GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Hari paling membahagikan


__ADS_3

Hari yang di nanti-nanti dua pasangan itu akhirnya tiba. Tepat di sebuah gedung terbesar di kerajaan Madison menjadi saksi bisu megah dan besarnya momen pernikahan orang-orang nomor satu di negara tersebut.


Ntah bagaimana Milano bisa mengurus berbagai prosesi di gedung ini. Dari mulai hiasan dari awal masuk gerbang gedung para tamu sudah di manjakan oleh dekorasi megah dari rangkaian bunga yang mengakar di pagar-pagar mewah di sekitar mereka dan belum lagi luasnya lapangan di luar yang dipenuhi oleh kolam air pancur yang bisa berubah-rubah warna.


Sungguh, Nuansa menyenangkan sudah terlihat sejak mereka dari kejauhan. Desain karpet menampilkan rumput dan tanaman hijau yang rimbun dengan berbagai elemen yang terinspirasi dari petualangan sederhana saat terjebak di tengah hujan deras. Para pengunjung akan dikelilingi oleh elemen-elemen yang imersif, seperti warna-warna musim semi, rintik hujan, awan, bunga, payung, dan garis-garis musim semi.


"Kita seperti berada di negeri dongeng!"


"Yah! Ini seperti dunia fantasi!"


Decah mereka menikmati sensasi alam yang kental disini. Elang-elang Milano berterbangan dengan formasi melingkar di atas langit-langit gedung.


Belum lagi ratusan merpati yang bertengger di sepanjang pagar dan berjejer di tepi karpet seakan menyambut mereka dengan hormat.


Diantara keramaian para tamu yang satu persatu masuk ke gedung, ada dua pasangan yang datang juga menyita perhatian Media.


Kedatangan pangeran Ximus dan putri Athena benar-benar mengejutkan. Mereka adalah pengantin baru yang bergandengan tangan tapi jelas ada keterpaksaan di sana.


"Pangeran!"


"Putri Athena! Ternyata kalian juga hadir. Selamat atas pernikahannya!"


Pangeran Ximus hanya mengangguk. Ia berjalan masuk ke dalam gedung besar ini tak membual soal apapun lagi.


"Latizia menikahi pria lain. Jika kau ingin menangis aku akan tunjukan tempat sepi," Lirih putri Athena tapi pangeran Ximus berdecih.


"Kata-kata itu berguna untuk dirimu sendiri. Bukankah idolamu juga akan menikah?!"


"Yah, tapi bukan berarti aku menyerah."


Jawaban itu langsung membuat pangeran Ximus melirik tajam ke arah putri Athena.


"Jangan coba-coba menghancurkan kebahagiaan Latizia!"


"Jangan terlalu na'if. Kau juga tak ingin pernikahan ini berlangsung, bukan?" Sarkas putri Athena hingga pangeran Ximus terdiam.


Mereka duduk di kursi masing-masing. Altar di atas sana sudah siap dengan pendeta yang hadir menunggu proses sumpah janji keempat mempelai yang belum hadir.


Gedung besar ini bisa menampung 8.500-10.00rb tamu di dalam dan 15.000 orang di luar. Semuanya benar-benar ramai tapi tak seorang-pun yang merasa sesak karena masih banyak ruang yang tersisa.


"Para tamu yang datang silahkan menempati kursi yang di sediakan. Kedua pasang pengantin akan datang sebentar lagi!"


Suara pembawa acara yang punya tempat tersendiri di alun-alun gedung bersama para instrumental musik rohani yang hadir.


"Apa rencanamu untuk mengacaukan pernikahan ini?"


"Jika kau ingin mati secepat mungkin, maka lakukan!" Gumam pangeran Ximus pada Athena.


"Maksudmu?"


"Tak ada yang bisa kita lakukan. Disini penuh dengan penjagaan ketat bahkan kau tak tahu betapa menyeramkannya Milano," Jawab pangeran Ximus serius.


Ia sudah pernah berurusan dengan Milano dan hasilnya satu perusahaan besar mereka langsung bangkrut total. Pria itu memang pandai menjaga miliknya agar tak di ambil orang lain.


"Tapi, jika pernikahan ini berlangsung kita tak akan punya kesempatan. Kita akan gagal total."


"Ehmm!" Deheman dari belakang kursi mereka.


Putri Athena tersentak saat Ratu Artefea dan Raja Hanzo ternyata sudah duduk di sana. Pangeran Ximus langsung diam begitu juga putri Athena.


"Jangan mencari mati. Jika kalian masih ingin hidup tenang maka lupakan niat-niat kotor itu!" Tegas Ratu Artefea dan diangguki suaminya.


