
Pagi ini semuanya berangkat dalam satu Jet pribadi. Franck yang awalnya ragu saat tahu mereka akan pergi ke Madison hari ini seketika menurut saat sadar jika ia seharusnya mendukung keputusan Milano.
Mereka tak membawa barang apapun karena semuanya sudah di siapkan. Hanya saja, Franck cukup gugup karena Milano mengatakan jika berita kepulangan mereka sudah di sebar ke seluruh media.
"Kak!" Sapa Milano pada Franck. Ia yang baru keluar dari kamar karena mengantar Latizia yang tadi tidur.
"Latizia tidur?"
"Hm. Ada apa?" Tanya Milano duduk di kursi samping Franck yang sedari tadi mengasingkan diri di bangku pesawat.
"Milano! Aku selama ini di anggap telah tiada dan apa mereka akan menerimaku?"
"Memang tidak mudah," Jawab Milano sudah memperkirakan berbagai resikonya.
"Milano! Jika kehadiranku akan membuat masalah maka.."
"Kak! Masalah akan tetap ada bahkan sebelum kau datang!"
Seketika Franck membisu. Jujur ia gugup memikirkan apa rakyat Madison akan menerimanya kembali atau tidak, karena selama ini kerajaan sudah banyak berubah.
"Tenanglah! Di terima atau tidak, aku yang putuskan!" Tegas Milano menepuk bahu Franck yang mengambil nafas dalam.
"Kakak serahkan padamu!"
"Hm, kau istirahatlah!" Pinta Milano lalu melihat berkas yang tadi ia bawa.
Tampaknya Milano cukup sibuk dari semalam ia masih ada di ruang kerjanya.
Franck jadi merasa tak berguna karena urusan perusahaan juga Milano yang urus. Pria ini saja kurang istirahat.
"Kakak akan bantu urusan perusahaanmu!"
"Hanya mengurus beberapa masalah kecil. Darren sudah menanganinya," Jawab Milano membuat Franck gelisah.
"Beri aku satu pekerjaan agar aku terlihat berguna!"
"Kak!" Gumam Milano menatap datar Franck yang tersenyum lebar.
"Kakak tahu kakak hanya figuran, tapi cacat-cacat begini kakak juga pernah belajar bisnis, Milano!"
Alhasil Milano menghela nafas. Ia menoleh ke belakang dimana Darren juga tengah sibuk di kursinya. Melihat prince-nya memandang tentu saja Darren segera mendekat membawa Tab dan beberapa dokumen perusahaan.
"Ini prince!"
"Bagaimana dengan pembangunanya?" Tanya Milano seraya menyerahkan dokumen itu pada Franck.
"50 % masih berjalan. Wilayah kerajaan itu cukup luas tapi masih subur dan tak begitu rusak. Hanya saja kita perlu sumber daya lebih untuk membangun kerajaan itu kembali."
"Perluas jangkauan bisnisnya. Manfaatkan penjilat Artefea!" Titah Milano yang diam-diam kembali membangun kerajaan Garalden tanpa sepengetahuan Latizia.
Ia sudah bergerak sejak lama. Para pemberontak yang kemaren ingin menyerang rakyat Madison di bawa kembali untuk membangun wilayah mereka, itu janji Milano yang harus di tepati.
"Apa yang ingin kau bangun?" Tanya Franck seraya membolak-balikan dokumen proyek besar perusahaan.
"Kerajaan!"
"Milik siapa?"
"Latizia!" Singkat Milano membuat Franck terdiam. Ia tahu Latizia adalah putri tunggal kerajaan bunga itu tapi, ia tak menyangka Milano akan sejauh ini.
"Adik! Kerajaan itu dulunya bersifat netral. Dia tak pernah terlibat konflik seperti daerah lain. Mereka pantas bangkit kembali."
"Hm. Dalam kondisi Latizia sekarang, dia tak bisa lelah."
