GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Karma masa lalu


__ADS_3

Sudah 30 menit lamanya Ximus diam begitu juga Latizia. Sejak wanita ini datang tadi sudah terlihat jelas mood-nya sedang rusak bahkan cerita Ximus tentang festivalnya-pun tak begitu Latizia dengarkan.


Ia mengaduk-aduk gelas jus di mejanya dengan selang yang sudah berapa kali mau tumpah tapi Latizia tetap melamun menatap ke arah pantai.


"Ada masalah?" Tanya Ximus membuat Latizia mengambil nafas dalam.


"Tidak ada. Aku hanya bosan."


"Kenapa kau tak bilang dari tadi?!" Tanya Ximus mengeluarkan sesuatu dari balik kemeja lengan pendek yang ia pakai.


Stelan Ximus kali ini sangat santai karena memang ada di pantai. Kaos lengan pendek di dalam dan celana pendek selutut seperti mau liburan musim panas.


"Ini!" Menyodorkan satu bungkus coklat.


"Coklat?"


"Yah. Kebetulan tadi aku ingin membeli minum saat di perjalanan. Karena ingat jika kita akan bertemu jadi ku beli satu," Ujar Ximus tersenyum hangat.


Latizia menerima satu bungkus coklat berbentuk hati itu. Ia gagal fokus oleh kalimat yang ada di kemasan coklat ini.


"I love you?"


"I love you too!" Jawab Ximus langsung membuat Latizia tersentak.


"Bukan, ini aku membaca tulisannya," Jelas Latizia takut Ximus salah paham.


Tapi, pria itu justru tersenyum kecil saat Latizia tak menyadari jika hal ini adalah taktik seorang pria untuk menyatakan perasaan.


"Coklat ini cocok di berikan untuk teman wanitamu!" Menyodorkan itu kembali.


"Tidak perlu. Aku hanya punya satu teman wanita dan itu kau."


"Tapi,.."


"Jangan berpikir terlalu jauh. Anggap saja itu pemberian dari temanmu, hm?!"


Latizia terdiam sejenak. Ia menatap wajah tulus Ximus yang membuatnya segan untuk menolak.


"Baiklah, aku terima."


"Emm.. Latizia! Festival di kerajaan-ku di undur," Bahas Ximus lalu meminum wine di dekatnya.


"Di undur?"


"Yah, mungkin 3 hari kedepan baru bisa di laksanakan karena persiapan tidak cukup," Jawab Ximus menghela nafas.


Latizia yang merasa bertanggung jawab atas festival itu tentu tak enak hati jika ada kendala karena pasokan bunga darinya.


"Apa ada masalah dengan bunga-bunga itu?"


"Bukan dari pihakmu. Ini masalah internal kerajaan. Jadi, bunga-bunga kemaren aku pajang di istana dan aku ingin minta lagi yang baru, apa boleh?"


Latizia mengangguk tak keberatan dengan semua itu.


"Tentu saja. Kau bisa katakan, bagaimana konsepnya dan nanti aku buatkan desain baru."


"Terimakasih. Berikan rekeningmu!"


"Nanti saja. Saat semua sudah.."


"Tidak. Ibu bilang aku harus membayar penuh atas rangkaian minggu lalu!" Sela Ximus menjadikan ibunya sebagai jembatan hubungan mereka.


Karena juga segan untuk terus menolak akhirnya Latizia menunjukan nomor rekening yang ada di ponselnya.


"Kau punya kartunya?"


"Ada. Hanya saja ketinggalan!" Jawab Latizia menyengir kuda. Salahnya yang buru-buru sampai lupa membawa tas.


Drett..


Ponsel Latizia mendapat notif. Seketika ia terkejut saat nominal uang yang di transfer Ximus itu di luar harga rangkaiannya.


"200 juta? Itu bukan harganya."


"Tak apa. Aku senang berbisnis denganmu," Ujar Ximus menyimpan kembali ponselnya.


"Tidak. Aku tak ingin seperti ini. Tujuanku berbisnis yang murni dan bukan terlalu berlebihan. Akan-ku transfer kembali padamu!"

__ADS_1


"Latizia!" Panggil Ximus membuat Latizia memandangnya dengan wajah memelas tapi, Ximus justru semakin tergila-gila olehnya.


"Aku tak bisa menerima ini. Ayolah!"


