GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Burungmu Murahan!


__ADS_3

Latizia terlihat masih ada bersama Ximus. Pria dengan rambut pirang dan netra keemasan itu terlihat serius bertanya soal hubungannya dengan Milano.


Memang semula Ximus agak segan tapi ia tak bisa menahan diri. Alhasil, saat Latizia ingin menjenguk ibunya Ximus akhirnya memberanikan diri.


"Maaf, tapi aku hanya tak ingin kau terus menjadi pelampiasan tuduhan palsu putri Veronica."


"Aku mengerti," Gumam Latizia yang berdiri di depan kamar Ratu Artefea.


"Kau sudah menikah dengan pangeran Delvin. Tapi, aku merasa hubungan kalian cukup.."


"Tak begitu baik. Kami tak seperti suami istri pada umumnya," Jawab Latizia tatapan yang menyimpan luka dan kesedihan.


Ximus terdiam sejenak. Ia tak tahu apa yang tengah terjadi pada Latizia dan Delvin. Hatinya cukup resah melihat kedekatan Latizia dengan kakak beradik itu terutama pria yang selalu mengibarkan hawa membunuh setiap bertemu dengannya.


"L..lalu bagaimana dengan pangeran Milano?"


Latizia tak menjawab. Ia terpaku diam dan membisu seperti nama itu cukup sulit untuk di jabarkan. Dari raut wajah berat Latizia, Ximus mengambil kesimpulan jika Milano pasti punya hubungan yang cukup spesial dengan wanita ini.


"Kalau tak ingin menjawab tak apa, aku bisa mengerti. Kalian mungkin.."


"Kami tak punya hubungan yang spesial," Jawab Latizia sudah memantapkan keputusan. Ia tahu jika hubungannya dan Milano tak pantas untuk di katakan sebagai ikatan yang layak di umumkan.


"Maksudmu?"


"Yah, Milano memang kakak iparku dan dia pria yang baik. Saat kami bertemu dia pasti akan memberi saran untuk rumah tanggaku dengan adiknya," Asal Latizia di jawab anggukan paham oleh Ximus.


"Tapi, aku yakin Milano bukan tipe kakak ipar yang bijak," Batin Ximus hanya menyimpan persepsinya.


"Ya sudah, ayo bertemu ibuku!"


"A..iya. Ayo!" Ajak Latizia masuk ke kamar saat Ximus sudah membukakan pintu.


Tampaklah seorang wanita paruh baya yang masih begitu cantik dengan ciri khas rambut dan warna netra yang sama seperti Ximus tengah duduk di tepi ranjang.


"Bu!"


Panggil Ximus lembut. Wanita itu menoleh dan segera memekarkan senyum ramah pada Latizia.


"Ini.."


"Putri Latizia dari kerajaan Garalden!" Sela Ximus tampak bersemangat dari biasanya. Ratu Artefea diam sejenak tapi segera melambaikan tangan pertanda Latizia harus mendekat.


"Kemarilah! Suatu kehormatan bisa bertemu dengan wanita cerdas dan secantik dirimu, putri!"


"Aku juga. Yang Mulia Ratu memang begitu hangat bahkan auranya masih sangat muda," Puji Latizia pandai membawa diri.


Ia di suruh duduk di dekat Ratu Artefea yang tersenyum melihat wajah Latizia yang memang begitu cantik dan sangat khas. Orang-orang Garalden memang di kenal dengan keindahan fisik dan alamnya.


"Putri! Aku pernah melihatmu di malam pesta semalam. Tapi, tak sempat untuk menyapa."


"Yah, karna suasananya memang sedang ramai. Tapi, sekarang aku beruntung bisa bertemu denganmu," Jawab Latizia dengan senyum hangatnya tak pernah luntur bahkan mata cantik itu tenggelam karna pipi yang terangkat tulus.


Ximus jadi salah tingkah melihat hal itu dan sangat di sadari oleh Ratu Artefea yang hanya bisa meredam pemikirannya.


"Yang Mulia! Bagaimana keadaanmu? Kata pangeran Ximus kau mengalami luka akibat kebakaran tadi malam."


"Baik, itu hanya luka kecil. Hanya saja putraku ini terlalu berlebihan sampai tak memperbolehkan-ku keluar," Jawab Ratu Artefea menatap jengkel Ximus yang segera berjongkok di depan ibunya.


"Bu! Aku mencemaskan-mu. Apa salah?"


"Dasar kau ini," Jengah Ratu Artefea mengusap kepala Ximus lembut.


