GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Nafsu makan yang meningkat


__ADS_3

Masih di restoran yang sama. Latizia asik makan dengan lahap karna memang ia begitu lapar. Tak peduli lagi bagaimana pandangan Milano terhadapnya, Latizia makan serakus mungkin dan tak terlihat seperti seorang putri kerajaan besar yang menjaga citra elegan dan feminimnya.


Milano yang hanya minum itu terus memperhatikan Latizia. Di matanya, Latizia seperti beruang menggemaskan yang comot sana sini dengan kedua pipi mengembung penuh makanan.


"Kau sangat rakus!"


"Uhuuk!!"


Latizia langsung tersedak. Ia buru-buru menegguk tandas gelas air di dekat piringnya yang sudah kosong bersih seperti di cuci ulang.


Milano hanya mengulum senyum tipis. Di meja ini sudah kosong selain piring makan Milano yang tak di sentuh sama sekali.


"Apa kau sedang diet?" Tanya Latizia yang kesal mengusap bibirnya dengan serbet di atas meja.


"Aku sudah sering makan enak. Kali ini ku berikan padamu!" Menyodorkan piringnya dengan angkuh.


Latizia diam menatap tajam Milano dengan rasa kesal menggunung. Keduanya beradu pandang tapi tatapan Milano terkesan licik penuh kemisteriusan yang alami.


"Aku tahu. Ketampananku terkadang membuat nafsu makan meningkat."


"Cih, bualanmu cukup membuatku geli," Ketus Latizia membuang muka ke sembarang arah.


Tapi, rasanya ia masih lapar padahal sudah menghabiskan banyak makanan yang tergolong menu besar. Mungkin suasana hatiku yang tak baik membuat porsi makan-ku berlebihan, pikir Latizia kesal sendiri.


Karena tak tahan melihat makanan di piring Milano, liur Latizia hampir saja mau menetes membuat ia malu bukan main.


"A..kau..kau benar sedang diet?" Basa basi Latizia menarik pelan piring itu lebih dekat padanya.


Sungguh, Milano sampai mengigit bibir bawahnya gemas melihat tingkah kekanak-kanakan Latizia yang pura-pura mengaduk-aduk potongan daging di dalam piring.


Ia yang sedang duduk bertopang kaki angkuh bak CEO arogan itu terus memperhatikan Latizia seraya menegguk minumnya tenang dan penuh kharisma.


"Karena hatiku sangat baik jadi, aku tak ingin melihat makanan terbuang. Akan-ku bantu habiskan!" Jelas Latizia dengan tatapan yang seperti berbesar hati menerima makanan itu.


Milano diam. Tapi, saat Latizia menusukan garpu ke daging itu dan siap untuk menyantap, Milano segera menarik piringnya kembali.


"Kauuu!!" Syok Latizia hampa.


"Aku tidak diet," Gumam Milano meletakan gelasnya di atas meja lalu mulai memotong-motong daging di piring ini dengan niat menjahili Latizia.


Terbukti rencana Milano berhasil. Wajah Latizia langsung berubah murung dengan tatapan yang kecewa. Ntah kenapa hatinya terasa sesak dan sulit di kendalikan.


"Kau memang jahat!" Umpat Latizia ingin pergi tapi Milano langsung menahan tangannya di atas meja.


Keduanya saling pandang dengan tatapan berbeda tapi Latizia bingung saat Milano menyodorkan kembali piring makanan itu dengan daging yang sudah terpotong rapi dan siap di makan.


"K..kau.."


"Makanlah! Aku sudah kenyang," Ujar Milano membuat Latizia terpaku. Ada kewaspadaan yang Milano lihat dari pandangan intens Latizia.


"Kau tak sedang merencanakan sesuatu-kan?" Selidiknya menyipitkan mata.


"Jika tak mau aku bisa.."


"Baiklah!!" Pekik Latizia mengambil piring itu cepat sebelum Milano menariknya. Ia kembali duduk dengan tenang dan berubah menjadi sosok putri kerajaan yang sangat feminim.


