Ia tak merubah cara pandang dan posisinya yang selalu mendominasi.


"Prince! Kau dimana kejadian pembunuhan itu?"


"Club," Singkat Milano datar.


"Apa ada yang bisa membuktikannya?"


"Clubing Hoots pukul 7 AM," Ujar Milano dengan intonasi dinginnya.


Jenderal Seefen diam. Ia melihat laporan data Milano yang ada di meja interogasi dan benar. Ada bukti foto dimana Milano tengah bersenang-senang dengan para wanita liar di sana di jam yang sama.


"Setelah itu, kapan kau keluar Club?"


"Sebelum mentari tenggelam pesta belum berakhir," Jawab Milano terkesan liar dan brandal sesuai rumor dan auranya.


"Baiklah, , semua pernyataan-mu sama dengan hasil penyelidikan! Tetapi, saat itu siapa yang menemanimu?"


Milano diam sejenak. Tak ada raut gugup atau gelisah di wajahnya bahkan, Milano begitu tenang sampai siapapun tak akan bisa menebak gerak-geriknya.


"Prince! Sebutkan salah satu!"


"Apa aku perlu mengingat wanita nakal yang menjatuhkan diri di bawah kakiku?!" Tanya Milano membuat Jenderal Seefen kehabisan kata-kata.


Pria ini memang sulit di jelaskan, pikirnya.


"Baiklah. Mungkin kau kenal dengan beberapa wanita ini?"


Jenderal Seefen menunjukan beberapa foto wanita seksi dan tentunya dari keluarga kaya yang menemani Milano saat itu.


"Yah, agak tidak asing."


"Jika mereka bisa bersaksi untukmu. Maka kau terbebas dari penyelidikan ini, Prince!"


Milano hanya diam. Ia mengeluarkan rokok dari sakunya dan tanpa sopan santun sama sekali merokok di dalam ruangan interogasi.


"Sebut namaku maka siapapun akan datang dengan sukarela!"


"Kau memang penjahat kelamin, Prince!" Decah Jenderal Seefen tersenyum puas. Ia menatap kamera di bagian atas mengisyaratkan petugas pemantau agar membiarkan orang-orang itu masuk.


"Biarkan mereka masuk!"


Pintu itu di buka. Tampak-lah dua wanita cantik berpakaian minim berjalan menggoda mendekati Milano yang membiarkan dua wanita itu duduk di pangkuannya.


"Prince! Kebenaran dari mulut kami itu butuh bayaran mahal."


"Aku bisa melakukan apapun yang aku mau," Jawab Milano tersenyum angkuh dan penuh kemenangan.


Jenderal Seefen menggeleng saja. Ia melihat Milano memang begitu bodoh dan tak layak jika merencanakan pembunuhan sedetail itu.


Milano seperti benar-benar menjadi orang lain. Ia punya sisi liar dan nakal yang pastinya membuat wanita manapun akan tunduk padanya.


"Berikan pernyataan kalian! Aku tak akan menganggu setelah ini!"


"Demi malam ini. Kami bersedia," Jawab mereka masih belum mau turun dari pangkuan Milano yang menyeringai.


Di luar sana, ada Ximus yang tengah tersenyum melihat Milano. Ternyata pria ini hanya penjahat kelamin yang pastinya tak pantas dengan Latizia.


"Pria ini memang sangat liar," Gumamnya mengeluarkan ponsel merekam semua itu. Ximus tak sabar ingin segera mengejar Latizia yang sekarang sudah tak bersuami lagi.

__ADS_1


....


Vote and like sayang..


__ADS_2