"Wanita memang tak boleh kelelahan. Kau memang gentelman," Salut Franck tapi raut wajah Darren dan Milano menunjukan hal yang berbeda menarik pandangan Franck naik.
__ADS_1
"Maksud dengan 'kondisi sekarang' itu apa?" Tanya Franck bingung.
"Siapkan jantungmu, pangeran!" Ucap Darren dengan ekspresi serius membuat Franck cemas.
"Latizia sakit? Dia mengidap sakit kronis?"
"Tidak."
"Lalu? Apa kau melukainya? Milano, kau ini.."
"Dia hamil!"
Duarr..
Dokumen di tangan Franck terjatuh dengan wajah kosong sekaligus syok yang tak bisa di jabarkan dengan kata-kata.
"H..hamil?"
"Hm," Singkat Milano bersidekap dada angkuh membanggakan diri.
"Latizia hamil? Hamil anakmu??" Pekik Franck memeggang bahu Milano dengan wajah bahagia bukan main.
Saat Milano mengangguk Franck langsung memeluk Milano dengan begitu erat bahkan ia sampai mengguncang tubuh pria itu begitu senangnya.
"Milanooo!!! Kau memang adikku!! Ini pasti berkat buku-buku yang ku berikan, kepandaianmu sudah terlatih."
"Terserah padamu, kak!" Gumam Milano malas jika sudah menyangkut buku panduan itu.
"Sekarang aku ingin menemui adik iparku!!"
"Dia tidur!" Cegat Milano menahan bahu Franck agar tetap duduk di sebelahnya.
"Kau benar. Jangan ganggu dia dulu. Hm, berapa usia kandungannya?"
"1 bulan lebih!"
"Prince! Seluruh jadwal pertemuan-mu di tunda dari minggu sebelumnya. Mereka mendesak untuk segera bertemu denganmu!"
"Kosongkan seluruh jadwaldku sampai 3 hari kedepan. Setelah itu susun kembali!" Pinta Milano ingin mengurus kerajaan dulu selama beberapa hari ini.
8 jam kemudian monitor Jet bersuara jika mereka akan mendarat sebentar lagi. Milano segera pergi ke kamar dimana Latizia yang sudah tidur sangat lama.
"Kau sudah bangun?" Tanya Milano pada Latizia yang tampak masih setengah sadar di dalam selimut.
Wajah bantal wanita itu terlihat sangat menggemaskan dengan rambut acak-acakan. Latizia segera duduk di kasur lalu menatap trmpat di sekelilingnya.
"Ini dimana?" Tanya Latizia seraya mengucek mata karena tadi malam ia rasa masih di kamar mereka.
"Di pesawat."
"Ha? Kenapa bisa?" Syok Latizia termenung. Milano yang meraih botol air di atas meja segera mendekati Latizia.
"Kita akan segera mendarat. Cepat bersihkan tubuhmu dulu!" Menyodorkan botol air di tangannya yang sudah ia buka.
Latizia bangkit menegguk botol itu beberapa kali lalu segera pergi ke kamar mandi. Milano hanya menghembuskan nafas ringan duduk di pinggir ranjang.
"Milano!! Kau sudah siap??" Suara Franck dari luar kamar.
"Kau duluan saja!!"
"Cepatlah! Bangunkan Latizia!!" Ucap Franck dan tak lagi terdengar.
Milano yang sudah rapi dengan kaos dan jaket santainya itu segera menyiapkan pakaian Latizia. Ia merasakan getaran kecil di pesawat pertanda akan segera mendarat.
"Latiza!!"
__ADS_1
"Sebentar!" Jawab Latizia segera keluar dari kamar mandi.
Ia yang memakai handuk pendek dan seksi itu membuat Milano panas dingin segera memalingkan wajah agar tak berpikir yang tidak-tidak.
"Kau keluarlah dulu! Nanti aku menyusul!"
"Kita hanya punya 10 menit lagi. Jadi cepatlah!" Jawab Milano membuat Latizia kesal bukan main.
