
Darah yang mengalir di tangannya terus banjir menetes tanpa hambatan. Semua mata bahkan tak dapat berkedip dengan ekspresi syok bukan main.
Tubuh kekar itu luruh terduduk dengan lutut menubruk tanah beriringan jatuhnya pisau. Matanya terpejam bersandar ke paha Latizia yang mematung.
Mata Latizia mengigil memindai darah yang membanjiri telapak tangannya. Hawa nafas pria itu tak lagi menerpa leher melainkan putus di tengah jalan.
"Milanooo!!!" Teriak Franck histeris segera berjongkok menahan bahu lebar sang adik.
Perlahan-lahan rakyat Madison mundur menutup mulut mereka dengan satu tangan. Mata memancarkan ketakutan dan tak percaya ini akan terjadi.
"P..prince!"
"Dia.."
Tak dapat berkata-kata. Dari sisi dalam gerbang terlihat putri Veronica menggendong baby Arch berlari kecil ke sini bersama dokter Dee dan panglima Ottmar.
Mereka sungguh terkejut melihat fenomena menakutkan di depan sana dengan lulungan Franck mengguncang tubuh adiknya.
"Milano!! Bangun!! Banguuun!!!"
"P..prince!" Lirih Darren menatap kosong bujuran tubuh penguasa itu.
Latizia berbalik pelan dan tumbang lemas di dekat kedua kaki Milano yang sudah bersimbah darah.
"K..kau.."
"Latizia!! Tolooong!!" Jerit Franck tak kuasa menahan tangisnya. Ratusan elang di atas sana perlahan-lahan memudar membuat gejolak batin semua orang kian memuncak.
"Milano!! Ini..ini kakak, jangan..jangan begini!" Gumam Franck menepuk-nepuk wajah pucat Milano yang tak bergerak.
Tubuhnya dingin terasa lebih menakutkan tanpa tarikan nafas atau degupan jantung. Bagaimana tidak, nadi leher yang di putus membuat darah keluar seakan dari pancuran selang hisap.
"Latizia!! Toloong, tolong adikku!"
Latizia merangkak lebih dekat. Kedua tangannya yang gemetar meraba dada bidang Milano yang memakai kaos santai putih berubah warna menjadi merah darah.
Jantungnya seakan berhenti berdetak kala tak merasakan aktifitas apapun di dalam sana. Wajah Latizia semakin pucat dengan perasaan kacau yang meledak-ledak.
Dengan ketakutan besar di matanya, ia menangkup pipi dingin pria itu penuh harap.
"B..bangun!" Lirihnya parau. Tak ada respon apapun sampai Latizia mulai merasa tak tahan lagi.
"B..bangun!! Kau..KAU JANGAN DIAM SAJAA!!! KAU TAK BISA MELAKUKAN INI!!" Teriak Latizia tak terima.
Langit di atas sana semakin menghitam seperti akan turun hujan. Elang yang tadi perlahan memudar benar-benar tak lagi ada membuat batin Latizia serasa mau lepas sekuat mungkin.
"BANGUUUN!!! KAU JANGAN BEGINI, HIKS!! MILANOO!!!"
__ADS_1
Jeritnya kuat tapi tak bisa mengembalikan apapun yang sudah terjadi. Baik Latizia atau Franck tampak terpukul berat bahkan keduanya menangis histeris tak mampu menahan rasa sesak di dada masing-masing.
"J..jangan lakukan ini, aku mohon!" Isak Larizia memeluk erat Milano dengan ketakutan yang besar.
Setetes demi setetes air mulai turun. Gumpalan awan gelap di atas sana meluruhkan gerimis yang semakin lama kian lebat.
Tapi, sederas apapun hujan ini turun tak ada yang berteduh. Mereka seakan pasrah dan rapuh menerima kenyataan yang ada.
"J...jangan lakukan ini padaku, hiks! Hanya kau yang ku punya, jangan seperti ini!"
Suara alunan harmonika mulai terdengar. Latizia mengangkat kepalanya melihat ke sekeliling dimana alunan penuh emosi itu mengitari mereka semua.
Irama yang penuh dengan perasaan. Latizia ingat jika alunan inilah yang dulu Milano mainkan dikala sedang sedih dan terluka.
"Kau sedih?!" Lirih Latizia mengusap rahang tegas itu lembut.
"A..aku minta maaf, aku hanya tak ingin kau mengorbankan dirimu hanya untukku. Aku..aku tak suka melihat mereka menghinamu. Kau sudah bekerja keras tapi, tak ada yang menghargainya. Hanya itu, jangan menghukumku seperti ini, aku mohon!"
Franck hanya bisa diam. Ia remas bahu Milano kuat-kuat untuk meredam rasa sakit di hatinya.
"Apa kau tak memikirkanku? Milano! J..jika tahu seperti ini, aku bersumpah tak akan kembali ke kerajaan. Hanya kau yang ku miliki tapi..tapi kau.."
"Pangeran!" Gumam Darren memeggang bahu Franck yang beralih memeluk erat tubuh Milano dengan tangisan tertahan.
