GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Melahirkan?


__ADS_3

Tahu jika keadaan penduduk Madison sudah tak mampu bertahan lagi, akhirnya Franck menemui Milano untuk bicara.


Keduanya sudah ada di ruang pertemuan tanpa di temani siapapun. Wajah Franck saat berhadapan dengan Milano juga begitu serius duduk bersebelahan.


"Aku tak tahu lagi, bagaimana cara kita menyelesaikan ini?! Adik!"


Milano diam. Ia sadar jika keadaan penduduk Madison membuat wilayah mereka jadi di waspadai oleh negara asing.


Bahkan, sudah banyak surat kecaman dari pemerintahan luar soal penanganan kerajaan yang tak bisa menyudahi wabah ini.


"Aku tahu. Kau juga berusaha sampai selalu mengorbankan dirimu sendiri untuk menetralkan wabah itu di tubuh mereka tapi, semakin hari penduduk yang terkena sangat banyak dan wabah itu bertambah ganas. Kakak tak bisa melihat ini berlarut-larut."


"Hanya sampai Latizia sembuh, kak!" Tegas Milano tapi Franck terlihat tak tahan.


"Kapan?"


"Dia pasti sembuh. Aku akan berusaha aku.."


"Milano! Kau tahu sendiri jika kemajuan di tubuh Latizia sangat kecil. Ini sudah 7 bulan dan kita tak bisa menunggu sampai berpuluh tahun."


"Kaak!" Bentak Milano dan Franck langsung diam.


Di tatapnya wajah marah Milano dengan rasa bersalah dan tak berdaya akan situasi seperti ini.


"Maaf!" Gumam Milano menunduk sadar ia meninggikan suaranya.


"Kakak juga. Maaf sudah menekan mu." Seraya menepuk bahu Milano jantan.


Beberapa menit kemudian mereka diam. Pikiran melayang dengan gejolak dan dilema tersendiri.


"Kakak tak bisa melakukan apapun, adik!"


"Kak!" Decah Milano tapi Franck sangat merasa tak berguna.


"Pengobatan kakak sampai sekarang masih berjalan. Ada perubahan besar tapi, itu semua sangat menyusahkanmu."


"Aku tak merasa begitu. Kakak sekarang sudah bisa berjalan tak begitu tergantung pada kursi roda lagi," Ujar Milano menatap hangat Franck yang menggeleng.


"Aku tak bisa membantumu. Kau harus selalu membuat obat untuk Latizia dan terus menguras energimu secara besar, kakak takut kau.."


"Tak akan terjadi apapun padaku," Sela Milano tegas.


Franck hanya diam. Ia sering melihat Milano kelelahan sampai terkadang wajahnya cukup pucat tapi, demi apapun Milano selalu siaga.


"Jangan bohong. Kau sering merasa pusing-kan?"


"Itu biasa. Setelah istirahat pasti akan lebih baik," Jawab Milano tenang.


Franck perlahan bangkit di ikuti Milano yang segera menerima pelukan hangat dari pria ini. Ikatan persaudaraan itu sangat kuat dan cukup mengharukan.


"Jika kau kelelahan cukup sampai disini saja, jangan memaksakan diri."


"Hm."


Franck melepas pelukannya berniat untuk pergi tapi, tiba-tiba saja ada panglima Ottmar yang masuk segera memberi salam.


"Prince, pangeran!"


"Ada apa?" Tanya Franck menatap tegas wajah serius panglima Ottmar.


"Para prajurit kita yang berjaga di perbatasan terkena wabah ini dan mereka semua di bawa kembali ke kerajaan!"


"Astaga," Gumam Franck segera berjalan keluar dari ruang pertemuan dengan tergesa-gesa walau masih belum begitu stabil.


Milano ikut dari belakang menuju lantai bawah yang sudah hadir 2 pimpinan prajurit istana yang bertugas untuk menjaga perbatasan dan 5 bawahan yang terkena wabah.

__ADS_1


"Pangeran!"


Sapa mereka masih sempat menunduk dengan tubuh di penuhi bintik-bintik merah bernanah dan melepuh.


"Bagaimana bisa kalian terkena?" Tanya Franck turun dari tangga di bantu panglima Ottmar yang siaga.


"Pangeran! Tadi siang kami berpatroli tapi, tiba-tiba saja ada kabut hitam menyerang dan semua langsung tumbang. Hanya beberapa orang yang selamat," Jawab ketua Bren menatap 5 bawahannya.


"Itu-pun kami di bantu elang-elang yang berkeliaran di langit wilayah Madison. Jika tidak, kami berdua akan bernasib sama dengan 5 bawahan ini," Imbuhnya menyimpan rasa cemas.


Franck mengambil nafas dalam. Ia beralih memandang Milano yang sudah turun berdiri di dekatnya menatap datar 5 prajurit yang tampak menahan gatal di tubuhnya.


"Kalian keluar perbatasan?"


"Tidak, prince! Kami.."


"Mereka!" Sela Milano menatap tajam 5 pria muda itu.


Alhasil salah satunya menunduk mulai bicara dengan suara bergetar karena tak tahan dengan rasa sakit ini.


"Saat itu kami melihat jika ada yang aneh di luar perbatasan Madison. Jadi, kami memeriksanya. Ntah kenapa bisa seperti ini?!"


"Aku sudah mengatakan jangan melewati batas wilayah ini, bukan?!" Tekan Milano membuat mereka pucat.


Franck memeggang bahu Milano agar tak menakuti mereka yang ada disini.


"Tenanglah. Kita cari solusinya!"


Milano hanya diam. Wilayah kerajaan tengah di tutup tak menerima tamu dari luar begitu juga sebaliknya, mereka benar-benar menutup diri dan itulah yang membuat rakyat Madison memberontak.


