GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Kedatangan Ximus


__ADS_3

Suasana bergairah di dalam resto masih berlanjut. Mereka berganti-ganti posisi dan tempat bahkan gilanya lagi, Milano ingin Latizia pura-pura memasak di dapur sedangkan ia bermain di belakang.


Hampir satu resto ini mereka jelajahi. Dari mulai cosplay pelayan, tukang kasir yang pura-pura melayani pelanggan dan sekarang berakhir di dapur yang sudah panas bukan main.


Latizia yang setengah mengantuk di buat luluh-lantah oleh Milano yang seakan tak ada habisnya. Pria itu tak pernah bosan atau-pun lelah padahal keringat di tubuh keduanya sudah banjir bahkan terlihat seperti mandi.


"Akhss..su..sudah!"


"Apinya di kecilkan, sayang! Kau..Latizia!" Erangan Milano tak tahan lagi. Ia mempercepat pacuannya seraya memeluk Latizia yang sudah seperti tersengat arus listrik bervoltase tinggi.


Kompor yang menyala di depannya menjadikan suasana dramatis sekaligus nyata. Latizia menerima cekikan remang Milano di lehernya sementara ia mencengkram pinggir meja dapur karna akan ada pelepasan yang dahsyat untuk kesekian kalinya.


"M..Mila...n..no sssa..."


"S..Sebentar," Geraman Milano mengigit bahu Latizia seraya mempercepat hujaman membuat wanita itu terpekik-pekik tak karuan.


Milano menggila begitu juga Latizia yang tak tahan dengan gempuran di bawah sana. Ia menjerit kuat saat sudah mencapai puncak nirwana bersama Milano yang selalu menghisap lehernya setiap mengalami pelepasan.


"Aaasss!!!" Lenguhan Latizia panjang langsung kejang sesaat dengan kedua kaki gemetar dan tubuh tiba-tiba kehilangan daya.


Untung Milano memeluk Latizia yang terlihat begitu kelelahan bahkan nafas keduanya sudah seperti orang yang lari berkilo-kilo meter.


"M..Milano!"


"Hm? Kau sangat nikmat," Desis Milano menghujami tengkuk Latizia dengan kecupan puas dan sebagai tanda jika ia menyukai semua ini.


Latizia yang tak bisa bergerak hanya bisa pasrah di pelukan Milano. Pria tampan perkasa itu menarik kursi tak jauh dari mereka lalu mengiringnya untuk duduk itupun berpangkuan karna masih menyatu.


"Rileks, sayang!"


"Rileks, kepalamu," Umpat Latizia terengah-engah menyandarkan kepalanya ke bahu Milano yang mengusap keringat di meleleh di leher dan dadanya yang naik turun.


Milano hanya tersenyum tipis seakan tak pernah lelah. Ia memeluk mesra tubuh polos lengket Latizia yang tiba-tiba mulai merasakan nyeri di perutnya.


"M..Milano!"


"Yah, ada apa?" Tanya Milano menatap wajah pucat Latizia yang mencengkram lengannya.


"P..Perut!"


"Perutmu sakit?"


"Keram. Aku..s..sesak," Lirih Latizia tak bertenaga. Milano segera menarik diri secara pelan dari liang kenikmatan yang sudah membuatnya candu itu lalu segera menggendong Latizia ke area VIP restoran.


"S..Sakit!"


"Maafkan aku. Mungkin aku terlalu berlebihan," Ujar Milano menyimpan rasa cemas membaringkan Latizia di atas sofa panjang di ruangan ini.


Ia bergegas pergi keluar memunguti pakaian mereka yang berserakan di lantai lalu segera berbusana. Seraya mengenakan pakaiannya, Milano menghubungi Darren agar mengirim pelayan ke resto ini untuk membereskan jejak bercinta mereka.


"Bersihkan tempat ini dan kirim Keanu kesini!" Titah Milano selesai berpakaian lalu pergi ke area dapur.


"Prince! Apa kau terluka?"


"Latizia keram perut," Jawab Milano datar segera mematikan sambungan. Ia memadamkan kompor yang tadi menyala lalu mengambil air hangat yang sudah tersedia di mesin air.


Milano mencari handuk kecil di dalam laci bawah dan menemukan benda itu. Pergerakannya begitu tergesa-gesa memasukan air ke dalam mangkuk sesuai takaran.


"M..Milano!"


"Sebentar!" Jawab Milano segera menyiapkan segelas air hangat dan mangkuk di atas nampan.


Ia berjalan dengan langkah lebar masuk ke dalam ruangan VIP dimana Latizia sudah pucat.


"Akan-ku bantu kompres sampai dokter datang. Tenanglah!"


"I..ini semua karnamu. Aku..aku rasanya ingin muntah hoeekmm!!" Umpat Latizia tapi membekap mulutnya di akhir kalimat.


Milano merutuki diri sendiri. Ia terlalu bersemangat sampai lupa jika Latizia kekenyangan. Wanita ini butuh waktu untuk istirahat tapi ia begitu kejam menggempurnya habis-habisan.


"Maafkan aku. Sungguh, aku.."


