
Kedatangan guru Teans bersama para rekannya benar-benar tak terduga. Bawahan pria itu melayang hampir menutupi puncak gunung Andolf bahkan, hebatnya lagi ia bisa menghentikan ikatan cakram yang di buat Milano untuk menahan pusaran angin tadi dalam sekejab mata.
Keangkuhan pria tua berjenggot panjang hampir memutih itu sangat mendominasi melalui kibaran jubah hitam dengan asap gelap mengelilingi tubuhnya, berdiri di hadapan Milano yang menatap datar tanpa terselip rasa takut sama sekali.
"Ternyata Elang Madison yang kau pelihara bisa setampan ini, Teans!" Remeh Douglas yang ikut di tertawakan oleh Debry adiknya.
Yah, mereka berdua adalah pimpinan dari balik aliran gelap Akademi disini. Keduanya-lah yang menjalankan siasat di beberapa wilayah target dari guru Teans sendiri.
"Anak kecil yang dulu melarikan diri darimu, sekarang tumbuh dengan angan ingin membunuh. Dia sangat menarik!"
"Jangan remehkan lawanmu," Tekan guru Teans pada dua rekannya yang tampak saling pandang.
Dari reaksi bajingan Teans, sepertinya bocah ini memang tak main-main. Pikir Douglas yang berusia sama dengan guru Teans tapi tubuh mereka masih tergolong bugar.
Milano memandang dingin Douglas yang identik dengan senjata berbentuk pedang bermata dua di tangannya. Begitu juga Debry yang juga punya kekuatan seimbang.
Keduanya di kenal dengan nama dua pedang bermata dingin yang sudah banyak membunuh di dunia bawah.
"Jika ingin menyerah, belum terlambat!!"
"Yaah!! Atau kau ingin memberi sajian lezat untuk pedangku," Desis Debry mengusap pinggiran pedangnya yang berkilat tajam.
Milano diam mengamati setiap mahluk yang mengepungnya. Satu-pun dari mereka tak ada yang melihat bawahan Milano disini bahkan pria itu berani berdiri sendiri.
"Menyerahlaah!! Serahkan ranah Valley-mu dengan suka rela!!"
"Menyerah?!" Tanya Milano santai. Ia membuka telapak tangannya yang mulai mengeluarkan cahaya merah berkabut hitam mengeluarkan sebuah pisau yang sama seperti milik guru Teans sebelumnya.
Mereka semua terdiam. Douglas mulai waspada tak lagi banyak bicara melirik guru Teans yang tampak cukup berhati-hati dengan Milano.
"Bukan-kah itu spritual dimensi senjatamu?"
"Dia sangat licik. Berhati-hatilah," Gumam guru Teans mengeluarkan pisau khas separuh bulan itu di tangannya.
"Habisi bocah ituu!!!" Titah Debry menyerukan para bawahan mereka yang tadi berkerumun mengelilingi Milano.
Namun, belum sempat mereka bergerak Milano sudah melesat bak kilatan merah yang sangat cepat muncul di belakang mereka dengan sabetan tajam pisau langsung tertuju di bagian dada.
"Dia sangat cepat!!" Gumam Debry melihat puluhan anggota mereka yang musnah hanya dalam hitungan detik.
"Waspada! Bocah ini cukup menarik," Desis Douglas menajamkan mata mengikuti kilatan cahaya merah milik Milano yang berpindah-pindah tapi juga sulit menebak dia akan kemana.
"Dia hilang!!" Bingung Debry melihat ke sekeliling.
"Di belakangmu!"
"Kau.."
Milano yang tiba-tiba muncul di belakangnya langsung menerjang punggung Debry dengan sangat kuat sampai tersungkur ke tanah dan bangkit dengan murka.
"Aku akan membunuh muu!!" Geramnya mendidih.
Milano sangat tenang kembali berhadapan dengan Debry yang lebih mudah terpancing emosi dari yang lain.
