GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Masuk dalam jebakan?


__ADS_3

Setelah menempuh waktu yang cukup lama dari Madison ke wilayah kerajaan Artefea, akhirnya Latizia sampai tepat di dampingi oleh Grigel dan Poharden pengawal setianya.


Ia melangkahkan kaki baru pertama kali ke wilayah kerajaan Artefea yang tampak begitu mewah. Sesuai dengan julukannya, kerajaan Artefea memang kerajaan penghasil mutiara terbaik bahkan, kerajaan ini memang memiliki hawa kemewahan dan nilai mahal di setiap bangunannya.


"Aku tak pernah berpikir jika kerajaan Artefea akan semewah ini," Decah Latizia berdiri di tengah-tengah keramaian taman besar Greet Park utama kerajaan Artefea.


Ia tampil menawan dengan dress over bluse yang santai tapi masih elegan dan feminim. Bagian dalam berbalut blouse berwarna putih panjang menutupi area dada dan bahu, sementara bagian luar di lapisi dress pendek hitam motif bunga selutut dengan dua tali di pundak.


Latizia terlihat sangat muda dan segar di tambah uraian rambut panjang lurusnya menjuntai sepunggung dengan jam merek graft diamond mahal melingkar di pergelangannya.


Tampilan santai tapi memukau ini mampu menjadikan Latizia daya tarik para pengunjung yang justru tertuju padanya.


"Kenapa mereka menatapku seperti itu?" Bingung Latizia pada Grigel yang paham.


"Putri yang paling cantik disini."


"Jangan membual. Aku bahkan melihat banyak wanita cantik disini," Jawab Latizia kesal merotasikan mata ke beberapa penjuru.


"Apa kalian rombongan putri Latizia?"


Mereka di sapa oleh seorang pria paruh baya yang sudah rapi memakai jas tampak ramah.


"Yah, aku Latizia!"


"Silahkan ikuti saya, putri! Pangeran sudah menunggumu," Pintanya mengiring Latizia menuju area utama khusus untuk tamu kerajaan di taman besar ini.


Latizia berjalan memeggang tas tak begitu besar di tangannya. Ia melihat banyak rakyat Artefea yang asik sekali berkeliling taman yang menghadirkan banyak bunga-bunga termasuk kolam air pancur yang indah.


"Pangeran begitu menanti kedatangan putri sampai tak mau memulai acara pameran sebelum putri datang."


"Benarkah?" Sentak Latizia dan di angguki pria itu.


"Iya, putri! Semua barang yang akan di pamerkan masih belum keluar. Pangeran memang pria yang setia."


"Untuk apa dia memuji tuannya di hadapanku?!" Batin Latizia tak begitu peduli.


Setelah melewati jalan yang di jaga oleh banyak keamanan ini, sampailah mereka ke sebuah aula besar yang menampung banyak orang-orang penting di seluruh wilayah.


"Sangat ramai. Pantas saja pangeran Ximus sampai pusing," Decah Latizia melihat Aula tanpa dinding tapi di sediakan tempat duduk yang rapi dan mewah untuk para tamu yang datang.


Karpet merah itu di gelar menuju aula dimana media tengah sibuk mengabadikan momen besar ini.


"Silahkan, putri!"


"Terimakasih," Ucap Latizia berjalan di atas karpet merah itu dengan elegan sedangkan Grigel dan Poharden pergi ke area pengawal.


Suasana yang tadi riuh mulai perlahan hening karena Latizia sudah menyita perhatian.


"Bukankah itu putri Latizia?"


"Dia sangat cantik."


"Ku dengar dia ikut dalam kebangkitan kerajaan Madison."


Desas-desus para pengunjung termasuk tamu yang terfokus padanya. Ximus yang tadi bercengkrama dengan tamu dari kuar seketika tersenyum lebar pada Latizia.


"Akhirnya kau datang. Ku kira kau akan di persulit oleh penjahat kelamin itu," Gumam Ximus memilih turun dari aula dan berjalan mendekati Latizia.


"Selamat datang. Aku senang kau hadir di sini."


"Maaf aku terlambat. Kenapa belum di mulai?" Tanya Latizia berjalan bersama Ximus yang mengiringnya ke kursi khusus.


"Bagaimana bisa di mulai tanpa kehadiran dirimu?!"


"Jangan bercanda lagi," Ujar Latizia segera naik ke aula.


Ia melihat banyak sekali bangsawan asing disini tapi, yang paling mengejutkan Ximus justru mengiringnya ke kursi khusus anggota kerajaan Artefea.


"Itu kursi kerabat dekat kerajaan. Aku.."


"Tenanglah. Itu kursi-mu," Jawab Ximus mempersilahkan Latizia untuk duduk tepat di samping Ratu Artefea yang tersenyum.


"Putri!"


"Yang Mulia! Bagaimana kabarmu?" Tanya Latizia terpaksa duduk.


"Sangat baik. Bagaimana denganmu? Aku dengar kerajaan Madison masih dalam tahap revolusi pemerintah. Pasti kalian sangat sibuk."


