
Malam ini tepat di bukit tertinggi pegunungan Andolf. Salju turun dengan cukup deras ditengah cahaya rembulan yang terang memenuhi puncak gunung Andolf.
Terlihatlah seorang pria berjubah hitam berdiri di ujung tebing dengan para pria berpakaian hitam yang membawa obor mengeliling seperti lingkaran.
Salju yang turun bak sumbu pemantik bagi obor yang semakin menyala. Hembusan angin yang terasa beku tak memadamkan ritual mereka malam ini.
"Berdiri di puncak tertinggi dan mengorbankan apapun yang paling berharga," Gumam pria berjenggot panjang itu menyeringai.
Salah satu kaki tangannya yang tak membawa obor segera mendekat. Ia memberikan sebuah pisau berbentuk setengah bulan khas klan mereka.
"Waktunya akan segera tiba!"
"Sebentar lagi. Aku akan menguasai ranah lembah Valley (lembah kematian)," Desis pria itu mengambil alih pisau.
Ia mengangkat tangannya ke arah bulan yang tepat berada di atas kepala mereka. Pisau itu berkilau tajam membuat api obor yang di peggang bawahannya di belakang sana bergejolak.
"Valley!!! Di atas tempat paling tinggi akan-ku korbankan hal yang paling berharga dalam diriku hanya untuk mendapatkan spritual dari dimensimu!!" Ucapnya memejamkan mata dan mulai menyebar kekuatan spritual dalam dirinya.
Dari beberapa sisi tempat sosok itu berdiri. Munculah pusaran gelap yang berputar dengan asap hitam berkabut pesat.
"Aku mengorbankan 4 dimensi spiritual-ku! Dimensi obat, dimensi spritual energi, harta dan racun!!"
"Tuan! Kau yakin mengorbankan 4 dimensi milikmu?" Tanya kaki tangannya yang ragu.
Mata pria itu terbuka menampakan sebuah hasrat yang besar untuk memiliki semua kekuatan yang ada di dunia ini. Kerakusan dalam memiliki semua wilayah membuatnya tampak bengis dan sangat licik.
"Setelah mendapatkan ranah itu. Elang Madison sekali-pun tak akan bisa mencegahku menaklukan semua dataran ini."
"Tapi, tuan.."
Pria itu mengangkat tangan hingga bawahannya tak lagi bicara. Ia melanjutkan ritual ini sampai empat pusaran di dekatnya semakin membesar menelan butiran salju yang tengah turun menghujani mereka.
"Akan-ku buat mereka semua tunduk padakuu!!!" Geramnya segera membuka kekuatan spiritualnya yang selama ini ia tahan.
Angin mulai berputar mengelilingi mereka tapi obor itu bukannya padam justru semakin bergejolak.
Pisau itu ia arahkan ke tangannya. Pisau di tarik menyayat dalaman tangannya yang langsung berdarah.
"Bukaaa!!!" Titahnya mengangkat tangan itu ke atas agar dimensi Valley yang misterius itu terbuka.
Wajah para bawahannya tampak bingung kala tak ada reaksi apapun dari alam.
"Bukaa!!" Ucapnya lagi memercikan darah itu ke arah seluruh dimensinya tapi tak ada respon apapun.
Sosok itu diam sejenak lalu menatap tajam kaki tangannya yang langsung gugup.
"Dia mengatakan itu! Aku bersumpah, Tuan!"
"Jika seperti itu maka ini.."
Ia langsung sadar akan satu kejanggalan. Dengan cepat tangannya ingin menghilangkan 4 dimensi miliknya yang sudah terbuka sepenuhnya tapi..
Whusss..
Satu hembusan angin yang cukup kuat merampas ke empat dimensi itu dalam satu raupan.
Mereka semua terkejut dan menatap waspada ke sekeliling puncak tebing gunung ini. Angin yang semula hanya berkeliling sekarang mulai memadamkan obor yang tadi menyala-nyala.
"Dia datang!!" Ucap semua bawahan pria itu kala ada puluhan elang yang menyerang ke arah sini.
Mata merah hewan liar itu menyala bak kobaran api menyambar ke arah mereka yang langsung berubah menjadi asap segera berkumpul di dekat pimpinannya.
"Tuan! Kenapa bisa begini?"
"Dia datang secara tiba-tiba."