"Hanya ini kemampuanmu?!" Remeh Milano berdiri angkuh.
"Aku akan mencabik-cabik daging di tubuhmu!!"
"Bicaramu besar tapi, kemampuan kosong," Hardik Milano sukses membangkitkan amarahnya.
Debry menyerang dengan gila. Baru kali ini Douglas melihat adiknya begitu berhasrat untuk membunuh sampai langsung menggunakan spritual tingkat 7 di pedangnya.
"Dia terlalu gegabah seperti biasa."
"Biarkan si ceroboh itu membuka sisi lemahnya," Timpal guru Teans pada Douglas yang juga mengamati pertarungan dua pria berbeda usia itu.
Milano tampak lebih mendominasi. Debry yang gegabah selalu mengutamakan amarah mengayunkan pedang dengan kekuatan tinggi tapi Milano selalu bisa mengelak dan menjadikan itu pukulan balik pada lawannya.
Kaki jenjang kokoh Elang Madison itu terayun keras memukul bagian pinggang Debry lalu menyabetkan pisaunya ke lengan kanan pria itu.
"Kauuu..."
"Kau tak pantas di sebut pembunuh berdarah dingin," Datar Milano dengan mata menajam dan sangat mematikan.
Debry yang melihat darah di lengannya tentu saja tak terima. Ia menancapkan pedangnya ke tanah lalu mengusapkan darah itu ke pinggir pedang yang mulai bereaksi.
"Kau belum melihat, siapa yang sedang berhadapan denganmu?!!"
"Tunjukan padaku!" Titah Milano menjaga jarak kala Debry mengangkat pedang dan mulai mengayunkan benda itu ke kiri dan kanan beberapa kali sampai membentuk beberapa asap hitam yang berkilat.
"MATILAH KAUU!! BOCAH SIALAAN!!" Teriaknya mengayunkan pedang itu lebih cepat hingga sabetan angin yang di ciptakan melesat ke arah Milano.
"Ini sama seperti mata pedangnya!" Gumam Milano dengan mudah menghindari semua itu hingga serangan Debry mengenai beberapa bangunan runtuh di belakang yang langsung hancur berkeping.
"Berhentilah bermain!! Aku akan membuat kau memohon padakuu!!"
"Kau terlalu berisik," Desis Milano segera melesat ke arah Debry yang mengayunkan pedangnya brutal.
Siapapun yang terkena dorongan angin dari pedang itu pasti akan tercabik-cabik. Hanya saja, Milano sudah tahu batas kemampuan pria ini dan tak lagi ingin bermain-main.
"Debry!!" Panggil Douglas kala melihat Milano sudah menyabetkan pisaunya ke arah dada adiknya dan sontak pria itu tumbang.
"K..kau.."
"Bayar waktuku yang terbuang, dengan senjatamu!" Tegas Milano mengulurkan tangannya ke arah Debry hingga pedang pria itu beralih ke tangan Milano.
Semuanya tentu saja terkejut. Sebagian dari bawahan mereka yang belum di eksekusi di belakang guru Teans seketika merinding.
"Pedang tuan Debry tak pernah bisa di kendalikan oleh siapapun tapi, dia dengan mudah mengambilnya."
__ADS_1
"Jangan sampai kita mati di tangannya."
Lirih mereka mulai gentar. Guru Teans yang melihat Milano semakin tak bisa di bendung, tentu saja tak akan membiarkan pria ini keluar dengan hidup.
"Dia belum mengeluarkan seluruh kemampuannya. Waspada!"
"Kematian adikku, akan terbalaskan," Geram Douglas mendidih segera melesat ke arah Milano yang segera menahan serangan pria itu dengan pedang Debry di tangannya.
Hantaman pedang yang saling beradu membuat masing-masing dari mereka merasakan kekuatan yang cukup besar hingga saling tertolak mundur.
"Dia lebih tenang dan kuat dari adiknya," Gumam Milano mulai serius.
