GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Tidak salah pilih


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Milano sudah pergi bahkan sebelum Latizia bangun. Tapi, sebelum itu ia memastikan jika Latizia baik-baik saja dan menyiapkan makanan, pakaian serta susu hamil wanita itu di dalam kamar mereka.


Tak lupa, pelayan Wey kembali stand-by di luar kamar menunggu perintah lanjutan.


Sayangnya, pagi ini ada sedikit kejanggalan. Tiba-tiba saja putri Veronica datang ke istana di tengah ketidakhadiran Milano dan Franck yang sibuk dengan urusan masing-masing.


"Aku harap nona masih tidur. Wanita itu tampaknya cukup jahat," Gumam pelayan Wey menjaga kamar ini.


"Biiik!"


"Iya, nona!"


Pelayan Wey segera membuka pintu kamar. Tampaklah Latizia yang baru saja selesai mandi dan berpakaian tengah menyisir rambutnya di depan cermin.


"Nona! Kau sudah bangun? Kenapa tak memanggil saya?"


"Sudahlah. Hari ini aku mau bertemu keluarga kerajaan Garalden. Jadi harus bersiap," Jawab Latizia tak mempermasalahkan hal itu.


Dirasa penampilannya sudah rapi dengan dress hamil selutut ini barulah Latizia bangkit dan mendekati meja nakas.


"Biik! Siapa yang ada di bawah?" Tanya Latizia sambil minum segelas susu hamilnya.


"A..itu." Terlihat berat mengatakan.


"Siapa? Aku merasakan ada tamu," Gumam Latizia kembali meletakan gelas itu dan meraih potongan buah di atas piring.


"Kak Franck pasti ada pertemuan dengan kerajaan lain. Milano sedang mengurus perusahaan. Tak ada yang akan menyambut tamu itu, bukan?" Tanyanya mengigit potongan apelnya.


"Nona! Dia adalah putri Veronica."


Sontak saja kunyahan Latizia terhenti. Wajahnya termenggu sesaat tapi masih dalam ketenagan yang stabil.


"Veronica?"


"Iya, nona! Dia tak membuat keributan tapi terus menunggu kedatangan prince Milano," Jawab pelayan Wey cemas.


Latizia menghela nafas. Ia mengusap perut besarnya lembut lalu berjalan pelan ke arah pintu.


"Nona!! Sebaiknya jangan keluar sampai prince dan pangeran Franck datang!"


"Itu hanya akan membuat keributan. Pekerjaan mereka sudah banyak. Jangan di ganggu," Tegas Latizia mendorong pintu kamar.


Pelayan Wey yang siaga segera mengambil ponsel Latizia di atas ranjang lalu bergegas mengikuti wanita itu.


"Nona! Kau yakin dia tak akan berniat jahat padamu?"


"Sejak kapan dia menyukaiku?! Bik!" Gumam Latizia tahu jika putri Veronica sedari awal juga dendam padanya.


"Jika begitu, sebaiknya.."


"Biik! Kenapa aku menghindar? Dia dan Milano memang masih berstatus suami istri tapi, aku tak mau menyembunyikan hubungan kami. Lagi pula bayiku akan segera lahir, dia butuh pengakuan dari dunia!" Jelas Latizia memikirkan masa depan anaknya.


Pelayan Wey akhirnya diam ikut masuk ke dalam lift bersama Latizia. Pintu baja itu tertutup membawa mereka turun ke lantai bawah.


Selama hamil besar, Milano tak membolehkan Latizia turun sendirian atau naik tangga. Jadilah, semua pelayan di istana ini akan jantungan kala Latizia keluar dari kamar takut terkena murka Milano jika kulit mulus wanitanya terbentur.


Saat pintu lift terbuka menampakan semua pelayan di bawah yang berkumpul di hadapan seorang wanita.


"Hubungi Milano! Katakan aku sudah di istana!"


"K..kami tak bisa, putri!"


"Kenapa?" Tanya putri Veronica yang sudah bisa berdiri tapi kulitnya di penuhi bekas luka dan masih ada aroma tak enak di tubuhnya.


"Aku datang baik-baik. Dia tak mau menemuiku?"


"Ada apa?" Tanya Latizia mendekat membuat putri Veronica menoleh.


Duarrr..


Seakan tersambar petir di pagi hari, putri Veronica terkejut menatap Latizia dan terutama pada perut besar wanita itu.


"L..latizia kau.."


"Milano sedang sibuk di luar. Jika kau ingin bertemu dengannya, datanglah lain hari," Tegas Latizia menatap putri Veronica tenang.


"K..kau hamil? Kau hamil anak siapa? Kau.."


"Apa tujuanmu datang kesini?" Tanya Latizia tak ingin menjawab.


"Aku ingin bertemu Milano. Dia suamiku dan aku berhak bicara dengannya."


"Dia tak ada di istana. Pergilah!"


Putri Veronica diam sejenak. Ia berjalan mendekat dengan tatapan syok tapi masih menahan amarah menduga sesuatu.


"Siapa ayahnya?"

__ADS_1


"Bukan urusanmu."


