GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Ingin mencelakai


__ADS_3

Latizia dan putri Athena tengah berjalan menyusuri Mall besar pertama di kota ini. Mereka sedari tadi tampak sibuk tapi sebenarnya bukan mereka, lebih tepatnya putri Athena-lah yang terus mendesak Latizia untuk memilih pakaian yang sangat mewah dan beragam di tempat ini.


"Ambilah apapun yang kau mau. Dan pilihkan satu untukku, ya?"


"Tak perlu. Aku pilihkan pakaian untukmu saja," Tolak Latizia halus segera masuk ke salah satu toko besar dengan brand ternama.


Putri Athena mengikuti Latizia yang sangat  cantik dengan stelan kasual namun anggun miliknya.


"Menurutmu aku cocok memakai apa?"


"Tubuhmu lebih tinggi dariku. Tampaknya ini bagus!"


Mengambil gaun Tea length dress. Jenis gaun ini memiliki siluet full circle di bagian tengah betis yang terinspirasi dengan gaya vintage. 


Dari sini saja putri Athena kagum akan selera Latizia yang sangat elegan dan pandai memilih pakaian.


"Aku suka gaun ini. Dulu prince Milano sering memilihkan pakaian seperti ini untukku."


"Benarkah?" Tanya Latizia seakan tak terusik padahal tangannya ingin sekali mencabik-cabik Milano.


"Yah. Kami memang cukup dekat bahkan nyaris mau bertunangan tapi, prince Milano di jodohkan dengan putri Veronica."


"Brandal satu itu tak pernah memberitahuku soal ini," Batin Latizia mengumpati Milano.


Melihat Latizia yang tampak tak begitu menunjukan respon aneh, tentu saja putri Athena semakin gencar menggali hubungan wanita itu dan Milano.


"Aku lihat, kau cukup dekat dengan prince Milano."


"Yah. Cukup dekat," Jawab Latizia seraya memilih-milih model pakaian yang lain.


"Apa kau bisa membantuku?"


"Apa?" Tanya Latizia tak begitu meladeni.


"Aku.."


"Ini juga bagus untukmu!" Sela Latizia memilihkan satu rok denim pendek yang di sodorkan pada putri Athena.


"Bagus. Kau pilih saja."


"Baiklah. Aku akan pilih punyaku," Gumam Latizia segera berjalan menuju deretan gaun pesta.


Ia ingat jika festival di kerajaan Artefea akan di adakan dua hari lagi. Lumayan memanfaatkan putri Athena untuk membeli gaun baru, pikir Latizia yang cukup kesal dengan wanita itu.


Ia berjalan sendirian dimana ada beberapa staf toko yang membiarkannya berkeliaran.


Pandangan Latizia terhenti pada satu gaun yang ada di dalam kaca spesial dengan model simpel tapi sangat elegan berwarna hitam dengan pernik berlian di pinggangnya.


"Ini gaun termahal di sini, putri! Gaun ini di rancang oleh desainer legendaris yang kebetulan ini rancangan terakhirnya," Jelas salah satu staf yang tadi memantau Latizia.


"Sangat unik dan penuh arti. Aku yakin dia mencampurkan emosi saat mendesainnya."


"Desain apa?" Tanya putri Athena yang tiba-tiba bergabung. Ia menatap ke arah lemari kaca gaun simpel tapi mewah itu lalu beralih pada Latizia.


"Apa kau tertarik dengan gaun ini?"


"Yah. Cantik jika di pakai ke pesta," Jawab Latizia tapi bagi putri Athena, pilihan Latizia ini pasti punya sesuatu yang spesial.


Tak akan ia biarkan Latizia menjadi pusat perhatian apalagi sampai menarik minat prince Milano.


"Apa boleh aku memilikinya?"


Latizia diam sejenak. Sekarang ia tahu maksud putri Athena mengajaknya berbelanja.

__ADS_1


Wanita ini hanya ingin menyelidiki seberapa dekat ia dengan Milano dan mulai menguji keterampilannya.


"Apa putri Latizia keberatan?"


"Tentu tidak. Gaun ini pantas untukmu!" Jawab Latizia tersenyum santai. Putri Athena mulai bertransaksi dengan staf toko itu membuat Latizia jengah.


"Sedari tadi dia selalu menguji kesabaranku," Gumam Latizia tak berminat lagi untuk memilih pakaian.


Drett..


Ponselnya menyala. Ada nama BRANDAL MESSUM di sana dan siapa lagi kalau bukan Milano.


"Apa?" Ketus Latizia langsung menjawab pedas.


"Kau tampaknya sangat senang."


"Senang apanya?! Sedari tadi kakiku pegal berjalan di mall sebesar ini," Gerutu Latizia seraya memukul-mukul pelan betisnya.


"Kau di mall?"


"Iya, kenapa?"


"Dengan siapa?"


Pertanyaan Milano sukses membuat Latizia mendidih. Ia mengambil nafas dalam mencari tempat duduk yang bagus untuk mengomel.