Douglas punya serangan yang terarah. Pria ini tak bisa di kalahkan dengan mudah.
"Pertahananmu cukup kuat. Lawan yang tepat!"
"Hm, tak terlalu buruk," Jawab Milano bersiaga.
Douglas melakukan hal yang sama seperti ayunan pedang Debry tadi. Bedanya, kali ini tampak lebih kuat dan bisa hancur dalam jarak sedekat ini.
"Hancurkaan!!" Geramnya menghunuskan pedang itu pada Milano yang dengan gagah menghadang dengan pedang di tangannya.
Namun, kali ini ia merasa serangan Douglas bisa membuat energi seseorang terkuras secara drastis. Tapi, tunggu..
Milano menyadari sesuatu. Tiba-tiba saja energinya terasa berkurang padahal belum terkena serangan dari Douglas dan berarti pedang yang ada di tangannya punya kemampuan menyerap energi lawan yang bukan pemiliknya.
"Jadi begitu," Gumam Milano paham rencana licik kakak beradik ini.
"Jangan diam saja!!! Ayunkan pedangmu seperti tadi!!"
"Baik," Gumam Milano segera melesat lebih dulu. Douglas menyeringai meladeni pertempuran sengit ini dengan sangat buas.
Milano sangat lihai meliukan tangannya yang terlatih. Pedang itu menari di atas perintahnya. Semakin kuat Milano mengayunkan maka semakin besar energi yang terserap ke dalamnya.
Hal itu membuat Debry yang tak benar-benar mati sangat senang membiarkan kekuatan Milano masuk dalam pedangnya dan ia juga akan bertambah kuat.
"Hanya ini kekuatanmu?! Jangan meremehkan kami, bocah!!" Hardik Douglas meladeni hantaman pedang Milano yang ia akui sangat pandai bermain serangan.
"Keluarkan semua kekuataanmuu!!"
"Kau yang memintanya," Gumam Milano menambah energi ke dalam pedang ini tapi serangannya juga semakin sulit di hadapi.
Suara dentingan pedang beradu nyaring. Serangan yang sangat cepat membuat tubuh keduanya tak terlihat, hanya percikan api dan dorongan angin yang kuat tampak saling melawan.
"Apa tuan akan menang?"
"Sepertinya pria itu tak cukup cerdas."
Ucap para bawahan mereka yang menyaksikan pertempuran sengit ini. Selang beberapa lama, Debry yang tadi terbaring di atas tanah dengan dada tercabik itu mulai menyerap energi dari pedangnya yang tengah di gunakan Milano untuk menyerang Douglas.
"Dapatkan lebih banyak!" Gumamnya membiarkan aliran merah itu menyerbu ke arah tubuhnya.
"Keluarkan semua kemampuanmu!!"
"Hm, sesuai permintaanmu," Jawab Milano menyeringai membuat Douglas tersentak.
Milano menyalurkan energi dalam jumlah besar dalam pedang ini bahkan Douglas tak mampu untuk menahan tekanan dari pedang itu.
"Debryy!!" Panggil Douglas kala tubuhnya tak bisa bergerak dengan posisi masih beradu pedang dengan Milano.
"Kak! Biarkan dia mengeluarkan semua energinya!!"
"Berhenti menyerap energi itu!!" Panik Douglas tapi sudah terlambat.
Milano benar-benar gila sampai mengeluarkan semua energi spritualnya ke dalam pedang itu hingga tubuh Debry mulai bereaksi.
"K..kakak!!"
"Berhenti menyerapnya!!" Tekan Douglas pada Debry yang mulai membengkak.
"A..aku tak bisa!! Dia yang masuk ke tubuhku!!" Teriak Debry kala seluruh kulitnya mulai merekah dengan cahaya merah bak lava gunung mulai mengalir panas.
Douglas menatap tajam Milano yang hanya diam tapi tangannya berkilat merah masih menyalurkan energi besar dalam pedang itu.
