
Pagi ini adalah hari yang paling sibuk bagi Milano maupun seluruh anggota kerajaan. Mereka harus melakukan pertemuan internal kerajaan untuk mengatur kembali sistem pemerintahan dan regulasi pembaruan pajak wilayah.
Di pimpin oleh Franck yang menatap seluruh wajah pejabat-pejabat istana yang sudah di ganti. Tak ada satu-pun orang-orang lama disini dan hampir semuanya telah di seleksi sendiri oleh Milano.
"Aku ingin perputaran uang ke istana lebih sedikit. Kita harus fokus pada masalah ekonomi dan pembangunan sesegera mungkin mengejar ketertinggalan dari negara lain," Jelas Franck sudah menyebar rencana perubahan besar-besaran yang akan ia lakukan.
Milano yang duduk di samping Franck membaca setiap rincian ini. Tak ada yang salah tapi ada beberapa hal yang tak tepat.
"Pangeran!"
"Katakan!" Pinta Franck tahu jika Milano punya kritikan.
"Poin ke 14. Melakukan renovasi besar-besaran di wilayah ini memang di butuhkan tapi, yang pertama harus di lakukan adalah merubah sistem hukum."
Mereka semua diam dan saling pandang. Ucapan Milano memang benar dan tepat jika di lihat dari kondisi masyarakat sekarang.
"Prince! Tampaknya jika kita menerapkan sistem hukum yang terlalu keras, ada kemungkinan mereka akan memberontak," Sahut Menteri Pertahanan Ruud Lubres.
"Yang di katakan Menteri Ruud! Dengan pemberontakan itu kerajaan akan kacau, prince!" Timpal Menteri keuangan Bomell.
Hal itu menjadikan pertimbangan bagi Franck yang lebih dulu mengutamakan Milano. Ia percaya jika Milano punya pikiran yang berbeda.
"Prince! Kau punya jawaban?"
"Itulah tujuan dari membuat sistem hukum yang kokoh. Para pembangkang tentu akan muncul dan jadikan itu peringatan bagi masyarakat lain yang mencoba memberontak. Semakin banyak yang melawan, maka semakin besar peluang damai negara ini."
Penjelasan Milano begitu tegas masuk ke telinga mereka. Tatapan pria itu juga penuh dengan hawa kepemimpinan dan yang lebih penting adalah teliti.
"Hukum tak hanya di buat untuk rakyat Madison tapi juga untuk keluarga kerajaan. Beberkan semuanya secara terbuka agar mereka percaya jika mereka bukan boneka bagi kerajaan."
"Aku setuju," Sambar Franck menatap semua orang yang duduk di meja panjang yang luas ini.
Panglima Ottmar juga hadir memberi jawaban yang sama.
"Saya setuju dan bagaimana yang lain?"
"Kami selalu mendukung Yang Mulia!" Jawab mereka setuju.
Akhirnya Franck lega. Ia menatap Milano yang segera berdiri di ikuti yang lain kecuali Franck.
"Aku masih ada urusan. Pangeran bisa lanjutkan pertemuannya."
"Pergilah! Terimakasih," Ucap Franck tak segan menepuk lengan kekar Milano yang segera pergi keluar dari ruang megah pertemuan.
Ia yang sudah rapi dengan stelan jas bergaris warna hitam itu segera turun ke lantai bawah dimana Latizia bertugas mengubah dekorasi istana yang menurutnya membosankan.
"Lampu yang di atas ganti saja jadi kristal yang bening. Usahakan jangan sampai menutupi area langit-langit sepenuhnya!"
"Baik, putri!" Jawab para pelayan dan staf desainer ruangan yang tentunya segera mundur saat melihat Milano yang sudah turun ke sini.
"Satu lagi! Ganti warna karpet, dan sofanya. Aku mau suasananya hidup tak seperti kamar mayat begini."
Ucapan Latizia tergolong kasar dan menghina. Wajah mereka mulai pucat kala takut Milano akan marah.
"P..putri!"
"Buka juga seluruh jendela disini. Rasanya nafasku hanya bisa keluar setengah-setengah."
__ADS_1
"P..putri! I..itu prince!" Gugup mereka segera kembali sibuk melakukan perintah Latizia tadi.
Milano mendekati Latizia yang sangat cantik dengan balutan gaun santai selutut lengan pendek yang agak mengembang.
"Kau tampak sibuk?"
"Yah, sibuk mendaur-ulang kerajaanmu," Jawab Latizia berkacak pinggang cukup berkeringat karena mondar-mandir di bangunan besar ini.
"Kau cukup duduk dan lihat apa pekerjaan mereka sesuai keinginanmu atau tidak. Jangan terlalu bekerja keras," Ujar Milano mengeluarkan sapu tangan di balik jasnya dan mengelap keringat di kening Latizia.
"Kenapa tiba-tiba kau bawa sapu tangan?!"
"Berjaga-jaga jika ada yang muntah di tubuhku lagi," Jawab Milano langsung membuat Latizia malu.
"Jangan membahasnya."
Semalam Latizia terlalu bersemangat sampai kelelahan. Ia mual hebat dan muntah di dada Milano yang kala itu pasrah.
