
Kabar Latizia mengalami sakit yang misterius sampai ke telinga Milano. Pria itu tak lagi peduli soal guru Teans yang sudah di bawa ke markas mereka dan ia langsung datang ke rumah sakit besar di Madison.
Kedatangan Milano dengan luka di bahu itu sukses membuat Franck cemas akan adiknya.
"Milano!" Panggilnya kala Milano sudah berjalan cepat ke depan pintu ruang rawat Latizia.
Kekhawatiran yang jelas tampak di wajah tampan Milano membuat Franck segera mendorong pintu.
"Masuklah! Latizia masih di tangani!"
Milano masuk ke dalam ruangan dimana sudah ada dokter Keanu dan dokter Dee yang masih tersisa mendampingi Latizia di atas ranjang rawatnya.
Wanita itu terbaring lemas dengan keringat dingin membanjiri lehernya. Infus sudah terpasang ke punggung tangan Latizia tapi rasa sakit wanita itu belum juga berkurang.
"Prince!" Sapa mereka menunduk.
Latizia yang masih setengah sadar menatap sayu Milano. Pria itu berdiri di sampingnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"M..milano?"
"Prince! Tiba-tiba saja nona merasakan sakit di lengan dan lehernya. Kami sudah berusaha mencari tahu apa yang terjadi tapi, tak menemukan luka apapun," Jelas dokter Keanu prihatin melihat Latizia yang sedari tadi mengerang sakit tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa.
"M..milano?"
"Kalian keluar!" Titah Milano dingin hingga mereka segera keluar ruangan termasuk Franck yang menutup pintu.
Tangan Latizia terangkat gemetar meraih tangan kekar Milano yang segera menggenggam jemari lentik itu. Milano duduk di samping Latizia merasakan seluruh kulit wanita ini dingin dan berkeringat.
"A..apa sudah selesai?" Tanya Latizia lirih tapi tatapan sayunya tertuju pada bahu Milano yang berdarah.
"Kau terluka. Kau.."
"Maafkan aku," Gumam Milano menggenggam tangan Latizia erat. Jika tahu dari awal, ia tak akan memutus lengan guru Teans hingga Latizia merasakan sakit yang teramat sangat.
"K..kenapa?"
"Maaf," Lirih Milano langsung memeluk Latizia yang merasa heran. Dari tatapan sendu pria ini Latizia tak pernah melihat Milano sekhawatir itu.
"Maafkan aku. Aku menyakitimu!"
"T..tidak. Lengan dan leherku mungkin hanya keram. Tak ada hubungannya denganmu," Jawab Latizia tak mengerti apa yang Milano katakan.
Namun, selang beberapa detik kemudian rasa sakit itu kembali datang dengan hebat bahkan Latizia sampai meremas punggung Milano
kuat.
"Latizia!"
"Sss..sakitt!! A..aku tak tahan," Desis Latizia sampai terengah-engah dan kehabisan tenaga.
Milano menegakkan tubuhnya lalu melihat lengan sebelah kiri Latizia dipenuhi memar biru yang melingkar begitu bagian leher yang juga sama.
"Tahan sebentar."
"Ehmm..l..lenganku terasa mau putus," Geraman sakit Latizia kala Milano memeggang lengannya.
Perlahan Milano mengusap bagian lengan yang membiru itu hingga Latizia merasakan hawa dingin menerpa kulitnya.
Rasa sakit yang tadi seperti memutus tulang dan mencabik daging perlahan berganti dengan sensasi dingin yang sangat nyaman.
"Atur nafasmu dengan stabil!"
Latizia mengikuti semua arahan Milano. Selang beberapa menit setelahnya tubuh Latizia perlahan membaik walau masih ada rasa nyeri di lengan dan lehernya yang juga Milano usap seperti tadi.
"Apa yang terjadi pada tubuhku?" Tanya Latizia kala sudah merasa lebih baik.
"Kau hanya kelelahan."
__ADS_1
"Milano! Jelas-jelas tadi semua dokter memeriksaku. Tak ada yang salah, apa jangan-jangan aku.."
