GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Ingin tampil seksi


__ADS_3

Milano mengira jika Latizia akan segera membaik saat esok harinya sesuai perkataan Darren tapi, sayangnya hal itu benar-benar tak terjadi.


Malangnya lagi, Latizia tak memperbolehkan tiga pria itu terutama Milano menginjak ruang rawatnya. Alhasil, dari semalam Milano kurang tidur karena bertengkar dengan Latizia yang tahu saja ia menyelinap ke atas tempat tidur.


Pagi ini contohnya. Latizia hanya mau berbicara dengan dokter Dee yang sudah mengantarkannya makanan sekaligus pakaian.


Latizia yang sudah anggun dan cantik dengan Floras dress pattern motif bunga kecil tanpa lengan itu tengah menata rambutnya di depan kamera ponsel.


Ia tiba-tiba saja ingin tampil lebih feminim dan tentunya cukup seksi dengan bagian bahu terbuka.


"Nona! Nanti kau kedinginan. Aku sudah menyiapkan blazer untukmu!"


"Tidak perlu. Aku tak kedinginan," Jawab Latizia mengurai rambut panjangnya indah lalu agak menurunkan gaun seperti kemban yang di pinggangnya cukup ketat.


Dokter Dee merasa terkesima dengan tubuh mulus jenjang dan pulen Latizia. Kulit putih bersih tanpa noda yang begitu glow lembut dan harum. Siapa yang tak akan iri dengan ini?!


Tapi, yang dokter Dee khawatirkan adalah respon prince-nya. Dress ini termasuk pendek hanya sejengkal di atas lutut bahkan separuh paha seksi Latizia terlihat menggiurkan.


"Nona! Ini terlalu seksi untukmu."


"Kenapa? Aku tak boleh tampil seksi?" Tanya Latizia dengan nada ketus. Dokter Dee yang tahu Latizia sedang tak dalam mood yang baik segera menggeleng.


"Tidak. Nona seksi dan sangat mempesona."


"Hm, memangnya mereka saja yang bisa tampil seperti ini?!" Gumam Latizia hanya bisa di dengar telinganya sendiri.


Setelah memoleskan lipstik di bibirnya Latizia segera berpose bak model internasional. Ia membuat dokter Dee terkagum-kagum dengan pesona seorang Latizia.


"Nona! Kau memang sempurna."


"Ayo temani aku menemui seseorang," Ucap Latizia mengambil kacamata di atas ranjang lalu memakainya.


Tak ada bekas luka apapun di wajah Latizia selain kemerahan di pelipis karena buka perban.


"Nona ingin belanja!"


"Tidak. Aku ingin berbisnis," Santai Latizia meraih ponsel dan beberapa kertas yang semalam ia kerjakan.


Dokter Dee yang tak bisa menolak hanya menurut saja. Ntah apa yang terjadi kalau sampai prince-nya tahu jika Latizia pergi dari rumah sakit dengan penampilan seperti ini.


"Sebaiknya aku berjaga dengan membawa blazer," Batin dokter Dee meraih blazer di atas ranjang dan berlari kecil mengikuti Latizia.


Di luar ruangan tak ada siapapun. Sepertinya Milano ada urusan hingga tak lagi muncul pagi ini setelah semalam di marahi habis-habisan oleh Latizia.


"Nona! Kau yakin ingin keluar? Prince bisa marah."


"Itu bukan urusannya. Dia saja keluar tak pernah bilang padaku!"


"Tapi.."


Dreet..


Ponsel Latizia berdering. Wanita itu melangkah ke dalam lift seraya menjawab panggilan itu.


"Kau sudah sampai?"


"Sudah. Aku di depan rumah sakit yang semalam kau kirim alamatnya."


Suara Ximus yang terdengar gembira dan tam sabaran.


"Aku akan turun sebentar lagi."


"Yah. Disini tak ada media, kau bisa santai."


Latizia hanya diam mematikan sambungan. Ia beralih menatap dokter Dee yang tadi ikut masuk ke dalam lift yang belum turun ke bawah.


"Aku pergi sendiri saja."


"Tidak, nona! Prince bisa.."


"Berhenti membahas dia. Kau bisa bekerja atau bersantai," Sela Latizia mendorong pelan dokter Dee keluar lift lalu ia memencet tombol lantai bawah.