Kedekatan Latizia dan Milano tentu saja di sadari oleh para pekerja disini. Mereka hanya saling pandang pura-pura tak melihat hal itu.
"Pergilah! Kau pasti ada pekerjaan-kan?"
"Hm, sangat membosankan," Gumam Milano membiarkan Latizia menggenggam sapu tangannya.
Latizia bingung kala Milano tak kunjung beranjak dari tempatnya.
"Pergilah! Apa ada yang tertinggal?"
"Menurutmu?" Tanya Milano dengan eskpresi wajah malasnya.
Latizia terdiam sejenak. Sedetik kemudian ia sadar jika Milano selalu minta ciuman sebelum beraktifitas.
"Aku tak peduli," Acuhnya masih belum bergerak. Kala semua pekerja sibuk dengan dunianya sendiri, Latizia langsung menarik dasi Milano dan menghadiahkan kecupan kilat ke bibir pria itu.
"Semangat!" Geli Latizia tersenyum lebar.
Milano menarik sudut bibirnya tipis mengusap puncak kepala wanita itu lalu ia berjalan pergi dengan ekspresi wajah berubah menjadi singa jantan yang siap mengancam.
Salah satu dari pekerja yang tengah memindahkan furniture di dalam sini segera pergi ke area pintu samping istana dimana semua orang tengah sibuk.
Ia menelpon seseorang yang memerintahkannya untuk mengawasi dari dalam sini.
"Nona!"
"Cepat katakan!" Suara wanita di seberang sana.
"Hubungan putri Latizia dan prince Milano tampaknya lebih dari sekedar kakak dan adik ipar. Mereka terlihat mesra dan sangat dekat.
"Awasi mereka selalu dan jangan sampai ada satu momen-pun yang terlewat!" Titah wanita itu segera mematikan sambungan.
Ia segera kembali ke dalam istana utama melihat Latizia yang tampak masih sibuk merubah semua interior di dalam sini.
"Mungkin, jika aku bertanya pada para pelayan lama disini mereka akan tahu," Gumam pria itu mendekati salah satu pekerja lama yang setia disini.
"Permisi! Aku baru masuk kesini. Jadi aku tak terlalu kenal dengan putri cantik itu !" Ucapnya menatap Latizia.
"Itu putri Latizia! Dia baik dan sangat ramah. Tapi, moodnya juga suka berubah. Jangan banyak mencari tahu, atau kau akan berakhir disini," Bisik wanita itu takut di marahi kepala pelayan baru yang sudah memantau mereka dari tadi.
__ADS_1
Pria itu mengangguk. Ia segera bekerja memindahkan beberapa porselen di sudut istana tapi matanya tak berhenti memantau Latizia.
Tak lama berselang, tiba-tiba saja ada Kasim di depan segera masuk menghampiri Latizia.
"Putri!"
"Yah?" Tanya Latizia menoleh.
"Putri Athena kembali datang berkunjung."
Latizia diam. Ia melihat ke arah pintu besar megah istana yang sudah menampilkan sosok wanita berambut pendek dengan perawakan elegan dan cara tersenyum-pun seperti sudah dididik.
"Dia ingin bertemu dengan prince Milano!"
"Aku mengerti," Jawab Latizia dengan mood tiba-tiba anjlok.
Tapi, ia menarik senyum paksa seraya berjalan menyambut kedatangan wanita cantik ini.
"Putri Athena!"
"Putri Latizia! Akhirnya kita bertemu lagi," Sapa putri Athena dengan hangat memeluk Latizia yang membalas seadanya.
"Ada urusan apa?" Tanya Latizia to the poin.
"Ada beberapa hal yang ingin-ku bicarakan dengan prince Milano. Apa dia.."
"Dia baru saja keluar. Dia tak ada di istana," Sela Latizia berharap putri Athena segera pergi karena pekerjaannya masih banyak.
Tapi, keberuntungan Latizia pagi ini buruk. Putri Athena tampak lebih nyaman bicara dengannya sampai dua pengawal wanita itu saling pandang.
"Putri! Apa kau sibuk hari ini?"
"Begitulah. Ada beberapa hal yang harus ku urus," Jawab Latizia segera melirik tangan putri Athena yang segera memeluk lengannya.
"Bisa kau membantuku? Putri!"
"Maksud putri Athena?" Tanya Latizia bingung.
"Aku tak punya teman untuk berbelanja. Apa kau bisa menemaniku sebentar."
"Tapi..."
"Masalah pekerjaan ini tenang saja. Aku jamin akan selesai," Sela putri Athena dengan raut memelas.
Latizia yang sebenarnya ingin menolak juga jadi segan. Ia tak mau membuat kerajaan Madison terkena rumor buruk karena tak menyambut tamu dengan baik.
Apalagi, putri Athena juga bukan dari keluarga sembarangan.
"Aku mohon. Please!"
"Baiklah. Aku berganti pakaian dulu," Jawab Latizia segera pergi menuju kamarnya.
Putri Athena diam memandangi kepergian wanita itu. Ia tadi jelas melihat ada bekas kissmark di leher Latizia yang di tutupi kerah gaun yang dia pakai.
Jika Delvin tiada, siapa yang menyentuhnya?!
....
__ADS_1
Vote and like sayang..