
Karena Franck tak ingin bertemu dengan wanita itu, jadilah Latizia pasrah. Yang pergi untuk makan malam hanya ia, baby Arch dan Milano yang menuruti semua permintaan wanita depresi kesayangannya itu.
Restoran yang di pilih adalah restoran yang dulu menjadi saksi bisu pertempuran gila Milano. Malam ini, mereka mencoba berkenalan sekaligus mengenang masa lalu.
"Menurutmu, apa dia akan datang?" Tanya Latizia yang sudah duduk di kursi meja makan resto.
Tempat ini di dekorasi sedemikian rupa tapi tak berlebihan. Hanya ada satu meja lebar yang di tata banyak makanan. Para pelayan juga ada di belakang mereka seperti patung tak bernyawa.
"Pasti datang. Walau dia juga sulit di hubungi."
"Apa dia marah pada kak Franck?" Tanya Latizia menatap Milano cemas.
Baby Arch yang ada di lengan kekar pria tampan itu terlihat tenang memperhatikan lampu-lampu di sekitar resto yang sepi.
Dengan tenang Milano menjawab stabil.
"Ntahlah. Menurut informasi yang-ku dapat, ayahnya sudah tiada sejak malam pengepungan itu."
"Astaga!" Sentak Latizia iba. Ia mengusap lengan mantelnya dengan perasaan campur aduk.
"Saat kencan saat itu dia sempat menolak tapi, akhirnya mau. Hanya saja kau tahu sendiri bagaimana kelanjutannya," Gumam Milano menghela nafas.
"Dia pasti sangat terpukul. Kak Franck juga merasa bersalah. Bagaimana mereka bisa bersama jika begini?"
"Jika memang suka sama suka, pasti bisa," Jawab Milano tegas seperti sangat berpengalaman.
Yah, Latizia selalu jengkel jika Milano bersikap profesional begitu tapi mau bagaimana lagi. Ia tak bisa mengungkit-ungkit masa lalu.
Tak beberapa lama kemudian, Darren yang tadi berjaga di depan pintu resto dan ada beberapa pengawal yang berkeliling mulai melihat kedatangan mobil asing.
Saat mobil berhenti di depan resto, ada seorang wanita berumur 30 ke atas tapi penampilannya sangat sopan dan elegan.
Sosok wanita cantik bertubuh tinggi dengan rambut coklat pekat itu berjalan menuju pintu masuk. Mata terpelajarnya melihat sekeliling yang di jaga begitu ketat, ia merasa tak nyaman dengan situasi ini.
"Silahkan, nona!" Darren menyambut sopan.
Wanita berambut panjang sebahu dengan celana jeans panjang dan blazer coklat itu masuk. Penampilan sederhana tapi bersih dan elegan.
"Permisi!"
Suara sopan itu membuat Latizia menoleh. Milano hanya melirik pelit lalu kembali menatap baby Arch yang juga memandangnya malas.
Senyum Latizia mengembang. Ia berdiri menyambut sosok wanita yang lebih dewasa darinya tak kalah sopan.
"Nona! Silahkan duduk!"
"Yang Mulia!" Sapanya tahu siapa Latizia dan Milano.
Wanita itu menunduk memberi salam hormat tapi Latizia merasa ini kurang pantas.
"Ayo duduk! Jangan terlalu formal."
"Putri, prince!" Panggilnya masih dalam sapaan segan.
Ia duduk berhadapan dengan Latizia tampak sangat hangat dan ramah kembali ke kursi. Berbeda dari Milano yang tak merubah wajah datarnya bahkan, lebih fokus pada diri sendiri.
Untuk sesaat hening. Latizia tak tahu harus mulai dari mana dan wanita ini juga tampak segan dan terus menunduk.
"A..itu, namamu Iriszen, bukan?"
"Iya, putri!" Jawabnya mengangguk.
Latizia melirik Milano yang tak ikut-ikutan. Ia asik menjahili baby Arch dengan menusuk-nusuk pipi gembul putra tampannya dengan jari membuat si kecil itu risih.
"Kalau begitu kita berkenalan sambil makan. Ayo, jangan malu!"
"Apa..apa itu putramu? Putri!" Tanya Iriszen melihat ciut ketampanan baby Arch yang menuruni pesona ayahnya.
"Iya, dia masih berusia beberapa minggu. Emm..bagaimana denganmu? Apa sudah punya suami?"
Iriszen terdiam. Ia sudah mulai mengangkat wajahnya agak percaya diri berhadapan dengan Latizia yang berusaha membuat Iriszen nyaman.