"Hentikan ini!"
"Aku tak pernah menarik pemberianku!" Licik Milano tersenyum iblis segera mengayun pedangnya dengan keras menebas perut Douglas. Seketika tubuh pria itu terbelah dan beriringan dengan tubuh Debry yang meledak kuat sampai menghancurkan tanah pemukiman ini.
Gunung Andolf bergetar hebat dan terjadi guncangan besar. Milano tak menunggu waktu lama untuk segera menghadapi guru Teans yang semula syok karena dua rekannya yang sama kuat bisa lenyap dengan cara seperti ini.
"Giliran kau!!"
"Hidup atau mati. Aku pasti akan membuatmu menangis darah!!" Geram guru Teans beradu serangan dengan Milano.
Keduanya bertarung sengit bahkan, benturan kekuatan mereka membuat gunung Andolf dan langit di atas sana bergejolak.
"Ini berbahaya. Wilayah gunung akan segera hancur. Sebaiknya kita pergi!"
"Yah. Dia sangat kuat."
Panik para bawahan guru Teans yang ingin pergi tapi, anggota Milano tiba-tiba muncul dan menghadang mereka.
"Ingin lari dari kami, itu MUSTAHIL!" Ucap semua anggota Milano yang langsung melesat mengepung mereka semua.
Terjadilah pertempuran dahysat yang membuat wilayah ini di terpa longsor besar. Gunung Andolf yang memang masih aktif tentu saja bereaksi.
"Kau akan mati disini!!" Geram guru Teans mengeluarkan seluruh kekuatannya.
Langit bergemuruh dan hujan salju semakin lebat. Milano melihat jika guru Teans mulai mengeluarkan spritual yang tinggi.
__ADS_1
"Jangan sampai dia menyerang ke arah Madison dan Garalden!" Gumam Milano menancapkan pedang itu ke atas tanah dan ia berdiri di atasnya.
Milano membuat portal pembatas di langit ini tapi, ternyata guru Teans sudah menyerang ke arah sana saat Milano sibuk menghadapi dua rekannya tadi.
"DENGARKAN SELURUH JERITAN RAKYATMUU!!" Geramnya menghunuskan pisau ke langit yang menggulung hebat.
Angin yang terhembus sudah tercampur oleh racunnya yang mematikan. Milano sungguh geram, segera melesat ke arah guru Teans yang tak peduli jika ia akan mati disini.
"Hentikan rencana kotormuu!!"
"Aku tak akan pernah berhenti, sebelum dataran itu menyanjung namaku!!" Jawabnya menggebu-gebu.
Keduanya kembali beradu senjata tapi, Milano merasakan jika wilayah Madison dalam bahaya.
"Prince! Serahkan ini pada kami dan kembalilah ke kerajaan!!" Ucap salah satu anggotanya yang tengah melawan bawahan guru Teans.
"Kenapa? Kau takut?"
Milano diam tapi masih melancarkan serangan pada guru Teans yang mengakui jika Milano benar-benar kuat.
Membagi energi menjadi 3 tempat dan melindungi 2 wilayah besar yang butuh energi sangat besar tapi masih bisa bertarung sekuat ini, sungguh di luar dugaan.
"Serahkan dua wilayah itu padaku dan kau-ku lepaskan!"
"Dalam mimpimu," Geram Milano menghunuskan pedangnya ke arah dada guru Teans yang memeggang mata pedang itu dengan pisau yang segera melayang cepat menyabet bahu Milano.
Tentu saja kena karena energi Milano juga tengah di kerahkan pada dua pelindung yang ada di Madison dan Garalden.
Darah itu bercecer di tanah yang bergetar dan tentu saja ada racun di dalamnya.
"Sekuat apapun kau berusaha melindungi mereka, tetap ada salah satu yang pergi!" Tekan guru Teans menerjang bahu Milano sampai tertolak beberapa langkah ke belakang.
