GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Aku akan pergi!


__ADS_3

Setelah membersihkan pakaian dan bekas darah di tangannya tadi, Latizia di bawa kembali ke mobil oleh Milano yang akan berangkat langsung ke negara tempat Franck berada.


Pesawat pribadi mereka sudah stand-by menunggu di bandara khusus milik Milano yang malam ini di buru oleh waktu.


"Ada yang ingin kau bawa?" Tanya Milano menyapa Latizia yang sedari tadi diam di dalam mobil.


"Milano!"


"Hm?" Tanya Milano duduk di samping Latizia yang sudah memikirkan ini sejak di bibir pantai tadi.


"Ada apa?"


"Aku ingin ke makam kedua orang tuaku," Pinta Latizia menatap mata elang Milano yang diam sejenak.


"Baiklah! Aku akan.."


"Aku ingin pergi sendiri," Sela Latizia menggenggam tangan Milano yang ada di dekatnya.


Milano diam dengan wajah penuh pertimbangan. Jelas sekali ia tampak bimbang untuk melepaskan Latizia sendirian.


"Kau yakin?"


"Hm, yakin! Lagi pula aku pergi dengan Grigel dan Pohander. Mereka akan menjemput-ku sebentar lagi."


Darren yang ada di kursi kemudi hanya bisa diam. Pasti berat bagi Milano melepaskan Latizia dalam keadaan seperti itu.


"Aku masih bisa menemanimu. Setelah itu kita pergi!"


"Kakak-mu sedang marah. Tak baik jika kau menunda kepulanganmu," Ujar Latizia menepuk-nepuk paha Milano lalu melihat ke area jendela di kanan.


Ada mobil yang baru datang dan Latizia tahu itu kaki tangan ayahnya.


"Aku pergi! Sampaikan salamku pada kak Franck!"


Latizia membuka pintu mobil. Sebelum kakinya bergerak turun Milano segera merampas ponsel di tangan Latizia.


"Kau.."


"Burung murahanmu sudah ada di kediaman kakakku. Jika terjadi sesuatu aku lebih mudah bertanya pada pemiliknya," Jawab Milano alasan.


Latizia hanya menghela nafas ringan. Ia membiarkan Milano memberi nomornya lalu kembali menyerahkan ponsel.


"Sudah?"


"Hm. Aku tak ada waktu mengurus unggas liar itu. Kau harus cepat kembali," Datar Milano tapi Darren tahu niat busuk prince-nya yang tak bisa di tinggal pergi.


Latizia yang kesal mendengar ucapan Milano segera turun dari mobil.


"Awas jika saat aku pulang dia kurus dan tak kau beri makan!"


"Aku tak menjamin," Datar Milano acuh tapi ia bergeser duduk di kursi Latizia tadi bahkan satu kakinya turun seperti juga ingin ikut.


Mobil Grigel sudah terparkir di samping mobil mereka. Pohander keluar membawa mantel untuk Latizia.


"Putri! Udaranya dingin. Pakailah mantelmu!"


Milano menatap tajam Pohander yang bergidik memeggang mantel di tangannya. Ia sadar jika sekarang Latizia tengah memakai jas milik Milano yang tentu lebih hangat dari mantel biasa.

__ADS_1


"P..putri!"


"Aku pakai jas saja. Kita berangkat sekarang!" Titah Latizia menoleh ke belakang melihat Milano yang pura-pura memainkan ponsel seakan tak peduli tapi sejujurnya ia sedari tadi memperhatikan Latizia.


"Silahkan putri!"


Pohander membuka lebar pintu mobil. Latizia segera masuk ke dalamnya membuat Milano mulai merasa gelisah.


Ia terus memandangi kaca jendela mobil Latizia yang menampakan wajah cantik wanita itu.


"Prince!"


"Hm."


"Jika kau tak mendekat sekarang mobil itu akan pergi!" Hasut Darren dari kursi kemudi tahu niat Milano.


Tentu saja pria angkuh itu semakin tak tenang. Detik-detik pintu mobil ingin di tutup dan mesin di nyalakan, Milano langsung bangkit dan segera menahan pintunya.


"Prince!" Gumam Pohander menatap segan Milano.


"Ada apa?" Tanya Latizia yang heran.


"Apa nama makanan merpatimu?"


"Makanan merpati?" Gumam Latizia heran. Sudah jelas Milano saat ia membeli dulu juga melihat mereknya.


"Hm."


"Nanti-ku kirim mereknya," Jawab Latizia yang tampak buru-buru. Tapi, sayangnya Milano belum juga pergi dari depan pintu.


