
Tanpa di sadari sudah 7 bulan berlalu. Setelah Milano mengatakan Latizia mengandung anaknya saat itu, baik Ximus maupun putri Athena tak lagi menampakan wajah mereka.
Kabar pernikahan mereka juga sudah lama beredar. Atas kesepakatan dua keluarga kerajaan yang ingin menutupi aib di mata dunia.
Tentu saja Milano lega. Dengan begitu, tak ada lagi yang menganggu kehidupannya dan Latizia yang tengah menanti kelahiran anak mereka dalam beberapa hari lagi.
Namun, dalam beberapa bulan ini wabah yang menyebar di masyarakat Madison dan Garalden tak bisa di kendalikan. Milano terus berusaha menggunakan energinya untuk menyembuhkan para penduduk yang terpapar tapi, wabah itu tak hilang.
Jika satu orang di sembuhkan maka, akan ada lagi yang terkena. Sepertinya kakek Teans membuat racun itu dengan imbalan yang besar.
"Prince! Sudah berbulan-bulan lamanya kau menggunakan energi-mu untuk mengobati dua wilayah kita tapi, kau juga tak bisa selalu seperti ini," Ujar Darren yang tengah melihat Milano duduk di kursi kerjanya.
Pria tampan berambut abu gelap dan netra coklat tajam itu tampak sangat sibuk. Urusan perusahaan dan masalah wabah itu ia yang menangani sementara pemerintahan Madison ada Franck yang siap siaga.
"Kau juga manusia biasa, prince! Kau perlu istirahat dan energimu tentu akan terkuras jika di gunakan dalam jangka panjang untuk dua wilayah besar."
"Hanya ini yang bisa ku lakukan," Tegas Milano tak peduli jika itu akan berdampak padanya.
"Tapi, jika nona sampai tahu maka.."
"Jangan ada yang memberitahunya tentang aku atau wabah ini," Tekan Milano menatap tajam Darren yang membisu.
Sedari awal Milano sudah tahu jika wabah kali ini sudah di persiapkan dari awal oleh kakek Teans dan lebih kuat dari sebelumnya.
"Memberantas wabah ini hanya bisa di lakukan dengan membunuh bajingan itu tapi, ini terlalu beresiko untuk Latizia!"
"Dia memang sudah memperhitungkan semuanya dari awal," Geram Darren sungguh tak tahan dengan kelicikan pria tua bangka itu.
"Dia mencampurkan darahnya."
"Jadi, dialah inang dari penyakit ini?" Tanya Darren dan Milano mengangguk.
"Dia tahu jika aku tak akan membunuhnya karena Latizia. Tapi, dalam beberapa bulan ini Latizia juga mulai ada kemajuan walau sangat lamban."
Yah, Milano selalu mengusahakan agar tubuh Latizia kembali normal. Walau butuh waktu lama, ia akan tetap mengorbankan apapun untuk wanita itu.
"Kau sudah mengambil Ekstrak murni spritual-ku dari Lab?"
"Sudah, prince! Ada 3 botol," Jawab Darren mengeluarkan sebuah kotak yang terbuka.
3 botol kecil seukuran botol bius di berikan pada Milano. Selama berbulan-bulan ini profesor Lineaus bekerja keras membuat obat pembangun sel tubuh dan jaringan serta perusak sel asing tak sesuai sampel darah.
Alhasil, jadilah Ekstrak itu di murnikan oleh Milano dengan spritualnya agar lebih kuat dan bertahan dari serangan sel asing.
"Aku akan pulang. Kau bereskan dokumen ini."
"Baik, prince!" Jawab Darren mengangguk. Dalam sekejap Milano hilang dari tempat duduknya setelah seharian di perusahaan.
"Semoga saja nona cepat sembuh," Gumam Darren membereskan meja kerja Milano.
Sementara di istana Madison, Latizia masih belum tidur padahal ini sudah larut. Ia tak bisa memejamkan matanya karena ada rasa nyeri di bagian bawah perut dan cukup sakit.
"Apa kau memang tak sabar lagi untuk keluar hingga terus memberi isyarat, hm?!" Gumam Latizia mengusap perutnya yang sudah besar.
Berbaring-pun rasanya susah karena tak nyaman dan cukup sesak.
"Ini sudah larut, ayahmu masih belum pulang! Semakin hari dia begitu sibuk sampai lupa jika wanitanya sedang hamil besar," Umpat Latizia mengomel sendiri.