"Kau akan baik-baik saja. MENGERTI?" Tekan Milano menyelipkan nada marah kala Latizia terus berpikir hal yang mengerikan.
"K..kau..kau akan baik-baik saja. Berjanjilah padaku!" Pinta Milano terlihat cukup kacau.
"Ada apa?"
"Semuanya akan membaik," Gumam Milano pada dirinya sendiri.
Latizia diam sejenak. Ia merasa jika Milano baru saja mengalami pertarungan sengit sampai pulang dalam keadaan kacau seperti ini.
Dia pasti lelah atau ada sesuatu yang terjadi saat melawan para pengecut itu. Aku tak seharusnya membuatnya tertekan, pikir Latizia merasa bersalah.
"Kau akan baik-baik saja."
"Aku akan selalu baik karena kau selalu menjagaku. Ada pria brandal kesayangan-ku yang HEBAT," Puji Latizia mencoel hidung pancung Milano yang seketika diam.
"Sekarang kita harus obati luka di bahumu. Jangan sampai infeksi." Ingin memeggang area luka tapi di tahan Milano.
"Ada racunnya."
"Racun? Lalu, kenapa kau masih santai?! Seharusnya obati dulu dirimu sebelum datang ke sini!!" Cemas Latizia segera duduk.
Tenaganya yang tadi terkuras terasa mulai membaik, ntahlah mungkin Milano mengalirkan energi pada Latizia.
"Buka dulu kemeja-mu! Aku akan panggilkan dokternya!"
"Tetap disini," Pinta Milano menahan bahu Latizia agar tetap duduk di atas ranjang.
"Lalu, kau akan apa?"
"Aku akan mengeluarkan racunnya," Gumam Milano melepas sepatunya lalu duduk bersila di atas ranjang Latizia yang sangat khawatir.
"Hati-hati," Gumam Latizia kala Milano memejamkan matanya dengan satu tangan memeggang bahu sebelah kirinya yang terluka.
Ia memfokuskan spritual ke arah sana lalu mulai melakukan totok dalam di bagian leher dan area dada.
Milano batuk darah hitam yang langsung menyembur ke lantai ruangan. Latizia terkejut melihat darah itu berasap gelap bahkan baunya sangat busuk dan menyengat.
"D..darahnya hidup?" Tanya Latizia kala darah itu seperti mencari inang dengan mengalir di lantai tak tentu arah.
"Racun ini sangat mematikan. Dia memang peracik handal."
"Siapa?" Tanya Latizia penasaran.
Milano memuntahkan semua racun itu lalu menetralisir tubuhnya yang seketika langsung lemas karena kehabisan tenaga.
"Milano!" Menahan punggung kekar itu.
"Aku mengeluarkan cukup banyak energi. Ini batasanku," Gumam Milano memeggang lengan Latizia lembut.
Ia menghempaskan tangannya hingga muntahan racun tadi lenyap begitu juga lelehan darah yang tadi ada di mulutnya.
"Aku akan bersihkan lukamu!"
"Tidak perlu. Aku.."
"Diam. Jangan banyak bicara," Tegas Latizia melepas paksa jarum infus di punggung tangannya membuat Milano marah.
"Kau masih butuh di infus. Pasang kembali!"
"Aku baik-baik saja. Tak sakit lagi," Jawab Latizia turun dari ranjang dan memeriksa beberapa laci sampai ia menemukan kotak obat.
"Walau racunnya sudah hilang tapi, lukanya harus di bersihkan."
"Aku bisa sendiri. Kau berbaringlah!" Tolak Milano tak mau Latizia lelah tapi wanita itu malah menepuk pipinya.
__ADS_1
"Husst! Selama masih ada aku, kau tak boleh terlalu mandiri."
Ucapan Latizia sukses membuat dada Milano bergetar. Tak bisa ia bayangkan, bagaimana hidupnya jika Latizia tak ada?! Apa yang akan ia lakukan tanpa wanita ini?!
