GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Pemeriksaan Latizia


__ADS_3

Pagi ini tiba-tiba saja pasien yang datang ke rumah sakit semakin membeludak. Rata-rata semuanya adalah penduduk Madison yang tinggal di pesisir dengan keluhan rasa gatal yang luar biasa sampai seluruh kulit mereka melepuh.


"Kenapa bisa begini?" Bingung Latizia berdiri di teras rumah sakit melihat banyaknya korban yang datang bersama Milano di sampingnya.


"Milano!"


"Mereka terkena wabah penyakit seperti yang di lakukan pada kerajaanmu dulu," Jawab Milano membuat Latizia terkejut.


"Bagaimana bisa? Bukankah kau melindungi wilayah kerajaan?"


Milano menghela nafas berat. Ia memang sudah membuat portal pelindung tapi saat bertempur dengan guru Teans, pria itu sempat mengirim racun ke area Madison dan Garalden.


"Kau tenang saja. Mereka akan ditangani."


"Tapi, wabah ini tak main-main. Jika sudah terjangkit satu saja maka pasti akan menular pada yang lain," Resah Latizia sesekali melihat anggota medis yang bergerak cepat menangani para masyarakat yang di boyong ke dalam rumah sakit.


"Jangan sentuh mereka yang terkena wabah ini!"


"Milano! Kau jangan bicara seperti itu. Sekarang kita harus membantu mereka," Tegas Latizia tapi ia tak tahu seberapa besar bahaya dari wabah itu.


Milano yang sangat geram dengan pria bajingan bernama Teans, hanya bisa menahan amarahnya.


"Kau sedang hamil. Jangan ambil resiko yang besar."


"Tapi,.."


Kalimat Latizia berhenti kala mobil Darren sudah terparkir di depan rumah sakit. Pria itu keluar dan mendekati Milano yang menatapnya penuh isyarat.


"Prince! Semuanya sudah siap."


"Hm, ayo pergi!" Ajak Milano menarik tangan Latizia lembut.


Mau tak mau Latizia harus menurut masuk ke mobil. Ia masih melihat ke luar jendela dimana banyak yang berdatangan di awasi oleh pihak kepolisian.


"Kita kemana?"


"Ke lab. Kau harus di periksa secara menyeluruh," Jawab Milano seraya memainkan ponselnya dengan satu tangan menggenggam jemari Latizia di pahanya.


Darren yang sudah duduk di kursi kemudi segera melajukan mobil itu stabil keluar area rumah sakit. Di sepanjang jalan kota, mereka bisa melihat kepanikan masyarakat atas wabah yang datang secara tiba-tiba ini.


"Milano!"


"Hm?"


"Kenapa aku harus di periksa?! Seharusnya kak Franck yang harus di tangani dengan serius," Bingung Latizia tapi Milano segera membekap mulutnya.


"Belakangan ini kau sangat sulit di atur. Perlu-ku ajari cara menurut yang benar?!"


"Memangnya aku peliharaanmu. Menyebalkan!" Umpat Latizia mengigit tangan Milano tapi tak begitu kuat.


Latizia beralih memeluk lengan kekar Milano dan menyandarkan kepalanya ke bahu kokoh itu. Ntahlah, perasaan ingin selalu bersama pria ini membuatnya lupa diri.


"Begini lebih baik," Gumam Milano membiarkan Latizia bersandar padanya.


Tapi, beberapa saat kemudian Latizia ingat jika besok adalah festival besar di kerajaan Artefea, ia belum meminta izin.


"Milano!"


"Hm?" Jawab Milano tapi fokus pada ponselnya. Ntah apa yang lebih menarik di sana Latizia penasaran.


"Boleh aku pergi besok?"


"Kemana?" Tanya Milano tanpa mengalihkan pandangan.


"Boleh atau tidak. Itu saja jawabannya."


"Boleh."