"Nona! Jika prince bertanya, apa yang harus-ku katakan?"

__ADS_1


"Bilang saja aku sedang kencan," Asal Latizia malas. Dokter Dee yang terkejut tak sempat menyangga karena pintu lift sudah tertutup membawa Latizia ke lantai bawah.


"Aku harus kembali membangun bisnis bunga kerajaan. Dengan bekerjasama dengan Ximus pasti akan lebih mudah," Gumam Latizia yang punya tujuan utama.


Ia ingin kembali membangun bisnis kerajaan Garalden melalui Ximus yang juga butuh pasokan. Lagi pula, sayang sekali jika ia melewatkan kesempatan itu.


Tak berselang lama, Latizia tiba di lantai bawah. Rumah sakit ini cukup ramai ketika di area lain. Tapi, saat di lantai ruang rawatnya semua sepi seakan hanya khusus di siapkan untuknya.


"Aku pikir rumah sakit ini dulunya kosong," Gumam Latizia melihat banyak suster dan orang-orang yang sibuk hilir mudik.


Karena berkacamata dengan tampilan berbeda ini, Latizia jadi tak di kenali. Ia keluar dari pintu kaca lebar rumah sakit dan melihat kiri-kanan.


"Dimana dia?" Gumam Latizia pergi ke depan. Saat sudah sampai ke teras Latizia melihat Ximus yang tengah bersandar di mobilnya seraya memainkan ponsel.


"Apa kau sibuk?"


"A..kau.."


Degg..


Mata Ximus hampir saja mau keluar melihat penampilan berbeda Latizia hari ini. Ia sampai terperangah dengan tatapan tak berkedip melihat dari ujung rambut sampai heels yang di pakai Latizia.


"Kau sibuk?"


Ximus belum ngeh. Ia terbuai dengan keindahan tubuh wanita ini sampai Latizia membuka kacamatanya.


"Jika kau sibuk maka, lain kali saja!"


"A..t..tunggu!"


Ximus menahan lengan Latizia yang ingin berbalik pergi. Dengan wajah canggung dan cukup bersemu, Ximus mencoba bersikap normal.


"Maaf, aku hanya terkejut denganmu. K..kau tak biasanya seperti ini."


"Apa terlihat jelek?" Tanya Latizia mulai tak nyaman. Ximus dengan cepat menggeleng dan mulai serius.


"Tidak, bukan begitu! Kau terlihat luar biasa dan menakjubkan tapi, aku hanya tak terbiasa melihatmu yang biasanya pakai pakaian tertutup."


Ximus mengangguk. Ia dengan canggung membuka pintu mobil di sampingnya mempersilahkan Latizia masuk.


"Silahkan, putri!"


"Jangan terlalu formal," Jawab Latizia masuk ke mobil.


Ximus yang merasa lebih dekat dengan Latizia ingin sekali berjingkrak kegirangan. Ia menahan diri agar tak berteriak bahagia sampai masuk ke mobil duduk di kursi kemudi.


"Aku turut berduka dengan kabar kematian Delvin."


"Itu lebih pantas untuknya," Gumam Latizia yang tak peduli soal itu.


Ximus hanya diam memahami. Ia melajukan mobil stabil keluar dari area rumah sakit menuju sebuah restoran yang ada di tepi pantai.


"Apa putri Veronica kembali ke kerajaanya?"


"Kerajaan mereka sudah hancur."


"Apaa??" Syok Latizia tak percaya. Ximus mengangguk dan tak ada ekspresi candaan sama sekali.


"Dalam satu malam kerajaan Sauveron di ledakan. Polisi menemukan jejak orang-orang Madison yang di periksa sekarang."


"Apa Milano yang melakukannya?!" Batin Latizia memikirkan pria brandal itu.


Melihat Latizia yang berpikir, Ximus langsung memberanikan diri untuk menyentuh punggung tangan lembut Latizia yang terperanjat segera menghindar.


"Aku baik-baik saja," Gumam Latizia menjaga jarak.


"Latizia! Maaf, semalam aku mengirim rekaman itu padamu."


"Hm, tak apa," Jawab Latizia santai.