Putri Veronica di belakang sana sudah lemas dengan mata berkaca-kaca. Untung dokter Dee menahan bahunya jika tidak, ia akan pingsan disini.
"Turuti aku atau kau akan bernasib sama seperti dirinya."
"Kauuu!!" Gumam Latizia mengepalkan tangannya erat. Itu suara kakek Teans yang telah membuat kekacauan sampai ke puncak seperti ini.
"Jika kau ingin seluruh rakyat Madison selamat, bunuhlah putramu!"
"AKU YANG AKAN MEMBUNUHMU!!! BAJINGAAAN!!!" Teriak Latizia sejadi-jadinya membuat semua orang tertegun.
Dari mata mereka mengira Latizia sudah gila berteriak tanpa alasan tapi, bagi anggota kerajaan mereka tahu, siapa yang berusaha mempengaruhi wanita itu.
"Kau tak akan bisa membunuhku. Lenyapkan putramu atau-ku buat mereka sengsara seumur hidup!"
"Sengsara?" Geram Latizia mengepal kuat bahkan giginya tertutup rapat membendung kemarahan yang meledak-ledak.
"Kesengsaraan apa yang tak pernah aku rasakan sampai detik ini!!!" Geram Latizia bangkit mengambil pisau itu dan melemparnya kuat ke arah samping dekat salah satu prajurit yang syok ketakutan tapi..
Pisau itu ternyata terhenti kala ada pusaran asap hitam perlahan membentuk tubuh seseorang. Panglima Ottmar mencengkram erat pistol di tangannya begitu juga yang lain.
"Bajingan tua bangkaa!!!" Maki panglima Ottmar sekaligus Darren yang menggebu-gebu.
Latizia berdiri dengan sorot mata penuh kebencian. Air hujan yang menetes membuat darah yang tadi membanjiri tangannya luruh ke tanah.
__ADS_1
"Tak ada lagi yang bisa kau harapkan. Pria itu sudah tiada," Sarkas kakek Teans menyeringai.
"D..dia siapa?"
"Tatapannya sangat mengerikan!"
"Hawanya begitu jahat."
Desas-desus para penduduk Madison yang mundur. Tatapan kakek Teans seperti iblis yang begitu licik melihat Milano sudah terbujur tak bernyawa.
"Pria yang bodoh. Hanya demi seorang wanita, rela mengorbankan diri sendiri."
"Kau yang membuat seluruh rakyat Madison menderita!! Bahkan, kau juga yang membunuh Raja Facsionus!! PRIA MENYEDIHKAAN!!"
Pernyataan Latizia mengejutkan semua orang. Ternyata, pria iblis inilah yang memberi malapetaka pada mereka semua.
"Dia adalah anak tiri raja pertama. Merencanakan konspirasi besar-besaran sampai membunuh kedua orangtuaku. Seharusnya kau tak pantas hadir di dunia ini!!"
"Pria sialaan!! Ternyata kau dalang dari semua ini!!" Timpal pria yang tadi bicara pada Latizia.
Kilatan kemarahan mulai muncul di mata kakek Teans. Jiwanya yang sekarang hadir di tengah-tengah mereka mulai menyebarkan asap hitam itu mengelilingi semua orang.
"Aku yang berhak atas tahta Madison dan aku juga yang akan menghabisi kalian semua!" Geramnya menghempaskan tangan kananya ke arah penduduk Madison yang langsung terpental karena dorongan kuat bak di hantam batu besar.
Tubuhnya yang ringan mendekat berpijak pada asap gelap di bawahnya. Kabut pekat menyelimuti istana sampai menutupi pandangan mereka.
"Kau tak berguna lagi untukku!" Desis jiwa kakek Teans mendekati baby Arch yang ada di gendongan putri Veronica.
Panglima Ottmar ingin menghalanginya tapi, tubuh mereka tiba-tiba tak bisa bergerak telah di ambil alih.
"Jangan mengusik putrakuu!!!"
"Keturunan yang sempurna," Gumam jiwa kakek Teans mengulur tangannya untuk menyentuh kening baby Arch yang hanya diam dengan mata bening berubah tajam.
"K..kau mau apa?" Geram putri Veronica berusaha menggerakan tubuhnya tapi nihil, mereka seperti di tanam ke dalam tanah.
"Jika kau sampai hidup lebih lama, kau akan melebihi ayahmu! Mana mungkin ku biarkan itu terjadi."
Saat jari kanan kakek Teans menyentuh kening baby Arch, cahaya keemasan yang terang mulai terpancar tajam.
"Kauu.."
Ia terkejut kala cahaya itu menghisap seluruh energinya dengan kuat bahkan tubuhnya tiba-tiba tak bisa di gerakan.
Netra coklat pekat baby Arch semakin menyipit. Putri Veronica terkejut kala sudut bibir prince kecil itu terangkat licik seakan mengatakan 'SEKARANG GILIRANMU, AYAH!'
...
__ADS_1
Vote and like sayang