"Serius?" Tanya Latizia yang kegirangan bukan main. Milano tak begitu fokus karena ada laporan dari anggotanya yang ada di pesisir.


"Hm. Perlu persiapan yang matang!" Gumam Milano tapi itu membahas soal laporan anggotanya bukan Latizia yang tampak senang.


"Kau tenang saja. Aku tak akan mempermalukan kerajaanmu!"


Milano hanya menatap kilas Latizia. Ia kembali fokus pada ponselnya sementara Latizia justru memikirkan, bagaimana suasana festival itu besok?! Pasti sangat meriah.


Tak beberapa lama mereka mulai sampai di sebuah gedung yang besar dengan penjagaan ketat di sekitarnya.


"Lab-nya sangat luas. Apa ini punyamu?" Tanya Latizia menatap kagum ke luar jendela mobil.


"Hanya cabang dari perusahaan MA. Lab utama ada di tempat lain.


"Luar biasa. Pasti butuh dana yang besar membangun ini," Decah Latizia sampai mobil mereka masuk ke loby.


Darren lebih dulu turun dari mobil yang di sambut oleh dua orang penjaga disini.

__ADS_1


"Prince!" Sapa mereka kala Milano dan Latizia sudah keluar.


Milano hanya mengangguk berjalan masuk ke arah pintu kaca besar gedung berbentuk cakram ini. Latizia hanya mengikuti Milano dengan tangan selalu di genggam oleh pria itu


Tempat yang begitu luas dan canggih. Milano memang sangat hebat, pikir Latizia kala mereka selalu di sapa para staf lalu masuk ke dalam lift yang segera membawa ke ruang bawah tanah khusus untuk penelitian intens.


"Apa aku akan di suntik?" Bisik Latizia ke telinga Milano yang tadi begitu serius.


"Menurutmu?"


"Tapi, kau bilang hanya memeriksa kehamilan. Tak perlu sampai di suntik-kan," Cemas Latizia takut.


"Jika tak menurut, mereka akan membiusmu!"


"Aku menurut. Sangat menurut," Jawab Latizia buru-buru mencari jalan aman.


Darren yang mendengar itu hanya tersenyum kecil. Ia tahu semua yang terjadi karena semalam saat Latizia tidur, Milano sibuk mengumpulkan data masa kecil Latizia.


Tak beberapa lama, lift itu terbuka memperlihatkan seorang pria berpakaian rapi sudah menunggu dengan nampan besi berisi perlengkapan keamanan.


"Silahkan, prince!"


"Semuanya aman?" Tanya Milano seraya mengambil mantel putih di atas benda itu dan memakainya.


"Sudah di pastikan aman, prince! Tak akan membahayakan ibu hamil."


"Mereka membicarakan aku?!" Batin Latizia penasaran.


Pria itu mengiring mereka ke arah dinding berlapis baja yang tampak rata dan tebal. Ia menempelkan kartu namanya di sana dan dinding itu terbuka otomatis.


"Silahkan, prince!" Ucap pria itu mundur.


Latizia melihat sebuah ruangan yang begitu besar dimana banyak sekali orang yang berpakaian sepertu ilmuan tengah sibuk dengan peralatan laboratorium yang terlihat aneh bagi Latizia.


"Ruangan putri ada di block C! Saya akan mengantarnya!"


"Pergilah!" Pinta Milano pada Latizia yang menurut segera pergi dengan pria itu.


Ia sesekali melihat Milano yang tetap memandang dari arah belakang.


"Ini hanya pemeriksaan kehamilan bukan?! Kenapa harus serumit ini?" Gumamnya pada pria paruh baya itu.


"Prince selalu ingin yang terbaik untukmu, putri!"


Sementara Milano, ia segera pergi ke ruangan khusus untuk pemeriksaan Latizia. Sebuah pintu baja terbuka untuknya memperlihatkan mesin MRI berbentuk seperti tabung yang dikelilingi oleh magnet melingkar yang besar.


