GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Bukan perjalanan bisnis


__ADS_3

Setelah meladeni ketidakwajaran putri Athena, Latizia memilih kembali ke istana Madison. Ia juga tiba-tiba merasa tak enak badan dan mungkin karena lelah berjalan seharian.


Namun, niat hati ingin segera beristirahat nyatanya sirna kala ada salah satu kerabat dari kerajaan Sauveron datang ke istana.


Melihat kedatangan Latizia, mereka langsung mengadu nasib yang ntah-berantah.


"Putri Latizia!! Putri!"


"Kalian.."


"Kami paman dan bibiknya Veronica," Jawab mereka berdua mendekat.


Franck yang tadi sudah menemui mereka hanya menaikan bahu acuh di atas kursi roda kala Latizia memandangnya.


"Kami ingin bertemu denganmu, putri!"


"Ada apa?" Tanya Latizia seraya berjalan mendekati Franck.


Ia duduk sofa dekat Franck yang sebenarnya sudah mengusir dua manusia ini secara halus karena sudah tahu permasalahannya dari panglima Ottmar.


"Jika kau ingin mengusir mereka. Bilang saja!"


"Kau pasti sangat kerepotan," Bisik Latizia dan tentu Franck mengangguk.


Keduanya kembali fokus pada tuan Johens dan istrinya yang sudah duduk berhadapan dengan mereka semua.


"Katakan! Ada apa?"


"Begini, putri! Kami mohon cabut tuntutanmu atas keponakan kami Veronica. Dia tengah dalam masa yang sangat buruk," Jelas tuan Johens menyedihkan.


Latizia diam saling pandang dengan Franck yang tahu jika sekarang ia harus menggantikan Milano dulu untuk menangani dua penjilat ini.


"Jika posisi di balik, maka Latizia yang akan terbaring di rumah sakit sekarang. Tindakan Veronica tak pantas di kasihani."


"Tapi, pangeran! Dia hanya cemburu dan kami minta maaf atas sikap kekanak-kanakannya," Timpal istri tuan Johens mengiba.


"Walau-pun begitu. Proses hukum harus tetap berjalan. Siapapun yang mencoba berbuat tak senonoh pada orang-orang kami, mereka tak akan lepas dengan mudah."


Latizia terus mengamati pembawaan Franck. Ternyata Milano benar, Franck memang sudah dididik dari kecil untuk menjadi pribadi yang bijaksana.


"Pangeran! Aku mohon padamu. Kerajaan Sauveron masih dalam tahap pembangunan. Kami mengalami krisis besar dan butuh banyak pasokan sumber daya."


"Jadi, kau datang hanya untuk meminta bantuan Madison?" Sarkas Latizia membuat tuan Johens dan istrinya saling lirik dengan geram.


"Kami hanya mengingatkan jika Veronica dan prince Milano masih terikat pernikahan. Kami juga kerabat kalian, pangeran!"


"Dimana kalian saat Madison juga sedang sekarat?!" Tanya Latizia tahu bagaimana angkuhnya kerajaan Sauveron menginjak-injak wilayah Madison dulu.


"P..putri!"


"Suara keras putri Veronica bahkan masih terngiang-ngiang di telinga para pelayan disini. Kalian menganggap rakyat Madison budak, bukan?!"


Mereka langsung pucat. Ucapan Latizia memang benar dan menyinggung perasaan mereka semua.


"Putri! Kami datang hanya meminta tanggung jawab prince Milano sebagai suami Veronica."


Alhasil Latizia diam. Franck tahu jika tak di pungkiri pernikahan Milano dan Veronica itu sah secara hukum negara bahkan di ketahui banyak orang.


"Kau bisa langsung bicarakan dengan Milano!"

__ADS_1


"Tapi,.."


"Aku sebagai kakaknya tak bisa berbuat banyak. Yang menentukan keputusan itu adikku Milano karena dia yang menikahi Veronica keponakanmu," Tegas Franck membuat keduanya mulai mengepal.


Tuan Johens melihat ada gelas teh panas yang di suguhkan oleh para pelayan tadi di atas meja lalu menatap Franck.


"Kau cacat tapi masih bicara besar!" Geramnya dengan cepat mengambil gelas itu ingin di siramkan ke wajah Franck.


Tapi, Latizia segera berdiri memukul lengan tuan Johens sampai gelas itu pecah terlempar ke lantai.


Para pengawal di luar segera masuk begitu juga panglima Ottmar yang tadi di atas langsung turun.


"Amankan mereka!!" Titah panglima Ottmar segera mendekati Franck yang semakin muak melihat dua manusia keji ini.


"Kau jangan senang dulu, Latiziaa!! Kau yang sudah mengambil suami Veronica!!"


"Hidupmu tak akan pernah bahagiaa!!" Kutuk istri tuan Johens yang di seret kasar keluar dari dalam istana utama.


"Aku mengutukmuuu!!! Kau bahkan mengkhianati suamimu sendiri sampai matii!!"


Suara makian istri tuan Johens masih sayup-sayup terdengar sebelum benar-benar di ringkus.


Latizia diam. Ia duduk kembali dengan helaan nafas yang cukup berat seraya memijat pelipisnya yang pusing.


"Jangan dengarkan mereka. Kau fokus saja pada kehamilanmu, hm?"


"Apa Delvin masih di otopsi?" Tanya Latizia baru sadar dengan pria itu.


Panglima Ottmar segera menjawab semua keadaan kubu satu itu.