"Yah, tapi mereka punya orang-orang yang berkompeten. Aku mewakili kerajaan Garalden sekaligus Madison. Maaf jika menyinggung kalian," Segan Latizia.


Tapi, sikap sopan dan hangatnya sukses membuat tempat di hati Ximus yang duduk di dekat Raja Hanzo tak jauh dari mereka, hanya bersebelahan.


"Hati-hati dengan wanita itu," Gumam Raja Hanzo pada Ximus.


"Aku tahu, Ayah! Aku akan selalu waspada."


"Sebaiknya kubur niatmu untuk mendekatinya!"

__ADS_1


Ximus seketika terdiam. Kedua tangannya mengepal erat dengan wajah tak suka dengan jawaban Raja Hanzo yang menatap ke depan.


"Dia bukan wanita sembarangan."


"Delvin sudah tiada. Aku.."


"Kau tahu sendiri ini bukan soal Delvin," Tegas Raja Hanzo menekan intonasinya.


"Dia sudah dekat dekan prince Milano. Walau pria ini dulu tampak tak berguna tapi lihat bagaimana dia mendepak Barack dan istrinya keluar kerajaan," Imbuhnya tegas.


"Tapi, ayah.."


"Satu perusahaan tambang kita sudah hancur karenanya. Jangan kau membuat ulah lagi!" Pungkas Raja Hanzo membungkam Ximus yang mengepal.


Ia menatap Latizia dengan penuh kekaguman tapi juga ada rasa tak rela melepaskan wanita itu.


"Selamat datang para tamu yang terhormat! penantian kalian selama ini akan berakhir. FESTIVAL PAMERAN KERAJAAN ARTEFEA RESMI DI BUKAA!!!"


Prok...prokkk..


Suara tepuk tangan yang meriah dari semua orang kala pembawa acara Festival ini sudah membuka pagelaran.


Tiba-tiba saja bundaran bulat yang tadi ada di depan aula seketika bergetar dan terbuka. Mereka bersorak kala melihat banyak patung berukiran unik terbuat dari emas pertama yang berkilau.


"Woww!!! Pameran ini tak pernah gagal!"


"Iya, barang-barang langka bernilai tinggi bahkan ada disini."


Decah para tamu undangan yang kagum mengabadikan momen itu.


"Semuanya sangat bagus dan punya nilai tinggi. Seni yang ada di dalamnya terlalu kental dan magis," Gumam Latizia terpana dengan lukisan riak ombak yang di pamerkan melalui area depan aula yang canggih.


"Semuanya berasal dari semua wilayah yang berkerabat dengan kami."


"Sangat indah," Puji Latizia membuat Ratu Artefea tersenyum kecil.


Tibalah pada pameran rangkaian bunga Latizia, semua orang langsung bersorak. Rangkaian itu sangat indah bahkan mampu menyihir mata semua orang.


"Aku ingin rangkaian itu!"


"Cocok untuk acara pernikahanku nanti!"


"Tangan dewi mana yang begitu berbakat merangkainya sampai seindah itu!"


Sorak mereka membuat Latizia malu sendiri. Ia melirik Ximus yang memberi senyum puas akan pekerjaan mereka tempo hari.


"Yah, Yang Mulia! Pangeran Ximus juga membantuku memilih desain," Jawab Latizia rendah hati.


Ratu Artefea sangat mengagumi Latizia. Ia berharap jika putranya punya kesempatan, maka Latizia akan jadi menantu kesayangannya.


"Latizia!"


"Yang Mulia?" Sentak Latizia kala satu tangannya di genggam Ratu Artefea.


"Aku tahu suamimu sudah meninggal tak begitu lama. Namun, aku sangat berharap kau bisa membuka hati untuk seseorang, nak!"


"Apa dia ingin menjodohkan ku dengan Ximus?!" Batin Latizia menelan ludah.


"Kehidupan berputar ke depan. Kau seorang wanita yang cantik dan berpikiran maju. Aku hanya ingin memiliki putri sepertimu."


"A..Yang Mulia. Kau terlalu berlebihan, aku tak sebaik itu," Gugup Latizia tersenyum canggung.


"Tidak. Aku bisa menilai orang dan kau adalah wanita yang lembut. Jika kau tak keberatan, berilah putraku satu kesempatan untuk menemanimu," Bujuknya halus.


"Jika-ku terima. kau akan menyaksikan kehancuran kerajaanmu, Yang Mulia!" Batin Latizia bergidik membayangkan wajah iblis Milano.


"Berilah dia satu kesempatan mendekatimu. Jika kau tak merasa nyaman, hubungan itu bisa berjalan atas nama pertemanan. Bagaimana?"


"Yang Mulia! Kau tahu sendiri jika aku tak memiliki kerajaan yang utuh. Tekanan dari masalah belakangan ini cukup intens sampai .."


"Ximus akan membantumu. Percayalah!" Bujuknya lagi menyela Latizia yang seketika diam.


Ternyata, di balik sikap lembut dan keibuan wanita ini juga menyimpan karakter pemaksa.


"Bagaimana? Cobalah dulu! Ximus tak akan menyusahkan mu."


"Yang Mulia! Maaf, aku bahkan belum berpikir untuk punya teman dekat laki-laki," Tolak Latizia halus.