"Nona!!" Suara pelayan Wey yang sedia di balik pintu kamar jika Milano tak ada.
"Biik! Kesini sebentar!!"
"Iya, Nona!"
Pintu kamar itu terbuka. Pelayan Wey mendekat ke ranjang besar Latizia yang tampak kesusahan untuk duduk.
Yah, pelayan Wey memang di pindahkan ke istana khusus untuk menjaga Latizia.
"Nona! Ada apa?"
"Perutku agak keram," Jawab Latizia di bantu duduk bersandar ke kepala ranjang.
"Saya akan bantu mengompresnya."
"Tolong ambilkan ponselku di atas sofa sana, biik!" Pinta Latizia sopan.
Pelayan Wey mengangguk segera bangkit mengambil ponsel di atas sofa sudut kamar lalu memberikannya pada Latizia.
"Ini, nona!"
__ADS_1
"Terimakasih. Dia kalau tak di hubungi tak akan sadar waktu pulang," Gerutu Latizia ingin menelpon Milano tapi nyatanya sosok itu sudah ada di depan pintu kamar.
"Nona! Apa kau ingin makan sesuatu?"
"Aku ingin memakan elang satu ini," Geram Latizia menelpon tapi suara ponsel Milano ada di depan pintu.
Ia menoleh dan benar saja. Pria tampan dengan tatapan hangat pada Latizia sudah hadir disini.
"Masuuk!!"
"Nona," Gumam pelayan Wey tersenyum. Ia sudah biasa dengan pertengkaran manja wanita ini.
"Akhirnya kau tahu juga jalan pulang ternyata!"
Pintu itu di buka Milano yang tampak tenang menghadapi kekesalan Latizia. Pelayan Wey memilih pergi agar tak menganggu.
"Sambutan istriku memang selalu unik."
"Siapa istrimu?!" Ketus Latizia kala Milano mendekat ke arahnya.
"Wanita depresi yang selalu bicara ketus tapi hatinya lembut."
"Sudahlah. Aku tak akan terbuai oleh mulut manis laki-laki. Pria brandal-ku sudah memberitahu apa isi kepala kalian."
Sedetik kemudian keduanya terkekeh sendiri karena pembicaraan seperti ini terlalu konyol.
"Bagaimana pekerjaanmu? Sudah selesai?" Membiarkan Milano duduk di sampingnya.
"Belum. Sedikit lagi!" Jawab Milano beralih mengusap perut Latizia.
"Yah, anakmu sedari tadi usil. Dia sepertinya sangat merindukanmu."
"Hanya anakku saja?" Goda Milano membuat kedua pipi Latizia bersemu merah.
"Yah, ibunya tak merindukan siapapun."
"Benarkah?"
"Rindu, tapi sedikit," Jawab Latizia menunjukan ujung kukunya.
Milano yang gemas hanya mencium pipi Latizia yang sedikit berisi. Tubuhnya tak banyak berubah bahkan, di beberapa bagian favorit Milano-lah yang semakin semok dan seksi.
"Jangan mulai lagi. Pergi mandi sana!" Kesal Latizia mendorong wajah Milano lembut kala mulai mengendus lehernya.
"Selesai mandi?"
"Tidur," Santai Latizia tahu jika Milano menginginkannya.
"Sayang!"
"Haiss. Bulu kudukku berdiri," Geli Latizia merinding dengan panggilan Milano yang selalu membuatnya meremang.
"Sayang!"
"Sudah!! Jangan panggil lagi."
Bukannya berhenti, Milano bertambah gencar menggoda Latizia yang tak pernah mau di panggil semesra itu.
"Sayang! Boleh, ya?"
"Milano! Please," Gumam Latizia mengulum bibir agar tak tertawa.
"Sayang! Kenapa wajahmu merah?" Tanya Milano menangkup kedua pipi Latizia yang menepisnya.
"Jangan panggil aku seperti itu!"
"Sayang! Sayang!" Goda Milano segera memeluk gemas san menghujami wajah Latizia dengan kecupan bertubi-tubi sampai tawa wanita itu pecah.
"Milanoo!! Sudaah!!"
"Sayangku!"
"Ya tuhan, ada apa denganmu?!" Geli Latizia menahan wajah Milano agar tak menciumnya lagi.
"Kenapa kau tak mau ku panggil seperti itu?" Tanya Milano mengecup tangan Latizia di pipinya.
"Emm..agak aneh kalau kau yang mengatakannya."
