
RAJA AERAV DAN RATU EBNEZER MASIH DI PERIKSA DI KANTOR PENYELIDIKAN ARTEFEA. SEMENTARA PUTRI VERONICA PELAKU UTAMA KASUS INI MASIH DI RAWAT DI RUMAH SAKIT UNTUK DI TINDAK SELAKU KORBAN KESERAKAHAN KERAJAAN SAUVERON.
*****
Suara televisi menyala memperlihatkan reporter News Glob dari kerajaan Artefea tengah meliput kondisi para pelaku yang baru tiba di sana saat malam ini.
Berita tentang kelicikan keluarga kerajaan Sauveron telah tersebar. Bukti transaksi racun yang asli antara penjual dan nama putri Veronica terungkap bahkan sudah jadi bualan publik.
Dalam satu jam setelah kejadian itu nama baik Latizia kembali cemerlang. Pelaku-pelaku dalam niat jahat Veronica hari itu sudah di tangkap pihak kepolisian yang bukan dari daerah Madison.
Ximus pasang badan mengambil alih kasus itu karena tak percaya dengan kepolisian Madison maupun Sauveron.
"Prince!" Panggil Darren pada Milano yang berdiri di depan layar monitor yang ada di gedung pemberitaan.
Ia memastikan sendiri jika semua stasiun tv memberitakan soal kasus ini.
"Prince! Kerajaan Sauveron sudah selesai di ledakan sesuai perintah-mu!"
"Kau yakin tanah itu sudah rata?" Tanya Milano begitu dingin bahkan Darren tak pernah melihat prince-nya semarah ini sampai tak lagi berpikir dua kali untuk meratakan tempat itu.
"Bangunan kerajaan Sauveron tak ada yang berdiri. Sudah di pastikan korban dari ledakan ini tak sedikit tapi orang-orang yang tak terlibat sudah lebih dulu di pancing keluar, Prince!"
"Hm, sebarkan berita itu ke semua penjuru wilayah!" Titah Milano tak main-main. Ia punya satu rencana lagi untuk mengait kerajaan Madison terutama Raja Barack agar mendapat masalah besar.
"Prince! Kau yakin dengan ini?"
Darren langsung ciut saat mendapat lirikan tajam dan membunuh dari Milano. Ia tak tahu kenapa pergerakan sebesar ini di lakukan dalam satu malam padahal sebelumnya Milano cukup berhati-hati dan sangat teratur.
"Apa yang-ku inginkan harus ku dapatkan apapun caranya! Jika tidak.."
Milano menjeda kalimatnya dengan kepalan menguat dan rahang mengerat.
"Mereka akan rasakan kepedihan tiada ujung," Imbuh Milano penuh hawa membunuh.
Banyaknya layar monitor di depan menyaksikan riuhnya pemberitaan. Ia tak akan puas sebelum dua kubu ini mendapat balasan dari apa yang sudah di lakukan pada Latizia.
Drett..
Ponsel Milano berdering. Pria itu melihat benda pintarnya dimana ada nama dokter Keanu yang tertera di sana.
Tanpa pikir panjang Milano mengangkat dengan cukup tak tenang.
"Dia sudah sadar?"
"Prince! Nona sudah sadar. Segeralah ke rumah sa.."
Tutt..
Milano mematikan ponsel secara sepihak. Ia melangkah pergi keluar dari ruangan monitor dimana banyak staf yang tadi sedang bekerja terpaksa keluar karena kehadiran pria ini.
"Jangan biarkan berita itu berhenti di siarkan! Blokir semua situs yang ingin menghapusnya!" Pinta Darren barulah ia pergi mengikuti Milano.
Gedung ini adalah pusat media di Madison. Milano sudah lama memeggang kendali di tempat ini tanpa sepengetahuan Raja Barack dan yang lain.
"Prince! Akan ada media yang menanyai-mu soal kematian Delvin karena saat itu kau tak tampak di kerajaan!"
"Hm, biarkan mereka datang padaku!" Gumam Milano masuk ke lift dengan Darren yang segera memencet tombol lantai bawah.
Milano diam tapi jantungnya berdebar. Sungguh, kekhawatiran seperti ini hanya dapat ia rasakan saat Franck dalam masalah dan sekarang Latizia.
"Pasti prince sangat gelisah! Dari respon nona Latizia sebelum pingsan tadi, wanita itu akan sangat ketakutan," Batin Darren paham suasana hati Milano saat ini.
Tak berselang lama mereka di lift, benda baja itu terbuka memperlihatkan lantai dasar yang sepi karena memang tempat ini sudah di urus lebih dulu.
Darren pergi ke luar untuk membuka pintu mobil yang stand-by di depan sementara Milano berjalan tegas seraya menerima panggilan dari Franck.
"Kak!"
