GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Frustasi tapi juga berfantasi


__ADS_3

Sore ini di luar Madison. Milano tak lagi bisa menahan diri untuk menemui guru Teans yang sudah di kurung di markas besar mereka.


Sebuah ruangan bawah tanah yang lembab dan dingin. Dinding berlapis baja dan tak ada sirkulasi udara yang baik disini.


Pria tua dengan lengan terus mengeluarkan darah itu terduduk na'as di dalam jeruji besi yang sangat rapat. Mustahil bisa keluar dari sela sempit nan dingin itu.


"Dari semalam dia belum sadar, prince!" Ujar Barbara pemantau ruang bawah tanah di markas.


Milano berdiri berhadapan dengan jeruji besi itu dengan wajah kelap penuh amarah. Darren yang selalu setia bersama Milano sangat tahu jika kakek Teans sudah terlewat batas manusiawi.


"Dia tak bicara bahkan, tak membuka mata sama sekali. Kami sudah memberinya makan tapi, dia tetap tak merespon."


"Bebaskan Latizia!" Titah Milano langsung menghadirkan angin dingin yang berhembus kuat ke dalam jeruji menerpa tubuh kakek Teans.


Karena tekanan yang Milano buat, tentu saja kakek Teans tak lagi membisu.


Senyum licik dan tawa mengerikan itu muncul terkesan sangat santai.


"Atas dasar apa kau memerintah-ku?!"


"Kau manusia yang tak punya hati nurani!! Nona Latizia sudah baik padamu tapi kau menjadikannya sebuah bonekaa!!" Maki Darren tak tahan lagi melihat kelicikan pria ini.


"Memangnya kenapa? Wanita itu memang di takdirkan untuk tiada!"


Ucapan kakek Teans membuat Milano geram sampai satu besi jeruji itu bergetar langsung patah dan menghunus ke arah leher kakek Teans.


"Prince!!" Cegah Darren karena Milano nyaris merobek leher pria tua itu.


"Bunuuuh!! Kenapa berhenti? Bukankah, kau sangat ingin membalas dendam atas kematian kakekmu, hm?!" Provokasinya intens.


Kedua tangan Milano terkepal erat sampai buku-buku tangannya muncul menahan api amarah yang mendidih membakar setiap aliran darahnya.


"Hanya demi seorang wanita, kau melupakan dendam kakekmu. Luar biasa, MILANO!"


"TUTUP MULUTMUU!!" Tekan Milano hingga besi itu tertancap kuat ke dinding tepat di samping leher kakek Teans hanya berjarak 2 senti.


Dengungan besi yang saling beradu terdengar keras dan mengerikan.


"Kau tak berhak menilai rendah, Latizia! Dia bahkan berjuang demi rakyatnya tapi kauu!! Kau tak lebih dari seekor PARASIT."


"Apa peduliku?!" Tanya kakek Teans membuat darah di tubuh Milano semakin mengubun.


"Sejak kecil dia sudah menyerahkan diri padaku. Dengan polosnya dia berguru dan menganggap-ku orang tuanya. Padahal, akulah yang merenggut nyawa semua orang yang dia cintai karena demi kerajaanmu, Milano!" Imbuhnya beralasan.


Mendengar itu ingin rasanya Darren muntah. Pria ini begitu menjijikan.


"Demi Madison aku memperluas wilayah kerajaan. Membuat rencana besar hingga Madison ditakuti semua orang. Aku sengaja mendekatkan Delvin dan Latizia sampai mereka menikah. Lihatlah!! Garalden sudah menjadi milik kita tapi kauuu..kau merusak rencanakuu!!" Ucapnya lagi penuh amarah.


"Kau melakukan semua itu untuk dirimu sendiri," Dingin Milano mengetatkan rahangnya.


"Tidak," Bantahnya kekeh.


"Aku melakukan itu untuk kerajaan. Aku adalah saudara tiri Facsionus dan seharusnya aku yang memimpin Madisoon," Jelasnya penuh kebencian.


