
Sudah 1 minggu berlalu. Selama sepekan itu Milano benar-benar menyelesaikan seluruh masalah kerajaan termasuk melakukan pers besar-besaran. Media menerima kebangkitan Madison kembali bahkan, mereka yang saat itu menyaksikan fenomena ajaib di depan mata sampai tak berani datang menemui Milano secara langsung.
Rekaman saat itu tiba-tiba hilang. Hanya secercah bukti penyerangan dari para pemberontak bayaran milik kerajaan Sauveron yang telah mendekam di penjara.
Karena kedoknya sudah terbongkar, paman dan bibi putri Veronica datang ke istana. Mereka meminta dan memohon pada putri Veronica agar tak mempermasalahkan ini lebih jauh.
"Veronica! Kerajaan kita membutuhkan bantuanmu. Mohon kau berbelas kasih, nak!" Ujar istri tuan Johens duduk di hadapan putri Veronica di ruang tamu istana yang luas.
Wajah putri Veronica hanya acuh tak acuh. Jika di lihat, arua arogan dan tak sopannya benar-benar kental membuat tuan Johens di samping istrinya menggeram.
"Veronica! Mau bagaimana-pun kerajaan itu tetaplah kerajaanmu. Kau tak bisa memalingkan wajah!"
Mendengar perkataan tuan Johens, perut putri Veronica serasa di gelitik sampai menimbulkan senyum geli dan remeh.
"Ayolah, kalian pikir aku lupa, ha?! Kalian yang mengusirku dari istana dan memakiku habis-habisan. Sekarang ingin menjilat di kakiku?! Yang benar saja!"
"VERONICA!!" Bentak tuan Johens meninggi.
Tawa kecil putri Veronica terdengar santai. Tak ada rasa takut di matanya atau gentar yang hebat seperti dulu di usir dari istana.
"Memangnya kau siapa ingin memeras ku?!"
"DASAR WANITA MENJIJIKAN. KALAU BUKAN KARENA KAU, KAMI TAK AKAN SEPERTI INI!!" Makian istri tuan Johens menarik emosi putri Veronica meningkat.
Ia raih pisau buah di atas meja lalu mengacungkannya ke leher wanita paruh baya itu.
"K..kau.."
"Aku belum puas sebelum mengambil nyawamu," Desis putri Veronica berdiri ingin menyabetkan pisaunya dengan niat membunuh.
"Kau gila, haa?!! Dia bibi-mu!!"
"Joheens!!! Aku tak sudi berhubungan dengan mahluk terkutuk seperti kaliaan!!" Geram putri Veronica kesetanan melayangkan pisau itu untuk mencabik tuan Johens yang pucat dan trauma.
"Veronicaa!!"
Latizia yang baru turun seketika terkejut melihat adegan ini. Dokter Dee yang selalu sedia bersamanya segera mendahului Latizia yang terkejut.
"Aku akan melenyapkanmu!!"
"Putri!! Putri tenanglah!" Ucap dokter Dee menahan lengan putri Veronica yang tampak menggila.
Ia menendang meja kaca di hadapannya membentur kedua kaki istri tuan Johens yang memekik.
"Kakikuu!!"
"Sekalian saja kau lumpuhh!!"
"La**cur!" Maki tuan Johens menampar putri Veronica hingga wanita arogan itu semakin meledak-ledak.
Dokter Dee tak lagi bisa menahannya. Putri Veronica seperti anjing liar yang ingin mengigit leher para mangsanya.
Melihat putri Veronica yang tak bisa di kendalikan, Latizia mengambil porselen kecil di sudut ruangan lalu ia lempar ke arah lantai ruang tamu.
Suara pecahan porselen mahal itu membuat semuanya terdiam. Perhatian sepenuhnya terfokus pada Latizia yang berdiri dengan tatapan tak bersahabat.
"Jika ingin bertengkar maka, KELUAAR!!"
Tuan Johens diam menatap tak suka Latizia. Wanita ini semakin hari kian berani mengancam mereka.
"Latizia! Ini bukan istanamu, jangan belagak berkuasa!"
"Kauu!!" Putri Veronica naik pitam tapi Latizia mengangkat tangannya hingga ia diam.
Latizia berjalan mendekat. Tatapan tajamnya menyapu wajah syok istri tuan Johens yang tak kuasa melihat porselen mahal berbahan kristal eropa itu jatuh dengan malang.
"Kenapa kalian kesini?"
"Veronica masih bagian dari kerajaan Sauveron. Salah kami bertemu dengannya?" Ketus tuan Johens tak tahu malu.
Emosi Latizia sangat stabil. Ia tak mudah terpancing seperti putri Veronica.
"Kau tak melihat berita hari ini?" Tanya Latizia dan keduanya saling pandang.