Latizia diam. Interaksi manja Ximus pada ibunya mengingatkan Latizia akan ibunya. Rasanya ia begitu merindukan momen kebersamaan mereka bahkan dadanya mulai terasa sesak.


Merasa akan menangis disini, Latizia segera berdiri memaksakan senyuman.


"Baiklah. Yang Mulia dan pangeran aku pamit dulu. Masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan."

__ADS_1


"Putri Latizia kau.."


"Semoga cepat sembuh!" Ucap Latizia bergegas pergi saat Ximus ingin bicara.


Pria itu berdiri memandangi kepergian Latizia dengan helaan nafas berat dan tak senang.


"Bu!"


"Kau menyukainya?"


Ximus terkejut. Wajahnya langsung bersemu dan berusaha menghindari kontak mata dengan Ratu Artefea yang tersenyum simpul.


"S..Suka apanya?!"


"Nak! Kau jangan membohongiku. Duduklah!" Pinta Ratu Artefea menarik lengan Ximus duduk di sebelahnya.


"Kau suka putri Latizia?"


"I..Iya. Dia wanita yang menarik," Gumam Ximus dengan pandangan menerawang jauh ke depan.


Ratu Artefea beralih menggenggam punggung tangan putranya serius.


"Nak! Dia sudah menikah. Kau tahu, bukan?! Jika mereka.."


"Tapi, Latizia tak bahagia, Bu! Dia tak senang dengan pernikahannya," Sela Ximus kekeh.


Ratu Artefea terdiam. Jujur ia takut jika putranya akan terkena masalah karna orang-orang Madison sangatlah kejam dan licik.


"Ximus! Ibu tahu jika kau jatuh hati padanya. Tapi, nak! Kita sama-sama tahu jika berurusan dengan kerajaan Madison harus berhati-hati. Ayahmu sudah mengatakannya, bukan?"


"Aku tahu. Aku pasti bisa mendapatkannya dengan caraku sendiri, Bu!"


"Tapi.."


"Ibu tenang saja. Aku berjanji tak akan mengambil resiko besar," Sela Ximus memberikan ketenangan pada Ratu Artefea yang sebenarnya tak mau terlalu berurusan dengan kerajaan Madison.


"Ninu! Aku merindukan ibu dan ayah!" Gumam Latizia duduk di tepi ranjang dengan mata berkaca-kaca.


Ia mengusap bulu lembut bersih Ninu yang seperti biasa selalu tenang dan tampak sudah akrab dengan Latizia.


"A..andai saja aku tak menikah hari itu. Andai saja jika aku lebih pintar saat itu pasti ayah dan ibu masih ada. A..aku..aku pasti masih bisa melihat mereka," Lirih Latizia bergetar dengan air mata keluar begitu saja.


Kesedihan, rasa rindu dan putus asa menyelimuti kamar ini. Latizia bicara dengan nafas sendat dan suara parau yang berat.


"S..seharusnya aku tak membiarkan mereka tiada. Seharusnya.."


"Setelah bertemu dengan mertua lalu menangis. Sempurna!"


Latizia segera mengusap air mata di pipinya lalu menatap tajam sosok pria yang tengah bersandar di daun pintu dengan tatapan datar yang begitu mendominasi.


"K..kau..kau keluar!"


Milano diam. Ia melihat mata Latizia masih ingin meluruhkan cairan bening itu dan ritme nafas wanita ini cukup tak stabil.


"K..Keluar!!" Pinta Latizia dengan suara yang meninggi.


Saat Milano tak bergeming, ia segera berdiri dengan Ninu yang terbang keatas kursi di depannya.


Latizia mendekati Milano dengan tangan mendorong bahu kekar pria berjas itu untuk keluar dari kamar ini.


"Keluar!! Kau tak mengerti bahasa manusia, ha?!!" Teriak Latizia karna ia sudah tak tahan membendung rasa sesak di dadanya.


Walaupun begitu, Milano masih diam seakan dorongan Latizia hanya hembusan angin pagi.


"K..Keluar! Aku..aku..."


Latizia masih menahan tangisannya sampai ia tersandar ke dinding di samping dengan cukup lemah.

__ADS_1


"T..tinggalkan aku sendiri, hiks!"


Akhirnya isakan itu lolos. Latizia membekap wajahnya dengan kedua tangan tapi Milano langsung menarik pinggang Latizia masuk ke pelukannya.


