
Setelah menangis dan menumpahkan ketakutannya pada Milano, akhirnya Latizia bisa sedikit lebih tenang. Ia menurut di baringkan kembali ke atas ranjang rawat dengan wajah sembab dan seseggukan.
Di mata Milano hal itu tampak menggemaskan. Hidung Latizia yang merah karena menangis dan mata berairnya membuat siapa saja menahan gemas dan tersenyum kecil.
"K..kau..kau tak akan membunuhnya-kan?"
"Hm, akan-ku pertimbangkan!" Jawab Milano langsung membuat Latizia ingin turun kembali dari ranjang tapi Milano sigap memeluknya.
"Aku pergi saja! Aku tak ingin bertemu denganmu!"
"Pergi kemana? Malam ini jalan semuanya di tutup," Santai Milano memangku Latizia yang akhirnya memukul-mukul lengan kekarnya meluapkan rasa jengkel marah dan kesal.
"Kenapa kau selalu menyebalkan?!!"
"Hm, berbaringlah! Infusmu harus di pasang lagi," Pinta Milano mendudukkan Latizia di atas ranjang.
Tatapan ungu mistik itu tertuju para selang infus yang tadi ia lepas pasrah. Ada rasa takut di sana dan terlihat jelas Latizia tak berani.
"A..aku sudah sehat."
"Keanu!" Panggil Milano dengan suara tegasnya. Dokter Keanu yang tadi di luar segera masuk dan lega melihat Latizia sudah dalam kendali.
"Iya, Prince!"
"Pasang infusnya!"
Dokter Keanu mengangguk segera mendekat. Latizia menelan ludah kasar merasa terancam dan cukup pucat.
"A..aku sudah sehat. Aku.."
"Kau sayang bayimu?" Tanya Milano dan Latizia mengangguk.
"Maka lakukan. Jarum tak akan membuatmu tiada," Datar Milano dengan jantan menggenggam tangan Latizia yang gemetar.
"Aku tahu. Tapi, itu mengerikan!"
"Tadi kau memeggang pisau yang lebih mematikan," Tekan Milano menyelipkan nada marah yang tak bisa di bantah.
Dokter Keanu tersenyum kecil melihat Latizia meremas tangan kekar Milano yang begitu tega berkata ketus tapi berbeda dengan hatinya.
"Nona! Berikan tanganmu!"
Latizia diam. Ia masih menyembunyikan tangannya di belakang punggung membuat Milano tak sabaran.
"Ulurkan tanganmu!"
"A..aku sudah sembuh," Gumam Latizia keras kepala sampai Milano mengambil nafas dalam.
"Mau aku yang memasangnya?"
"Milano! Aku..A..apa yang kau lakukan?!!" Pekik Latizia di ujung kalimatnya saat Milano menciumnya paksa dengan cepat menarik lengan Latizia ke arah dokter Keanu.
Dalam ciuman yang mendominasi ini Milano lebih menekankan Latizia agar tak bisa lepas. Dokter Keanu tersenyum kecut segera memasang jarum infus ke punggung tangan Latizia yang di buat emosi tapi juga tak berdaya.
__ADS_1
"Apa salahku hingga belum mendapatkan pasangan sampai saat ini?!" Batin dokter Keanu menghela nafas.
Saat jarum itu terpasang sempurna, dokter Keanu menatap ngeri Latizia yang tampak tak bisa menghindar dari pesona prince-nya. Wanita itu mulai diam tak lagi memberontak bahkan keduanya terlihat cukup erotis.
"Ehmm!" Dehem dokter Keanu berniat menyadarkan Milano tapi pria itu tampak tak peduli.
Ia menarik selimut menutupi setengah sisi tubuh mereka sampai kepala agar dokter Keanu tak menganggu.
"M...Milamm!"
Decapan erotis itu terdengar panas. Milano tak bisa menahan dirinya terus mencumbu bibir Latizia yang terasa begitu manis dan lembut. Kekenyalan mainan favoritnya ini membuat Milano candu bahkan lupa dunia.
"Shitt!" Umpat dokter Keanu buru-buru keluar. Ia segera menutup pintu itu rapat dengan nafas ikut ngos-ngosan dan cukup berkeringat dingin.
"Itu mengerikan!" Gumam dokter Keanu berbalik dan langsung di hadapkan dengan wajah konyol Darren yang tersenyum mengejek bersandar di dinding.
"Tontonan dewasa?"
"Tak baik untuk anak kecil seperti kita," Jawab dokter Keanu tersenyum geli di rangkul Darren yang mengaku sudah sering melihat itu.
"Inilah alasanku menyuruhmu untuk cepat-cepat menikah."
"Apa nenekmu menganggur?" Tanya dokter Keanu menyulut tawa jenaka keduanya. Mereka berjalan pergi meninggalkan area terlarang itu karena akan menjadi sosok paling menyedihkan di dunia.
Sementara di dalam sana, Latizia yang kehabisan nafas langsung mendorong baru Milano. Wajah keduanya sudah merah dengan nafas memburu dan bibir basah yang sensitif.