"Kau dimana? Apa yang kau lakukan sekarang?"
Suara Franck tampak cemas. Milano yang segera masuk ke mobil mengerti jika pasti Franck sudah melihat gejolak media soal kekacauan di kerajaan.
"Kak! Aku masih ada perjalanan bisnis."
"Kau dimana? Jawab sekarang!" Tegas Franck selalu seperti ini jika sudah ada kabar genting dari istana.
"Aku di wilayah pulau yang dulu kita jadikan tempat liburan."
"Cepat pulang! Aku tak ingin tahu apapun alasanmu. Bawa Latizia juga kemari, jangan main-main di luar sana, adik! Ingat pesanku!"
Titah Franck begitu tak bisa di bantah. Milano hanya mengiyakan dan segera pamit kembali bekerja.
__ADS_1
"Prince! Sepertinya pangeran sudah tahu soal berita ini!"
"Hm, jangan sampai dia keluar dari area kediaman!" Ujar Milano menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil.
Darren yang mengemudi sesekali melirik Milano dari kaca spion depan. Ia merasa perhatian Milano pada Latizia sudah di luar batas prinsip pria itu bahkan pikiran Milano sering kali tertuju pada Latizia di manapun berada.
"Nona pasti akan baik-baik saja."
Milano hanya diam. Ia sadar jika sudah ceroboh membiarkan wanita itu pergi sendiri tanpa penjagaan.
"Prince! Ini bukan salahmu. Nona Latizia memang keras kepala. Tak peduli jika banyak yang ingin melukainya dia selalu teguh untuk maju. Wanita yang rumit."
Brugh..
Kursi kemudi yang di duduki Darren di terjang Milano yang membeku. Darren memucat merutuki dirinya karena lupa jika ia tak berhak mengkritik Latizia selain Milano seorang
"M..maaf. Prince!"
"Sepertinya kau sudah bosan hidup," Gumam Milano tapi Darren segera menggeleng dengan wajah sendu dan memperihatinkan.
Akhirnya ia tak lagi berani membicarakan Latizia. Milano-pun sudah tak bisa di ajak bicara karna fokusnya sekarang bertemu wanita itu.
......
Sementara di ruangan rawat sana. Dokter Keanu bersama dokter Dee tengah mendampingi Latizia yang baru saja sadar.
Wanita itu tampak masih pucat dengan kepala di perban. Bagian pipi, leher dan dagunya agak bengkak dan di penuhi memar merah tapi tak separah saat di larikan ke rumah sakit tadi.
"Nona!" Panggil dokter Keanu tapi Latizia hanya diam. Tatapannya begitu kosong ke arah depan dan sangat terlihat lemah.
Mereka tak tahu apa yang sekarang Latizia pikirkan. Sedari tadi wanita itu melamun membiarkan team medis memeriksanya tapi tak ada respon yang signifikan.
"Aku tahu ini berat untukmu. Tapi, jika kau berpikir buruk soal prince Milano maka kau salah besar!"
Latizia beralih memandang dokter Keanu yang seperti menebak isi kepala Latizia.
"Saat membawamu kesini wajahnya penuh dengan kepanikan dan rasa takut. Dia tak berniat jahat padamu!"
"A..apa dia tahu aku hamil?"
Degg..
Dokter Keanu dan dokter Dee terkejut bukan main. Keduanya saling pandang bingung, kenapa Latizia bisa tahu padahal mereka belum bicara?!
Apa setelah tahu hal ini dia juga akan membunuhku seperti caranya meleyenyapkan Delvin?!
Pikir Latizia sungguh takut. Jujur ia belum siap dengan kehamilan ini tetapi, mau bagaimana-pun keadaanya benih itu sudah tumbuh dengan baik. Ia tak tega melenyapkan darah dagingnya sendiri.
"Nona!"
"B..berapa usianya?" Tanya Latizia dengan suara parau dan cukup rendah.
"Satu bulan lebih satu minggu!"
"Sudah sebesar itu?!" Gumam Latizia mengigit bibirnya sendiri. Air matanya terus menetes karena merasa jika ia tak bisa lagi disini.
"Nona! Kau tenang saja. Aku sudah menelpon prince dan dia akan kesini!"
"D..dia.."
Latizia terkejut. Dengan perasaan takut dan panik Latizia membuka selimutnya dan ingin bangkit dalam keadaan yang lemah.
"Nona!"
"D..dia..dia tak bisa tahu ini," Gumam Latizia ingin bangkit tapi dokter Keanu segera menahan lengannya.
"Tenanglah! Prince pasti akan menerima ini!"
"Tidak akan!!!" Teriak Latizia mendorong dokter Keanu menjauhinya.
Air mata Latizia terus menetes meremas perutnya yang harus ia lindungi.