Putri Athena mengepal. Ia jelas tak terima dengan semua tapi, mengingat kerajaannya tak akan bisa bermusuhan dengan Madison akhirnya ia pasrah.


"YANG MULIA Prince dan Pangeran sudah tibaa!!!" Suara kasim di depan membuat seluruh tamu berdiri.


Para media yang sudah berkumpul di depan tak menyia-nyiakan kesempatan. Dua sosok berbeda aura itu sudah memasuki gedung di kawal oleh Darren dan panglima Ottmar sebagai kerabat dekat mereka.


"M..milano!" Gumam putri Athena melemah akan pesona pria itu.


Milano terlihat sangat tampan dengan balutan tuxedo bewarna hitam dengan sepatu pantofel khusus yang mengkilap. Tampilan rapi di sempurnakan oleh setangkai bunga mawar putih di saku dadanya terlihat seperti seorang pangeran benar-benar mempesona.


Hanya saja, auranya sangat mengintimidasi. Langkah tegas dan tatapan tajam fokus ke arah altar sangat bertabrakan dengan Franck yang menyapa ramah para tamu.


"Adik! Jangan tunjukan wajah singamu disini. Mereka akan berpikir kau terpaksa menikahi Latizia!" Lirih Franck tapi tak mengendurkan senyuman pada para tamu.


"Senyumku hanya untuk istriku!"


"Cih, kurangi tingkat kebucinanmu," Gumam Franck dapat di dengar oleh Darren maupun panglima Ottmar.


Keduanya sudah di antar ke atas altar oleh dua bawahannya yang segera turun. Milano diam duduk di kursinya menatap datar semua tamu yang tak bisa berkata-kata dengan penampilan mereka.


"Pangeran Franck dan Prince Milano sangat tampan. Pesona mereka tak manusiawi!!"


"Beruntung sekali para wanita yang bersama mereka khususnya prince Milano. Tubuhnya kekar dan..aaaa aku tak sanggup."


"Satu malam saja aku rela menyerahkan diri untuk menampung benihnya."


Desas-desus para tamu wanita dan gadis-gadis yang lemas dengan dua mempelai pria itu.


Sambil menunggu dua mempelai wanita, Milano dan Franck harus melayani media. Mereka mengambil beberapa foto berdua dan tentu saja jika bukan karena Franck maka Milano tak akan setuju.


Tak tahan melihat Milano di atas altar sana, putri Athena tiba-tiba saja menyeru.


"Prince Milanoo!!"


Desas-desus para tamu yang tadi lemas seketika teralihkan. Pangeran Ximus menggeleng jengah melihat itu.


"Wanita bodoh," Umpatnya kesal.


"Putri Athena! Apa ada masalah?" Pembawa acara yang menetralkan suasana.


"Bukankah dia mantan kekasih prince Milano?"


"Tapi dia sudah menikah."


"Lihat saja, apa yang dia mau?"


Gumam para tamu saling menduga dan membicarakan putri Athena.


Franck yang duduk di samping Milano menarik senyum pelit menyikut lengan kekar Milano yang setia dengan wajah datarnya.


"Penggemar lamamu, adik!"


"Abaikan," Gumam Milano tak ambil pusing.


"Prince! Apa bisakah aku berfoto denganmu?"


Milano diam. Ia tak menjawab atau mempedulikan itu. Akhirnya Franck angkat bicara.


"Untuk sesi foto bukan sekarang waktunya. Mungkin putri bisa menunggu di akhir acara!"


Seketika putri Athena di buat malu. Para tamu yang melihatnya kasihan.


"Jangan mempermalukan kerajaanku!" Ketus pangeran Ximus menarik paksa putri Athena duduk.


Tak berselang lama, keriuhan media di depan mulai menarik perhatian semua orang.

__ADS_1


"Dua mempelai wanita akan memasuki geduung!!!" Suara kasim kembali berkumandang.


Milano berdiri begitu juga Franck. Keduanya mulai gugup terutama Franck yang tak pernah menikah sebelumnya.


"Adik! Jika kakak pingsan, cepat kau tangkap."


"Cih," Decah Milano fokus ke arah pintu gedung yang terbuka.


Semua tamu kembali berdiri dan kali ini mereka di buat terpana oleh kecantikan dua sosok wanita yang memeggang dua buket bunga di tangannya dihiring oleh pelayan Wey dan dokter Dee.


Latizia sangat-sangat cantik di baluti gaun berwarna abu muda dengan ekor gaun mencapai 3 meter. Gaun pengantin dengan potongan dada rendah tapi ada mantel punggung yang terbuat dari kain yang sama itu terlihat sempurna di tubuh Latizia yang tinggi.