Milano terdiam begitu juga mereka yang ada disini. Wajah kakek Teans terlihat sangat marah saat menyebutkan nama kakek Facsionus.


"Aku lebih hebat dan kuat darinya. Tapi, kenapa tua bangka itu lebih memilih diaa?!! Aku juga berhak atas tahta ituu!!"


"Kau tak tahu diri," Maki Milano dengan suara yang datar sukses memancing amarah kakek Teans yang semula begitu tenang.


"Kauuu.."

__ADS_1


"Kakek buyut memang mengadopsi-mu sebelum dia punya anak tapi, kau sama sekali tak berhak atas tahta kerajaan," Tekan Milano dengan tatapan tegasnya.


Penjelasan kakek Teans tak membuatnya terkejut. Ia memang tahu jika kakek buyutnya punya dua anak tapi, satunya anak tiri. Hanya saja, ia tak mengira jika kakek Teans-lah anak tiri itu dan berkelana di luar mengatur strategi untuk menghancurkan kerajaan.


Ia mendalangi tragedi kematian Raja Facsionus dan istrinya sampai pada memperalat raja Barack dan ratu Clorris sebagai pion balas dendam. Rencana yang sangat sempurna.


"Sekarang kau sudah tahu segalanya. Aku tak menduga jika si idiot seperti Barack bisa melahirkan putra yang jenius yang bisa mengorek semua rencanaku. Bahkan, kau juga menguasai ilmu spritual yang sangat sulit di miliki. Bergabunglah denganku!" Ajaknya tak tahu malu.


"Apa yang kau lakukan pada Latizia?" Tegas Milano ingin tahu dari mulut kotor pria ini.


Sebelum menjawab, kakek Teans tersenyum picik mengenang bagaimana kejamnya ia saat itu.


"Dia terjatuh dari kuda dan satu kaki sebelah kiri patah. Saat tahu dia adalah seorang putri bangsawan besar, tentu saja aku tak akan melewatkan kesempatan emas kala itu," Jelasnya dengan tatapan tanpa penyesalan beralih pada netra elang mengigil Milano.


"Saat dia pingsan. Aku mematahkan satu kaki kanannya agar kedua kaki itu bisa tumbuh tapi dalam pengaruh racikanku."


"Kauuu!!!" Murka Milano ingin masuk dalam ruangan itu untuk mencabik-cabik kakek Teans tapi bahunya di tahan oleh Darren dan Barbara.


"Seluruh tubuh bahkan aliran darahnya terbentuk bercampur dengan racikanku! Dia tak akan pernah bisa lepas dari semua kecuali dia meninggalkan raganya!"


"BRENGSEK!!" Geram Milano menendang jeruji itu hingga semuanya lepas membentur tubuh kakek Teans yang tertawa lebar.


"Prince! Keluarlah, tenangkan dirimu!"


"Jika sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya. Aku bersumpah tak akan melepaskanmu!" Desis Milano segera pergi karena akan lepas kendali jika tetap berhadapan dengan pria menjijikan itu.


Milano keluar dari area bawah tanah. Seluruh anggotanya menunduk kala Milano menaiki anak tangga kembali ke atas.


Darren mengikuti dari belakang. Ia mengisyaratkan para anggota agar jangan membuat masalah yang bisa memancing amarah Milano.


"Kalian harus berhati-hati. Tetap pantau pria tua itu dan jangan sampai dia lepas!"


Jawab mereka siaga membiarkan Darren naik ke atas. Ia mengikuti Milano keluar dari pintu besar di depan sana sehingga para anggota mereka yang ada di luar segera menunduk.


"Prince!" Sapa mereka tapi Milano berjalan dengan hawa tak bersahabat penuh intimidasi.


"Kunci!" Dinginnya pada Darren yang segera mendekat menyerahkan kunci mobil.


"Ini, prince!"


Milano mengambilnya dan masuk ke mobil dengan suasana hati yang buruk. Darren hanya bisa diam memandangi mobil mewah mahal itu melaju cepat keluar area markas yang terletak di bukit paling dalam tapi akses jalan masih ada dan tentu sangat tersembunyi.


