GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Di buru!


__ADS_3

Latizia tengah di kejar oleh segerombolan pria yang kemaren baru datang ke pemukiman Andolf. Ia tadi pergi ke akademi pengobatan untuk menjumpai kakek Teans dan pria itu tak ada di sana.


Ntah apa yang terjadi sampai kakek Teans dan Zehen tak di temukan tapi malah orang-orang berpakaian gelap dan sangar itu yang tahu keberadaan mereka.


"Aku sudah melewati hutan di dekat akademi. Seharusnya mereka tak akan menemukanku di sini," Gumam Latizia berhenti di penginapan yang dulu ia dan Milano huni.


Grigel dan Pohander tak ada disini karena Latizia suruh untuk tetap ada di akademi mencari kakek Teans.


"Jika Guru tak ada disana lalu mereka dimana?! Tak mungkin di kediaman Franck karena pengobatan itu secara berkala," Pikir Latizia lagi cukup keras.


Ia berdiri di depan pintu penginapan dimana masih banyak masyarakat yang berlalu-lalang di sekitar sini.


"Nona!"


Sapa wanita tua yang dulu melayani Latizia susah membuka pintu. Wajah nenek itu cukup bingung melihat Latizia ngos-ngosan.


"Nek! Apa bisa aku masuk sebentar?"


"Dimana tuan yang dulu bersamamu?" Tanya wanita itu heran.


Latizia tak sempat menjelaskan karena orang-orang itu sudah mengejar sampai ke sini. Ia bergegas masuk ke dalam penginapan lalu menutup pintu rapat.


"Nona! Ada yang mengusikmu?"


"Nenek kenal orang-orang itu?" Tanya Latizia mengintip dari cela kecil di pintu.


Wanita tua itu menggeleng. Ia tak begitu bisa melihat dari cela sesempit ini.


"Nona! Bagaimana penampilan mereka?"


"Tubuh tinggi dan kekar. Perawakan sangar dengan pakaian tebal serba hitam. Mereka tadi ada di akademi pengobatan, nek!"


Ekspresi wajah wanita itu langsung berubah pias. Latizia tak paham dan belum mengerti dengan orang-orang misterius yang tadi mengejarnya.


"Nona! Kau di kejar oleh mereka?"


"Yah. Padahal mereka belum melihatku," Jawab Latizia penasaran.


Wanita itu segera menarik Latizia menuju sofa yang ada di ruang tamu. Ia bergegas menutup seluruh jendela lalu kembali mendekati Latizia.


"Nona! Apa yang telah kau lakukan?"


"M..maksudmu?" Bingung Latizia tak mengerti.


Ekspresi wajah wanita itu tampak sangat serius bahkan terselip rasa takut.


"Kami penduduk disini tak pernah mau menyingung akademi pengobatan. Rumor beredar jika ada seseorang yang berkuasa penghubung antara akademi dan dunia luar. Banyak orang-orang aneh yang datang ke sana tapi, selama ini tak pernah berbuat kejam pada masyarakat lokal. Mereka bertindak pasti ada yang telah nona lakukan!"


"Tapi, aku tak merasa melakukan apapun," Gumam Latizia berpikir keras.


"Orang-orang gelap dari akademi biasanya mengincar sesuatu yang berhubungan dengan spritual. Apa nona juga punya darah spritual?"


"Tidak. Aku dari kerajaan Garalden," Jawab Latizia tapi tiba-tiba saja tangannya tak sengaja menyentuh perut.

__ADS_1


Ada semacam daya tarik yang kuat dari sana bahkan, Latizia sampai tak bisa melepaskan tangannya untuk beberapa saat.


"A..apa mungkin bayiku?!" Batin Latizia cukup terkejut.


"Nona! Akademi pengobatan itu punya sisi gelap dan ambisi. Mereka mengejar-mu pasti ada yang mau di ambil."


Latizia seketika pucat. Berarti Milano bukanlah orang sembarangan sampai benih yang belum punya nyawa ini-pun di buru banyak orang misterius.


"DAPATKAN WANITA ITUU!!!"


Degg..


Latizia mendengar suara perintah dari depan sana. Ia berdiri dengan wajah yang cukup cemas.


"Nek! Apa disini punya pintu belakang?"


"Ada. Tapi.."


"Tunjukan padaku!" Sela Latizia menarik wanita tua itu buru-buru.


Ia meraih pisau di atas tempat buah di atas meja sofa lalu mengikuti wanita tua itu.


"Nek! Dimana?"


"Disini, nona! Ini tembus ke hutan yang ada di selatan. Nona harus hati-hati karena .."


