
Setelah menjalani proses bersalin yang memusingkan itu akhirnya Latizia di bersihkan dan segera di angkat ke atas ranjang yang sudah rapi.
Milano selalu sedia menjadi kaki dan tangan Latizia bahkan, ia selalu bertanya posisi ternyaman wanita depresi kesayangannya itu.
"Apa begini lebih baik?" Tanya Milano menambah satu bantal lagi di bawah kepala Latizia yang mengangguk.
"Kedua kakiku dingin!"
"Ku pakaikan kaos kaki?"
Latizia mengangguk lemah. Milano bangkit pergi ke kamar ganti mengambil kaos kaki dan selimut tambahan.
Sementara Franck dan Darren jangan di tanya lagi. Mereka berdua terus mengerumuni ranjang bayi tampan Milano yang tengah di periksa oleh dokter Dee.
"Prince kecil sehat. Detakan jantungnya normal serta, semua organ lengkap."
"Kenapa ponakan premium-ku tak membuka matanya?" Tanya Franck cemas.
Dokter Dee tersenyum kecil. Putra nakal Milano ini tampaknya enggan meladeni dua pria kesepian yang terus mengerumuninya. Bahkan, sedari tadi ia hanya menggeliat kecil lalu acuh.
"Bayi yang baru lahir memang jarang membuka mata, pangeran! Dia lebih suka tidur!"
"Tapi, setidaknya tataplah wajah paman-pamanmu ini, hey!!" Gemas Franck tapi hanya bisa memukul bahu Darren yang jadi sasaran.
"Jika berisik, lebih baik kalian keluar!" Suara datar Milano keluar kamar ganti membawa selimut.
"Adik! Putramu sama saja denganmu!"
"Sama-sama tak bermoral," Cicit Darren merasa bayi tampan ini terlalu angkuh tapi, Franck segera menoyor kepala Darren dengan jengkel.
"Jangan berkata buruk tentang keponakanku!"
"Maaf, pangeran!" Cengir Darren mengusap tengkuk canggung.
Mereka beralih menatap Milano yang telaten memasangkan kaos kaki pada Latizia. Franck dan Darren saling pandang haru.
"Suami idaman."
"Mereka belum menikah, pangeran!"
"Akan menikah," Tegas Franck menepuk bahu Darren jantan di depan dokter Dee yang tersenyum seraya menggendong bayi mungil yang sudah di bedong itu.
"Yang Mulia kapan menikah?" Tanya dokter Dee sopan.
"Aku? Menikah?" Menunjuk diri sendiri dengan wajah remeh.
"Aku tak akan menikah. Sampai kapanpun!" Imbuh Franck membuat Milano dan Latizia saling pandang.
"Kak! Aku akan menjodohkanmu."
"Adik!" Syok Franck berjalan mendekati Milano.
Ia tatap wajah tampan datar pria berjuta pesona itu lalu beralih pada Latizia yang mengulum senyum.
"Adik ipar! Tolong beri dia pengertian!"
"Milano benar. Kau sudah tua," Kelakar Latizia tersenyum lemah tapi wajahnya semakin beraura.
"Ayolah! Aku tak ingin di jodohkan. Aku hanya mau bermain dengan anak-anak kalian, itu saja! Lagi pula.." Frank menjeda kalimat melirik Darren yang asik menoel-noel pipi prince kecil mereka di bawah mendekat ke sini.
__ADS_1
"Lagi pula Darren juga tak akan menikah!" Imbuhnya melebarkan senyuman
"Aku masih muda dan punya masa depan cemerlang," Jawab Darren tak ingin di ajak-ajak oleh Franck yang mendengus.
Dokter Dee hanya bisa menghela nafas segera mendekati Latizia.
"Beri asi dulu, nona!"
"Dia masih tidur?" Tanya Latizia menatap hangat wajah tampan bayi mungilnya di gendongan dokter Dee.
Milano sigap membantu Latizia untuk bersandar di kepala ranjang dan menempatkan satu bantal di paha wanita itu.
"Tidurnya sangat nyenyak."
"Walau dalam keadaan tidur. Bayi seperti ini bisa di susui, nona!"
"Baby!" Gumam Latizia berbinar. Ia di arahkan untuk menggendong si kecil ini dengan hati-hati karena masih sangat lemah dan belum bertenaga.
"Dia..dia membuka matanya!" Heboh Franck melihat si kecil itu mulai menggeliat dan membuka mata bening penuh pesona.
Mereka terpana akan netra coklat pekat yang berkedip pelan menatap teduh wajah cantik agak pucat Latizia yang mulai berkaca-kaca.
"Ini ibu, sayang!" Lirih Latizia perlahan mengecup kening putranya penuh kasih.
