
Sudah ada 5 desain yang Latizia buat. 3 desain utama dan dua cadangan jika desain utama tak di pilih. Latizia benar-benar serius menggambar pola rangkaian bunganya bersama dengan dokter Dee yang sangat senang melihat Latizia aktif dan tak menjaga jarak dengannya.
"Masih ada dua desain lagi. Kita lanjut besok saja!"
"Nona memang hebat. Pantas prince begitu mencintaimu!"
Latizia langsung terdiam. Ada senyum malu yang ia sembunyikan dari dokter Dee yang justru dengan jelas menangkap ekspresi itu.
"Nona! Apa kau juga menyukai prince?"
"A..dia itu sedikit menyebalkan," Gumam Latizia tapi berbeda dengan raut wajah malu yang ia sembunyikan.
Dokter Dee hanya mengangguk. Ia segera turun dari ranjang karena ini waktunya Latizia untuk tidur setelah membersihkan diri beberapa menit yang lalu.
"Nona! Ini sudah malam. Sebaiknya kau istirahat!"
"Baiklah, terimakasih!" Ucap Latizia mengemas peralatan menggambarnya di bantu oleh dokter Dee.
Drett..
Ponsel Latizia menyala. Ada pesan masuk dari nomor yang tak di kenal membuat perhatian wanita cantik itu teralihkan.
"Letakan saja di atas nakas. Kau juga bisa istirahat!" Pinta Latizia seraya mengambil ponselnya di sebelah bantal.
Dokter Dee pergi. Ia melaporkan semua aktifitas Latizia hari ini pada Milano dalam pesan yang panjang dan detail.
Di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan dokter Keanu yang tadinya juga ingin menemui Latizia.
"Bagaimana keadaan nona?"
"Nona mau tidur. Dia sudah beristirahat, dok!" Jawab dokter Dee yang di angguki dokter Keanu.
"Tadi, ada kabar dari prince. Dia akan terlambat pulang malam ini. Kalau nona sudah tidur maka.."
"Belum, nona masih bangun. Bisa katakan sekarang!"
Dokter Keanu akhirnya mengerti. Ia pergi ke arah ruang rawat Latizia yang tadi pasti sibuk mengurus desainnya.
"Nona!"
Panggil dokter Keanu sudah masuk ke dalam. Namun, ia mulai merasa dingin dan gelisah dengan hawa yang mengitari area ranjang.
Latizia terlihat tak baik-baik saja. Ada kilatan amarah di matanya yang sedang menatap layar ponsel dengan serius.
"Kenapa aku merasa akan ada perang ketiga sebentar lagi?!" Batin dokter Keanu menelan ludah.
Ia mendekat ke ranjang rawat Latizia yang mendidih melihat rekaman vidio yang di kirim seseorang padanya.
"N...nona! Kau baik-baik saja?"
Latizia diam. Ia langsung memukul-mukul layar ponselnya dan berteriak memaki seseorang.
"Pria brengseek!!! Ternyata semua laki-laki di dunia ini sama saja!!"
Dokter Keanu tercekat. Ia merasa terhina dengan ucapan Latizia tapi keberaniannya tak cukup besar untuk membantah wanita ini.
"Nona! Kau.."
"Kalian!!!" Geram Latizia menunjuk wajah dokter Keanu yang memundurkan kepalanya ngeri.
Nafas Latizia memburu. Diam-diam dokter Keanu mengintip layar ponsel yang masih menyala di atas ranjang dan syok melihat rekaman prince-nya yang memangku dua wanita sekaligus.
"Prince memang hebat."
__ADS_1
"Hebat apanya!!!" Pekik Latizia emosi. Dokter Keanu pucat saat Latizia benar-benar marah tapi kenapa semua lelaki jadi korban.
"Kalian para pria pasti memang tak punya hati nurani. Benarkan???"
"T..tidak," Sambar dokter Keanu menggeleng.
"Tidak? Lalu ini apa?" Sarkas Latizia menunjukan layar ponselnya. Sungguh, ia sangat marah dan kesal sekarang tapi hanya dokter Keanu yang ada di hadapannya.
"Kalian sengaja memanfaatkan wajah yang tak seberapa ini. Kalian pikir kami wanita barang mainan??"
"T..tidak. Nona!" Gugup dokter Keanu menggeleng cepat.
Latizia tersenyum kecut. Ia kembali menyaksikan rekaman itu mengumpulkan lahar emosi yang siap meledak kapan sana.
Saat Latizia sibuk memupuk amarahnya, dokter Keanu langsung mengirim pesan pada Milano agar segera pulang.
PRINCE. ADA LEDAKAM HEBAT JIKA KAU TAK DATANG CEPAT KE RUMAH SAKIT.
"Semoga saja prince cepat kesini," Gumam dokter Keanu mengetik dengan cepat.
"APA YANG MEREKA AGUNGKAN DARI PRIA TAK SEBERAPA INI??!"
Dokter Keanu terperanjat hampir menjatuhkan ponselnya karena pekikan marah Latizia. Ntah kenapa wanita begitu menyeramkan ketika sedang cemburu seperti ini?!
"Kau lihat dia! Apa dia tampan?" Menyodorkan ponselnya.
"Sangat Tampan!"
"Matamu buta atau bagaimana?! Tak ada menariknya sama sekali!" Decah Latizia begitu kesalnya sampai membalikan kenyataan.
Seakan tak cukup membuat dokter Keanu jadi pria bodoh, Latizia kembali bertanya tapi ujung-ujungnya pasti akan marah.
"Ini! Apa dua wanita ini begitu cantik?"
"N..nona lebih cantik. Nona tak ada duanya!"
"Mulut kalian para pria memang sangat menjijikan!!!" Geram Latizia menjambak rambut dokter Keanu yang seketika di buat menjadi samsak tinju.