"Apa maksudmu?"
"Pantas saja dua orang buta dan tuli ini datang sesuka hati. Nyatanya ketinggalan informasi," Santai Latizia menghardik tajam.
"Kauu!!"
"Kerajaan Sauveron sudah beralih tangan menjadi milik putri Veronica!"
Pernyataan Latizia membuat semuanya syok termasuk putri Veronica.
"Latizia! Kau.."
"Seluruh petinggi kerajaan sudah di bawa ke tahanan negara. Di bawah kuasa pengadilan Madison mereka setuju menyerahkan kerajaan pada putri satu-satunya."
Tuan Johens dan istrinya terkejut bukan main. Mereka buru-buru mengecek ponselnya dan benar saja, berita itu sudah menjadi topik hangat bahkan bualan para petinggi negara.
"Kalian!!"
"Pergi dari sini! Madison tak ada urusan dengan para sampah!"
Ucapan Latizia sukses menyulut amarah tuan Johens yang segera mengambil keranjang buah di atas meja lalu melempar ke arah Latizia.
Namun, ntah apa yang terjadi keranjang itu berbalik padanya sampai menerima tubrukan beberapa apel serta pisang memalukan.
Tatapan mereka beralih ke arah pintu masuk ruang tamu. Dokter Dee menunduk melihat sosok gagah tampan mempesona itu sudah berjalan mendekat tanpa ekspresi selain mengintimidasi.
"P..prince!"
Milano segera berdiri di dekat Latizia. Tangannya terulur menarik pinggang ramping itu merapat padanya.
"Mereka mengganggumu?" Pertanyaan paling mematikan terlempar.
Wajah datar Milano sudah membuat mereka pucat pasih dengan tubuh gemetar tak bisa berhadapan dengan pria ini.
Aura kehadirannya sangat berbeda dengan pria cacat itu.
Pikir mereka gugup dan tak nyaman.
__ADS_1
Sangat berbeda dengan apa yang Latizia rasakan. Walau bagi mereka kedatangan Milano mengerikan tapi untuknya, pria ini selalu yang terbaik.
"Mereka datang membuat keributan. Baby sedang tidur di kamar tapi seenaknya berteriak, cih!" Adu Latizia menyandarkan kepalanya ke dada bidang Milano di baluti stelan jas berkharisma.
"P..prince! Kami minta maaf. Kami hanya ingin menemui Veronica. Tak bermaksud untuk.."
"Apanyaa?! Kau juga mengatakan kalau aku sok berkuasa disini. Istana Madison bukan kerajaanku dan sebaiknya aku tak perlu banyak bicara. Dia mengatakan itu padaku," Adu Latizia lagi tak mau kalah membuat dokter Dee dan putri Veronica tersenyum tipis.
Tuan Johens dan istrinya gelagapan. Wajah Milano sudah beku bahkan hawa pria ini mencekik leher mereka.
"P..putri Latizia! Kami tak bermaksud begitu, kami.."
"Berani kau mengatakan itu pada ISTRIKU?!" Geram Milano mendidih hebat.
"Prince!! Prince maafkan kami. Maafkan kami!"
Sayangnya sudah terlambat. Darren masuk membawa para pengawal yang tadi membiarkan dua manusia itu masuk mengingat masih ada hubungan dengan putri Veronica.
"Prince!!"
"Lenyapkan tanpa sisa!" Titah Milano kejam.
Keduanya menjerit hebat tapi tak di pedulikan siapapun. Putri Veronica tersenyum puas melihat tuan Johens dan istrinya di seret kasar keluar bahkan tak manusiawi.
"Kenapa pulang cepat?" Tanya Latizia agak heran.
"Tak suka?" Menaikan satu alis sinis.
"Tak biasanya kau pulang cepat. Ini masih siang," Jawab Latizia agak tak berniat meladeni Milano.
Dokter Dee pamit untuk menjaga prince kecil yang semula di temani pelayan Wey. Sekarang tinggallah putri Veronica.
"Terimakasih!" Ucapnya pada Milano dan Latizia yang saling pandang.
"Latizia yang memintanya!" Datar Milano hanya memandang kilas putri Veronica lalu fokus pada Latizia.
Belitan mesra dan kedekatan intens ini tak lagi membuat putri Veronica syok. Ia tampak lebih tenang dari biasanya.
"Terimakasih, Latizia! Hanya saja, aku tak yakin bisa memimpin kerajaan sebesar itu."
"Tak masalah. Kau bisa belajar. Tak semua kemampuan bisa datang tiba-tiba, perlu usaha dan kerja keras serta niat. Aku percaya padamu!" Ucap Latizia tulus di sertai tatapan lembut.