"P..prince! T..tolong kami. Ini terlalu menyakitkan."


"Yah. Seakan ada yang bergerak di dalam kulit kami dan sangat mengerikan!"


Pusaran itu mulai membesar dan mengelilingi 5 prajurit yang sudah tak tampak.


"Apa ini berhasil?" Tanya Franck tapi Milano menghela nafas.


"Aku hanya bisa menahan untuk sementara. Jika wabah itu sudah masuk ke dalam tubuh mereka maka, akan bisa datang kapan saja," Jawab Milano melakukan hal seperti biasa yang ia berikan pada rakyat Madison.


Franck diam menatap sendu wajah tampan Milano.


Mereka masih bisa bertahan sampai sekarang karena kau selalu melakukan ini. Tapi, sampai kapan?! Kau juga pasti punya batasnya, batin Franck hanya bicara sendiri karena Milano akan marah jika mengungkit ini.


Tanpa mereka sadari, sedari awal Latizia melihat itu semua. Ia berdiri di balik pilar di atas sana dengan meremas kuat gelas susu yang ada di tangannya.


Mata terpaku kosong dan bibir tertutup rapat. Kekacauan ini terjadi karenanya dan apa yang di katakan Franck itu benar.


"Kapan aku sembuh?!" Gumam Latizia sadar jika kenyataanya ia akan butuh waktu lama.


Mereka menderita, kerajaan yang semula baik-baik saja sekarang mulai di kucilkan. Dan itu hanya karena aku, pikir Latizia merasa muak dengan semua ini.


Kedua tangannya mengepal. Kebencian pada kakek Teans mulai terpupuk membuktikan jika apa yang di perbuat oleh pria tua itu benar-benar keterlaluan.


Sedetik kemudian Latizia tersentak saat Milano mengeluarkan darah di hidungnya tanpa sepengetahuan siapapun.


"M..milano!" Gumam Latizia cemas.


Milano tak memperlihatkan semua itu. Ia usap hidungnya santai lalu berbalik pamit pergi kembali ke atas.


"Ini sudah malam. Bawa mereka ke ruangan yang terpisah dari yang lain!"


"Baik, prince!" Jawab dua pimpinan tadi segera memboyong anak buahnya yang sudah tak sadarkan diri untuk pergi.


Bintik-bintik merah di kulit mereka sudah perlahan menghilang. Walau tak tahu akan bertahan berapa lama tapi, untuk sekarang bisa di atasi.

__ADS_1


"Milano! Kau istirahatlah!"


"Hm," Gumam Milano tak memandang Franck.


Ia berjalan ke atas walau kepalanya mulai berkunang.


"Siall! Aku mulai mencapai batasanku," Batin Milano yang merasa energinya sangat terkuras.


Apalagi, pasukan elangnya masih berjaga di atas sana mengawasi serangan baru lainnya.


Setibanya di lantai atas, Milano bersandar ke dekat dinding sekedar untuk menormalkan dirinya.


"Shitt!" Umpat Milano meraba bagian hidungnya yang kembali berdarah. Tubuhnya mulai terdampak dari pengurasan energi berbulan-bulan ini.


"Dia tak boleh tahu tentang ini," Gumam Milano mengusap hidungnya.


Latizia yang melihat dari jauh mulai berkaca-kaca. Tangannya meremas kuat gelas itu sampai pecah.


Prankkk..


"Latizia!" Sentak Milano mendengar suara pecahan kaca yang nyaring dan matanya menangkap wanita itu.


"Kau!! Kau kenapa begitu ceroboh, ha?!"


Milano mendekat dengan wajah khawatir kala satu tangan kanan Latizia berdarah.


"Kenapa keluar? Kau bisa memanggilku. Aku sudah katakan jangan berjalan sembarangan." Menjauhkan Latizia dari pecahan kaca di lantai.


Air mata Latizia lolos melihat wajah Milano tampak pucat. Pria itu dengan cemas melihat tangannya yang berdarah.


"Sakit-kan?! Kau sangat ceroboh," Kesal Milano sekaligus cemas.


"N..nona!!"


Pelayan Wey yang tadi baru tahu Latizia keluar segera berlari kecil mendekati mereka. Tatapan murka Milano menusuk ke arahnya seakan-akan ingin menelannya bulat.


"P..prince! Maafkan saya! Maaf!"


"Kau biarkan dia keluar sendiri. BAGAIMANA JIKA DIA JATUH DARI TANGGA DI SANA?! KAUU.."


Bentakan Milano terhenti kala Latizia tiba-tiba merasakan sakit di bagian perutnya.


"S..sakitt! Milano!"


"Latizia!" Gumam Milano segera menahan tubuh wanita itu.


"Sakitt! P..perutku, ***!!"


"Sepertinya nona ingin melahirkan, prince!" Panik pelayan Wey melihat Latizia menggeram sakit.


Milano memeggang perut Latizia. Ia merasakan jika bayi nakal itu mulai tak sabaran sampai ingin keluar lebih cepat.


"Tenanglah!" Bisik Milano segera menggendong Latizia ringan menuju kamar mereka.


"Kumpulkan team medis yang ada di paviliun!!"


"Baik, Prince!" Sigap pelayan Wey segera berlari pergi.


Franck yang mendengar kabar Latizia akan melahirkan, bergegas pergi mengumpulkan semua tenaga medis yang selalu sedia di istana memantau Latizia.


Profesor Lineaus juga di panggil untuk berjaga-jaga karena Milano tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada dua mahluk terpenting itu.


.....


Vote and like sayang

__ADS_1


__ADS_2