"Baik. Kita bisa memperpanjang kontrak bisnis ini, bukan?" Tawar Ximus padahal itulah tujuannya.


Dengan begitu, Latizia dan dia akan bertemu terus walau dengan alasan pekerjaan.


"Baiklah. Jika butuh sesuatu soal bunga, kau bisa hubungi aku."


"Tentu saja. Dan jangan lupa, kau harus hadir ke festival besar kerajaanku 3 hari lagi."


"Aku?" Tanya Latizia menunjuk dirinya sendiri.


"Yah, memangnya kenapa?"


"Akhir-akhir ini banyak masalah tentangku beredar di media. Jika aku datang, mungkin akan membuat kontroversial."


"Aku tak peduli. Kau datang sebagai tamu terhormat pangeran Artefea yang khusus mengundang putri Latizia," Ucapnya mengeluarkan undangan yang cantik berlapis emas.


Latizia menerimanya dengan terkagum-kagum. Keluarga kerajaan Artefea memang sangat royal, pikirnya.


"Datang, ya?! Aku menunggumu."


"Baiklah, aku akan datang," Jawab Latizia melihat-lihat undangan itu.


Ximus terus menatap Latizia dalam bahkan ia seperti mengaggumi visual Latizia luar dalam. Benar-benar cantik, pikirnya.


"Ya sudah, aku pulang dulu!"


"Cepat sekali. Kau ada urusan?" Tanya Ximus seakan tak rela ikut bangkit.


Latizia melihat langit yang jingga pertanda sudah sore. Ia merasa tubuhnya lengket dan cukup lelah.


"Sudah senja. Kau juga harus pulang!"


"A..baiklah. Lain kali kita bertemu lagi." Ujar Ximus mengikuti Latizia turun dari lantai atas resto.


Beberapa pelayan yang tadi menunggu segera naik ke atas membersihkan meja mereka. Saat sudah di depan resto, Latizia mendekati mobilnya tapi ban depan benda itu bocor.


"Ada apa?" Tanya Ximus karena melihat Latizia tertegun.


"Mungkin tadi terkena paku atau benda tajam di sekitar sini. Kau naik mobilku saja!" Tawar Ximus berjongkok memeriksa ban mobil mewah ini.


Ia tersenyum sempit kala melihat ada bekas sayangan orang suruhannya yang bekerja dengan baik.


"Aku akan mengantarmu!" Kembali berdiri.


"Lalu, mobilnya? Ini bukan punyaku!"


"Nanti akan ku suruh orang lain memperbaikinya. Kau tenang saja," Ujar Ximus ingin menyentuh bahu Latizia tapi tiba-tiba saja ada yang menepis tangannya.


Larizia tersentak saat melihat Darren yang berdiri dengan wajah yang tentu tak bersahabat pada Ximus.


"Nona! Aku akan membawamu pulang!"


"Kau.."


"Dia siapa?" Tanya Ximus menaikan satu alis sinis.


"Dia.."


"Aku pengawal setia nona Latizia yang di perintahkan khusus di bawah naungan PRINCE MILANO!" Jelas Darren menekan nama Milano agar pria ini sadar diri.


Ximus dan Darren saling pandang tajam sampai Latizia segera menengahi ini.


"Ximus! Terimakasih untuk tawarannya. Aku akan pulang dengan Darren!"


"Baiklah. Tapi, seharusnya yang datang itu tuanmu, apa dia begitu sibuk sampai menyuruh anak buahnya?!" Sarkas Ximus membuat Darren mengepal.


"Kau tak berhak menilai prince-ku sama sekali."


"Kakak ipar tapi serasa penguntit," Licik Ximus membuat Latizia pusing.


Ia segera mendesak Darren untuk segera pergi hingga mereka beranjak dari hadapan Ximus.


"Nona! Itu lebih berbahaya dari prince. Otaknya cukup licik."

__ADS_1


"Jangan membela brandal itu," Ketus Latizia masuk ke mobil Darren yang tak jauh dari area parkir mereka tadi.


Darren juga segera duduk di kursi kemudi lalu menunjukan layar ponselnya pada Latizia.


"Dia sengaja membuat ban mobil itu bocor agar nona bisa pulang dengannya!"


Rekaman dua pelayan pria resto yang membawa palu dan pisau ke arah mobil hingga mereka melakukan perusakan.


