GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Pura-pura bertengkar


__ADS_3

Pagi ini Milano kembali seperti biasanya. Ia turun dengan wajah lebih segar dan tentunya bersahabat tak seperti kemaren saat datang ke kediaman.


Latizia yang duluan bangun dan tengah duduk di sofa bawah itu tampak canggung menatap Milano yang juga melirik ke arahnya.


Keduanya bertatapan sejenak lalu saling buang muka dengan senyum tipis yang malu.


Ntahlah, sejak pertemuan semalam keduanya mulai merasa canggung dan jujur agak malu.


"Ntah apa yang dia pikirkan?!" Gumam Latizia hanya pura-pura fokus pada televisi yang ada di hadapannya menampilkan serial kartun anak-anak.


"Kau membicarakanku?"


"Astaga!"


Latizia tersentak kaget saat ada yang bicara di samping telinganya. Ternyata Milano yang tengah membungkuk dengan kedua siku berpangku di atas punggung sofa.


"Kau mengejutkanku!!"


"Siapa suruh ada yang mengacuhkan-ku sejak tadi malam!" Jawab Milano menaikan alisnya sinis.


Latizia tersenyum kecil. Ia hanya merasa malu saat bertemu Milano. Jantung-nya selalu tak sabaran untuk meraton.


"A..aku hanya tak ingin bicara."


"Kenapa kau bangun pagi sekali?" Tanya Milano masih di posisi yang sama bahkan pipinya nyaris bersentuhan dengan kepala Latizia.


"Hanya ingin."


"Benarkah?" Pancing Milano menyipitkan mata sampai Latizia mulai gugup.


"I..iya, kau pikir apa?"


"Menghindariku."


Sontak Latizia tercekat. Ia tak bisa mengendalikan raut malu di wajahnya sampai Milano yang melihat dari samping mengigit bibir bawahnya tak tahan.


"A..aku hanya ingin nonton televisi saja!"


"Di kamar ada. Ayo ke kamar!" Ajak Milano tapi Latizia segera menatapnya dengan senyum tertahan.


"Kau jangan aneh-aneh, ya?!"


"Aneh?! Aku hanya mengajakmu menonton di kamar. Atau, kau pikir aku akan..."


"Susst!! Itu kak Franck!" Bisik Latizia mendorong bahu Milano agar jauh darinya karena Franck sudah keluar dari lift.


"Pagiii!!" Sapa Franck ramah dan sangat hangat.


Ia menatap Milano dan Latizia yang masih tampak bertengkar. Ini semua rencana Latizia untuk memastikan apa Franck hanya pura-pura menyetujui hubungan mereka di depan dan melapor pada kaki tangan Raja Barack atau sebaliknya.


Semalam keduanya sepakat untuk waspada. Apalagi, Milano memikirkan Latizia yang sedang hamil. Jika kakaknya memang membahayakan, walaupun itu terasa sakit baginya ia tak akan membiarkan Latizia dan bayi mereka dalam bahaya.


"Adik!"


"Yah?" Jawab Milano mendekati Franck yang mengamati mereka berdua.


"Kalian masih bertengkar?" Tanya Franck dengan suara pelan.


"Hm."


"Ayolah. Latizia tak tahu apa masalahmu sebenarnya. Lebih baik kau katakan langsung!" Ujar Franck menepuk pinggang kekar Milano yang setia dengan raut datarnya.


"Aku tak sudi mengerti wanita."


"Adik! Dia kekasihmu, pantas kau harus mengerti Latizia."


Milano hanya diam. Jujur ia sangat takut mengetahui kebenaran. Jika sampai kakaknya terlibat, maka itu akan jadi tekanan yang kuat bagi Milano.


"Adik!" Panggilnya kala tatapan Milano begitu dalam padanya.


"Kau baik-baik saja?"

__ADS_1


"Hm, yah!" Singkat Milano lebih murung.


Franck mengira jika kegundahan Milano hanya pada Latizia tapi sebenarnya, pria itu sangat cemas padanya.


"Begini saja. Kakak ada ide."


"Kak! Kau .."


"Coba kau bawa Latizia jalan-jalan yang romantis. Kau terlalu sibuk sampai melupakan kencan kalian, bukan?"


"Mungkin," Gumam Milano singkat.


"Cepat kau ganti baju. Aku akan bicara dengan Latizia!"


Milano hanya menurut. Ia berjalan kembali menaiki tangga menuju kamarnya tapi sebelum itu ia melirik Latizia yang juga paham.


"Latizia!"


"Yah?" Tanya Latizia kala Franck mendekat dengan kursi rodanya.


"Pergilah temani Milano mencari obat untukku! Aku sudah tuliskan nama obatnya tadi."


"Dia sudah besar. Untuk apa di temani?!" Ketud Latizia kembali fokus kr layar kaca LED itu.


"Dia itu dungu soal obat. Pergilah!"


"Ayolah. Aku.."


"Ganti pakaianmu dan pergi dengannya. Jika kalian enggan saling pandang, bagaimana bisa punya anak?!" Omel Franck sudah seperti ibu mertua.


Alhasil, dengan pasrah Latizia bangkit dan pergi menaiki tangga menuju kamarnya.


"Aku merasa, semua yang dia lakukan itu tulus," Batin Latizia pergi ke atas.


Tatapan Franck mulai berubah sendu. Ia menatap kedua kakinya lalu meremas peggangan kursi roda kuat.