"Saya belum bersuami."
"Pacar? Kekasih atau pria yang dekat? Maaf aku terlalu bersemangat. Tapi, mustahil kau yang cantik dan dewasa tak memiliki satu pria," Kelakar Latizia dengan intonasi bercanda tapi ia serius.
Itu salah satu triknya agar Iriszen tak begitu kaku padanya.
"Saya tak punya, putri!"
__ADS_1
"Begitu, ya?! Baguslah!" Gumam Latizia hanya dapat di dengar oleh Milano.
Sebenarnya Latizia ingin langsung ke intinya tapi ia masih segan mengulik-ngulik tentang itu. Apalagi, kisahnya pahit.
Merasa Latizia menahan diri, Milano segera mengambil alih keadaan.
"Kau masih kenal aku?" Tanya Milano tegas tanpa basa-basi.
Sontak saja Iriszen terkejut segera menunduk. Ia tak berani menatap Milano yang begitu serius.
"P..prince!"
"Milano!" Tegur Latizia merasa Iriszen tak nyaman.
"Aku yakin kau sudah tahu siapa aku dan kakakku. Tujuan makan malam ini sama seperti kencan saat itu. Apa kau masih menyukai kakakku?"
"Saya..saya.."
Iriszen memang tipe yang pemalu. Ia termasuk sosok yang tertutup jika bertemu orang baru tapi akan ceria ketika sudah dekat.
"Terus terang. Aku sangat berterimakasih padamu dan maaf atas kejadian itu. Kau bisa meminta apapun pada kami tak masalah. Tapi, mengingat kakakku menyukaimu dan kau juga sama. Jadi, aku tak ingin menjodohkannya dengan wanita lain."
Iriszen diam. Ia meremas kuat pinggiran blazernya. Ucapan Milano begitu lugas seakan tak ada cela untuk bertanya.
"S..saya.."
"Apa kau membenci kak Franck?" Tanya Latizia membuat Iriszen tersentak segera menggeleng cepat.
"Jadi, kau menyukai kakak Franck?"
Iriszen diam. Ia melihat Latizia dengan tatapan rumit lalu beralih pada Milano dan baby Arch. Ia datang kesini karena ingin tahu keadaan Franck tak lebih.
"Apa dia baik-baik saja?"
"Kakak Franck juga menyukaimu. Hanya saja dia tak berani. Mungkin merasa bersalah atas kejadian kelam itu," Jelas Latizia menengahi.
Iriszen tak menjawab. Ia mencemaskan Franck tapi, karena sosok pria itu adalah seorang bangsawan dan ada lebih jauh darinya jadilah Iriszen juga tak berani berharap lebih.
Iriszen mengambil nafas dalam-dalam. Ia mulai menegakkan tubuhnya dan menatap tegas Latizia.
"Putri! Saya hanya ingin tahu kabarnya saja. Saat itu dia pergi dalam keadaan sakit. Jika dia baik-baik saja itu kabar bagus."
"Yah. Tapi.."
Iriszen bangkit dan pamit pergi. Ia lega setelah mengatakan semua itu. Setidaknya, beban masa lalu berkurang dan dua pria kecil yang dulu ia tolong ternyata sudah jauh lebih baik.
Kepergian Iriszen membuat Latizia hampa. Ia menatap tajam Milano yang masa bodoh.
"Kenapa kau terlalu menekannya?! Dia harus lebih dekat dengan kita. Brandal!!"
"Jangan buat kakakku menunggu lama," Ucap Milano menghadirkan rasa bingung pada Latizia.
"Maksudmu?"
"Dia ada di luar!"
Latizia tersentak. Ia segera berjalan cepat ke arah pintu resto. Berdiri di dekat Darren yang juga tampak mengintip.
"Nona! Pangeran sepertinya menguntit."
"Cih, dia bilang tadi tak mau pergi. Dasar, kakak adik sama saja," Umpat Latizia melihat Franck yang mengikuti Iriszen diam-diam.
Sementara di dekat mobil sana. Iriszen tampak mau pergi, Franck yang berdiri di balik pepohonan dekat resto jadi gelisah.
Untuk pertama kalinya ia bertemu wanita yang dulu menyelamatkannya tapi, ia masih belum berani mendekat.
"Apa yang harus-ku lakukan?!"Batin Franck perang dingin dengan dirinya sendiri.
Ia maju satu langkah lalu mundur lagi. Jantungnya berdebar-debar tak karuan seakan ia akan terkena strock mendadak.