"Kau akan selalu ada. Selalu!"
"Yang Mulia. Semua mahluk tak ada yang abadi, bisa saja nanti aku.."
"BISA TIDAK JANGAN TERUS BICARA SEENAKNYA?!!" Marah Milano meninggikan suaranya.
Latizia tersentak karena Milano tak pernah sama sekali membentaknya seperti ini.
"A..aku hanya bercanda. Kau.."
"Aku tak suka. Ini sama sekali tak lucu," Tegas Milano ingin bangkit dan pergi tapi Latizia segera menahan lengannya dan beralih naik ke paha Milano.
Di tatapnya wajah marah sekaligus kesal pria itu dengan lembut.
"Kenapa hari ini kau jadi sangat sensitif, hm?"
Milano diam. Keduanya saling pandang intens sampai Milano ditenangkan oleh manik ungu hangat Latizia yang juga perlahan mengusap kepalanya.
"Jangan tinggalkan aku!"
"Heyy! Kenapa kau jadi sangat manja?!" Geli Latizia kala Milano memeluknya begitu erat.
Latizia yang berkoala di pinggang Milano membiarkan pria brandal itu memeluk dengan penuh kehangatan. Baru kali ini Milano begitu terus terang dan biasanya ia penuh dengan kilah dan kebohongan.
"Aku akan selalu berusaha. Teruslah menemaniku!"
"Akan-ku pertimbangkan. Tapi, sebelum itu nikahi aku dulu!" Kelakar Latizia tapi di angguki Milano dengan serius.
"Kita akan menikah tapi, setelah bayinya lahir. Aku tak ingin kau kelelahan karena prosesinya pasti rumit."
"Siaap!! Aku tak sabar melihat wajah para mantan kekasihmu."
"Latizia!" Tekan Milano malas membahas mereka.
Latizia yang paham segera mengangguk diam. Ia membuka satu demi satu kancing kemeja di tubuh kekar Milano yang cukup berkeringat.
"Sepertinya kau di sabet pisau," Gumam Latizia melihat bahu kokoh Milano yang terdapat luka cukup dalam.
"Hanya luka kecil. Dia juga kena!"
"Sebenarnya dia itu siapa?" Tanya Latizia seraya mengeluarkan kapas dari dalam kotak obat dan membersihkan sisa darah di bahu Milano.
"Sepertinya kau sudah tahu orang siput pengecut itu. Cepat beritahu aku!" Imbuhnya penasaran.
Jika aku beritahu sekarang, Latizia akan merasa kecewa bahkan pasti sakit hati. Sebaiknya saat situasi membaik baru-ku ceritakan, pikir Milano penuh pertimbangan.
"Siapa?"
"Besok saja di bahas. Itu tak penting," Jawab Milano tegas seraya mengusap bibir bawah Latizia yang terlihat agak pucat.
Latizia fokus membersihkan luka di bahunya sementara Milano justru terus mempermainkan bibir lembut Latizia bak jelly yang kenyal.
"Oh iya, jika kau bisa mengeluarkan racun sendiri lalu kenapa kau tak membantu kak Franck?"
"Itu di luar kuasaku. Dia kehilangan sumsum tulang belakang dan racun yang ada di tubuhnya berbeda dari yang lain," Jawab Milano yang beralih mengusap perut Latizia yang mulai agak menonjol.
"Begitu, rupanya! Semoga saja kak Franck bisa berjalan lagi. Apa kau bertemu dengan guruku?"
Milano diam. Lidahnya keluh untuk mengatakan bagaimana kejamnya seorang guru yang sangat di hormati wanita ini.
"Aku harap dia baik-baik saja. Pasti mereka memanfaatkan kemampuan guru dalam meracik obat untuk membantu mereka membuat racun."
"Mungkin," Gumam Milano tak mau bicara terlalu jauh. Ia lebih menjaga suasana hati Latizia apalagi, penyelidikan tentang tubuh wanita masih belum di lakukan.
__ADS_1
....
Vote and like sayang..