Latizia meluapkan semua kekesalannya yang semakin meledak-ledak. Dokter Keanu pasrah saat Latizia memukul-mukul bahunya dan membuat penampilan kasual dan rapi tadi menjadi berantakan.
"Aku tak akan percaya lagi pada kalian!! Memang penjahat kelamiiin!!"
Brugh..
Dokter Keanu di dorong ke lantai bawah sampai kacamatanya terlepas beriringan dengan pintu yang terbuka.
Dengan ekspresi memelas dan memprihatinkan dokter Keanu menatap Milano yang tertegun melihat kekacauan disini.
"Prince! Kau harus menaikan gajiku bulan ini," Pinta dokter Keanu memakai kembali kacamatanya.
Milano diam. Ia melihat Latizia tengah marah tak lagi mau memandang ke arahnya. Darren yang tadi baru datang seketika terkejut melihat penampilan dokter Keanu yang seperti baru di amuk masa.
"Kau kenapa?"
Dokter Keanu menggeleng lemah. Ia cepat-cepat bersembunyi di balik tubuh kekar Milano yang merasa gelisah tapi wajah tanpa ekspresi itu masih melekat.
"Prince! Berhati-hatilah!" Peringat dokter Keanu saat Milano berjalan mendekati ranjang.
Darren yang bingung menatap penuh tanya dokter Keanu yang tampak tersiksa.
"Ada seseorang yang mengirim rekaman prince saat memangku para wanita di suatu ruangan. Nona sangat marah dan hampir mencekikku."
"Ini bencana besar," Gumam Darren ikut merinding kala melihat wajah datar tak bersahabat Latizia yang membuang muka ke arah lain.
__ADS_1
Milano yang sudah berdiri di depan Latizia mulai terasa aneh dan cukup merinding.
"Ada apa?" Tanya Milano tapi Latizia diam. Raut tegang dokter Keanu dan Darren di depan pintu sana seperti tengah menyaksikan final sepak bola liga dunia.
"Nona tak akan berani memukul prince-kan?" Gumam dokter Keanu waspada.
"Tak ada yang tak bisa di lakukan oleh ultramen wanita."
Bugh..
Benar saja. Latizia yang emosi langsung memukul-mukul Milano dengan bantal di atas ranjang.
"Kauu!!! Kau pria brandal mesum!! Mesuuum!!!"
Milano tak melawan. Ia membiarkan Latizia memukulnya sesuka hati bahkan wanita itu mengigit punggung tangannya sekuat tenaga sampai Darren dan dokter Keanu mengernyit sakit melihatnya.
"Kau penjahaat!!" Maki Latizia melepas gigitannya dengan nafas memburu sangar dan wajah meradang marah.
"Sudah selesai?" Tanya Milano tenang saat Latizia tak lagi menjawab.
"Pergilah!" Gumam Latizia berbaring di atas ranjang dan langsung menutupi dirinya dengan selimut sampai ke atas kepala.
Milano merasa ada yang tak beres. Ia mengambil ponsel Latizia yang ada di sebelah wanita itu dan melihat jika ada rekaman dirinya di ruang interogasi tadi.
Dia marah karena ini rupanya. Pikir Milano mengambil nafas dalam. Orang di balik tentu saja tak akan ia lepaskan tapi, urus dulu wanita depresi kesayangannya ini.
"Kau marah karena rekaman ini?"
Latizia diam. Ia seperti tak mendengar suara Milano yang di acuhkan begitu saja.
"Ini hanya sekedar formalitas. Kau.."
"Aku bilang keluar!!! Aku tak ingin melihat wajahmu dan kalian semua!!" Teriak Latizia dari dalam selimut.
Milano tak tenang. Ia ingin menjelaskan tapi pasti Latizia tak mau dengar.
"Ini tak seperti yang kau lihat. Aku.."
"Memangnya apa yang-ku lihat?" Tanya Latizia menyibak selimut kasar. Ia tak lagi memakai infus karena sudah bisa makan hingga perlahan Latizia berdiri berhadapan dengan Milano yang merasa terintimidasi.
"Kau memangku peliharaan barumu, begitu?" Sinis Latizia menahan geram. Milano ingin menjelaskan tapi lengannya langsung di tarik paksa oleh Latizia yang mendorong Milano sekuat tenaga keluar dari ruangan begitu juga Darren dan dokter Keanu.
"Jangan tunjukan wajah kalian di hadapanku LAGI!"
Brakk..
Pintu itu di tutup kasar. Milano segera mengusap wajahnya frsutasi. Darren dan dokter Keanu juga merasa mood Latizia hari ini cukup membahayakan.
"Wanita hamil memang begitu, prince! Dia sulit mengendalikan dirinya sendiri."
"Yah, mungkin besok nona akan kembali membaik," Timpal Darren memahami kegelisahan Milano yang cemas jika Latizia akan membencinya seumur hidup.
Tapi, Milano tahu siapa yang mengirim rekaman itu pada Latizia. Sudah pasti seseorang yang bosan hidup dan menunggu hari kematiannya.
"Aku ingin mendengar kabar kehancuran salah satu bisnis besar kerajaan Artefea malam ini juga!" Titah Milano pendendam.
Darren mengangguk. Ia segera pergi untuk mengurus peluru balasan ini. Milano memamg bukanlah orang sembarangan.
Dia bergerak dalam diam menjalankan perusahaan yang mencakup banyak bidang. Dari bisnis gelap dan pemeggang saham terbesar di pasar internasional.
Perusahaan Group MA yang di kenal banyak orang adalah perusahaan besar yang ia pimpin secara tersembunyi selama ini.
...
__ADS_1
Vote and like sayang