"Tak ku sangka kau sekejam ini, Latizia!" Desis putri Veronica yang tadi berniat untuk menemui Milano tapi justru di buat syok.


Latizia yang tahu putri Veronica marah padanya hanya membiarkan hal itu terjadi.


"Milano tak ada disini!"


"Kenapa kau melakukan ini, ha?!" Geram putri Veronica dengan mata berkaca-kaca.


Ia sakit hati dan tentu sangat terluka. Dari dulu ia ingin sekali hamil dan mengandung anak Milano tapi kenapa? Kenapa Latizia yang memilikinya?!


"A..aku istri sahnya, Milano! Kau adik iparnya. Bagaimana kalian bisa melakukan hal sekejam ini bahkan.."


Ia tak bisa melanjutkan kalimatnya karena sudah lebih dulu lemas melihat perut Latizia.


"Bahkan kau di pilih olehnya. Bukan aku," Imbuh putri Veronica merasa hancur.


Kerajaannya tak lagi berdiri kokoh. Keadaan tubuhnya juga tak stabil dengan wajah yang di penuhi luka akibat racun ganas hari itu. Ia tak punya kepercayaan diri untuk bersaing walau dendamnya berulang kali tumbuh.


"I..itu bukan anak Milano-kan?" Mendekat dengan wajah menggila.


"Jangan mengusik nonaku!" Pelayan Wey pasang badan.


"Itu bukan anak Milano!!! Dia tak mungkin memberi kau hak sebesar ituu!!"


Latizia diam. Putri Veronica tahu jika ini anak Milano dan percuma menjelaskan secara detail-pun tak akan ada perubahan.


"Latizia!! Aku..aku tahu, aku sangat jahat padamu! Tapi,..tapi kau jangan sekejam ini!!"


"Bawa dia pergi!" Titah pelayan Wey pada para pelayan lain yang mengangguk segera mendekati putri Veronica.


"Putri! Datanglah saat prince ada di istana!"


"Tidak. Ini istanaku dan aku tak akan pergi. Aku istri sah Milano!!" Bantahnya keras.


Latizia melihat jika mengusir putri Veronica dari istana bukanlah sebuah solusi. Wanita ini hanya akan membuat masalah untuk kedepannya.


"Lepaskan akuu!!"


"Putri! Kau harus keluar!"


"Lepaskan dia!" Titah Latizia hingga semua pelayan akhirnya berhenti.


Putri Veronica terlihat kacau. Ia menatap Latizia tajam sekaligus marah tapi tak ada kemampuan untuk mengusik Latizia.


"Kau menjalin hubungan terlarang ini dan masih hidup tenang?" Tanya putri Veronica dengan kekecewaan yang besar pada dirinya sendiri.


"Jika kau ingin bicara baik-baik maka aku siap tapi, jika masih membuat keributan maka pergilah!"


Putri Veronica diam dengan kedua tangan mengepal. Namun, melihat banyak-nya orang yang menjaga Latizia ia segera menghembuskan nafas berat.


"Baiklah!"


"Ikut aku!" Pinta Latizia berjalan menuju pintu samping menuju labirin istana.


Pelayan Wey terus mengikuti Latizia dengan waspada. Putri Veronica juga berjalan di belakang wanita cantik itu melihat jika para pengawal di luar langsung memberi salam hormat pada Latizia.


"Bahkan, semua penjuru kerajaan menghormatinya sama seperti melihat Milano," Batin putri Veronica iri sekaligus tak bisa menerima itu.


Pelayan Wey mengisyaratkan pada semua pengawal itu untuk mewaspadai putri Veronica yang sadar Latizia sangat di jaga ketat.


Setibanya di dekat labirin mawar ini, Latizia berhenti di ikuti yang lainnya.


"Sekarang! Katakan apa maumu?"


"Milano! Aku mau suamiku," Sambar putri Veronica tak peduli jika Latizia hamil sekalipun.


Sebelum menjawab, Latizia lebih dulu mengusap perutnya. Semakin kesini sikap Latizia mulai lebih dewasa walau saat bersama Milano ia akan menjadi anak kecil dan wanita galak.


"Itu tergantung Milano. Jika dia ingin kembali denganmu aku tak masalah."


"Tapi, jelas dia akan memilihmu!!" Pungkas putri Veronica menggebu-gebu.


Latizia yang semula memunggungi mereka segera berbalik. Ia menatap tegas putri Veronica yang pasti merasa tak adil.


"Kau juga sedang mengandung anaknya. Jangan pikir aku bodoh, setuju dengan penawaran-mu ini," Imbuhnya geram.


"Semua tergantung keputusan Milano. Kau menginginkan manusia yang hidup dan punya perasaan. Dia akan memilih sendiri, siapa yang akan mendampinginya dan siapa yang mundur?!"


"Ini tak adiil!!" Bantah putri Veronica merasa di sulitkan.


"Lalu, apa jalanmu?"


"Aku ingin Milano memberiku hak sebagai istrinya. Hanya aku yang bisa melahirkan penerus Madison."


Latizia diam. Jalan yang di berikan putri Veronica tidak termasuk mustahil untuk di penuhi tapi..