"Aku hanya tak ingin kau terlalu dekat dengan Milano. Yah, aku tahu dia kakaknya Delvin tapi kau lihat sendiri-kan?! Dia bukan pria baik-baik."


"Dari mana kau tahu?" Tanya Latizia dengan rasa jengkel tiba-tiba datang.

__ADS_1


"Kerajaan-ku menangani kasus ini. Rumor tentang kenakalan prince Milano tak asing lagi bagi semua orang. Dia penjahat kelamin yang handal."


Latizia hanya diam. Ntah kenapa ia tak suka dengan pendapat Ximus. Walau hal itu benar tapi, ia rasa Milano hanya sedikit menyebalkan.


Merasa mood Latizia berubah total, Ximus merasa tak enak hati.


"Apa aku terlalu berlebihan?"


"Ini semua desain yang aku buat semalam. Kau bisa pilih mana yang terbaik."


Latizia menunjukan kertas-kertas di pangkuannya pada Ximus yang sesekali melihat dan fokus menyetir.


"Semuanya bagus. Aku ambil seluruhnya."


"Hey, nanti lihat baik-baik dan jangan asal bicara," Ujar Latizia tak mau berbisnis seperti itu.


Ximus tersenyum kecil. Ia semakin di buat jatuh hati pada wanita bermanik ungu mistik ini karena kejujuran dan sikap baiknya.


.....


Di kerajaan Madison. Milano tampak serius mencari sesuatu di kamar Raja Barack. Tak ada yang berantakan karena Milano sangat berhati-hati mencari jejak orang-orang misterius yang selama ini ada di balik kekuasaan Raja Barack.


Ia memakai sarung tangan karena tak meninggalkan sidik jari di tempat ini.


"Prince!"


Darren yang tadi mengeledah di kamar lain segera masuk. Ia mendekati Milano yang membuka laci dan beberapa vas di atas meja.


"Kau menemukan sesuatu?"


"Dokumen kepemilikan aset kerajaan sudah di ambil alih. Sesuai perintah-mu sebelumnya, kita ganti dengan yang palsu, Prince!" Jelas Darren mengurus soal berkas istana.


Milano tak menanggapi. Ia terlalu sibuk mencari racun yang dulu di gunakan untuk membunuh kakeknya agar bisa menemukan rantai kerjasama gelap ini.


"Mereka sangat berhati-hati selama ini. Kematian Delvin pasti tak akan membuat mereka bereaksi," Gumam Darren cukup penasaran siapa dalang dari permainan generasi itu.


Milano yang tadi diam mulai mendapat ide dari ucapan Darren.


"Prince! Ada apa?"


"Jika kematian Delvin tak menarik, bagaimana dengan kematian ayahnya?!"


Glek..


Seketika Darren tercekat. Raut wajah iblis Milano muncul dan kali ini bahkan lebih mengerikan dari sebelumnya.


"P..Prince!"


"Apapun harus di lakukan agar tikus itu keluar dari sarangnya," Gumam Milano dengan hawa membunuh yang kental. Ia memejamkan matanya sejenak mencoba menajamkan indra penciuman dan hawa sensitif disini.


Darren merasa mulai tak nyaman. Ia pergi keluar dari kamar membiarkan Milano menguasai ruangan itu dengan hawa intimidasi yang tak biasa bahkan ia mulai merasa merinding.


Drett..


Ponsel Darren berbunyi. Ada notif dari dokter Keanu yang mengirim pesan dan foto.


NONA BARU SAJA KELUAR BERSAMA XIMUS.


"Shitt! Wanita ini memang pendendam," Gumam Darren melihat foto Latizia yang masuk ke mobil Ximus.


Pakaian wanita ini memang mengajak berperang padahal masalah perang dinginnya dengan Milano masih belum usai.


"Bawa ke lab!"


"Prince!" Darren terperanjat saat Milano muncul di belakangnya melemparkan sebuah botol kecil sebesar botol vaksin yang sudah kosong ke arahnya.


Darren dengan cepat menangkap botol itu sampai ponselnya jatuh ke bawah tepat di dekat kaki Milano yang menatap layar benda itu.


"Gawat!" Gugup Darren saat melihat wajah Milano semakin beku. Rahangnya mengetat erat bahkan membuat Darren menelan ludah.


....


Vote and like sayang

__ADS_1


__ADS_2