"T..tak ada g..gunanya minta maaf!! Bawa aku ke kamar mandi!!" Pekik Latizia tak tahan lagi ingin muntah.


Milano meletakan nampan di tangannya di atas meja lalu menggendong ringan Latizia menuju toilet di dalam sini.


Tubuh Latizia di topang Milano yang menggulung rambut panjang wanita ini ke atas agar lebih nyaman.


"Hoekmm!!"


"Muntahkan semuanya!" Gumam Milano menepuk-nepuk punggung Latizia dan memijat tengkuk wanita itu.


Latizia berdiri di depan wastafel dengan kedua tangan gemetar mencengkram lengan Milano.


"A..aku hoeekmm.. aa M..Milano!"

__ADS_1


"Bertahanlah! Dokter akan datang sebentar lagi!"


"Pakaiankuu!!!" Teriak Latizia kesal sekaligus marah karna ia sudah kehabisan energi.


Milano yang sedang cemas-pun tak marah dengan sikap galak Latizia. Ia mengangkat tubuh wanita itu ringan agar duduk di atas wastafel dengan nyaman.


"Aku ambil pakaianmu, hm?"


"A..aku..aku akan balas dendam," Geram Latizia terengah-engah antara mual dan masih lelah.


Ia membiarkan Milano pergi dengan langkah lebar mengambil pakaiannya lalu terdengar suara beberapa orang di luar.


"Siapa yang sakit?"


"Tunggu disini!" Suara Milano terdengar angkuh dan memerintah seperti biasa.


Pria itu kembali masuk membawa pakaian Latizia yang sudah lelah. Ia hanya pasrah saat Milano memakaikan pakaiannya yang untung tadi tak di koyak Milano seperti biasanya.


"Masih ingin muntah?" Tanya Milano seraya memakaikan bra ke dada Latizia yang tak lagi merasa malu.


Mungkin, karna keduanya sudah sering melakukan ini jadi tak ada lagi rasa canggung saat melihat tubuh masing-masing.


"P..pinggang dan perutku sakit!"


"Kita akan periksa," Bisik Milano memakaikan semua helai baju itu barulah ia menggendong Latizia ke luar.


Di sana sudah ada dua pria. Yang satunya Darren dan satunya lagi sosok laki-laki berkemeja dan kacamata yang rapi. Rambutnya agak gondrong dengan aura feminim yang kental.


"Prince!"


"Periksa dia!" Titah Milano membaringkan Latizia di atas sofa. Dokter Keanu yang seusia dengan Darren itu segera mendekat menenteng tas dokternya.


Ia mematung kosong melihat banyak bekas kissmark di leher dan satu di dagu Latizia pertanda sepasang manusia ini tadi tengah berperang.


"Prince memang pejantan sejati," Batinnya pengagum berat Milano.


"Kau ingin menambah koleksi mata di lab-mu?!" Sarkas Milano bermakna mengerikan.


Dokter Keanu bergegas mengerjakan tugasnya. Ia berjongkok di dekat Latizia dan memeriksa detak jantung wanita itu.


"Detak jantungnya tak begitu stabil. Dia kelelahan dan kurang istirahat. Apa nona sudah makan?"


"Dia menguras stok restoran," Gumam Milano langsung mendapat pukulan tak berdaya dari Latizia di lengannya.


"Wow!" Gumam Keanu cukup merilekskan diri.


Keanu kembali memeriksa perut Latizia. Ia hati-hati menaikan baju itu sampai ke atas dada memperlihatkan perut datar ramping Latizia yang tak sebegah tadi.


Milano sebenarnya tak rela perut seksi itu terlihat. Tapi, karna keadaan cukup genting ia akhirnya meredam.


"Apa nona merasakan kembung?"


"Keram. Agak sakit dan sesak!" Gumam Latizia membiarkan Keanu menekan beberapa sisi perutnya yang agak keras.


"Bagaimana?" Tanya Milano sangat menunggu.


"Apa nona Latizia tadi makan penuh sebelum beraktifitas?"


"Yah!" Jawab Latizia agak malu.


"Seharusnya. Setelah makan tunggu beberapa menit dulu sampai makanan itu lancar di cerna. Tubuh kita butuh proses untuk mengolah makanan dalam tubuh."


Latizia mulai menatap tajam Milano yang seketika diam. Wajah datarnya tak menunjukan rasa bersalah tapi jauh dalam lubuk hatinya Milano menyesali itu.


"Apa ada keluhan lain?" Tanya dokter Keanu seraya membuka tas kerjanya.


"Dia mual," Jawab Milano padahal Latizia yang di tanya.


"Mual itu wajar. Ini respon lambung. Tapi, ada sesuatu yang harus di periksa lebih intens. Aku tak bisa memastikannya sekarang!"


"Apa ada yang serius?" Sambar Milano mulai tak tenang. Dokter Keanu diam sejenak kurang berani mengatakan ini. Apalagi ia tahu Milano bukan tipe pria yang mau terikat dan berkomitmen.


"Prince! Ntahlah, tapi aku rasa perut nona Latizia agak berbeda. Kita perlu scan dalam!"


"Malam ini.."