Rambut keemasannya di sanggul keatas dengan menyisakan satu untaian di pelipis. Riasan tipis tapi menonjolkan pesona mata ungu mistik dam bibir mungil merah yang segar dan membuat para pria disini meneteskan air liur.


"Lihat raut wajah calon suamimu, putri!" Goda Iriszen melihat kemarahan di mata tajam Milano.


Iriszen juga tak kalah cantik. Ia yang memang punya aura dewasa memakai gaun pengantin pilihan Franck yang tertutup di semua bagian tapi terlihat mewah dengan pernik permata di setiap renda gaunnya. Hanya saja gaun itu tak ada ekor karena Iriszen tak mau terlalu rumit.


"Ini terlalu sempurna!"


"Mereka pasangan yang serasi!"


"Aku mencintai putri Latizia!" Gumam salah satu pria yang keceplosan bicara tepat di dekat altar.


Sontak saja hawa dingin itu menghempas ke wajahnya yang segera tersadar. Ia menunduk kala ancaman dari Milano mulai menyebar.


Berbeda dengan mereka yang takut, pangeran Ximus justru terang-terangan memandang kagum penuh minat pada Latizia yang sudah naik ke atas altar di bantu pelayan Wey dan dokter Dee.


"Polesan lipstick-mu sepertinya kurang tebal," Sarkas Milano segera menarik pinggang Latizia merapat padanya.


Latizia tersenyum kecil, lipsticknya tak tebal tapi di mata Milano memakai pewarna bibir hanya akan memancing banyak lebah.


Berbeda dengan Milano yang kesal, Franck justru terlihat dewasa membantu Iriszen naik dan merapikan gaun wanita itu.


"Kau sangat cantik," Pujinya membuat Iriszen malu.


"Kau juga sangat tampan."


"Aku sangat gugup, Iris! Doakan aku!" Kelakar Franck membuat Iriszen tak berhenti tersenyum.


Melihat kedua pasangan ini sudah siap. Pendeta segera memulai prosesi sumpah mereka.


"Kalian sudah siap?"


Mereka mengangguk bersamaan. Semua tamu masih berdiri dengan suasana hening tak ada satupun yang berani bicara.


"Kepada kedua pasangan mempelai. Prince Milano Dylan Madison Altaris dan Pangeran Franck Madison Altaris, apakah kalian bersedia di hadapan tuhan bersumpah atas kepercayaan dan yang kuasa sang pencipta untuk memperistri wanita yang sekarang ada di samping kalian?"


"KAMI BERSEDIA!" Jawab Milano dan Franck bersamaan secara tegas. Wajah serius dan tak ada main-main sama sekali.


"Bersedia-kah kalian mengemban tanggung jawab sebagai seorang suami sekaligus ayah untuk anak-anak kalian kelak?"


"KAMI BERSEDIA!"


Suara Pendeta lantang bertanya sedangkan Latizia justru menatap dalam wajah tegas Milano yang begitu serius. Hatinya sampai bergetar tak kuasa menahan luapan cinta dan tak percaya mereka akan sampai ke titik ini.


"Kedua mempelai wanita. Apa kalian bersedia menerima kekurangan pasangan kalian?"


"KAMI BERSEDIA!" Jawab Latizia dan Iriszen bersama.


"Apa kalian bersedia menemani mereka dalam masa apapun baik itu susah, senang dan dalam masalah apapun?"


"KAMI BERSEDIA!!"


"Apa kalian menerima sumpah para pasangan kalian dan juga berjanji untuk menerimanya menjadi suami kalian??"


Jawaban terakhir mereka sukses membuat acara berlangsung hikmat dan penuh suka cita. Darren hanya bisa tersenyum sampai matanya tak bisa berbohong.


"Setelah melakukan sumpah dan janji pernikahan. Sekarang atas nama sang pencipta kalian sudah menjadi SUAMI ISTRI!"


Prokk-prokkkk..


Tepukan meriah dari para tamu dan khususnya Darren dan panglima Ottmar. Para menteri istana juga tak kala senang melihat itu.


"Prosesi sumpah pernikahan sudah terlaksana dengan lancar. Sekarang, silahkan kedua pasangan menukar cincin pernikahan!" Arahan pembawa acara yang meredakan keriuhan.


Dokter Dee dan pelayan Wey naik ke atas altar membawa dua kotak cincin yang sudah di sediakan di dekat altar.


"Selamat ya, nona, Prince!" Ucap pelayan Wey pada Latizia yang tersenyum tanpa beban.