"Kenapa? Bukankah biasanya sepasang kekasih biasa seperti itu?!" Tanya Milano heran dengan Latizia.
__ADS_1
"Yang Mulia Prince yang terhormat. Karakter-mu bukan pria manis seperti itu. Panggil seperti biasa saja." Mengalungkan kedua lengannya ke leher kekar Milano.
"Wanita depresi?"
"Yah. Terdengar lebih manis di bibirmu," Jawab Latizia hingga keduanya berciuman mesra.
Perlahan Milano membaringkan tubuh Latizia yang masih mengalungkan kedua lengannya ke leher kokoh itu.
Ciuman lembut penuh cinta bergulir ke leher Latizia yang membiarkan Milano menelusupkan tangan kekarnya ke sela pakaian hamil Latizia di bawah sana.
Usapan hangat di paha naik ke pinggul dan berlabuh ke punggung mulus Latizia yang merasa sangat di cintai oleh pria ini.
Namun, tiba-tiba Milano ingat soal botol obat tadi dan segera menarik diri dari Latizia yang sudah ingin lebih.
"Milano?"
"Kita lanjutkan nanti. Kau harus mendapat suntikan hormon dulu," Jawab Milano bangkit dan pergi mengambil alat injeksi yang sedia di kamar mereka.
"Lagi? Apa harus setiap minggu?"
"Hm, tak boleh di tunda," Jawab Milano kembali dengan satu alat injeksi di tangannya.
Latizia diam. Ia tampak lelah dengan suntikan ini karena setiap cairan itu masuk dalam tubuhnya, pasti akan terasa sakit walau tak seperti saat pertama kala ke lab dulu.
"Tenanglah. Ini tak sesakit yang kemaren."
"Apa bayi kita baik-baik saja?" Tanya Latizia menatap Milano yang mengeluarkan satu botol kecil cairan berwarna agak kebiruan yang selalu di suntikan padanya.
"Ini hanya suntikan hormon. Baik untukmu dan baby."
"Setelah melahirkan. Apa masih di suntik?"
Seketika Milano yang tadi menusukan jarum itu ke botol di tangannya terdiam. Ia tahu Latizia pasti lelah tapi, ia tak akan menyerah.
"Apa masih?"
"Hm, ini demi tubuhmu. Melahirkan anakku butuh energi besar," Kilah Milano mengisi alat injeksi itu.
Latizia menghela nafas ringan. Ia mengusap perutnya yang akan segera melahirkan dalam beberapa hari lagi.
"Baiklah. Demi anak kita aku siap."
"Kau tak sendirian," Gumam Milano menaikan lengan Latizia ke pahanya.
Sebelum menusukan jarum itu, Milano lebih dulu mengusap bagian yang akan di injeksi. Ini bertujuan untuk mengurangi rasa sakit.
"Tahan sebentar."
"Em," Angguk Latizia mengerti.
Ia memalingkan wajahnya saat Milano mulai melakukan injeksi. Rasanya tak sesakit dulu karena Latizia mulai terbiasa dan Milano juga membantunya.
"Sudah?"
"Hm. Sudah," Jawab Milano menekan titik yang di injeksi tadi dengan jarinya.
Latizia diam. Ia menatap Milano sendu kala tubuhnya mulai bereaksi.
"Panas?"
"Perih," Gumam Latizia melihat sekujur lengannya mulai merah panas bercampur perih.
Keringat mulai muncul di kening Latizia bahkan membanjiri leher wanita itu. Tak ada yang bisa Milano lakukan karena dalam proses itu, ia tak boleh menganggunya.
"Buka pakaianmu jika terlalu panas."
"P..panas," Lirih Latizia merasa kulitnya akan melepuh.
Milano membantu melepaskan pakaian di tubuh Latizia. Saat tubuh wanita itu sudah polos mulailah terlihat bintik-bintik merah yang perihnya luar biasa.
"M..milano.."
"Tahan! Kau akan sembuh," Gumam Milano menggenggam tangan Latizia yang mencengkram nya kuat.
Dada Milano sesak melihat wanita ini kesakitan kala seluruh kulitnya terasa terbakar dan sangat perih.
Baik itu setahun, dua tahun bahkan berpuluh tahun-pun. Aku akan tetap melakukan ini sampai kau terbebas dari pria itu, batin Milano tak kuat melihat Latizia seperti ini tapi ia tak sanggup kehilangan wanita itu.
.....
__ADS_1
Vote and like sayang..