Ratu Artefea diam dengan ekspresi kecewa. Ia melirik Ximus yang tampak tahu jika ibunya tak berhasil membujuk Latizia.


"Maafkan aku!"


"Tak masalah. Lagi pula kau masih muda," Jawab Ratu Artefea mengulas senyum hangat.


Akhirnya Latizia lega. Ia takut menyinggung Ratu Artefea jika menolak lamaran khusus ini.


"Syukurlah," Batin Latizia kembali fokus pada acara pameran.

__ADS_1


Mereka di giring turun dari Aula kala seluruh taman sudah di munculkan galery seni yang memukau.


Latizia tampak sangat senang bercengkrama dengan yang lain menyusuri area taman yang megah ini.


Sementara di sisi lain, ada seorang wanita berambut pendek yang sudah datang sedari tadi tapi tak mendapat sambutan khusus seperti Latizia.


"Dia pasti sudah menyerahkan tubuhnya pada pangeran Ximus sampai sedekat itu dengan keluarga mereka," Umpat putri Athena geram.


"Aku tak menyukai wanita itu!" Timpal salah satu putri dari kerajaan lain.


"Dia terlalu menonjol dari kita semua. Apalagi, kabarnya dia dekat dengan kakak iparnya sendiri prince Milano," Imbuhnya geram.


Tapi, putri Athena selalu bisa menjaga citranya di depan publik. Pembawaannya yang tenang dan dewasa membutakan mata semua orang.


"Dia memang cantik. Hanya saja baru di tinggalkan suaminya, wanita yang malang."


"Putri Athena juga sangat cantik. Seharusnya bisa di posisi putri Latizia," Jawab mereka membumbui minyak di bara yang menyala itu.


Putri Athena memilih pergi. Ia tak mau bergaul dengan para putri dari negara asing karena itu bukan gayanya.


"Dia pasti akan istirahat di penginapan khusus kerajaan Artefea. Aku bisa memanfaatkan itu," Gumamnya mendekati beberapa pelayan yang berjalan menyajikan minuman pada para tamu yang berkeliling taman.


Putri Athena sudah mengatur semuanya dan tinggal berdiri cantik mengamati dari jauh.


"Maafkan aku. Sejak pertama kali bertemu aku tak menganggap mu musuhku tapi, Milano adalah milikku," Gumam putri Athena mengamati Latizia dari kejahuan.


Latizia yang tengah melihat beberapa galery yang ada di dekat kolam sana tampak sibuk mengambil gambar dengan ponselnya sampai tak sadar ada yang menabrak dari belakang.


"Putrii!!" Seru Grigel yang tadi mengamati dari belakang seketika menjauhkan pelayan wanita yang menabrak Latizia tadi.


"Maaf! Maafkan aku, Tuan!"


"Kau hampir membuat putri Latizia jatuh," Sarkas Grigel mengancam.


"Sudahlah, dia tak sengaja!" Ucap Latizia berdiri di belakang Poharden yang waspada.


"Putri! Maafkan aku, maaf!" Nyaris bersujud tapi Latizia cegah.


"Sudah!! Pakaianku hanya basah, ini bisa di bersihkan!"


"Terimakasih, putri! Terimakasih!"


"Biarkan dia pergi!" Titah Latizia hingga Grigel menurut.


Pelayan itu pergi sementara pakaian Latizia basah di bagian belakang.


"Dimana toiletnya?"


"Putri! Sebaiknya kita.."


"Jangan mengacaukan acara ini hanya karena pakaianku. Paham?!" Tekan Latizia segera pergi mencari toilet disini.


Poharden dan Grigel saling pandang lalu pergi mengikuti Latizia. Ada seorang anak kecil yang membawa botol air segera mendekati Latizia.


"Nona cantik!"


"Hay! Ada apa?" Tanya Latizia berhenti dan membungkuk kecil.


Bocah laki-laki berumur 7 tahun itu menyodorkan botol air ke arahnya.


"Nona cantik pasti lelah berjalan-kan?! Aku bawakan minuman!"


"Ouhh, baik sekali," Ucap Latizia mengambil botol air itu.


Latizia diam menatap botol itu lalu beralih pasa bocah laki-laki di hadapannya.


"Terimakasih!"


"Sama-sama," Jawab anak itu segera pergi.


Latizia membuka tutup botol itu dan meminumnya dalam beberapa tegukan.


"Rasanya lebih segar," Gumam Latizia segera pergi mencari toilet.


Putri Athena yang melihat itu tersenyum puas. Ia sengaja menggunakan anak kecil karena Latizia pasti sangat keibuan.


"Aku tahu. Wanita sepertimu tak akan tega dengan anak kecil," Gumamnya segera memberi pesan pada suruhannya yang ada di penginapan agar menyiapkan media.


"Semuanya silahkan istirahat!!! Nikmati pelayanan kerajaan kami!!"


Seru Raja Hanzo pada seluruh tamu yang ada di sekitarnya.


Para pelayan yang tadi menunggu, segera menyebar membawa hidangan ringan dan minuman.


.....


Vote and like sayang..

__ADS_1


__ADS_2