"Prince! Apa putri sudah siap?" Tanya Profesor Lineaus yang tadi ada di dalam.


Pria paruh baya dengan kacamata itu tampak masih bugar tapi dari penampilannya yang rapi menjamin kejeniusannya.


"Dia akan merepotkan mu dengan banyak pertanyaan."


"Saya sudah mempersiapkan diri, prince! Putri memang sulit di bohongi," Jawab Profesor Lineaus mengerti.


"Jelaskan prosedurnya!" Titah Milano mendekat ke arah layar besar monitor di samping mesin pemindai ini.


"Saya akan memeriksa struktur tubuh putri terlebih dahulu. Menurut data yang di berikan, putri mengalami patah tulang di waktu kecil. Mungkin di titik ini bisa menjadi petunjuk."


"Hm. Periksa sumsum tulangnya!"


"Saya mengerti, prince!" Jawab Profesor Lineaus mengangguk tapi segera tersenyum di balik maskernya kala Latizia sudah datang dengan pakaian pasien berwarna biru.


"Silahkan berbaring di sini, putri!" Menunjuk bangkar di dekatnya.


Dalam pemeriksaan MRI, pasien ditempatkan di tempat tidur yang kemudian dimasukkan ke lubang magnet. Latizia tahu itu tapi cukup gugup.


"Berbaringlah!" Pinta Milano karena tahu Latizia takut.


"Tidak di suntik-kan?" Cicitnya kala mendekat.


"Berbaring yang benar!"


Latizia dengan hati-hati berbaring di atas bangkar itu. Profesor Lineaus mendorong bangkar itu masuk ke dalam tabung besar MRI.


"Rileks. Sepertinya putri tak pernah menjalani pemeriksaan seperti ini."


"Memang tidak. Hanya saja prince-mu terlalu perfeksionis," Lirih Latizia agak kesal membuat Profesor Lineaus tersenyum kecil.


Mesin itu mulai bekerja menyinari tubuh Latizia dengan cahaya biru yang memindai seluruh tubuhnya.


Milano terus melihat area monitor bersama Darren yang jujur tak begitu paham soal pemeriksaan ini.


"Nona mengalami patah tulang di kaki bagian kiri. Tampaknya tak ada bekas apapun, prince!"


"Ambil hasil uji sampel darah Latizia!" Pinta Milano pada Darren yang segera keluar dari ruangan.

__ADS_1


Ia membiarkan profesor Lineaus terus mengarahkan Latizia yang mulai naik pada tahap pengujian rangsangan sel.


"Kau bilang tak ada suntikan!!" Panik Latizia kala melihat profesor Lineaus mengambil jarum injeksi yang sudah di isi dengan cairan khusus.


"Putri! Ini tak sakit. Hanya vitamin untuk janin-mu saja."


Latizia diam menatap Milano yang mendekat ke arahnya.


"Apa bayiku baik-baik saja? Kenapa kalian sangat serius?"


"Kandunganmu lemah. Kau harus mendapat suntikan hormon yang baik," Jawab Milano mengusap kepala Latizia yang diam sejenak.


"Baiklah."


"Ini untuk bayi kita," Gumam Milano lembut pada Latizia yang kembali berbaring dengan benar.


Profesor Lineaus saling pandang dengan Milano yang mengangguk. Latizia memejamkan matanya dengan satu tangan mencengkram lengan kekar Milano kala jarum itu mulai menusuk kulit lengannya.


"A..***!!"


"Tahan. Ini hanya sebentar," Ucap Milano menggenggam tangan Latizia yang sangat phobia dengan jarum.


Setelah melakukan injeksi itu, profesor Lineaus melihat bekas suntikan tadi jadi di penuhi memar dan merah meradang.


"Prince! Saya ingin bicara denganmu!" Ekspresi yang sangat serius.


"A..ada apa?" Tanya Latizia cemas.


"Istirahatlah dulu! Aku akan melihat hasilnya, hm?!"