Ucap mereka mengeluarkan pisau yang sama. Hawa mendominasi ini mulai terasa pekat kala puluhan elang itu mengelilingi mereka semua.
Sosok pria tua berjenggot itu mulai mengepal. Tatapannya langsung tertuju ke depan dimana sudah muncul dalang dari semua ini.
"Cih, kau menipuku!" Geramnya tapi masih dalam mode tenang dan stabil.
Sosok yang tadi memantau mereka tanpa di ketahui itu mulai mendekat. Jubah hitam dengan pola elang di belakangnya terlihat sangat jantan dengan aura yang tak biasa.
"Siput ternyata juga salah masuk rumah," Licik Milano dengan tatapan tajam bak elang yang ada di sekeliling mereka.
"Siapa yang kau juluki siput?! Aku rasa itu pantas di peruntukan padamu."
Milano menarik sudut bibirnya sarkas. Ia menunjukan tangannya hingga empat dimensi milik pria itu sudah berputar tepat di telapak tangan kekarnya.
"Kau pasti sudah berjuang keras untuk mendapatkan empat spritual ini, bukan?!"
"Kau bisa memilikinya. Aku tak begitu membutuhkan," Jawab pria itu sombong dan masih tenang.
Milano saling pandang dengan sosok itu sampai tebing ini mulai bergetar karena keduanya punya ranah spritual yang tinggi dan alam sekitar tak kuat menahannya.
"Kau mengelabui semua orang dengan tampang malaikatmu. GURU TEANS!" Desis Milano menyelipkan intonasi marah.
__ADS_1
Seketika guru Teans memecahkan tawa yang renyah. Ia tak percaya Milano bisa tahu secepat ini bahkan, pria itu menyusun siasat dengan baik.
"Kenapa? Kau terkejut?"
"Tidak. Sedari awal aku memang tak percaya padamu," Jawab Milano santai tapi hawa spritual keduanya saling berbenturan membuat langit semakin gelap dan awan hitam mulai menutupi terangnya cahaya bulan.
"Tapi, semuanya sudah ada dalam kendaliku. Bukankah kau juga tak menyadarinya?" Sarkas Guru Teans tersenyum licik.
"Aku percaya pada Latizia. Tapi, nyatanya kau juga membohongi wanita yang sudah menganggap mu sebagai orang tua. Memang MENJIJIKAN."
"Dia hanya boneka bagiku," Desis Guru Teans membuat Milano cukup mendidih.
Ia menatap para elangnya yang langsung menyerbu ke arah bawahan Guru Teans yang melihat seberapa besar kekuatan pria ini.
Semuanya bertarung sengit apalagi bawahan Guru Teans cukup kuat menghadapi cakaran elang Milano.
"Kau cukup pintar bisa menjebakku untuk melakukan ritual bodoh ini. Tapi, nyatanya kau juga tak sadar jika akulah yang meracik racun untuk membunuh kakekmu."
"Kau memang pengecut," Gumam Milano masih stabil.
Sedari awal menemui Guru Teans di Akademi. Milano mengujinya dengan tekanan spritual dan pria ini tak cukup kuat. Tapi, Milano tak bodoh untuk tahu jika Guru Teans menyegel separuh kekuatannya agar hawa spritual tingkat tinggi itu tak disadari siapapun.
Kala itu Milano belum menduga jika Guru Teans-lah dalang di balik semua ini. Ia baru menyelidiki secara intens kala mencium aroma bahan obat yang di gunakan pada tubuh Franck sama dengan racun di botol istana.
"Sekarang semuanya tergantung padamu. Jika kau mau tunduk padaku, aku akan benar-benar menyembuhkan kakakmu dan menghilangkan racun yang-ku tanam di tubuhnya."
"Kau pikir setelah apa yang kau lakukan, aku bisa percaya?!" Desis Milano mengepalkan tangannya hingga empat dimensi milik Guru Teans menyatu dengan spritual Milano.
Hal itu membuat tanah dan langit di atas sana bergejolak. Guru Teans yang semula santai seketika mulai serius.
Ia membuang pisau di tangannya lalu menghempaskan tangan ke atas hingga kabut putih seperti embun ini mulai datang.
Milano hanya diam bahkan ia tak bergerak di tempatnya. Kabut itu semakin tebal menyelimuti mereka yang tenggelam di dalamnya.
"Ini beracun," Batin Milano mengibaskan jubahnya ke belakang menepis kabut tebal yang seketika menghilang dari sekitar tubuhnya.