"Baiklah! Jika kau memaksa, aku bisa apa?!" Gumam Latizia makan dengan penuh wibawa. Jujur ia hanya menutupi rasa malu padahal ia ingin sekali mengangkat piring ini ke mulutnya dan makan dengan cepat.


Melihat Latizia yang semakin membuatnya tergelitik, Milano segera berdiri. Latizia menghentikan acara makan elegan ini sejenak dengan satu potong daging belum juga selesai ia kunyah.

__ADS_1


"Sudah selesai?"


"Toilet! Aku ingin ke toilet," Jawab Milano melangkah pergi tapi batin Latizia bersorak. Ia melirik kiri kanan yang sepi tak lagi ada pengunjung hingga SAATNYA BERAKSI.


"Makan seperti itu tak akan membuatku kenyang," Gumam Latizia menjilati bibirnya sendiri dan mulai kembali ganas.


Ia melahap semuanya dengan satu gigitan dan mungkin Latizia meneramkan hukum KUNYAH-KUNYAH TELAN yang terlihat sangat mengerikan.


Namun, tanpa Latizia sadari. Milano bersandar di ambang pintu di belakang sana merekam semua tingkah menggemaskan itu di dalam ponsel pintar yang sudah banyak menyimpan aib Latizia.


Wajahnya yang tadi dingin berubah jadi lebih bersahabat. Ntah kenapa ia selalu menyukai apapun yang Latizia lakukan. Wanita ini terlalu spesial bisa berubah-ubah sesuai situasi.


"Selera makan nona begitu besar."


"Sangat mengerikan."


Dialog para koki di belakang Milano yang terkejut setengah mati saat mendapat lirikan membunuh seseorang.


"P..Prince!" Gugup mereka pucat pasih seakan berhadapan dengan malaikat maut.


"Hidangkan lagi masakan terenak disini. Jangan terlalu pedas!" Titah Milano dan mereka kalang kabut segera pergi ke dapur.


Milano kembali memandang Latizia. Tatapan dinginnya tapi sedikit melunak setiap melihat wanita itu.


Di mata orang lain mungkin Latizia terlihat seperti beruang buas yang makan dengan rakus tanpa aturan. Tapi, di mata Milano itu sesuatu yang spesial dan menggemaskan.


Mungkin memang seperti ini. Setiap suasana hatinya sedang tak baik maka porsi makannya akan besar dan tentu suka yang pedas, pikir Milano memahami selera Latizia.


Hanya saja ia menjaga agar Latizia tak diare. Sudah cukup hidangan pertama pedas dan sekarang harus di imbangi.


Drett ...


Ponsel Milano berdering. Ia pergi ke area belakang dimana ada jendela yang bisa menampakan suasana luar resto.


"Prince! Keluarga kerajaan Sauveron datang ke istana. Mereka marah besar melihat keadaan putri Veronica yang masih kekeh menuduh putri Latizia!"


Suara cemas panglima Ottmar yang melaporkan semua kejadian di istana menyangkut Latizia.


"Apa dia punya bukti?"


"Ada. Sepertinya ada seseorang yang membantunya untuk membuat bukti palsu. Catatan transaksi beli racun itu atas nama putri Latizia."


Milano diam sejenak. Ia tahu masalah ini tak akan semudah yang di pikirkan Latizia. Itu karenanya Milano masih disini mengesampingkan urusan pekerjaan yang seharusnya membuat Milano tak ada di kerajaan Madison.


"Cari pembuat racun itu! Paksa dia untuk mengaku dan bereskan juga para pelayan yang kemaren membantunya!"


"Prince! Pembuat racun itu sudah di bawa pergi keluar negara ini. Mungkin dia sudah tahu jika itu akan jadi masalah besar."


Penjelasan panglima Ottmar membuktikan jika keluarga kerajaan Sauveron juga ingin menutupi kejahatan putri mereka.


Jika seperti itu, Milano tak akan segan untuk memberinya serangan balasan.


"Cari pembuat racun itu dimana-pun. Aku ingin semua skandal kotor di kerajaan Sauveron terdata di ponselku!"


Titah Milano serius. Ia mematikan panggilan itu dengan amarah yang cukup membekukan suasana di sekitar sini.


