
10 jam melakukan perjalanan dari kerajaan Madison ke kota Bruell memang sangat melelahkan. Di tambah lagi pikirannya sedang tertuju pada seorang wanita jadilah Milano merasa suram di sepanjang jalan.
Sekarang, ia sudah sampai di kediaman kakaknya. Milano turun dari mobil di sambut oleh keheningan di mansion megah ini.
Hal pertama yang menyambutnya adalah pelayan Wey padahal, setiap Milano pulang biasanya Franck-lah yang akan selalu datang dengan pelukan.
"Prince!"
"Dimana kakak?" Tanya Milano melewati pelayan Wey yang mengiringnya ke dalam.
Suasana masih sepi. Lantai luas dengan furniture mewah dan elegan ini tak begitu tampak karena lampu yang remang.
"Pangeran begitu marah pada prince! Dia sedari pagi tak makan dan mengurung diri di kamar."
Sontak Milano langsung tercekat. Rasa bersalah akan ketakutan terbesarnya ini membuat Milano sangat gelisah.
"Siapkan makanan! Aku akan mengantar ke kamarnya!"
"Baiklah, prince!" Jawab pelayan Wey segera pergi ke dapur.
Milano masih berdiri di tengah-tengah lantai dasar. Ia mengusap dagunya dengan pikiran yang mencoba mencari cara bagaimana menjelaskan semua ini pada kakaknya.
"Dia tak akan mendengarku," Gumam Milano tampak rumit sampai Darren masuk ke kediaman ia masih begitu.
"Prince! Pangeran pasti butuh waktu."
"Hm," Gumam Milano datar. Ia memijat pelipisnya beralih pada pelayan Wey yang datang membawa nampan berisi makanan.
"Ini, Prince!"
"Seharusnya kalian hubungi aku sedari pagi. Dia belum makan sampai saat ini dan kalian masih enteng," Geram Milano mengambil alih nampan itu dengan hawa murka yang kental.
Pelayan Wey hanya bisa diam. Ia membiarkan Milano naik ke atas tangga menuju kamar Franck tapi anehnya lampu-lampu yang normalnya menyala terang tiba-tiba padam tapi untung insting Milano kuat.
Milano merasa gerak-geriknya tengah di awasi dan situasi ini sudah di setting lebih dulu.
Apa kakak dalam bahaya?! Pikir Milano mengeratkan genggamannya ke pinggir nampan.
Langkah lebar tegas itu berhenti di depan kamar Franck. Milano diam tak langsung membuka pintu karena jelas ia tahu semua pergerakannya sudah di pantau dari awal masuk tadi.
"Jika orang-orang itu ada di balik pintu ini dan kakak tengah di sekap maka.."
"Milanooo!!!"
Suara teriakan Franck beriringan dengan suara tembakan membuat Milano sigap langsung menendang pintu itu sampai jebol.
"Kakak!!!"
"Selamat Ulang Tahuuun!!!"
Sorak banyak orang di dalam kamar ini. Ada dokter Keanu, panglima Ottmar yang memeggang terompet dan Franck yang ada di kurai roda memeggang kue.
Ekspresi mereka terlihat senang namun seketika redup saat melihat wajah tampan dingin Milano yang justru terlihat tak suka.
"P..prince!" Gugup panglima Ottmar menurunkan terompetnya begitu juga dokter Keanu yang tak berani menatap wajah kelam Milano.
"Kalian pikir ini lucu?"
"Jangan menakuti mereka. Ini ideku!" Sambar Franck masih kekeh dengan wajah humor dan sangat kekanak-kanakan.
"Kak! Ini tak lucu!!" Geram Milano karena ia nyaris saja mau membunuh tadi. Jika sempat mereka tak bersuara maka Milano pastikan tenggorokan dokter Keanu dan Panglima Ottmar akan pecah.
"Suara tembakan, kau tak makan dan.."
"Ayolah! Aku hanya ingin mengejutkanmu," ujar Franck berdebat dengan Milano yang menatap datar pintu kamar yang jebol di dekatnya.
Seketika suasana tak lagi ceria. Kedatangan Milano memang membuat hawa bahagia menjadi kaku dan menyeramkan.
"Adik! Jika aku tak bersandiwara seperti itu apa kau akan melupakan hari lahirmu?"
"Kak! Kau.."
"Susstt!!! Jangan merusak jerih payahku. Mendekatlah dan tiup lilin ini!" Pinta Franck tak bisa di bantah.
Awalnya Milano diam masih jengkel tapi saat Franck memelas ia langsung mendekat dan menatap lilin dengan bentuk 27 ini.
"Adik! Kau sudah besar sekarang. Perlu kakak ajari cara meniup lilin?!" Sarkas Franck karena Milano hanya diam.
"Baiklah!" Membungkuk dan ingin meniup tapi..
"Tunggu!!"
Milano menatap datar Franck yang melihat ke pintu keluar mencari seseorang.
"Latizia dimana?"