"Seandainya aku tak lumpuh, tak akan-ku biarkan mereka masuk dalam kehidupanmu, Adik!" Geram Franck tampak membenci keadaanya sendiri.


.....


"Aku tak siap jika itu benar."


"Aku tahu. Apapun yang terjadi, kau tak sendirian," Ucap Latizia menepuk-nepuk bahu Milano yang mengambil nafas dalam.


"Hm. Aku butuh pelukan!"


Menarik Latizia ke hadapannya dan memeluk pinggang wanita itu. Latizia hanya tersenyum tipis mengusap kepala Milano yang terbenam ke perutnya.


"Kau pasti akan lebih imut saat perutmu sudah besar."


"Memangnya sekarang aku kurang imut?!" Tanya Latizia memanyunkan bibirnya.


Milano yang tak tahan segera menarik pinggang Latizia jatuh ke pangkuannya.


"Milano! Kita harus pergi!"


"Aku ingin menambah energi," Gumam Milano segera mencium Latizia yang kali ini tak berontak.


Keduanya menutup mata menikmati. Latizia mengalugkan kedua lengannya ke leher Milano yang memeggang rahangnya dengan ciuman yang syahdu.


Latizia membalas dengan lembut. Ia tak terburu-buru bahkan lebih teratur melayani permainan bibir dan lidah Milano yang selalu profesional dan tentunya sangat ahli.


"Engh!" Lenguh Latizia saat ciuman Milano berpindah ke lehernya.


Bibir pria itu mengecup dan menghisap lembut tapi memantik hasrat di tubuh Latizia.


"S..sudah. Kita..kita harus pergi!" Cegah Latizia menepuk-nepuk bahu Milano yang berhenti.


Ia memberi kecupan singkat ke leher Latizia lalu mengambil nafas dalam merilekskan singa yang tengah bangkit dalam dirinya.


"Kakakmu tak boleh curiga. Tak ada bekas-kan?"

__ADS_1


"Hm, tak ada!" Jawab Milano yang tahu bagaimana cara menghisap yang benar agar tak berbekas.


"Baiklah. Sekarang kita ganti pakaian!"


"Aku malas," Gumam Milano ingin berbaring di tempat tidur tapi Latizia menarik lengannya paksa berdiri dan di tarik ke kamar ganti.


"Tak biasanya kau malas-malasan begini."


"Malas di depan istriku, apa salahnya?!" Jawab Milano memeluk Latizia dari belakang.


Wanita itu tersenyum kecil seraya membuka pintu kaca lemari besar milik Milano.


"Kita belum menikah. Aku masih adik iparmu dan kau.. Aaass, Milano kau mengigit!!" Pekik Latizia di akhir kalimat saat Milano mengigit bahunya.


"Aku tak ingin tahu apapun. Kau ISTRIKU dan TITIK!"


"Kenapa kau jadi aneh begini?!" Gumam Latizia geli saat Milano semakin terus terang dan manja padanya.


"Milanooo!!! Latizaa!!"


Suara Franck memanggil mereka dari luar kamar.


"Itu kakakmu. Cepat ganti pakaian!"


"Baiklah."


Pasrah Milano menerima kaos oblong polos berwarna abu-abu, hoodie navy, celana jins, dan tak lupa sepatu yang di pilih Latizia.


"Seleramu cukup bagus!" Puji Milano seraya membuka kaos di tubuhnya.


Latizia tersenyum tipis melihat tubuh berotot Milano tampak seksi. Ia tak ingin memancing pria itu karena akan berakhir berjam-jam.


"Kau temui kakak dulu di depan! Aku akan ganti pakaian!"


"Aku ingin melihatmu berganti pa.."


"Milano!" Tekan Latizia menatap tajam pria brandal itu.


Alhasil Milano pasrah. Ia menyelesaikan semuanya dengan cepat lalu pergi keluar kamar.


Saat membuka pintu, Franck sudah ada tak jauh dari kamar mereka tampak sibuk menatap ponsel tanpa menyadari Milano.


"Kak!"


"A.. kau sudah selesai?" Tanya Franck gugup mematikan ponselnya.


Milano hanya diam bersandar ke daun pintu dengan wajah yang sangat tak bersahabat.


"Wanita memang berdandan sangat lama. Tak sama dengan kita para pria."


"Yah. Membosankan!" Gumam Milano seadanya.


Setelah beberapa la lama menunggu, akhirnya sudah terdengar langkah kaki ke arah pintu.


"Bagaimana penampilanku?" Tanya Latizia berdiri di membelakangi Milano tapi menatap Franck yang terperangah.


"Woww! Kau seperti remaja," Decah Franck melihat Latizia memakai rok hitam jenas pendek sejengkal di atas lutut dengan atasan kaos lengan pendek santai.


Rambutnya di urai dengan pita di atas kepala yang tampak manis disempurnakan dengan satu kain tipis yang Latizia ikat di lehernya.


"Bagaimana Milano?"


"Ehmm!" Dehem Milano yang tadi sempat terpesona dengan penampilan bumil muda ini.


"Latizia sangat cantik-kan?"


"Biasa saja," Acuh Milano melangkah mendahului Latizia seakan tak peduli.


Latizia pamit pada Franck yang memandangi kepergian keduanya. Latizia menjaga jarak dengan Milano yang begitu cepat turun ke bawah sementara Latizia masih ada di pertengahan tangga.


"Pria ini akting atau memang tengah marah padaku," Gumam Latizia berusaha tetap pada rencana mereka.

__ADS_1


.....


Vote and like sayang..


__ADS_2