Saat melihat kedepan, Guru Teans sudah tidak ada. Hanya anak buahnya-lah yang masih kewalahan melawan serbuan elang ganas yang memiliki cakar tajam tak kalah dari pisau mereka.
Mata Milano semakin menajam dan berkilat murka.
"Ingin lari dariku?! Itu hanya MIMPI," Desis Milano segera menghilang bak kilat langsung melesat ke bawah tebing tepat memotong spritual Guru Teans yang langsung muncul berhadapan dengan Milano.
"Kau cukup cepat," Gumam Guru Teans padahal ia akui Milano lebih kuat dari perkiraannya.
"Empat dimensi terbaikmu sudah di tanganku. Masih ingin bermain?"
Milano yang juga sadar tentu saja menghindar tapi ia tahu jika hutan ini sudah di atur sedemikian rupa oleh Guru Teans termasuk seluruh pegunungan Andolf yang memang wilayahnya.
"Kau akan berakhir disiniii!!!" Geram Guru Teans menghentakkan kakinya ke tanah hingga seluruh hutan ini mulai bergejolak.
Desiran angin dan salju yang bertambah deras membuat bencana besar. Milano tahu jika Guru Teans akan membuat badai salju di sertai topan beracun yang akan membuat penduduk pegunungan dalam bahaya.
"Kau akan melukai penduduk wilayah mu sendiri!" Ujar Milano melihat bagaimana salju-salju itu di gulung oleh pusaran angin yang menggila.
Bukannya peduli, Guru Teans justru semakin menambah energi badai ini hingga memecah menjadi dua pusaran yang dahsyat mengguncang gunung.
"Kita berhadapan malam ini. Jika aku tak membunuhmu, mana mungkin rencanaku bisa berjalan lancar!!" Desisnya menghempaskan salah satu pusaran angin kuat itu ke arah Milano sedangkan yang satunya turun ke area pemukiman yang tengah ramai.
Milano yang masuk dalam pusaran badai itu tak lagi tampak. Tentu saja Guru Teans tersenyum penuh kemenangan karena tak ada satupun mahluk yang bisa bebas dari pusaran kematian itu.
"Kau akan mati."
Beberapa detik kemudian dahi Guru Teans mengernyit saat pusaran itu justru beralih ke arahnya.
"K..kau.."
Ia semakin di buat terkejut kala Milano dengan gagahnya berdiri dengan elang-elang ganas yang mengelilingi tubuh pria itu bak pusaran cincin.
"Bagaimana bisa?"
"Dimensi-mu sudah jadi milikku. Spritual semacam ini hanyalah sampah," Angkuh Milano menjentikkan jarinya hingga pusaran angin yang tadi menggila tiba-tiba dijalari api merah menyala.
Guru Teans mengangkat tangannya berniat untuk menghisap kembali energi di dalam pusaran itu tapi tiba-tiba tersengat panas hingga kulit tangannya melepuh.
"Kau.."
"Ku kembalikan padamu," Gumam Milano dan seketika pusaran itu langsung melahap tubuh Guru Teans yang tentunya akan terbakar.
Milano sengaja masuk dalam pusaran itu dan mengalirkan energinya yang lebih mendominasi. Alhasil, jika Guru Teans terkena maka akan merasakan panas yang lebih menyakitkan.
"Aaaaa!!!!!"
"Toloooongg!!!"
"Putrikuu!!"
Suara teriakan para warga di pegunungan Andolf yang luluh-lantah akibat pusaran badai yang tadi menghancurkan pemukiman.
__ADS_1
"Ini berbahaya," Gumam Milano segera berpindah tempat dengan cepat.
Ia punya dimensi teleportasi yang selalu di gunakan ketika terdesak. Saat tiba di area pemukiman yang sudah hancur, Milano melihat jika banyak warga yang ikut tergulung oleh badai angin dan salju itu.
"Tolooong!!! Tolooong!!!"
"Putrikuu!!" Teriakan seorang wanita kala putrinya yang berusia 5 tahun terseret oleh pusaran angin itu.
Milano yang melihat semua bangunan disini hancur dan banyak warga yang terluka segera mengambil tindakan.
Ia mengambil tanah di sekitarnya lalu di lempar ke atas. Taburan debu itu mulai berputar kala Milano menyalurkan energi spritualnya.