"Cih, kenapa para pria memang suka sekali mendesak wanita cantik?!" Umpatnya segera mengenakan pakaian.
Milano hanya diam. Ia melihat jam di pergelangan tangannya seperti begitu buru-buru. Tentu saja Latizia tak tenang dan bergegas segera memakai dress selutut lengan pendek yang di baluti mantel tipis musim semi.
"Ayo! Kau sudah seperti ingin melahirkan padahal aku yang hamil!"
Kesal Latizia menarik lengan Milano keluar kamar. Ia tak peduli dengan rambutnya yang tak di sisir dan wajah cantik natural yang semakin mempesona padahal tak memakai make-up.
Di kursi sana sudah ada Franck dan Darren yang duduk santai. Mereka menatap heran Latizia yang melewati mereka dengan ekspresi wajah kesal.
"Ada apa dengan Latizia?" Tanya Franck menepuk lengan Milano yang lewat di sampingnya.
"Dia marah."
"Kau pasti mendesaknya-kan?" Tanya Franck dan Milano hanya menarik bibir miring pertanda itu benar.
Milano duduk di samping Latizia. Wanita itu menggulung rambutnya ke atas lalu melihat ada kacamata di jas Darren.
"Berikan padaku!" Pinta Latizia dengan intonasi memalak.
Darren yang merasa ngeri tentu saja menyodorkannya benda itu. Latizia dengan kesal mengambilnya seraya memakai sepatu boot yang sudah ada di dekat kursi.
"Kapan ini mendarat? Kau bilang sebentar lagi! Atau kau membohongiku?!" Omel Latizia tapi Milano hanya mengarahkan kepala wanita itu ke jendela pesawat.
"Mendarat dalam 5 menit."
"Cih, masih ada 5 menit. Tak perlu sampai mendesak seperti itu. Aku bahkan tak sempat memakai lipstik."
Franck dan Darren salut pada Latizia. Milano bahkan tak berkutik dan hanya bisa diam mendengarkan suara omelan Latizia di sepanjang waktu jet ini mendarat stabil.
Setelah beberapa lama mereka turun dari pesawat. Sudah ada banyak media di depan bandara ini karena kedatangan mereka akan sangat di sorot oleh publik.
Latizia tak di biarkan berjalan sendiri oleh Milano yang selalu menggenggam tangan wanita itu sampai ke mobil yang sudah menjemput mereka.
Ada rombongan panglima Ottmar yang segera mengamankan situasi.
"Prince! Di depan sudah di penuhi media. Jalanan kota akan sangat ramai."
"Kita berpencar saja," Jawab Latizia yang tahu jika datang bersama akan jadi masalah besar.
"Putri benar! Prince semobil dengan pangeran dan putri Latizia akan di mobil yang lain."
"Tidak," Tegas Milano tapi Latizia sudah melepas tangannya.
"Tak ada waktu berunding. Lagi pula aku bukan anggota kerajaan Madison. Aku hanya akan membuat kericuhan nanti," Ujar Latizia pergi ke mobil yang lain.
Alhasil Milano membiarkan Latizia pergi bersama Darren dan ia masuk ke mobil dengan Franck.
Mobil yang membawa Milano di jaga oleh 5 penjaga formal dari kerajaan. Mereka berpisah jalur dimana Darren hanya mencari jalan lain.
Selepas kepergian rombongan panglima Ottmar, tiba-tiba saja ada yang mengejar mobil Darren yang tadi memisahkan diri ke jalur lain.
"Nona! Kau peggangan yang erat!"
"Aku mengerti," Jawab Latizia saat Darren memacu mobil dengan cepat karena mereka di kejar oleh 3 mobil lain di belakang.
Mereka benar-benar di kepung dan sepertinya ini sudah di rencanakan dari awal. Mereka sudah di pantau sejak keluar dari jet sampai di semua bagian jalan pasti ada yang menembak ke arah mobil Darren.
__ADS_1
....
Vote and like sayang..