"Dia ada urusan."
__ADS_1
"Urusan? Ini hari ulang tahunmu, adik! Bagaimana bisa dia.."
"Kak!" Sela Milano memeggang bahu Franck. Keduanya saling tatap sampai Franck syok.
"Jangan-jangan kau tak memberitahunya?"
"Dia.."
"Ya tuhan, Milano!! Kau berpacaran dengan Latizia dan kalian harus saling bertukar informasi. Perlu kakak ajari cara pacaran yang benar, ha?!"
Mendengar omelan Franck tentu saja panglima Ottmar dan dokter Keanu mengulum senyum seraya saling pandang.
"Pangeran! Kau tak tahu saja jika adikmu pemain profesional," Batin keduanya saling lempar maksud.
"Kak! Latizia bekerja. Dia punya urusan sendiri."
"Dan kau tak membantunya?"
Milano menghembuskan nafas halus. Tanpa basa-basi ia tiup lilin itu dan tugas dokter Keanu mengambil alih kue dari tangan Franck yang kesal.
"Kalian selalu saja begini. Tak pernah menghargaiku!!!"
"Di ulang tahunku ini aku punya permintaan yang sama seperti dulu!" Tulus Milano memeluk Franck yang seketika tak bisa marah.
Ia terlalu keibuan untuk Milano yang selalu menjadi adik kecil di matanya.
"Walau kau begitu menyebalkan tapi kau tetap adikku!"
"Kakak yang terbaik," Ucap Milano menepuk-nepuk punggung Franck lalu berdiri tegap.
"Permintaanku hanya ingin kakak sembuh dan mendapatkan hak-mu!"
"Emm..kakak punya kejutan," Jawab Franck dengan senyum bahagia tertahan. Panglima Ottmar dan dokter Keanu saling pandang tapi cukup penasaran.
"Jangan buku-buku aneh lagi!" Datar Milano sudah tahu karena setiap hadiah Franck pasti tak jauh dari yang namanya kedewasaan.
"Tidak. Kali ini berbeda."
"Hm, tunjukan!" Pinta Milano menatap lekat wajah ramah kakaknya.
Semula hening. Franck seperti mengumpulkam kekuatannya lalu berpeggangan ke kedua peggangan kurai roda.
"P..pangeran!" Ingin membantu.
"Aku bisa. Kalian lihat saja!" Tepis Franck halus mencoba berdiri.
"K..kak, kau.."
"Aku sudah bisa merasakan kakiku dan berdiri sebentar!" Ucap Franck tersenyum bahagia berusaha menyeimbangkan tubuhnya.
Milano dan yang lainnya terperangah. Tak ada suara apapun karena semua ini sungguh mengejutkan dan seperti mustahil.
"Adik! Akhirnya permintaanmu terkabul!"
Tanpa banyak bicara. Milano langsung memeluk Franck dengan jantan dan haru.
"Adik! Kakak tak menyangka bisa seperti ini!"
"Selamat!" Bisik Milano meredam kebahagiaanya. Ia sungguh senang sampai tak bisa menjabarkan bagaimana suasana hatinya sekarang.
"Pangeran! Kami juga ikut senang atas keberhasilan pengobatanmu!" Timpal panglima Ottmar sampai berkaca-kaca.
"Terimakasih. Ini semua juga berkat Latizia. Dia wanita yang baik dan cerdas. Aku ingin bertemu dengan orang tuanya segera!"
Milano diam. Ia melepas pelukannya seraya memandangi kedua kaki Franck yang masih mengigil tapi ini sungguh luar biasa.
"Untuk saat ini aku ingin kakak sembuh total!"
"Tidak. Aku ingin melihatmu menikah dengan Latizia!" Tegas Franck membuat semuanya membisu.
Baik dokter Keanu atau panglima Ottmar sama-sama tahu kondisi Milano sekarang.
"Ada apa? Kau tak mau menikahi Latizia?"
"Bukan begitu. Kami sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tak ada waktu untuk menikah!"
"Kalau begitu berikan aku keponakan lebih dulu!" Desak Franck yang seperti sudah tak bisa menunggu.
Milano tak tahu harus mengatakan apa tapi, jika ia bilang Latizia hamil maka pasti pria ini akan semakin overprotektif sedangkan Latizia masih punya tujuan di luar sana.
"Bagaimana? Terserah mau menikah kapanpun tapi harus punya anak dulu!"
"Akan-ku usahakan," Malas Milano membuat hati Franck berbunga. Ia berjalan tertatih-tatih dan tak mau di bantu sama sekali ke arah ranjang.
Milano tak berhenti memantau langkah kaki tak stabil Franck yang meraih buku di atas selimut.
"Kakak punya ini!"
__ADS_1
"Shitt!" Umpat Milano sudah tahu buku apa itu. Dokter Keanu dan panglima Ottmar hanya mengulum senyum melihat semangat Franck ingin menjadi paman sangat berapi-api.
"Kakak! Itu buku ke 27 yang kau berikan padaku!"