Braakk..


"Semoga dia baik-baik saja," Gumam wanita itu berbalik tapi sudah ada pisau yang melekat ke lehernya dari belakang.


"K..kau.."


"Dimana dia?" Suara kelam yang begitu serak. Wajah wanita tua itu pucat memejamkan mata pertanda ia tak ingin memberitahu apapun hingga..


Srekkk..


Sabetan pisau memutus lehernya. Mayat tuanya tumbang berlumuran darah.


Dengan kejam pria sangar itu memerintahkan seluruh rekannya untuk masuk ke hutan di belakang penginapan.


.......


Sementara Latizia. Ia berlari begitu cepat seakan-akan tengah di kejar malaikat maut tapi memang benar. Hidupnya dan janin tak berdosa ini tengah dalam masalah besar.


Semakin jauh langkahnya menerobos semak dan menghindari pepohonan besar bersalju ini maka semakin gelap area hutan.


Dengan kondisi dedaunan rimbun dan lembab menutupi cahaya mentari redup di atas sana.


"P..perutku!" Desis Latizia langsung jatuh ke tumpukan salju yang ada di dekat pohon liar yang begitu besar.


Ia memeggangi perutnya yang keram karena terlalu banyak berlari dan di terpa suhu dingin yang cukup ekstrem.


Pisau di tangan Latizia agak jauh terpental darinya.

__ADS_1


"M..maafkan ibu, nak! Tapi, kemana-pun kita lari pasti mereka akan tetap tahu."


Latizia yang berusaha bangkit mengambil pisaunya lagi tapi tiba-tiba ada udara dingin yang membuat pepohonan disini berguncang.


Genggaman pada pisau itu mengerat. Latizia menatap waspada tempat di sekelilingnya. Tiba-tiba banyak sekali yang lewat seperti kilat sangat cepat.


"Jangan berani menyentuh anakku!!" Geram Latizia tak lagi punya rasa takut untuk berkelahi karena janinnya terancam.


Mereka ada 7 orang. Masing-masing membawa pisau berbentuk setengah bulatan bulan, pikir Latizia yang bisa melihat mahluk-mahluk misterius yang tengah mengelilinginya.


Karena ketajaman mata dan telinganya, Latizia diam membiarkan seluruh bayangan itu mengelilinginya lalu..


"Kau yang pertama!!" Geram Latizia melempar pisaunya ke belakang hingga salah satu bayangan tadi terjatuh.


Pisau itu tepat menembus bagian dadanya hingga bayangan lain yang tadi menghantui mulai menunjukan tubuh mereka.


"Luar biasa!" Suara pria yang tadi membunuh nenek tua di penginapan muncul di belakang Latizia yang segera berbalik


Mata hitam pria itu sangat pekat dan cukup licik. Latizia mundur menjaga jarak aman agar ia tak di desak.


"Kenapa kau mengejarku?"


"Karena kau punya bahan langka!"


Latizia mematung. Ia tak tahu betapa spesialnya ini bagi para klan misterius yang seperti Alkemis kejam.


"Aku tak akan menyerahkan anakku!"


"Kami tak pernah meminta," Desis pria itu mengangkat tangannya hingga Latizia terseret paksa.


Lehernya di cekik dengan kuat sampai Latizia memukul-mukul lengan pria ini tapi tak juga bisa lolos.


"L..lepass!!"


"Dalam beberapa minggu saja dia bisa membuat seluruh indra di tubuhmu meningkat. Ini akan luar biasa jika si campur dengan racikan lain!"


Mendengar anaknya ingin di jadikan bahan percobaan, amarah Latizia tentu langsung mengubun.


"KAU SEHARUSNYA TAK LAHIR DARI RAHIM SEORANG WANITA!!!" Teriak Latizia menerjang ************ pria itu dengan kakinya hingga cekikan terlepas.


Dengan nafas memburu Latizia menatap semua orang yang mengelilinginya dengan marah.


"Siapa orang pengecut yang ada di belakang kalian?? Apa dia itu siput atau kerang yang hanya bersembunyi, haaa???"


"W..wanita sialan," Desis pria yang tadi menerima terjangan kaki jenjang Latizia. Kekuatan wanita ini berlipat ganda apalagi bagian intinya terasa mau pecah.


"Kau hanya budak dari orang-orang yang menyuruhmu. Sangat MENYEDIHKAN!"


"LENYAPKAN WANITA INII!!" Keras pria itu tak tahan dengan mulut Latizia yang melihat jika ia akan di cabik oleh pisau-pisau tajam itu dan..


......


Vote and like sayang..

__ADS_1


__ADS_2