"Aku baik-baik saja. Aku rasa ini hanya karna terlalu banyak makan. Tak perlu sampai serumit itu," Jawab Latizia yang berusaha duduk tapi Milano menahan bahunya agar tetap berbaring.


"Kau harus menjalani scan!"


"Jangan berlebihan. Ini semua juga karna kau!"


"Kau juga mau!"


"Kauuu..."

__ADS_1


Latizia tak bisa lagi berkata-kata. Ia langsung membuang muka kesal bukan main.


Dokter Keanu tersenyum kecil melihat perdebatan ini. Namun, saat melihat wajah dingin Milano ia langsung berubah serius.


"Jika nanti gejala itu datang lagi. Nona harus di bawa ke rumah sakit!"


"Aku tak mau," Gumam Latizia acuh.


Milano akhirnya mengambil nafas dalam. Ia mengisyaratkan dokter Keanu agar meresepkan obat dan pria itu sigap menjalankan tugas.


"Ini obat mual dan pereda sakit pada perut-mu, nona! Tapi, untuk berjaga-jaga agar tubuhmu tetap fresh sebaiknya kau di infus vitamin dulu!"


"I..Infus?" Gumam Latizia menelan ludah. Dokter Keanu mengangguk mengeluarkan semua alat di tasnya termasuk infus vitamin yang sudah ia siapkan dari awal.


Melihat jarum itu Latizia pucat. Ia mulai berkeringat dan berusaha mengendalikan diri.


"A..aku sehat. Aku baik-baik saja! Sekarang waktunya pulang!"


"Tunggu!"


Suara tegas Milano menghentikan Latizia. Tatapan manik elang itu semakin mengintimidasi seperti tahu alasan Latizia tak mau ke rumah sakit.


"Kau takut jarum?"


"T...tidak. Aku..aku ada urusan yang harus di selesaikan," Cemas Latizia buru-buru bangun tapi tenaganya tak cukup besar sampai terduduk kembali.


Melihat respon Latizia yang sudah pasti takut jarum suntik, ia langsung diam.


"M..Milano! Aku harus menyelesaikan desainku. Aku.."


"Malam ini kau tak bisa kembali ke kerajaan!"


Degg..


Latizia tersentak. Ekspresi wajah Milano tampak serius dan selalu membuat Latizia merasa bingung.


"Kenapa?"


"Para pembunuh itu masih mengincar-mu," Jawab Milano tak mengatakan hal yang sebenarnya terjadi. Ia tak ingin Latizia cemas apalagi sampai berpikir terlalu keras akan masalah ini.


"Aku bisa mengatasinya. Aku.."


"Maaf, ada ponsel yang berdering!" Sela seorang pelayan wanita yang tadi bersih-bersih datang menyodorkan ponsel ke arah Darren.


"Itu ponselku!" Ucap Latizia mengangkat tangannya.


Darren memberikan benda itu dan ia melihat ada nomor yang tak di kenal tertera di sana.


Darren dan Milano saling tatap penuh arti. Milano berdiri dengan wajah sangat serius mendekat ke arah jendela di dalam sini.


Ia menarik tirai pelan hingga melihat ada mobil asing yang terparkir di depan resto.


"Hallo! Ini.."


"Ximus! Aku sangat mencemaskanmu, Latizia! Kau jangan dulu kembali ke kerajaan. Aku sudah menjemputmu."


Suara Ximus terdengar sangat khawatir. Latizia diam sejenak dengan wajah heran. Dari mana Ximus bisa tahu nomor ponselnya dan lagi pria itu tahu keberadaanya?!


"Latizia! Aku sudah di depan resto Nude Food. Kau dimana?"


"A..aku.."


Milano langsung merampas ponsel itu dan mematikannya. Raut wajah Milano begitu kelam dan sangat tak bersahabat.


"Milano!"


"Singkirkan tikus di depan!" Titah Milano pada Darren yang mengerti segera pergi keluar.


Sontak Latizia menggeleng tak setuju jika Milano mengusik Ximus.


"Milano! Jangan sakiti dia!"


"Kau tak pernah tahu bahaya apa yang kau buat," Geram Milano memerintahkan dokter Keanu untuk melakukan infus itu.


Latizia masih kekeh untuk mencegah anggota Milano keluar tapi perintah itu adalah sebuah ultimatum mutlak.


Milano melihat dari jendela. Ximus di usir paksa dan mereka terlibat perkelahian. Milano tak peduli, ia melirik ke area jalan dimana ada yang mengikuti pria bodoh itu.


Kepalannya seketika menguat. Dari sini ia bisa menyimpulkan jika ada beberapa orang yang membuntuti Ximus kesini untuk menemukan Latizia. Atau kemungkinan kedua, Ximus bekerja sama untuk menangkap Latizia.


"Pria ini tak punya kualifikasi untuk melawanku," Gumam Milano membiarkan Ximus di pukuli. Ia ingin sekali membekap mulut Latizia yang sedari tadi mencemaskan pria itu sampai dadanya terasa di hantam meteor yang begitu panas.


....


Vote and like sayang

__ADS_1


__ADS_2