"Ini beda judul. Pelajarilah agar Latizia cepat hamil!" Jawab Franck melempar itu pada Milano yang mau tak mau mengambilnya.
PANDUAN BERCINTA LELAKI SEJATI.
Membaca judul buku itu membuat pipi dokter Keanu mengembung geli. Milano sampai menahan agar tak melempar buku ini ke wajah dokter Keanu yang segera diam.
"Ya sudah. Kau bersihkan diri dulu di kamar lalu turun ke bawah. Kita berpesta malam ini!"
"Jangan ada balon!" Pinta Milano tapi segera mendengus saat melihat Franck yang sudah memeggang balon.
"Ini properti wajib, adik!"
"Hm, apapun untukmu," Gumam Milano melangkah pergi keluar kamar.
Lampu-lampu di kediaman sudah di nyalakan hingga Milano sudah hafal dengan dekorasi pesta ulang tahun anak TK khas kakaknya. Ada balon dimana-mana dan uniknya lagi foto masa kecil Milano di gantung-gantung bahkan di cetak besar bak spanduk di sepanjang tangga.
Ada Darren yang sibuk mengabadikan momen ini karena itulah yang selalu ia lakukan setiap tahun.
"Kau butuh ponsel baru?!" Hardik Milano
Darren menyengir. Ia suka dengan kekonyolan Franck yang menjadi manusia pertama menistakan ketampanan dan kekayaan adiknya.
"Prince! Aku mengirimnya pada nona!"
"Kau ingin mati!!!" Geram Milano tapi Darren sudah bergegas pergi karena takut di amuk.
Alhasil Milano terdiam. Ntah apa yang Latizia pikirkan setelah melihat poster foto masa kecilnya di pajang seperti sepanduk ruko seperti ini.
.........
Sementara Latizia yang di pikirkan Milano sekarang tengah menyamar di antara masyarakat pegunungan Andolf. Ia memakai masker dan pakaian tebal hangat di lengkapi kupluk.
"Kalian pergi ke kerumunan yang lain!" Pinta Latizia pada Pohander dan Grigel yang mengangguk segera pergi pura-pura bersantai di beberapa kerumunan masyarakat yang tengah duduk di depan rumah mereka.
Latizia tengah mencari tahu sesuatu. Saat ia membunuh pria yang saat itu ingin melenyapkannya, Latizia mencium aroma yang cukup khas dari tubuh pria itu dan merasa tak asing.
"Kau tahu?! Aku dengar kerajaan Sauveron lenyap dalam satu malam."
"Yah, orang-orang Madison memang sangat kejam. Tak puas menghancurkan kerajaan Garalden, dia ingin menguasai kerajaan lain."
Obrolan intens para masyarakat disini. Tampak jelas sebagian besar dari mereka membenci orang-orang Madison.
Latizia hanya diam berdiri di balik sosok wanita yang tengah asik mengobrol dengan wanita lain seraya memeggang nampan berisi daun kemangi.
"Yah. Aku dengar juga dari suamiku yang semalam berjaga di perbatasan gunung katanya, pangeran mereka di bunuh."
"Mereka pantas untuk itu. Dan aku sangat setuju jika orang-orang kita membantu pasukan rakyat Garalden untuk menyerang kerajaan melakukan kudeta!"
Latizia terkejut. Jadi, masyarakat Garalden membentuk pasukan dalam diam untuk melakukan kudeta ke kerajaan Madison, ini berbahaya.
"Jangan sampai putra mahkota mereka naik."
"Pria brandal itu-kan? Rumornya dia sangat tampan tapi begitu tak teratur. Kerajaan Madison di pimpin olehnya maka akan jadi abu."
Mereka menertawakan Milano dengan renyah. Latizia sangat geram ingin sekali membantah tapi tiba-tiba ada segerombolan orang-orang berpakaian tebal yang berjalan di hadapan mereka.
Latizia menunduk menyembunyikan wajahnya. Para pria itu bertampang sangar dan cukup menakutkan.
Tapi...
"Aroma ini!" Gumam Latizia dengan indra penciuman yang tajam. Aroma kayu yang aneh bercampur beberapa daun yang samar sama seperti pria kemaren.
"Putri!" Sapa Grigel mendekat karena merasa rombongan itu berbahaya.
"Kau menciumnya?"
"Apa? Putri!" Tanya Grigel bingung.
Ia tak mencium bau yang spesial karena disini cukup banyak orang tapi Latizia, ia sangat hafal bau ini.
"Rombongan dari mana itu?"
"Sepertinya bukan penduduk asli disini," Gumam Grigel menatap kepergian rombongan para pria sangar tadi.
"Ada yang tengah mengalihkan perhatian Milano."
"Maksud, putri?"
Latizia ingat jika seharusnya Milano akan naik tahta menggantikan Delvin dan malam ini harus bergerak tapi, ada yang mencegah pria itu bertindak.
.....
Vote and like sayang..
__ADS_1