Air matanya lolos begitu saja. Rasa sakit teramat sangat yang ia rasakan tadi seketika sebanding dengan malaikat kecil yang sekarang memandangnya dengan penuh kelembutan tiada tara.
"Wajahnya sangat mirip dengan Milano saat kecil. Dulu Milano juga jarang berinteraksi jika tak denganku atau dengan kakek!" Jelas Franck menepuk bahu Milano tersenyum tipis.
"Tapi, aku harap dia tak menuruni satu tabiat masa kecil ayahnya," Imbuh Franck membuat semua mata memandang ke arahnya.
"Kak!" Tekan Milano dengan pandangan mengancam.
"Istriku ingin menyusui putraku! Segera keluar!" Sela Milano tegas tapi Franck menyeringai.
"Kau malu?"
"Kak!" Kesal Milano hingga Franck tertawa geli segera menarik Darren keluar kamar.
"Baiklah. Latizia juga akan tahu sendiri!!"
"Memangnya apa?" Tanya Latizia tapi Milano hanya diam mengisyaratkan dokter Dee untuk pergi.
"Saya pamit, nona, prince!"
"Hm," Gumam Milano membiarkan wanita itu pergi.
Sekarang tinggallah mereka bertiga. Bayi mungil itu tak berkedip menatap wajah cantik Latizia seakan ia jatuh cinta pada pesona ibunya.
"Pakai dot saja bisa-kan?" Gumam Milano tak rela.
"Jika aku bisa, kenapa harus pakai dot?!"
"Tapi-kan itu punyaku!" Kesal Milano langsung mendapat cubitan maut Latizia ke pahanya.
"Jangan aneh-aneh. Sudah besar tapi masih seperti anak kecil."
"Yang kiri punyaku!" Tegas Milano tak mau si monopoli.
"Ayolah. Kau mau berebut dengan baby?"
__ADS_1
"Dia ada karena aku. Jadi, hanya boleh pilih salah satu atau tidak sama sekali," Angkuh Milano beradu pandangan tajam dengan putranya sendiri.
Tak lama berselang, bayi mungil itu mulai ingin menangis. Sontak saja Latizia panik segera membuka kancing atasannya.
"Susstt! Haus, hm?"
"Yang kanan saja!" Atur Milano tapi Latizia masa bodoh.
Ia mengeluarkan bongkahan daging kenyal yang tampak seksi dari balik branya. Bibir mungil si kecil itu mulai menyesap puncak gunung kembar kesukaan Milano yang sekarang beralih kepemilikan.
"***!!" Desis Latizia tersentak saat hisapan itu terasa berbeda.
"Kenapa?"
"T..tidak. Mungkin karena pertama kali jadi tak biasa," Gumam Latizia merasa aneh. Rasa sakit itu tak hanya di area dada tapi juga mulai menjalar ke seluruh kulitnya.
Latizia tak mau memberitahu Milano karena takut pria ini cemas.
Mungkin aku terlalu lelah jadi tubuhku tak siap, batin Latizia hanya menahan saja.
"Kau juga harua istirahat. Ini sudah dinihari, Milano!"
"Kau ingin makan buah?" Tawar Milano masih saja mengurusnya.
Latizia menahan tangan Milano mencegah pria itu bangkit.
"Tidur! Kau sedari kemaren kurang istirahat."
"Baiklah," Pasrah Milano naik ke atas ranjang dan bersandar di samping Latizia.
Milano juga merasa kurang sehat. Kepalanya agak pusing dan pandangan cukup berkunang.
"Kau sudah punya nama untuk bayi kita?"
"Tidak," Acuh Milano memejamkan mata.
"Milano!!"
"ARCHER ZEYN MADISON ALTARIZ!" Tegas Milano dengan bangga menyebutkan nama itu.
Latizia diam sejenak lalu menatap wajah tampan putranya yang menyukai nama itu.
"Baby Arc! Aku suka."
"Hm, nama itu akan meluas menguasai daratan ini!" Ucap Milano penuh keyakinan dan tahu jika kehidupan putranya tentu akan lebih sulit.
...........
Hawa dingin dan gejolak angin yang masuk ke sela besi dingin itu membekukan seorang pria yang tampak di jerat oleh belitan rantai membelenggu tubuhnya.
Tatapan penuh amarah dan kebencian menusuk hebat ke arah depan seakan-akan ia baru saja di timpa kesialan.
"Kau tak akan bisa mengubah takdirnya," Geram kakek Teans merasakan sakit di sekujur tubuhnya seakan ada ribuan jarum yang menancap dan rasa terhisap di bagian jantung.
"Dia di takdirkan untuk mati. Kau tak bisa melawanku!
Nafas memburu seperti tak terima tapi masih ada kepercayaan diri yang tersisa dari matanya.
....
__ADS_1
Vote and like Sayang..