Milano diam. Ia bersitatap tajam dengan guru Teans yang tampak juga kewalahan bertarung dengannya.
"Kau hanya seorang bocah yang rakus. Kau pikir bisa memiliki semuanya, hm?"
"Kau membicarakan dirimu sendiri," Jawab Milano seraya meraba bahunya yang terluka cukup dalam dan racun itu sangat mematikan.
Guru Teans merasa energinya akan segera terkuras. Ia masih belum menyembuhkan luka di pusaran api tadi dan sekarang sudah bertarung dengan lawan yang kuat.
"Aku hanya memperingatkan-mu. Jangan sampai kau menyesal!"
"Aku tak pernah menyesali keputusanku," Geram Milano kembali bergerak cepat menyabetkan pedangnya ke lengan guru Teans yang seketika putus.
Milano ingin mengorok lehernya tapi tawa pria itu pecah melihat darah yang bercucur dan lengannya yang putus ke tanah.
"Bunuh aku! Setelah itu siapkan pemakaman untuk LATIZIA!"
"Apa maksudmu?" Tekan Milano menahan hunusan pedangnya ke leher guru Teans yang tersenyum licik.
"Latizia bertemu denganku sejak dia masih kecil. Bayangkan, apa yang telah-ku lakukan pada tubuhnya?!"
"Kauuu!!" Geram Milano mendidih. Ia menekan ujung pedangnya ke leher guru Teans.
Tapi, tiba-tiba saja ada segerombolan elang yang datang kemari mendekati Milano dengan hawa kepanikan.
"Lihat! Dia pasti juga merasakan hal yang sama denganku."
"APA YANG KAU LAKUKAN PADA LATIZIAA?!!"
Murka Milano mengigil hebat bahkan hawa membunuh itu semakin mendominasi.
"Dia adalah rencana keduaku. Terbukti kau terperangkap, bukan?"
.....
Sementara di rumah sakit besar tempat menampung para penduduk yang terluka tadi, tengah heboh kala Latizia tiba-tiba berteriak sakit memeggangi lengannya yang terasa mau putus.
Franck yang panik tentu saja mengerahkan seluruh team medis menangani Latizia yang di bawa ke ruang rawat bersama para dokter handal disini.
"L..lengaku!! S..sakitt!! I..ibu," Rintih Latizia sampai pucat memeggangi lengannya.
"Apa yang kalian lihat?! Cepat tangani Latizia!! Dia sedang hamil!!" Marah Franck pada para dokter yang justru bingung.
"Pangeran! Tak ada luka apapun di tubuh Putri bahkan semuanya normal."
"Sss..sakiiit, hiks!" Isak Latizia tak tahan. Sungguh, lehernya juga mulai terasa di tusuk dan ini begitu mengerikan.
Franck yang panik bercampur bingung mulai tak tahu harus apa. Latizia terus merintih seperti tengah di cabik-cabik oleh seseorang.
....
Vote and like sayangku
Promo dikit hehe😁
Buat yg suka cerita rumah tangga dan suami dodol.. Kalian bisa mampir di novel author yg di GN ya..
Lagi coba-coba nulis di sana tapi yg di utamain masih NT kok say. Tenang aja..☺ cuman nyari sampingan aja 🐣
SUAMIKU ANAK MOMMY..
.......
Memiliki suami yang tampan dan sangat sayang pada ibunya memang hal yang membahagiakan. Tapi, bagaimana jika setiap hari tak ada waktu untuk bersama hanya karena ibu mertua?!
Viona menikah tapi serasa masih gadis. Ia tak pernah mendapatkan perhatian atau waktu dari semuanya yang hanya fokus pada sang ibu. Rumah tangga Viona bagai di neraka karena selalu mendengar ibu mertuanya memuji-muji mantan wanita suaminya.
Sampai saat kesabaran Viona tuntas. Ia bertekad untuk meninggalkan Melvin tapi pria itu justru menangis mengejarnya.
__ADS_1