Sikap aneh Franck dapat di lihat oleh Darren dan Latizia. Keduanya ikut geram karena Franck belum juga mendekati Iriszen yang sudah masuk ke mobil.
"Hey! Aku punya rencana."
"Apa? Nona!"
Latizia membisikan sesuatu ke telinga Darren yang segera mengangguk tersenyum licik. Milano menatap tajam interaksi dekat Latizia dan pria kesepian itu.
"Cepatlah!"
__ADS_1
"Siap, Nona!"
Darren bergegas mendekati Franck yang masih bersembunyi di remang-remang bayangan pohon. Pria itu tampak gatal untuk pergi kala Iriszen sudah menyalakan mesin mobil.
"Pangeran!"
"Kau!! Kau kenapa kesini?" Jengkel Franck merapatkan topinya.
"Pangeran! Aku mendengar pembicaraan nona dengan wanita itu tadi."
"Apa yang dia katakan?" Tanya Franck mulai gelisah.
"Nona Iriszen bilang, dia akan di jodohkan dengan pria lain oleh bibinya. Dia kecewa padamu karena tak datang dan akan menerima pernikahan itu."
"Kau yang benar??" Sentak Franck panas dingin.
"Aku serius, pangeran! Dia datang untuk menemui mu tapi, kau tak datang berarti kau.."
"Iriszeen!!!" Panggil Franck akhirnya berani mengeluarkan suaranya tapi, mobil Iriszen sudah melaju stabil pergi keluar area resto.
Darren terus mengompori Franck yang panik bukan main.
"Prince bilang pria itu sudah tua. Bibi-nya yang jahat memaksa nona Iris untuk menikah. Aku tak bisa bayangkan hidup nona Iris jika.."
"Siall!!"
Franck pergi menuju mobilnya yang ia parkirkan tersembunyi di dekat jalan. Darren menoleh pada Latizia dan keduanya langsung melakukan tos jarak jauh.
"Akhirnya kak Franck tak kesepian lagi."
"Kau begitu bersemangat."
Suara dingin Milano sudah berdiri di belakang Latizia dengan baby Arch tampak tenang di lengan kekar ayahnya.
Tubuh Milano yang tinggi gagah menggendong si kecil nakal itu dengan satu lengan terlihat semakin seksi dan berkharisma.
"Milano! Akhirnya masalah selesai."
"Hm, pernikahan juga akan lebih cepat."
Latizia mengangguk. Ia juga tak sabar menunggu hari itu, apalagi tak hanya mereka yang akan menikah.
"Baby! Kau merindukan ibu, hm?! Nanti kita bermain dengan uncle Ninu. Dia pasti senang melihatmu."
"Uncle?" Tanya Milano menaikan satu alis sinis.
"Yah. Ninu itu laki-laki."
"Jadi, dia laki-laki?"
Latizia mengangguk. Tapi, tak menduga jika Milano akan terlihat marah.
"Dia laki-laki dan kau baru bilang sekarang."
"Jangan aneh-aneh. Itu hanya burung, ya?" Jengkel Latizia mendengus.
"Dia sekamar denganmu. Dia melihatmu berganti pakaian bahkan kau menciumnya!!"
"Tapi, dia temanku. Yang benar saja kau cemburu dengan hewan."
"Aku juga punya galaksi dan Leon. Tapi, aku tak menciumnya, aku tak sekamar dengan mereka," Sarkas Milano membawa-bawa elang dan singa peliharaannya.
"Kau gila atau bagaimana, ha?! Ninu itu merpati bukan manusia."
"Setiap mahluk punya jiwa. Dia laki-laki dan pasti dia menyukaimu dan kau juga!"
"Kau korban dunia fantasi!"
"Lepaskan dia atau ku kurung di tempat lain," Tekan Milano masih saja kekanak-kanakan.
"Brandal sialan!! Sejak kapan kau jadi lebih penting dari pada Ninu-ku!!!" Menjambak rambut Milano yang tak mau kalah dengan merpati murahan itu.
"Kau bahkan menyebut namanya di setiap waktu. Menikah saja dengannya!"
"Baik. Aku menikah dengan N-I-N-U!"
Mereka bertengkar heboh hanya karena jenis kelamin peliharaan. Baby Arch memilih untuk tidur menulikan telinga dari perdebatan konyol orang tuanya.
Darren dan para pengawal yang ada di luar hanya bisa menggeleng. Disini tak ada siapapun selain mereka jadi tak ada yang menganggu pasangan aneh itu.
__ADS_1
....
Vote and like sayang..