"Minuman apa yang dia suka?"


"Milano! Aku tak sedang main-main," Serius Latizia kesal.


"Aku hanya ingin memberikan yang terbaik. Jika merpati murahanmu kurus, sakit atau terjadi sesuatu padanya aku.."


Cup..


Pohander langsung memalingkan wajah malu saat Latizia berinisiatif mengecup bibir Milano yang tadi mencari masalah.


"Sudah?" Tanya Latizia ingin kembali duduk tapi Milano segera menahan tengkuknya dan mencium dengan buas seperti biasanya.


Hanya saja, terselip rasa tak rela dan cukup berbeda dari biasanya.


Kenapa aku merasa dia tak ingin aku pergi?! Batin Latizia mulai melayani ciuman berat hati Milano.


Darren dan Grigel hanya bisa tersenyum kecil melihat Pohander yang tak bisa melihat adegan itu.


"Ehmm!"


Latizia menepuk bahu Milano agar melepasnya karena sudah terlambat. Milano masih belum puas, ia semakin menekan tengkuk Latizia membelitkan lidah basah itu dengan erotis.


"Milamhmmm!!"


Plup..


Ciuman itu terlepas dengam benang saliva masih terhubung di bibir keduanya. Latizia ngos-ngosan karena ciuman ini terlalu buas.

__ADS_1


"K..kau..kau tak bisa lihat situasi, ha?!" Jengkel Latizia mengusap bibirnya yang sedikit bengkak.


"Lihat merpatimu dengan cepat!"


"Aku tahu," Ketus Latizia kembali duduk. Pohander ragu-ragu menatap Milano yang ternyata belum juga selesai membuat Latizia jantungan.


Ia mengecup kilat kening Latizia yang terkejut menatap Milano yang sudah pergi masuk ke mobilnya sendiri.


"Kita pergi sekarang, putri?"


"I..iya," Jawab Latizia agak kaku sekaligus bersemu.


Pohander menutup pintu mobil lalu duduk di samping Grigel yang segera melajukan mobil keluar dari area resto.


Milano hanya bisa memandangi lampu mobil itu sampai hilang dari netranya.


"Prince! Kita jadi pulang."


"Hm. Tetap awasi kemanapun dia pergi dan jangan sampai lengah!" Titah Milano menutup pintu mobil lalu bersandar ke kursinya.


Darren melajukan mobil menuju bandara. Ia melihat Milano yang tiba-tiba saja kembali ke stelan pabriknya tak bersuara sepatah-katapun bahkan wajahnya begitu tak bersahabat.


Sesekali pria itu melihat ponsel lalu menatap ke kursi yang ada di sebelahnya.


"Nona hanya pergi ke makam kedua orang tuanya, Prince! Jangan terlalu di pikirkan."


"Kau sudah mulai jadi peramal?!" Sarkas Milano dingin tapi Darren hanya tersenyum kecut.


Tak beberapa setelahnya, ponsel Darren berdering. Ada laporan dari anggota mereka yang mengawasi Latizia dan tampaknya cukup penting.


NONA LATIZIA TAK PERGI KE ARAH KERAJAAN GARALDEN. MOBILNYA PERGI KE GUNUNG ARAH PEGUNUNGAN ANDOLF.


"Prince!"


"Hm."


"Nona tak pergi ke kerajaan Garalden melainkam ke arah pegunungan Andolf!"


Milano terdiam. Ia tadi juga merasa curiga karena jika Latizia ingin ke makam kedua orang tuanya kenapa tak ingin di dampingi?!


Wanita itu juga tampak buru-buru dan seperti ada yang sedang ia rencanakan.


"Prince! Pegunungan itu sangat berbahaya. Apalagi, orang-orang Garalden yang semula ingin membunuh nona juga bersarang di sana."


"Menyuruhnya kembali tak akan ada gunanya."


"Lalu, apa yang harus di lakukan?" Tanya Darren mencemaskan Latizia.


Milano berpikir panjang. Jika menyuruh Latizia kembali maka wanita keras kepala itu tak akan mau.


"Biarkan dia melakukan apa yang dia mau. Jika ada bahaya yang tak bisa dia hadapi, baru selesaikan secara sembunyi!"


"Aku mengerti," Jawab Darren memberi tahu anggota gelap mereka tentang hal itu. Resikonya memang besar tapi, Latizia pasti punya maksud dan tujuannya sendiri.


....


Vote and like sayang..

__ADS_1


__ADS_2