Di dalam mobil itu, Milano mulai merokok. Ia mencengkram kemudi dengan kecepatan penuh menerobos aspal panas ini.


Pikirannya seketika di penuhi oleh suara tangis dan rintihan sakit Latizia. Semakin jelas suara itu terdengar maka semakin cepat mobilnya melaju tanpa hambatan.


"Kau tak berguna," Geram Milano memaki diri sendiri.


Ia menyesap rokoknya lalu meremas puntung berapi itu tak peduli jika tangannya akan terbakar.


"Kau bahkan tak bisa menjaganya dengan baik. Kau tak bisa di andalkan!"


Milano memutar kemudi mobil hingga langsung menabrak pepohonan yang ada di sekitar jalan. Tabrakan itu membuat bagian depan mobil hancur dan kepala Milano terbentur ke kemudi dengan keras.


Drett..


Ponsel Milano menyala. Pria tampan dengan pikiran kacau itu mengangkat kepalanya dari kemudi hingga terlihatlah darah segar mengalir di pelipis.


Ntahlah. Milano sengaja melakukan itu padahal ia bisa menghadapi tabrakan apapun.


"Latizia!" Lirih Milano melihat layar ponselnya sendu.

__ADS_1


Ada rasa takut yang begitu besar dihatinya untuk menjawab panggilan ini.


"Kau dimana? Apa kau baik-baik saja?"


Suara Latizia cukup cemas karena tadi Milano tinggalkan di kamar kerajaan.


"Milano?"


"Hm?" Gumam Milano memejamkan matanya bersandar ke kursi mobil sekedar untuk merilekskan pikiran.


"Cepat pulang! Ini sudah malam."


"Apa masih sakit?" Tanya Milano yang sudah lebih tenang.


"Setelah bangun tadi rasanya sudah sangat sehat. Aku sudah bisa memukul kepalamu."


Sontak saja Milano langsung tersenyum kecil. Ia meraih tisu di dekat kursi samping dan mengelap darah di pelipisnya.


"Bisa tidak bicaramu lebih lembut," Gumam Milano merapikan penampilannya sebelum pulang kembali ke Madison.


"Kau ingin dengar?"


"Yah. Katakan!" Pinta Milano tapi segera merinding kala Latizia justru mende**sah dengan nakal.


"Akhss!! S..sayang!"


"Kau sangat nakal," Gemas Milano tak tahan.


"Bagaimana? Merdu, bukan?!"


"Tunggu aku pulang," Desis Milano mematikan sambungan lalu dalam sekejap menghilang dari dalam mobil.


.....


Sementara di dalam kamar sana. Latizia langsung gelagapan bukan main. Ia merutuki dirinya yang terlalu ceroboh memancing singa jantan dan Elang Madison itu untuk terbang dalam sekejap ke sini.


"Latizia! Kau mencari mati, habislah sekarang!" Panik Latizia turun dari ranjang dan mondar mandir mencari tempat persembunyian.


Ia pergi ke kamar ganti dan melihat ada lemari besar terbuat dari kayu asli yang mahal cukup untuknya.


"Saat melihat kamar ini kosong. Dia tak akan menduga jika aku ada disini," Gumam Latizia kekanak-kanakan segera membuka lemari besar itu dan masuk ke sana tanpa melihat kiri kanan.


"Kau tak akan menemukan tempat persembunyianku."


"Ingin bersembunyi, hm?!"


Degg..


Latizia terkejut bukan main kala Milano sudah berdiri melipat lengan di depan dada seraya bersandar di dalam lemari dengan angkuh.


Tatapan elangnya membuat Latizia menelan ludah dengan berat.


"K..kau.."


"Tunjukan suara itu lagi!" Desis Milano menarik Latizia yang terpekik tapi na'as pintu lemari itu sudah tertutup keras dengan sendirinya.


"Kau gilaa!!" Teriak Latizia karena Milano ingin melakukannya di dalam sini.


....


Vote and like sayang..

__ADS_1


__ADS_2