"Menyebar!" Titah Milano hingga tanah itu mulai berputar membentuk sebuah cakram menarik tanah yang ada di bawah sana.
Milano memejamkan matanya memanggil para anggota bayangan miliknya yang segera muncul di belakang Milano.
"Prince!" Tunduk mereka semua juga memakai jubah gelap menutupi wajah.
"Bawa semua warga yang masih selamat ke wilayah Madison!"
"Baik!" Jawab mereka serentak dan melesat ke semua penjuru pemukiman.
Milano mengontrol cakram tanah yang berputar semakin besar ke arah pusaran badai itu. Milano mengepalkan tangannya hingga cakram itu langsung mengelilingi pusaran angin dan mengikatnya agar tak menghancurkan daerah yang lain.
"Ini masih belum berakhir. Dia punya banyak aliran gelap," Gumam Milano tahu jika Guru Teans sudah lolos dari pusaran api tadi.
Apalagi, Milano merasakan hawa jahat yang semakin kuat datang kesini. Ia yakin Guru Teans tak semudah itu di kalahkan.
"Cepat bawa mereka dan lindungi Madison!!!" Titah Milano segera membuat portal penjaga sementara menahan energi jahat itu untuk masuk ke pemukiman sebelum seluruh warga selesai di amankan.
Elang-elangnya yang tadi menyerang bawahan guru Teans sudah kembali bergabung dengan kawanan lain yang juga berputar di langit pemukiman yang tengah bergetar.
"Prince!! Jumlah mereka sangat banyak. Kita harus menarik pasukan dari Madison dan Garalden."
"Jangan pedulikan itu. Kalian cepat bawa mereka keluar dari sini!" Titah Milano berkomunikasi dengan anggotanya yang segera pergi.
.....
Latizia yang ada di istana sana terus gelisah. Ia sedari tadi mondar-mandir di lantai dasar menunggu kabar Milano yang belum menunjukan tanda-tanda kepulangan.
"Kau baik-baik saja-kan?!" Gumam Latizia selalu mengecek ponselnya.
Franck yang semula bekerja di lantai atas segera turun bersama panglima Ottmar yang setia mendampingi pria itu.
"Latizia!"
"Apa ada kabar tentang Milano?" Tanya Latizia dengan cepat mendekati Franck yang baru saja keluar lift.
"Darren tengah di luar. Dia pasti akan memberi kabar!"
"Ini sudah dini hari. Belum ada kabar apapun," Resah Latizia memijat pelipisnya.
Franck juga cemas. Tapi, ia hanya berharap jika Milano baik-baik saja.
"Sepertinya akan turun hujan, udara juga begitu dingin. Pergilah istirahat Latizia."
"Tidak bisa. Aku harus tunggu kabar darinya baru bisa tenang," Jawab Latizia hingga mereka teralihkan dengan kehadiran Darren yang masuk ke dalam istana.
"Darren!"
"Nona, pangeran!" Sapa Darren tampak gelisah.
"A..apa yang terjadi? Apa Milano sudah kembali? Bagaimana kabarnya?" Cecer Latizia sungguh khawatir.
"Kabarnya pegunungan Andolf mulai aktif. Ada gempa di sana hingga para penduduk di amankan ke Madison."
"Dibawa oleh siapa?" Tanya Latizia tahu Darren sedang berbohong.
"D..dibawa oleh.."
"Oleh anggota Milano. Jangan buat aku seperti orang bodoh tak tahu jarak wilayah pegunungan Andof dan Madison. Jika orang normal yang membawa mereka akan butuh waktu berhari-hari," Geram Latizia tahu jika Milano tak ingin membuat mereka disini cemas.
"Nona! Prince hanya tak mau kalian jadi mencemaskannya. Apalagi dia juga pasti tengah berusaha di sana."
Latizia diam sejenak. Ia harus membantu menangani para penduduk yang pasti terluka.
"Kerahkan team medis untuk segera menangani mereka. Aku akan siapkan beberapa pasokan pakaian!"
"Tapi,.."
"Yang akan datang bukan hanya penduduk dari sana tetapi juga murid di Akademi. Milano tak akan membiarkan mereka mati sia-sia!" Jelas Latizia tahu jika Milano pasti akan mengevakuasi seluruh orang yang tak bersalah dari sana.
....
Vote and like sayang
Maaf say tadi ndak sempat up.. Ini author buat 2120 kata ukuran 2 bab
__ADS_1