Dokter Dee juga melakukan hal yang sama seraya menyerahkan kotak cincin itu pada Franck lalu turun kembali.


"Silahkan mempelai pria memulai! Pasangkan dengan lembut dan jadikan mereka ratu di hati kalian!!"


"Woww!!!"


Para tamu heboh bukan main. Media yang mengabadikan momen itu juga senang melihat presdir mereka akan menyematkan cincin ke jari manis Latizia.


"Cincin berlian biru untuk wanita depresi-ku!" Goda Milano memasangkan cincin mahal dan indah itu.


Latizia tak bisa menyembunyikan wajah bahagianya. Para tamu di buat lemas dengan harga kedua pasang cincin itu karena sangat mahal dan mewah.


"Cincin itu pasti bisa membeli satu pulau secara lunas!"


"Seandainya aku yang jadi istri Prince dan pangeran, pasti akan kaya mendadak."


Lemah mereka tak berdaya dan hanya bisa melihat kedua pasangan itu saling bertukar cincin.


"Sekarang, tibalah kita pada prosesi ketiga!! Siapa yang tak sabar???"


"Cium!!! Cium!!!" Sorak mereka membuat Latizia dan Iriszen malu bukan main.


Pembawa acara yang pandai mencari momen hingga membuat gedung heboh.


"Kalian sangat tak sabaran. Tapi, mari kita saksikan adegan romantis dua pasangan kita!!"


"Kenapa harus heboh begitu?" Gumam Latizia menunduk malu. Walau ia dan Milano sudah sering berciuman bahkan lebih, tapi ini di hadapan ribuan orang.


Apalagi, Iriszen dan Franck yang tampak sangat canggung. Bukan hanya berciuman, berpelukan saja mereka sangat kaku.


"Cium!!! Cium!!"


"Ayo cium, prince!! Pangeran!!!" Kompor Darren geli melihat wajah tertekan Franck dan dua wanita itu.


Sangat berbeda dengan Milano yang tampak tak peduli bahkan bisa di katakan ini momen yang ia tunggu.


"Cepat ambil gambar wajah pangeran!" Desak Darren pada para media yang mengangguk.


Franck dengan kaku memeggang tengkuk Iriszen yang juga tegang memundurkan wajahnya setiap Franck mendekat.


"A..aku..aku tak bisa."


"Ciuman pertamamu?" Tanya Franck berbinar.


"I..iya."


"Kalau begitu sama," Jawab Franck tampak senang. Tapi, keduanya masih tak berani untuk memulai.

__ADS_1


Saat kamera menyorot Milano, pria tampan yang tak kenal malu itu segera menarik pinggang Latizia merapat padanya dan dengan mesra meletakan tangan ke rahang wanita itu.


"M..milano! Jangan.."


"Biarkan mereka melihat, siapa PEMILIKMU!"


Bisik Milano segera memangut bibir Latizia di hadapan semua orang yang seketika histeris.


"Princeee!!"


"Ouhh!!! Ini gilaa!!" Jerit para gadis yang lemas.


Bukan hanya sekedar kecupan, Milano mencium lembut menghapus jejak lipstick yang tadi membuatnya risih. Latizia hanya bisa diam. Mata terpejam malu tak membalas ciuman Milano yang akan terpancing jika ia turuti.


Darren yang melihat prince tak tahu malunya itu seketika menepuk jidat.


"Prince memang tak di ragukan lagi. Dia adalah pelatih."


"Berbeda dengan pangeran. Lihat mereka belum juga memulai!" Timpal panglima Ottmar menertawakan kecanggungan Franck dan Iriszen.


"M..mereka sudah mulai!" Gumam Franck mengusap tengkuk kikuk. Iriszen terus menunduk meremas buket di tangannya.


"A..aku.."


"Pangeran!!! Ayoo!!" Sorak Darren dan panglima Ottmar menyemangati.


Iriszen bertambah malu. Franck yang gugup perlahan mengambil nafas dalam.


"Pejamkan matamu. Aku akan mulai!"


"T..tapi.."


"Tak apa. Kita lakukan dengan cepat, hm?" Bujuk Franck sekaligus menahan malu.


Iriszen menegakkan wajahnya dengan kedua mata terpejam. Franck menelan ludah melihat bibir tipis tapi indah itu terlihat pasrah padanya.


"Cium!!! Cium!!!"


"Masa bodoh," Gumam Franck segera mengecup kilat bibir Iriszen yang sontak terkejut dan keduanya langsung saling menghadap kedepan seakan tak melakukan apapun.