"Pihak kepolisian menutup kasusnya. Delvin akan segera di makamkan. Sedangkan, kedua orangtuanya masih di tahanan."


"Terlepas dari apapun yang pernah dia lakukan, Delvin tetaplah suamiku," Gumam Latizia masih punya hati nurani.


"Setidaknya, aku bisa melihat dia di makamkan dengan layak," Lirih Latizia masih ingat dulu Delvin pernah membuatnya lolos beberapa kali dari hukuman berat istana walau lagi-lagi pria itu hanya menjadikannya alat.


Melihat Latizia yang sudah memantapkan keputusan, tentu saja Franck tak ada alasan untuk menolak.


"Makamkan dia dengan layak di area pemakaman keluarga kerajaan!"


"Baik, pangeran!" Jawab panglima Ottmar segera pergi.


Tinggallah mereka berdua yang tampaknya cukup saling memahami apalagi Franck memang punya pribadi yang hangat.


"Setelah keadaan membaik. Milano pasti akan menikahimu."


"Hm, aku tahu dia pria yang bertanggung jawab walau agak menyebalkan," Gumam Latizia tersenyum kecil.


Franck juga menyimpul senyum tapi, tampaknya Latizia tak memikirkan itu.


"Ada masalah?"


"Aku hanya takut," Lirih Latizia memainkan jari-jemarinya di atas paha.


"Maksudmu?"


"Semakin kesini memang sudah tampak lebih tenang. Tapi, juga banyak yang ingin menghancurkan hubunganku dan Milano. Kadang aku bingung, sebenarnya hubungan kami bisa bertahan sampai dimana?!"


"Latizia!" Tegur Franck memeggang bahu Latizia yang merasa suasana hatinya sedang buruk.

__ADS_1


"Orang di balik ini semua masih berkeliaran. Aku hanya takut, kebahagiaan ini hanya sampai beberapa menit saja."


"Jika Milano mendengar ini, dia pasti akan marah besar," Peringat Franck menepuk bahu Latizia.


"Kau tahu?" Tanya Latizia mengungkapkan kegelisahannya.


"Kenapa?"


"Milano tidak sedang melakukan perjalanan bisnis."


Franck terdiam. Tadi jelas-jelas Milano-lah yang menelponnya untuk pamit agar menjaga Latizia selama ia tak ada di Madison.


"Latizia! Milano pasti.."


"Aku tahu dia, kak Franck! Sesibuk-sibuknya Milano dia tak akan mau berpisah selama beberapa hari. Dia selalu punya cara cepat untuk menyelesaikan pekerjaan jika itu urusan perusahaan atau istana," Jelas Latizia sudah hafal tabiat Milano.


"Setiap dia ingin bepergian jauh pasti akan menemui atau mengajakku tanpa bicara di ponsel. Mudah untuknya datang di hadapkan ku dalam hitungan detik, tak wajar jika dia tak bisa," Timpal Latizia yang tadi hanya menurut padahal ia sadar semuanya.


Franck terdiam. Jika Latizia merasa seperti itu, berarti Milano tengah mengurus sesuatu.


"Aku hanya cemas jika dia berhadapan dengan orang-orang pengecut itu. Wabah yang dia sebar di kerajaanku sangat mengerikan, aku takut jika.."


"Percayalah! Milano pasti sudah memikirkan ini sebelum bertindak," Ujar Franck menenangkan Latizia yang juga paham itu tapi, tetap saja ia merasa cemas.


Tak berselang lama, ada satu pengawal yang tadi berpatroli di luar segera masuk langsung menghadap Franck.


"Yang Mulia!" Dengan wajah panik menunduk.


"Ada apa?"


"Elang-elang itu kembali datang mengelilingi kerajaan. Tapi, kali ini lebih banyak bahkan menyebar di seluruh wilayah Madison!"


Franck dan Latizia saling pandang. Latizia segera berdiri dan mendorong kursi roda Franck keluar istana.


Setibanya di depan sana, mereka melihat jika langit yang tadi memang agak gelap karena mau malam tiba-tiba semakin mistis karena kepakan sayap elang yang menyelimuti wilayah ini.


"Mereka sama sekali tak mengusik apapun. Hanya terbang berkeloni seperti itu saja!" Jelas pengawal tadi.


"Sebarkan perintah. Jangan mengusik ribuan elang ini. Biarkan mereka memenuhi langit Madison!" Titah Franck tegas.


"T..tapi, masalahnya bukan hanya elang saja, pangeran," Gugupnya cukup gelisah.


"Lalu?"


"Di sepanjang hutan yang mengelilingi wilayah Madison juga terdengar auman singa liar. Masyarakat langsung ketakutan!"


"Singa?" Syok Franck tak pernah melihat itu sebelumnya.


Namun, sangat berbeda dengan Latizia yang selama ini sudah sering menemui hal-hal buas seperti ini kala bersama Milano.


"Galaksi adalah nama elang milik prince dan Leon adalah singa kesetiaannya!"


Mereka dikejutkan dengan kehadiran Darren yang tiba-tiba muncul. Bukannya Darren ikut dengan Milano?!


"Kauu.."


"Prince tak memperbolehkan aku ikut. Dia sudah menyebar koloni Galaksi maupun Leon ke dua arah. Yaitu Madison dan Garalden!" Jelas Darren benar-benar membuktikan betapa seriusnya Milano menghadapi sosok di balik semua ini.


Latizia jadi berkeringat dingin memeggang kursi roda Franck yang berharap jika adiknya baik-baik saja.

__ADS_1


.......


Vote and like sayang..


__ADS_2