Perasaan hangat menjalar di dada putri Veronica. Rasa segan dan kagum kian bertambah mendeskripsikan sosok Latizia.
"Latizia!" Agak ragu memanggil.
"Yah?"
"Apa boleh nanti lain waktu aku bawa baby Arch ke kerajaanku jika keadaan stabil?"
"Silahkan!" Milano menyambar cepat tanpa ragu.
"Kauu!"
"Lebih cepat lebih baik. Bawa saja!"
Latizia segera mencubit dada bidang Milano yang begitu bersemangat. Putri Veronica hanya bisa tersenyum, ia tahu isi pikiran Milano yang pasti ingin menghabiskan waktu dengan Latizia.
"Jelas. Dia pergi maka kau akan menjadi milikku SEPENUHNYA. Tak ada kata berbagi."
Latizia mendengus. Ia agak malu pada putri Veronica dengan kelancangan Milano tak tahu waktu dan tempat.
"Bawa saja. Tapi, mungkin akan merepotkan-mu!"
"Aku sudah bilang, bukan?! Baby Arch juga putraku. Ibu mana yang merasa akan kerepotan merawat anak sendiri?!" Decah putri Veronica segera pergi untuk menemui baby Arch.
Latizia memandangi wanita itu lalu menatap tajam Milano.
"Apa?" Seakan tak bersalah.
"Kau ini memang kejam."
"Apanya?!" Tanya Milano berhadapan dengan Latizia. Kedua tangan sudah membelit pinggang seksi itu merapat.
"Mau bagaimana-pun Veronica pasti masih menyukaimu. Jika melihat kita terlalu intens maka dia.."
Cup..
Milano mencium bibir Latizia dengan raupan penuh. Hisapan buas dan ganas dengan sengaja Milano lakukan antara gemas dan tak berdaya akan pesona wanita ini.
"Ehmm!!"
Latizia menepuk-nepuk bahu Milano karena kehabisan nafas. Milano menghisap brutal lidah Latizia lalu melepaskan dengan nakal.
"M..milanoo!!" Pekik Latizia ngos-ngosan dengan wajah merah padam kehabisan nafas.
Sangat berbeda dengan Milano yang menyeringai puas. Wajah angkuh santai menyebalkan terlintas padanya.
"Enak?! Bahas itu lagi!"
"Tapi..uhukk..brandal, sialan!" Maki Latizia terbatuk-batuk menepuk dadanya.
Gila!! Pria brandal ini memang sudah menggila. Kemampuannya tak bisa di tandingi bahkan, Latizia sering di buat kewalahan.
"Aku dan dia itu tak ada hubungan spesial. Lagi pula, jika bukan kau yang tak ingin aku menceraikannya maka sudah lama-ku putuskan hubungan resmi itu," Tegas Milano kembali meraih pinggang Latizia.
Dalam beberapa tarikan nafas stabil Latizia kembali normal.
"Aku melakukan itu karena dia sudah berubah. Apalagi, sekarang kerajaan Sauveron ada di tangannya. Banyak musuh yang ingin menyerang tapi, jika dia masih ada ikatan denganmu tentu saja mereka berpikir dua kali."
"Jika nanti dia sudah ada pria yang bisa menjaganya, aku akan ceraikan!"
"Hm, aku setuju," Jawab Latizia merapikan dasi di leher Milano mengusap bibir basah Latizia yang bengkak.
"Wanita depresi!"
"Apa?" Tanya Latizia mengalungkan kedua lengannya ke leher kokoh Milano.
"2 hari lagi kita akan menikah."
"Apaa???" Syok Latizia terkejut tanpa menurunkan kedua lengannya.
__ADS_1
Perasaan Milano tak pernah mengurus acara pernikahan. Beberapa hari ini dia tampak sibuk dengan kerajaan dan perusahaan. Kapan dia bergerak?! Pikir Latizia heran.
"Aku ingin segera mengumumkan pada dunia kalau kau MILIKKU!"
"Kapan kau menyiapkannya? Dalam dua hari aku rasa itu.."
"Itu mudah. Bahkan, sekarang-pun bisa. Tapi, aku berencana ingin menikah berdua dengan kakakku!"
"Kak Franck?" Tanya Latizia kian terkejut hebat.
Milano mengangguk seraya merapikan rambut Latizia.
"Aku sudah lama mencari wanita yang tepat untuknya. Jika tak di jodohkan dia tak akan kunjung beristri."
"Kau benar. Tapi, Milano! Tak mudah untuk mencari wanita. Apalagi untuk seumur hidup," Gumam Latizia gelisah.
Milano tersenyum tipis. Ia mengiring Latizia duduk di sofa singel di dekatnya. Latizia duduk di pangkuan Milano yang selalu tak ingin duduk sendiri jika sudah berdua.