Untuk sesaat keduanya saling pandang dengan gairah terpendam masing-masing. Milano memejamkan matanya menahan sesuatu yang mengeras di bawah sana.
"Istirahatlah!" Serak Milano menormalkan nafasnya.
"A..apa kau baik-baik saja?"
"Hm, tidurlah!" Gumam Milano menyelimuti Latizia sampai batas dada. Latizia bisa melihat telinga Milano merah dan nafasnya cukup berat dan memburu.
"Milano!" Gumam Latizia memberanikan diri untuk menyentuh rahang tegas yang penuh pesona itu.
Milano mematung. Tatapannya terus tertuju pada bibir Latizia lalu segera membuang muka ke arah lain.
"Istirahatlah!"
"Kau yakin kau baik-baik saja?"
"Kau jangan memancingku," Gumam Milano menurunkan tangan Latizia dari rahangnya. Sentuhan wanita ini hanya akan membuat darahnya mendidih dengan sangat cepat.
Latizia tak tahu kenapa bisa timbul rasa kasihan. Ia melihat jelas Milano menahan hasratnya sampai bagian resleting celana pria itu bengkak dan pasti sakit.
"Aku baik-baik saja. Kau tidur aku berjaga di luar!" Ucap Milano membaringkan Latizia dengan hati-hati. Setelah di rasa sudah nyaman barulah Milano berdiri di dekat nakas meminum segelas air putih sisa Latizia tadi.
Dirasa ada yang memandanginya, Milano menoleh dan sontak Latizia memalingkan wajah ke arah lain.
Sudut bibir tipis sensual Milano terangkat meletakan gelas itu kembali di atas nakas.
"Tak perlu kecewa seperti itu!"
__ADS_1
"A..apanya?! Aku tidur!" Syok Latizia segera memejamkan matanya paksa. Jantungnya berdegup lebih kencang dan sulit di kendalikan.
"Ada apa dengan jantungku?! Ini sama sekali tak normal," Batin Latizia dengan tangan meremas selimut.
Cup..
Degg..
Jantung Latizia hampir copot saat merasakan kecupan hangat bibir basah seseorang di keningnya.
"Tidurlah! Malam ini kau-ku lepaskan!" Bisik Milano tersenyum tipis saat melihat respon Latizia yang gugup.
Ia berjalan pergi dengan suara pintu tertutup pertanda Milano sudah keluar.
"Astaga!"
Latizia sontak membuka mata dan mengambil nafas dalam-dalam. Ia memeggang dadanya yang seperti mau berperang di dalam sana.
"Apa dia dengar detak jantungku tadi?! Latizia, ini sangat memalukan," Decah Latizia mengusap bagian keningnya yang tadi di cium Milano.
Sedetik kemudian ia tersenyum malu. Kedua pipinya tambah memerah karena Latizia tak pernah sebelumnya di cium sehangat dan semesra itu.
"A..aku tidur! Mungkin hari ini terlalu banyak masalah," Gumam Latizia berusaha melupakan momen itu.
Ia menepuk-nepuk kedua pipinya agar cepat tidur tapi sayangnya Latizia merasa aneh. Ntah kenapa perhatian Milano terasa spesial semenjak dia hamil padahal sebelumnya Latizia masa bodoh.
Namun, sayangnya Latizia tak tahu jika Milano melihat itu semua. Sosok gagah dan penuh pesona itu berdiri di balik pintu dengan wajah yang cukup bersahabat.
Sudut bibirnya terangkat melihat tingkah Latizia yang kekanak-kanakan tapi di matanya itu spesial.
"Aku juga merasakannya," Gumam Milano memeggang dadanya sendiri. Ntahlah, ia belum pernah merasakan hal ini sebelumnya padahal sudah banyak wanita yang rela merangkak ke ranjangnya hanya demi kepuasan.
Tapi, baru kali ini ia di buat tak berdaya oleh seorang Latizia si wanita depresi yang selalu menginjak-nginjak harga dirinya.
"Prince!"
Wajah Milano langsung berubah datar. Tak ada lagi senyum atau tatapan hangat yang tadi ia arahkan pada Latizia.
"Prince! Putri menyuruhku membawanya pergi!" Ucap Grigel yang baru datang dengan rasa ngeri bertemu Milano.
"Aku sudah menyiapkan mobil dan siap untuk me.."
"Coba saja!" Datar Milano dengan hawa mematikan. Grigel melihat dari cela pintu dimana Latizia sudah lebih baik dan tampak tenang.
"Pria ini selalu saja membuat bulu kudukku berdiri," Batin Grigel segera pergi tapi, ada satu informasi yang harus ia sampaikan.
"Sepertinya putri harus kembali ke wilayah kerajaan Garalden! Kami punya anggota yang bisa melindunginya, Prince?"
"Aku saja cukup," Tegas Milano dan tak ada bantahan dari Grigel.
Ia segera pergi untuk mengabari para rekan mereka yang semula khawatir dengan keadaan Latizia. Tapi, sekuat apapun mencoba membawa wanita itu maka ada Elang ganas yang selalu menjaganya.
...
__ADS_1
Vote and like sayang