"Ingin bermain denganku?!" Geram Milano menyeringai. Ia tahu semua aib keluarga kerajaan Sauveron dan tunggu saja bagian menarik dari cerita ini.


"P..Prince!"

__ADS_1


Salah satu koki yang tadi selesai memasak berdiri gugup dan gemetar di belakang Milano yang segera berbalik.


"M.. Makanannya..."


"Letakan di mejaku!"


"T..tapi sudah habis."


Milano tersentak. Koki itu bingung mau menjelaskan bagaimana lagi yang jelas ia tak mau lama-lama ada di hadapan Milano.


"N..Nona makan dengan sangat lahap. Tiga hidangan lenyap dan a..apa kami buatkan lagi yang baru?"


"Cukup itu saja," Jawab Milano tegas dan berjalan keluar dari area ini. Ia melihat Latizia yang sudah tersandar lemas di atas kursi meja makan yang terlihat seperti wastafel pencucian piring yang menumpuk.


"Cukup mengejutkan," Gumam Milano menghembuskan nafas dalam lalu berjalan mendekati Latizia.


Wanita itu sudah tersandar pasrah dengan perut begah dan timbul rasa ngantuk yang berat. Bahkan, sisa saos di bibirnya masih menempel bak anak-anak.


"K..Kenyang! Emm..perutku," Gumam Latizia mengusap perutnya dengan mata terpejam.


Milano diam. Ia mengeluarkan ponselnya sekali lagi mengabadikan aib Latizia yang seperti tak akan mampu bergerak lagi.


"Ini senjata baruku!"


"K..kau..kau mau apa?" Tanya Latizia yang setengah sadar melihat Milano memotretnya.


Ia ingin meraih ponsel itu tapi yang dia tarik adalah lengan kekar Milano yang segera membungkuk ke arahnya.


"P..Pria brandal. B..Bayar tagihannya," Lirih Latizia sudah tepar.


Wajah cantik yang kekenyangan ini membuat Milano terpancing. Fokus utamanya adalah bibir manis Latizia yang meracau tak jelas menahan ngantuk.


"B..Bayar..tagihan..nya.."


"Kau berhutang padaku," Gumam Milano tersenyum tipis segera mencium bibir Latizia yang tak bisa berontak dan hanya diam.


Para koki yang tadi ada di belakang sana langsung pura-pura memasak karena adegan itu terlalu intens.


"Cepatlah memasak!!!"


"Tak ada pesanan," Jawab salah satunya menyadarkan teman-teman lain yang pura-pura sibuk untuk menormalkan suasana.


Sementara di luar sana, Milano bebas melampiaskan hasrat berciumannya dengan Latizia yang tak segan membalas. Untung saja resto ini sudah kosong dan mereka aman.


"Ehmm! P..Perutkumm!" Gumaman Latizia kala Milano masih menguasai bibirnya. Karena tak puas hanya dengan mencium seperti ini, Milano segera berdiri.


Nafasnya cukup memburu dengan bagian bawah terasa mengeras dan butuh pelayanan.


"Tutup resto ini!" Titah Milano pada mereka yang ada di belakang.


Semuanya bergegas pergi menutup pintu dan merapikan barang-barang. Resto Nude Food ini merupakan restoran milik anggota Milano yang tak akan membocorkan apapun. Jadilah Milano leluasa meminta ganti rugi pada Latizia.


"S..Sesak!" Lirih Latizia memeggang perutnya. Ia masih belum sadar apapun karna memang menahan untuk tak tidur tapi ia sangat mengantuk.


Kala semuanya sudah sunyi dan tertutup. Milano langsung melepas jaketnya dan menggendong Latizia pergi ke area kasir resto.


Ia punya fantasi yang liar dan selalu ingin melakukan apapun di tempat baru tapi keinginan ini hanya muncul setiap bersama Latizia.


"Cukup erangkan namaku dan akan-ku bantu berolahraga!" Bisik Milano menepuk bokong Latizia agar lebih penurut.

__ADS_1


......


Vote and like sayang..


__ADS_2