__ADS_1


Sudut bibir Latizia terangkat. Lama-kelamaan ia jadi lebih mirip Milano yang selalu misterius.


"Jika begitu, tanya padanya apa dia mau menghamilimu atau tidak."


"Kauuu..."


"Aku tahu perbuatan kami salah dan akan mendapat ganjaran sendiri. Tapi, kau tak berhak mengatur hidup seseorang. Jika dia memilihmu aku bisa apa?! Tapi, jika dia bertahan denganku kau juga tak bisa berbuat apa-apa," Tegas Latizia menjabarkan kenyataan.


Putri Veronica mengepal dengan perasaan tercabik-cabik.


"Lagi pula, sedari awal kalian sudah punya kesepakatan dan pernikahan itu sudah jelas bukan untuk bersama seumur hidup."


"K..kau.."


"Kau sendiri yang menjatuhkan martabatmu. Kau tahu jika sedari awal Milano hanya main-main lalu kenapa kau berharap padanya?!"


Ucapan Latizia benar-benar membuat putri Veronica terdiam membisu. Ia jelas menyesal akan apa yang ia lakukan dulu.


Seandainya dulu aku fokus mengambil hati Milano maka, aku tak akan seperti ini. Seharusnya aku tak pernah membuatnya membenciku, batin putri Veronica hancur.


"Sebelum aku datang, kalian tak senormal itu untuk di sebut suami istri. Jadi, aku tak bisa menuntut hak atau bertahan jika Milano memilihmu tapi, kau juga sama."


"B..boleh aku memeggang perutmu?"


Pelayan Wey langsung siaga. Latizia menatap wajah sendu putri Veronica yang menatap perutnya iba sekaligus memelas.


"Jangan sentuh, nonaku!"


"Biarkan!" Pinta Latizia mengejutkan pelayan Wey yang menatapnya penuh tanya.


"Biik! Aku tak mau bersaing seperti ini lagi. Cukup Athena saja dan jangan ada lagi."


Alhasil pelayan Wey diam perlahan menyingkir. Putri Veronica terpaku kosong saat Latizia tersenyum padanya.


"Kau masih istri Milano. Selama kau tak berniat jahat pada bayiku, aku selalu menerima jalan tengah dari kalian."


Putri Veronica berkaca-kaca. Ia di usir dari kerajaan Sauveron yang tengah di bangun kembali karena di anggap sebagai malapetaka atas kehancuran kerajaan tapi Latizia..


"K..kau.."


"Belakangan ini dia agak rewel. Mungkin akan menyapamu lebih dulu," Ujar Latizia mengusap perutnya.


Putri Veronica mendekat dan dengan gemetar memeggang perut besar Latizia yang melihat jelas jika wajah putri Veronica di penuhi bekas luka bakar dan jahitan samar.


Racun itu sangat berbahaya. Untung saja hari itu Grigel memberitahuku jika tidak, aku akan dalam masalah besar. Pikir Latizia bersyukur.


Putri Veronica mengusap perut Latizia dengan wajah senang. Ia tersentak saat merasakan reaksi dari dalam sana.


"Dia.."


"Dia sedang menyapamu," Jawab Latizia tersenyum kecil.


Putri Veronica terus mengusapnya beriringan dengan air mata yang turun. Ia ingin seperti ini bahkan dari dulu selalu bermimpi untuk hamil.


"A..aku tak bisa hamil."


"Ha?" Sentak Latizia terkejut.


Putri Veronica mengusap air matanya tak lagi mengusap perut Latizia.


"Sedari awal aku memang tak bisa hamil. Milano juga tahu."


"Tapi,..."


"Saat itu aku putus asa melihat dia dekat denganmu dan mendesak ratu Clorris untuk mencari obat agar aku cepat hamil. Tapi.."


"Maafkan aku," Sela Latizia merasa bersalah.


Putri Veronica justru tersenyum kecil. Ia tak menyangka jika sekarang ia akan sedekat ini dengan Latizia.


"Tak perlu sampai seperti itu. Aku juga banyak salah padamu."


"Tapi, aku juga salah karena .."


"Jangan buat umurku pendek dengan mengatakan kau menyesal mendekati Milano. Dia bisa mengamuk," Jawab putri Veronica hingga Latizia tersenyum tulus.


Pelayan Wey yang sedari tadi waspada tiba-tiba merasa kali ini putri Veronica benar-benar sudah menyerah.


Bukan dia saja, tetapi sesosok pria tampan dengan hawa keberadaan kuat yang berdiri di atas teras kubah sana juga menatap dalam ke arah dua wanita itu.


"Aku memang tak salah memilih. Wanita berhati malaikat sepertimu-lah yang pantas melahirkan penerusku," Gumamnya mengulas senyum tipis lalu menghilang.


Tadi, Milano mendapat laporan jika putri Veronica datang ke istana. Karena tak ingin Latizia di tekan jadilah Milano kembali dengan cepat tapi, ternyata wanita depresi kesayangannya itu selalu bisa di andalkan.


....


Vote and like sayang

__ADS_1


__ADS_2