
Milano membawa Latizia kembali ke istana Madison. Keduanya berdiri tepat di teras atas kubah yang biasa menjadi tempat damai bagai Milano untuk merenung.
Kali ini tampaknya ia benar-benar tak bisa menyembunyikan apapun dari pantauan mata tajam Latizia. Wanita ini tak cukup bodoh untuk percaya jika Milano bicara 'semuanya baik-baik saja'.
"Katakan! Apa yang terjadi?"
"Berjanjilah kau tak akan bertindak sendirian!" Tegas Milano seraya mengangkat Latizia ringan dan mendudukan wanita itu ke atas pagar beton teras dengan kedua tangan sedia membelit pinggang Latizia.
"Iya, janji!"
"Kau yakin?" Tanya Milano belum sepenuhnya percaya.
"Yakin. Cepat katakan!"
Alhasil Milano menghela nafas. Ia harap setelah ini Latizia tak akan bertindak gegabah karena wanita ini cukup sulit di kendalikan.
"Kau masih ingat gurumu?"
"Kakek Teans? Apa dia sudah di temukan?" Tanya Latizia tampak sangat cemas.
"Dialah yang mendalangi semua ini!"
"Milano! Jangan bicara begitu. Guruku tak mungkin me.."
"Dia yang menyebar wabah itu selama ini."
Seketika Latizia terdiam. Ia menatap tak percaya wajah tampan serius Milano yang sama sekali tak berbohong. Ia tahu pria ini begitu serius sampai tak ada cela palsu di manik elangnya.
"T..tidak mungkin."
"Aku tahu. Sulit untukmu percaya akan hal ini tapi, dia juga sudah meracuni tubuhmu!"
"A..apa?" Tanya Latizia terbata-bata seakan masih belum siap.
"Kau pernah bercerita tentang masa kecilmu yang sempat mengalami patah tulang kaki, bukan?"
Latizia mengangguk masih termenung mencerna semua ini. Terlihat jelas ia begitu syok sampai hanya bisa berpikir dan terus mencoba memahami.
"Saat itu dia memanfaatkan luka di tulangmu. Memasukan racikan sel yang tumbuh sampai kau dewasa. Itu karenanya setiap kau mengalami benturan sekecil apapun maka, kulitmu akan merespon. Itu efek dari apa yang dia masukan dalam tubuhmu."
"M..milano! Bagaimana mungkin? Guru sangat baik. Dia mengajariku dan..dan aku.."
Latizia tak bisa berkata-kata. Antara tak percaya tapi juga tak mungkin Milano berbohong.
"Dia adalah anak tiri dari kakek buyut. Rasa iri dan tak terima atas tahta yang jatuh pada Raja Facsionus mendorongnya untuk melakukan konspirasi besar seperti ini. Termasuk menghancurkan kerajaanmu."
"A..apa dia juga yang membunuh o..orang tuaku?" Tanya Latizia bergetar dengan mata berkaca-kaca menatap Milano pilu.
"Hm."
Seketika air mata Latizia lolos. Ia tersenyum miris membayangkan betapa ia menyayangi guru Teans seperti ayahnya sendiri bahkan, selama ini ia belajar dengan seorang pembunuh kedua orang tuanya.
"M..milano! Aku..aku sangat menghormatinya. Kerajaanku menyokong Akademi itu hingga sampai berjaya tapi..tapi dia.."
Milano memeluk Latizia yang pasti merasa sangat terpukul. Wanita ini menangis pertanda hatinya benar-benar sakit seakan membawa bencana bagi semua orang.
"Kedua orang tuaku sangat menghormatinya! Kami..kami tak pernah berkata tidak saat dia meminta bantuan. Tak pernah,hiks!"
"Dia memang tak tahu diri," Geram Milano mengepal dengan api amarah yang tertahan.
"K..kenapa dia sekejam itu?! Kenapa harus orang tuaku yang tiada?! Kenapa?!!"
Milano hanya bisa diam mengusap punggung Latizia yang bergetar. Isakan wanita ini membuatnya semakin ingin mengoyak tubuh kakek Teans.
__ADS_1
Tunggu saja. Saat Latizia benar-benar lepas darimu! Akan-ku buat jiwa dan ragamu tak di terima langit dan bumi ini, batin Milano mengumpulkan setiap kebencian yang mendarah daging.
Setelah beberapa lama, tangis Latizia mulai mereda. Tubuhnya melemah tapi untung saja Milano selalu sigap menahan agar tak jatuh.
"Dimana dia sekarang?" Serak Latizia dengan wajah sembab.
"Ada di markasku."
"Aku ingin menemuinya," Pinta Latizia tampak masih ingin memastikan.
"Dia akan semakin agresif saat melihat anakku!"
"Maksudnya?" Tanya Latizia belum mengerti.
"Mana-mungkin dia membiarkan penerusku lahir dengan mudah. Keinginannya untuk melenyapkan mu akan semakin tinggi jika kau muncul di hadapannya."
"Lalu?"
"Setelah bayi kita lahir dan kau sembuh, baru menemuinya," Tegas Milano mengusap sisa air mata di pipi Latizia.
"Bagaimana cara menghentikan wabah ini?"
"Melenyapkan pria itu karna dia yang membuatnya," Jawab Milano membuat Latizia berpikir.
"Kenapa kau tak bisa membunuhnya?! Aku yakin, ada yang belum kau ceritakan padaku!" Selidik Latizia benar-benar jeli.
Milano diam sejenak. Ia harap mengatakan ini pada Latizia tak akan membuat bencana di masa depan.
"Dia memanfaatkan tubuhmu sebagai pelindung nyawanya."
"Milano! Ini tak masuk akal. Maksudku, dia menjadikan aku tameng tapi bagaimana caranya?" Bingung Latizia tak mengerti.