"M..mereka tiada karna kebodohanku, hiks! Mereka pasti membenciku!"


Milano hanya diam. Ia seperti membuka dada bidangnya lebar untuk menjadi sandaran bagi Latizia yang menyalahkan dirinya sendiri soal kekejaman orang lain.


"Jika..jika saja aku tak menikah pasti..pasti mereka masih ada, hiks! Ini semua karna aku!! Aku yang seharusnya mati lebih dulu, hiks!"


"Kenapa dadaku jadi sesak?!" Batin Milano seperti ikut merasakan luka itu. Tangannya yang kaku perlahan terangkat mengusap kepala Latizia yang masih membenamkan wajah di dadanya.


Milano ingin mengatakan kalimat penenang tapi ia tak tahu apa?! Milano memang bukan pria yang bisa membujuk dengan manis atau-pun berkata yang tak realistis. Terkadang kata-katanya bisa menusuk kenyataan seseorang.


"I..Ibuu hiks, Ayah!"


"Sudahlah. Ingusmu membasahi kemejaku," Gumam Milano canggung tapi langsung membuat Latizia mendorong dadanya kuat tapi wanita itu yang tertolak ke belakang.


"Kau..kau memang pria yang kejam!!" Maki Latizia merasa kesal bukan main.


Ia mengusap air matanya dan ingus di hidung dengan kedua pipi merah karna di ledek Milano yang sangat menyebalkan.


Milano yang tak tahu harus berbuat apa hanya bisa mengusap tengkuknya canggung.


"Ingusmu membasahi kemeja mahal-ku."


"D..dasar tak berperasaan," Gumam Latizia seseggukan mengusap hidungnya yang merah karna mulai tersumbat.


Melihat Latizia yang tampak kembali galak Milano jadi lega. Ia tak suka mendengar tangisan wanita ini apalagi sisi rapuh Latizia yang membuatnya selalu ingin membunuh orang-orang yang menjadi penyebabnya.


"Baguslah! Kau sudah kembali normal."


"Pergi sana! Aku tak ingin berhubungan dengan pria sepertimu!" Ketus Latizia melenggang kembali mendekati Ninu yang ia bawa keluar.


Merpati cantik itu Latizia masukan ke dalam sangkar. Namun, saat ia mengambil kotak tempat makanan Ninu ternyata sudah habis.


"Sepertinya aku harus membeli di luar," Gumam Latizia mengumpulkan sedikit Voer khusus yang memang di racik dengan nutrisi yang lengkap untuk keindahan bulu dan suara burung kesayangannya itu.


Milano menatap tajam mata merpati putih bak salju milik Latizia yang seketika menciut. Ia jadi memberontak di dalam sangkar sampai membuat Latizia bingung.


"Kenapa? Kau tak biasanya seperti ini," Cemas Latizia mengeluarkan Ninu yang bertengger di lengannya.


Di pandangan Ninu, Milano adalah elang yang begitu kuat ingin menghabisinya. Ia terus bersembunyi di balik tubuh Latizia yang tak mengerti.


"Kau disini dulu, ya? Aku akan beli makananmu di luar!"


"Hanya burung manja. Beri saja dia cacing," Santai Milano terkesan meremehkan Ninu yang tampak tak suka dengan kehadiran Milano.


"Dia tak sama seperti burung-mu. MURAHAN!"


JLEB...


Perkataan Latizia langsung menikam sampai ke uluh hati Milano yang mematung. Ia seperti tak percaya atas hinaan yang Latizia berikan terhadap aset berharga yang menundukkan kaum wanita itu.


"Kau bilang apa?"


"Murahan. Merpati-ku sangat spesial. Dia tak seperti KAU," Ketus Latizia menggantung sangkar Ninu yang sudah di masukan ke dalamnya lalu pergi tanpa ada belas kasih meninggalkan Milano.


"Murahan," Geram Milano dengan api kemarahan menyala dan petir menyambar di sekujur tubuhnya.


Ninu yang melihat itu langsung memberontak di dalam sangkar seperti ketakutan setengah mati.


"Dia membandingkan aku denganmu. Burung tak seberapa nilainya," Hardik Milano kelam menjentikkan jarinya hingga segerombolan elang yang tadi memantau di atas sana langsung menyerbu ke sangkar Ninu.


Milano tak peduli. Ia pergi membuntuti Latizia yang tak peduli dengannya. Wanita itu sangat angkuh dan sulit ditahlukan.


....

__ADS_1


Vote and Like Sayang


__ADS_2