Latizia diam membiarkan Milano dan profesor Lineaus keluar dari ruangan. Pria paruh baya itu membuka maskernya diiringi helaan nafas ringan.


"Apa yang terjadi?"


"Saya sudah memeriksa semua diagnosa penyakit bawaan putri dari semalam. Penyakitnya bukan bawaan melainkan efek dari sesuatu yang sudah di tanam di dalam sumsum tulang dan selnya dari sejak kecil."


Milano terdiam. Kedua tangannya mengepal erat mulai paham, apa yang di lakukan guru Teans pada Latizia sampai wanita itu jadi begini.


"Setelah memeriksa semuanya. Saya yakin jika orang itu telah memasukan selnya dalam tubuh putri saat kecil hingga sel itu memenuhi tubuhnya sampai dia dewasa. Bisa di katakan, tubuh putri sudah menyatu dengan cairan itu sampai ke tulang sumsumnya sendiri."


"Jadi, apa dia bisa sembuh?" Tanya Milano sangat kelut.


"Prince! Dalam dunia medis mungkin ada harapan tapi, kau tahu sendiri jika ini sudah di campur dengan kekuatan yang aneh. Sel itu sudah mendarah daging di tubuh putri."


Milano seketika diam menatap ke sela pintu. Tampak jelas Latizia masih berbaring di atas bangkar dengan kecemasan mengusap perutnya.


"Cairan yang tadi saya suntikkan itu akan melihat seberapa agresif sel di tubuh putri. Jika ini terlalu agresif maka, akan mengancam pertumbuhan janinnya."


"Dia sangat menyayangi bayi itu," Gumam Milano dengan kedua tangan mengepal. Ingin sekali ia mencabik-cabik tubuh bajingan tua itu tapi, Latizia akan ikut merasakannya.


Tak berselang lama, Latizia mulai menunjukan tanda-tanda reaksi dari apa yang tadi di masukan ke dalam tubuhnya.


"K..kenapa?" Gumam Latizia kala kulitnya mukai di penuhi memar yang sangat sakit.


Milano yang melihat itu segera ingin masuk tapi segera di tahan profesor Lineaus.


"Biarkan, prince!"


"Dia kesakitan. Kau tak lihat ituu!!" Geram Milano gelisah.


"Jika kita hentikan sekarang. Maka, kita tak akan tahu sejauh mana sel darahnya akan melawan. Hanya ini cara untuk melihat seberapa kuat mereka bertahan dalam tubuh putri."


"S..sakiit, hiks! I..ibuu!!!" Teriak Latizia merasa kulitnya akan terbakar.


Seluruh tubuhnya mulai di penuhi bintik merah dan memar biru sampai ke area wajah. Milano yang melihat dari balik pintu sana di buat sesak bahkan matanya mengigil segera memalingkan wajah yang tak kuasa melihat Latizia kesakitan seperti itu.


"P..panas, hiks! Panaas!!"


"Hentikan ini!" Geram Milano sudah tak tahan mendengarnya.


"Prince! Kau sudah mengambil keputusan untuk memeriksa, putri! Ini sudah terlambat untuk berhenti," Jelas profesor Lineaus paham perasaan Milano.


Latizia terus mengerang sakit sampai tak sadarkan diri di atas bangkar barulah profesor Lineaus masuk. Mereka di buat terkejut melihat tubuh Latizia sudah seperti kepiting rebus yang sangat merah memanas.


"Latizia!" Cemas Milano tapi ia tak di perbolehkan menyentuh wanita malang itu.


"Tenanglah, prince! Dia akan baik-baik saja. Sel di tubuhnya berhasil mengeluarkan cairan itu kembali dan dia berhenti bereaksi."


Darren yang tadi baru kembali setelah mengambil hasil sampel darah Latizia, dibuat syok melihat keadaan wanita itu.


"N..nona!"


....


Vote and like sayang

__ADS_1


__ADS_2