"Dia sudah merencanakan ini dari awal. Memasukan hal aneh di tubuhmu agar saat dia terluka kau juga bisa merasakannya. Kala itu tanganmu sakit, bukan?"
Latizia mengangguk dengan wajah serius menanti.
"Aku juga akan mati," Gumam Latizia sudah tahu.
Ia menatap sendu Milano yang segera menangkup kedua pipinya lembut.
"Aku akan berusaha menghilangkan semua itu dari tubuhmu. Ada sedikit kemajuan dan kau tak perlu khawatir, hm?"
"Bagaimana caranya?"
"Jangan memikirkan apapun. Aku bisa dan selalu bisa," Tegas Milano beralih memeluk Latizia erat.
"Aku mohon. Percayalah padaku!"
"Aku percaya," Gumam Latizia menyandarkan kepalanya ke dada bidang Milano.
Aku percaya kau bisa melakukannya tapi, apa rakyat Madison dan Garalden akan sanggup menunggu sampai tubuhku benar-benar sembuh?! Pikir Latizia membayang jauh ke depan.
Sudah 7 bulan berlalu dan wabah itu masih bertahan ganas. Pasti Milano menguras energinya untuk menangani wabah itu agar tak semakin meluas keluar wilayah.
"Baiklah. Kau sudah lebih baik sekarang?" Tanya Milano mengusap puncak kepala Latizia yang tersadar dari lamunannya.
"Yah. Lain kali jangan menyembunyikan hal sebesar ini dariku!"
"Aku hanya khawatir padamu. Jika-ku katakan sejak dulu kau pasti akan tertekan apalagi, janinmu masih sangat muda," Jelas Milano membeberkan perasaannya.
Latizia mengangguk. Ia memejamkan mata seraya menikmati momen ini karena mereka cukup jarang berpelukan di siang hari karena Milano selalu pulang malam.
"Kau belum mengajariku main harmonika!"
__ADS_1
"Nanti saat kau sudah melahirkan. Pasti nafasmu lebih panjang."
"Benar. Aku jadi sesak karena perutku makin besar," Gerutu Latizia menghela nafas berat.
Milano tersenyum kecil terus mengusap kepala Latizia sampai rasa kantuk mulai datang. Tak butuh waktu lama bagi bumil cantik itu untuk tertidur di pelukan Elang Madison ini.
Namun, sedetik kemudian Milano melirik tajam ke arah paviliun belakang. Ia merasa jika ada sesuatu yang tengah melihat mereka dari sana.
"Ingin memberontak?!" Gumam Milano mengetatkan rahangnya.
Wajah kelam iblis itu muncul setidaknya membuat suasana menjadi dingin dan menakutkan.
Milano menjentikkan jarinya hingga ada dua anggota gelap yang muncul menunduk.
"Prince! Beberapa rakyat Madison yang tak puas dengan kebijakan kerajaan mulai ingin memberontak. Mereka membuat keributan dimana-mana."
"Tahan mereka!" Titah Milano hingga dua anggotanya menghilang bak asap ringan.
Namun, nyatanya para penduduk yang membenci anggota kerajaan atas wabah itu sudah menyerang kerajaan. Terjadi keributan di depan gerbang besar istana bahkan sampai ke sini terdengar nyaring.
"A..ada apa?" Tanya Latizia yang terbangun karena mendengar suara teriakan dari luar.
"Tidurlah! Hanya semut kecil."
"Semut?!" Gumam Latizia tapi ia masih setengah sadar.
"Ayo ke kamar!"
"Tunggu!" Cegah Latizia menatap ke arah luar. Dengan kejelian mata yang bertambah tentu saja Latizia bisa melihat dan mendengar suara yang sayup-sayup jika di telinga orang lain tapi jelas di telinganya.
"Berikan kami penawar wabah iniii!!!"
"Kalian pasti memilikinya!!!"
"Kalian pembunuuuh!!"
Latizia terdiam. Ia meremas dada bidang Milano yang masih lengkap dengan stelan kerjanya.
"Jangan pikirkan mereka. Ayo masuk!"
"M..milano! Kita harus bicara dengan mereka. Kita.."
"Sekarang prioritasku itu KAU. Jadi, jangan mengurus mereka," Tegas Milano dengan cepat membawa Latizia pergi dari atas teras.
Bukan hanya para rakyat Madison yang ada di luar gerbang. Elang-elang milik Milano yang selalu menjaga istana juga mulai berterbangan kembali berkeliling karena ada serangan yang datang dari beberapa musuh yang bersangkutan dengan kakek Teans.
....
Putri Veronica yang berdiri di depan istana tampak terkejut melihat banyaknya elang yang ada di atas sana.
Apalagi, aksi berontak rakyat Madison yang sepertinya menyalahkan istana soal wabah ini dan mulai menyangkut-pautkan Latizia.
"Kerajaan Garalden dulu juga sama seperti ini!!"
"Apa jangan-jangan karena wanita itu?? Dia penyebab malapetaka dua kerajaan!!"
Teriak mereka terus melempar barang-barang dan sampah ke arah gerbang istana. Para prajurit Madison sedia menyeret mereka jauh tapi, banyaknya rakyat yang memberontak membuat mereka kewalahan.
"Bahaya. Jika seperti ini terus, maka kerajaan akan di hancurkan dengan mudah oleh kerajaan lain!"
"Tahan saja mereka! Tapi jangan di lukai, sesuai perintah pangeran!"
Para prajurit yang siaga membelah kerumunan manusia berpenyakit ini. Semuanya semakin tak terkendali tapi untung saja ada anggota gelap Milano yang mulai memindahkan mereka secara cepat agar tak menganggu stabilitas istana.
__ADS_1
....
Vote and like sayang..