Iriszen memerah terus menunduk sedangkan Franck ingin berteriak kegirangan. Ia saling tos jarak jauh dengan Darren yang sangat bahagia melihat itu.


Satu pasangan selesai tapi bagaimana dengan Milano?


Jika tidak di cubit di bagian dadanya oleh Latizia, mungkin Milano tak akan melepas ciumannya.


"Kau!!"


"Jika tak ku cubit kau akan mencium sampai besok pagi," Ketus Latizia sangat malu karena tatapan semua orang terus menyorot mereka.


"Baiklah. Ini prosesi terakhir!! Siapa yang ingin dua bunga ituu???"


"Berikan padaku!!!" Sorak para gadis yang merapat ke depan altar.


Darren menarik panglima Ottmar untuk ikut bergabung dan mereka pria satu-satunya.


"Kau jangan mempermalukan-ku!" Panik panglima Ottmar saat ada di kerumunan para gadis.


"Sekarang yang kesepian hanya tinggal kita berdua. Kau sudah tua dan pasti kedinginan-kan?"


"Jangan mempermalukan diri sendiri," Jengah panglima Ottmar tapi tak bisa menolak Darren yang minta di temani.


Latizia menertawakan kedua pria itu karena terlalu menyedihkan.


"Kalian ingin bunga-ku??" Tanya Latizia mengangkat tinggi buketnya.


"Yaaah!!!"


"Nona!! Nona aku belum menikah. Berikan padaku!! Kita teman, bukan??" Rayu Darren mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi.


Milano menggeleng kecil melihat tingkah kaki tangannya itu. Ia berbalik memunggungi para tamu seraya memeggang buket bersama Latizia.


"1...2..."


Latizia melirik Iriszen yang mengangguk dan dalam hitungan ketiga langsung melempar secara bersamaan buket itu ke belakang.


Semua orang berebut termasuk Darren yang sampai meloncati beberapa kursi untuk merebut buket itu tapi..


"Buketku!!!" Teriak Darren saat benda itu justru terlempar ke arah pintu masuk gedung tepat ke tangan seorang pria berkacamata yang datang dengan putri Veronica menggendong baby Arch.


Semua mata tersorot pada mereka apalagi kedatangan baby Arch membuat suasana yang semula heboh semakin menggila.


"Prince kecil!!! Aaa tampannya!!"


"Prince kecil!!! Menikahlah denganku!!"


Baby Arch hanya menatap datar mereka. Pandangannya melembut kala bertemu dengan netra ungu mistik Latizia yang tersenyum padanya.


"SELAMAT DATANG ATAS KEHADIRAN PUTRI VERONICA BERSAMA PRINCE KECIL KITA!! TAPI PEMEGANG BUKET REBUTAN KALIAN TERNYATA.."


"Darren! Kau kurang beruntung," Ejek dokter Keanu tersenyum penuh kemenangan pada Darren yang terduduk lemas di kursi.


Ia merotasikan matanya ke beberapa orang di depan sana, tatapan berhenti pada sosok wanita yang sudah ia kenal sejak lama juga memeggang buket dari Iriszen.


"Keanuu!! Jangan coba-coba melampaui keberuntunganku!! Kau tak bisa lebih dulu menikah!!" Histeris Darren menggila saat dokter Niko melangkah menuju dokter Dee.


Yah, dialah yang mendapat buket istimewa itu.


Latiza merasa ada gelagat lain dari dokter Keanu.


"Milano!".


"Hm?" Jawab Milano tak melepas belitannya ke pinggang Latizia.


"Mereka..mereka itu.."


"Beberapa bulan terakhir keduanya sudah punya perasaan!" Jawab Milano mengejutkan Latizia.


Dan benar saja, dokter Keanu dengan romantis berjongkok di dekat dokter Dee yang tersenyum malu.


"Apa kau mau menikah denganku?"


"Ouhhh!!!" Semua orang langsung di buat tak percaya itu.


Darren sudah panas dingin melihat ketidakadilan ini dan hanya bisa bersandar ke pinggang panglima Ottmar yang paham perasaan Darren.


"Maukah kau menikah denganku dalam waktu dekat?"


"M..mau!" Jawabnya gugup sontak mereka semua bertepuk tangan.


Dokter Keanu memeluk dokter Dee yang tak bisa menyembunyikan keterkejutan karena ia tak percaya dokter Keanu akan melamar di hadapan ribuan orang.


....


Vote and like sayang..


Boncap nanti malam sesuai permintaan🤪

__ADS_1


Untuk besok otw sinopsis launching karya baru ya say😭


__ADS_2