Pilihan Latizia jatuh pada satu sofa di sudut ruangan. Ia duduk seraya berselonjoran.


"Kau masih bertanya aku pergi dengan siapa, ha?"


"Dengan siapa?" Tanya Milano agak menahan suara geli karena pasti ia sudah tahu jawabannya.


"Dengan MANTAN KEKASIHMU. Dengar? KEKASIH seorang PRINCE MILANO!!" Tekan Latizia mengolok-olok cerita putri Athena tadi.


Terdengar suara kekehan kecil yang langka dari Milano yang baru kali ini terdengar. Tampaknya hanya Latizia yang bisa membuat Elang Madison itu berubah.


"Cih, sudah jelas dimana-mana ada bekasmu," Ketus Latizia masih saja mengungkit-ungkit hal itu.


"Jangan di pusingkan. Mereka hanya membual."


"Tapi, dia bilang kalian sudah mau bertunangan, apa benar?" Selidik Latizia mencari tahu.


"Tidak. Dia yang terlalu serius."


Latizia menghela nafas. Ia tak begitu percaya ucapan putri Athena tapi tetap saja, ada rasa jengkel kala wanita itu seperti lebih tahu darinya.


"Baiklah. Kau lanjutkan pekerjaanmu!"


"Latizia! Aku ada perjalanan bisnis dua hari yang mendesak." Pamit Milano pada Latizia yang seketika murung.


"Lalu?"


"Aku akan pergi sore ini. Tak sempat pulang ke istana dulu," Jawab Milano juga tampak berat tapi jadwalnya cukup padat.


"Aku mengerti."


"Kau tak marah-kan?!" Tanya Milano was-was.


"Tidak. Tapi, jika kau macam-macam aku juga akan mencari penggantimu," Ancam Latizia hingga keduanya hanya saling mengancam sampai putri Athena muncul.


"Mantan-mu datang. Nanti lagi, ya?!"


"Latizia!" Kesal Milano tapi Latizia lebih dulu mematikan panggilan dan berdiri.

__ADS_1


"Sudah?"


"Yah. Kau bicara dengan siapa?" Tanya putri Athena menyelidik.


"Temanku. Kalau tak ada lagi, kita bisa pergi?"


"Kau tak beli pakaian?" Tanya putri Athena tapi Latizia tampak tak berminat.


"Tak ada yang-ku suka."


Putri Athena mengikuti Latizia yang berjalan lebih dulu keluar toko.


"Putri Latizia! Apa kau bisa membantuku?"


"Aku rasa putri Athena tak kekurangan orang penting," Jawab Latizia masih sopan.


"Tapi, hanya kau yang bisa membantuku."


Langkah Latizia langsung terhenti di dekat eskalator Mall. Ia menatap tegas putri Athena yang semakin tak tahu diri.


"Aku mohon, bantu aku!"


"Putri! Aku tak punya kuasa apapun untuk membantumu, paham?"


"Tapi, ini soal prince Milano!"


Sontak saja Latizia membuang muka. Ia segera terkejut kala putri Athena mengatupkan kedua tangan padanya membuat para pengawal yang tadi berjaga di sekeliling langsung mendekat.


"Aku mohon. Bantu aku!"


"Kau.."


"Putri! Ada apa?" Tanya mereka berkerumun.


"Putri Latizia. Aku mohon!"


Latizia diam sejenak. Ia melihat ke sekeliling mereka yang banyak orang dan tentu ini tak baik.


"Bantu aku mendekati prince, Milano!"


"Kau seharusnya tak memohon padaku. Jika kau ingin mendekatinya, tanyakan padanya apa dia mau di dekati olehmu," Tekan Latizia segera turun dari eskalator menuju lantai bawah.


Seketika putri Athena menggeram. Ia mengepal melihat Latizia yang begitu angkuh dan sangat menyebalkan.


"Aku tak ingin tahu apapun alasannya. Cepat kalian beri dia pelajaran!"


"Baik, putri!"


3 pengawal itu segera mengejar Latizia yang sudah keluar dari mall. Mereka memasang masker agar tak terlalu menonjol dikalangan masyarakat.


"Jangan sampai kita ketahuan."


"Cukup dorong dia ke tengah jalan!"


Bisik mereka segera berpencar ke arah Latizia yang tengah menelpon orang istana untuk menjemputnya.


Latizia berdiri tak jauh dari jalan yang sangat ramai. Ia menutupi separuh wajahnya dengan kerah dress yang ia pakai agar tak terlalu mencolok.


Saat 3 pria itu ingin menyenggolnya, tiba-tiba saja Latizia berbalik dan menghindar. Alhasil merekalah yang jatuh ke area jalan hampir di tabrak mobil.


Putri Athena yang melihat dari depan Mall sana tentu saja sangat geram. Bisa-bisanya Latizia tahu keberadaan 3 pengawalnya yang tak biasanya ketahuan.


"Wanita ini memang cukup pintar. Tunggu saja permainan selanjutnya."

__ADS_1


....


Vote and like sayang..


__ADS_2