"Tenang saja! Aku sudah memikirkannya."
"Kau.."
"Adiiik!!!"
Suara keras Franck seperti di kejar anjing liar tiba-tiba masuk berlari mendekat. Latizia menautkan alis melihat Franck pucat tapi segera syok melihat 3 wanita yang mengejar-ngejarnya dengan ganas.
"Adiiiik!!! Adiiik, toloong!!"
Franck bersembunyi di balik sofa Milano. Nafasnya memburu dan berkeringat seperti sangat ketakutan.
"Pangeran! Kau kenapa?"
"Aku ingin mengembalikan sepatumu!" Memeggang satu sepatu Franck yang tadi tercecer saat lari.
Latizia menatap kosong 3 wanita yang tergolong cantik tapi tak begitu wah. Salah satunya bertubuh gempal dengan riasan tebal melebihi badut.
2 diantaranya masih tertolong oleh wajah tapi, tatapan liarnya justru seperti ingin menelan Milano hidup-hidup.
"K..kalian.."
"Tampannya!!"
"Dewaku!!"
Lirih mereka tak berkedip menatap Milano yang terdiam. Ia perhatikan 3 wanita ini bukanlah para wanita yang ia atur untuk kencan buta kakaknya tadi.
"A..adik! Adik kau sangat kejam pada kakak sendiri. Apa itu yang kau sebut para peri surga, ha?! Mereka seperti jelmaan pitbull!" Gemetar Franck tami masih di dengar Milano.
Pitbull adalah anjing besar yang punya gelambir lebar di area mulut. Franck menjabarkannya dengan sangat pas.
"Tampan! Bisa..bisa kita berfoto?"
"Kau suamiku!"
"Aku mencintaimu!"
Ucap mereka memberi kecupan jarak jauh pada Milano. Milano melirik kesal Latizia yang menahan ekspresi geli sekaligus ingin tertawa sampai mengigit bibirnya sendiri.
"Apa sangat lucu?" Sarkasnya tajam.
"T..tidak. Tidak lucu," Jawab Latizia berusaha menyembunyikan kegelian tapi tak bisa.
Akhirnya ia tertawa lepas sampai sudut matanya berair. Milano hanya membelo jengah.
Tak lama setelahnya datang panglima Ottmar yang berlari kecil. Ia menatap panik pada 3 wanita brutal ini tapi segera menunduk pada Milano.
"Prince! Dimana pangeran?"
"D..sini," Jawab Franck mengangkat tangannya di balik sofa Milano.
Panglima Ottmar akhirnya lega. Ia tadi tak menyangka jika ada 3 wanita ganas yang seperti ingin menelan Franck dari luar.
"Kenapa bisa mereka?" Dingin Milano seraya membekap mulut Latizia yang tak berhenti tertawa sampai perutnya sakit.
"Prince! Sebenarnya mereka pasien RSJ yang lepas."
"R..rumah..rumah sakit..jiwa, hahahaa!!!" Keras Latizia pecah sampai mengeras sendiri. Ia menyembunyikan wajah merahnya di ceruk leher Milano yang mengusap perutnya agar tak tegang.
Tentu saja panglima Ottmar merasa bersalah. Ia tadi menemani Franck kencan buta yang di atur Milano tapi, sayangnya kecolongan.
"Pangeran! Pangeran tampan!"
"Bawa mereka!! Bawa 3 pitbull itu!!" Jerit Franck tak berdaya.
Panglima Ottmar segera memanggil pengawal. 3 wanita itu di seret pergi dan barulah Franck keluar dari persembunyiannya.
"Adik! Kau..kau keterlaluan!!" Marahnya pada Milano.
"Bukan mereka."
"Pitbull mana lagi, ha?! Kakak mohon, sudahi ini!" Lelah Franck terduduk di lantai.
Latizia yang semula puas menertawakan mereka akhirnya perlahan mereda. Ia mengusap sisa air matanya dengan dasi Milano lalu menormalkan nafas.
"Milano! Wanita mana yang ingin kau jodohkan dengan kakakmu? Jenis mana lagi?" Gelinya tapi masih bisa di tahan.
"Bukan mereka."
"Keluarga bangsawan?" Tanya Latizia mulai penasaran.
Milano menggeleng. Ia melirik Franck dari ekor matanya, pria dewasa dengan jambang tipis tapi tampan itu sudah tremor bahkan memucat.
"Petani!"
Degg...
Sontak Franck terkejut. Ia menatap Milano dengan pandangan penuh arti bahkan Latizia bingung.
Arti tatapan Franck bukan tak setuju atau merendahkan tapi, seperti mengenang seseorang.
....
__ADS_1
Vote and like sayang