"A..aku yang salah. D..dia..dia sudah mengatakan jika kami tak ada hubungan yang spesial. Milano akan melenyapkan bayiku!" Gemetar Latizia sangat tak ingin melenyapkan anak ini.
"Tapi, Prince.."
"Dia..dia akan segera datang," Gumam Latizia memaksakan dirinya turun dari ranjang rawat mencabut paksa selang infus di punggung tangannya.
"Nona! Kau jangan gegabah!"
"P..Ponsel!! Ponselku!!" Pinta Latizia tapi tak ada.
__ADS_1
"Tenanglah! Kau.."
"P..Ponsel!! Berikan aku ponselmu!" Paksa Latizia tapi dokter Keanu masih kekeh untuk membuatnya menunggu sampai kesabaran Latizia habis.
Ia mengambil pisau buah di atas nakas dan mengarahkan itu pada lehernya.
"Nona!! Teriak mereka karena ini sangat bahaya.
Latizia tak punya pilihan. Ia tak mau berakhir disini apalagi Milano tak akan menerima kehamilannya.
"Ponsel!! Cepat berikan padaku!!"
"Baik. Tenanglah, ok!" Lirih dokter Keanu membuka ponselnya dan segera di rampas Latizia.
Dengan jari gemetar ia mengetikan nomor Grigel dan segera memanggil pria itu dengan perasaan panik dan cemas.
"Hallo! Ini.."
"Jemput aku!! Kita..kita pergi malam ini!" Titah Latizia tanpa basa-basi.
"Putri! Kau sudah sadar?"
"Ke rumah sakit sekarang!!!!" Bentak Latizia tak bisa mengendalikan dirinya.
Ponsel dokter Keanu terlepas jatuh ke lantai karena Latizia tak punya keseimbangan yang stabil sekarang.
"N...nona! Tenanglah, kau akan baik-baik saja."
"Kalian! Jangan katakan apapun padanya! Jangan katakan apapun, paham?" Tekan Latizia menunjuk dengan ujung mata pisaunya.
"Jangan begini! Tenanglah!"
"Diam!! Kalian semua diam!!" Teriak Latizia tapi segera merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya dengan pandangan berputar hebat.
"Nona! Kau belum sehat. Berbaringlah! Aku akan memeriksa-mu," Ujar dokter Keanu memelas tapi Latizia malah dihantui perkataan Milano hari itu.
"Hubungan kita hanya sekedar saling memuaskan!"
"Tak ada yang spesial sama sekali!"
Latizia mencengkram kepalanya kuat menahan rasa sakit dan ketakutan.
"T..tidak."
"Nona!" Lirih dokter Dee cemas.
"T..tidak mungkin. Aku..aku harus pergi! Harus..pergi," Gumam Latizia ingin berlari ke luar tapi ia membentur dada bidang seseorang yang tadi mematung di depan pintu.
Tubuh Latizia nyaris jatuh tapi dengan cepat di tahan oleh sosok itu. Pisau di tangan Latizia sudah salah genggam karena kesadarannya mulai berkurang.
"Prince!" Gumam mereka semua saat melihat Latizia ada di pelukan Milano yang mendengar semuanya.
Wajah Milano terkesan datar tapi tatapan elang itu cukup mendalam.
"K..kau.."
Latizia sayu-sayu memandang Milano. Seketika ia mulai ketakutan dan menggeleng pelan dengan langkah mundur.
"T..tidak! Aku..aku .."
Milano hanya diam. Ia menahan pinggang Latizia agar tetap di dalam rangkulan tangannya. Mata wanita itu berkaca-kaca menatap penuh permohonan pada Milano.
"A..aku akan pergi! Aku..aku tak akan menganggu-mu. J..janji, kau..kau jangan bunuh dia.."
"Lepas pisaunya!" Pinta Milano tegas beralih menggenggam tangan Latizia yang memeggang pisau.
"J..jangan b..bunuh!"
"Lepas!" Tekan Milano karena ini berbahaya.
Karena tak kuat lagi akhirnya Latizia meremas kerah kemeja di leher Milano yang melihat jika ada ketidakberdayaan di manik ungu mistik ini.
"A..aku mohon, hiks! Aku akan pergi! Jangan bunuh anakku, hiks! Jangan!"
Milano mengepal. Ia tarik pisau itu dari tangan Latizia paksa dan di lempar ke sembarang arah.
"Aku mohon, hiks! Aku tak akan menganggu-mu. Aku..aku tak akan!"
"Ceroboh," Gumam Milano memeluk Latizia yang akhirnya menumpahkan ketakutan terbesarnya.
Ia terus meminta di lepaskan tapi Milano enggan. Ia juga tak menduga ini tapi jika memilih menerima bayi itu atau kehilangan Latizia maka ia sudah pasti tak sanggup memilih pilihan kedua.
__ADS_1
.....
Vote and like sayang..