"Dia itu hanya ingin mendekati nona saja. Otaknya bahkan lebih mesum dari prince."


"Dari mana kau tahu?!" Acuh Latizia membuang pandangan ke luar jendela.


Darren akhirnya menghela nafas. Ia kembali mengemudi dengan stabil walau jujur ia tak suka dengan Ximus yang penuh sandiwara.


......


Sementara di ruang kerja istana. Milano di buat pusing oleh Franck yang marah besar saat mengetahui semua jejak nakalnya selama ini.


Franck bahkan terkejut kala mendengar kabar jika Milano ternyata sudah menikah dengan putri Veronica.


"Kenapa kau bisa jadi seperti ini, ha??! Kenapa, adik?! Kakak sangat muak dengan tabiat nakal tak tahu adap seperti ini!!" Marah Franck memukul-mukul bahu Milano dengan gulungan kertas yang ada di mejanya.


Milano yang duduk di depan meja Franck tentu hanya bisa diam dan tampak cukup menyesal.


"Sudah berapa banyak wanita kau tiduri?! Berapa banyak wanita yang kau hamili, haa??"


"Kak! Aku hanya menghamili Latizia, hanya Latizia!" Jawab Milano cukup frustasi karena Latizia juga tengah marah padanya.


"Yang kau tiduri?" Tanya Franck dengan tatapan berapi-api.


Milano diam. Sepertinya dia juga lupa, berapa banyak wanita yang sudah berakhir di bawah keperkasaanya.


"Lupa? Kau lupa??"


"Kak! Aku tak mungkin mengingat mereka. Aku hanya main-main saja. Tak lebih!" Gumam Milano pusing.


"Bagaimana dengan Athena? Dia mantan kekasihmu?"


"Tidak. Dia yang menggodaku, aku hanya mengambil keuntungan," Jujur Milano yang kala itu memang sangat brandal bahkan ia dikenal sebagai casanova tingkat tinggi.


Mendengar jawaban Milano, tentu saja Franck di buat sesak nafas. Ia bersandar ke kursinya mencari akar permasalahan ini.


"Mungkin ini salahku. Aku terlalu memberimu banyak buku-buku dewasa sampai kau lepas kendali."


"Mungkin," Jawab Milano singkat karena malas membahas masa lalu.


"Tapi, bukan berarti kau bisa memainkan banyak wanita!! Kasihan Latizia, adik! Dia wanita baik-baik dan kau.."


"Kak! Selama bersama Latizia, aku tak pernah bermain wanita lagi. Aku bersumpah!" Kesal Milano yang sedang panas karena memikirkan bagaimana cara membujuk wanita itu.


Melihat Milano yang cukup kacau, tenru saja Franck tak tega untuk menambah beban sang adik.


"Dia tak membalas pesan maupun panggilanku. Bahkan, ada transferan uang dari pria lain masuk ke rekeningnya. Dia pikir aku kekurangan uang sampai menerima uang dari orang lain?!" Geram Milano yang mendapat notif di ponselnya tadi.


"Kau pernah memberinya uang?"


"Pe.."


Milano terdiam. Ia menatap Franck yang tersenyum kecut mengejeknya.


"Adik! Kau kurang cepat."


"Seharusnya dia minta padaku. Bukankah itu mudah?" Tanya Milano yang mengira jika selama ini semua kebutuhan Latizia sudah ia penuhi.


"Bukan masalah dipenuhi atau tidak. Latizia itu tak mungkin minta padamu, lagi pula kalian belum menikah. Dia punya hak apa?!"


"Kak! Baru kali ini bertemu dengan wanita serumit ini," Gumam Milano yang selalu gelagapan dengan Latizia.


"Latizia tak sama dengan wanita mainan-mu itu. Dia punya harga diri dan berkelas."


Milano hanya menghela nafas. Ia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut setiap bertengkar dengan Latizia.


Moto hidupnya yang selama ini tak mau berkomitmen memang sudah benar. Hanya saja, Milano juga tak sanggup meninggalkan Latizia yang sudah memporak-porandakan dunianya.


"Mungkin, ini karma masa lalumu," Ucap Franck tanpa belas kasih membuat Milano bertambah kelut.


.....

__ADS_1


Vote and like sayang


__ADS_2