
Pagi ini istana benar-benar ramai. Kelahiran baby Arch membuat satu istana heboh sampai-sampai para petinggi kerajaan berkumpul hanya untuk melihat bagaimana pesona prince kecil itu.
Menteri Ruud dan Menteri Bomell juga datang. Mereka semua berkumpul di luar kamar Latizia yang masih istirahat, jadilah mereka harus ekstra berhati-hati melihat bayi tampan di gendongan Franck yang memamerkan keponakan premiumnya.
"Sangat tampan!"
"Tak ada satu-pun yang menuruni, nona! Bagaimana ini?" Protes Grigel merasa kesal karena baby Arch menjiplak total wajah ayahnya.
"Sudahlah, masih ada yang kedua," Jawab Franck membuat mereka semua berbinar.
"Apa princess kecil juga akan ada?" Tanya mereka bersemangat.
"Tenang saja. Adikku sangat mahir dalam hal ini."
"Pangeran!" Gumam mereka hanya bisa tersenyum mendengar itu.
Sayangnya, mau bagaimana-pun mereka menyapa baby Arch tetap terpejam bahkan hanya menggeliat kecil begitu sombongnya.
"Pangeran! Bagaimana cara kita memberitahu orang luar soal kelahiran prince kecil?" Tanya Menteri Ruud risau.
"Iya, pangeran! Seperti yang kita tahu, putri Latizia dan prince Milano itu belum ada status pasti. Mereka masih di kenal kakak dan adik ipar," Timpal Menteri Bomell yang diangguki yang lain.
Franck terdiam segera menghela nafas. Ia tatap wajah tampan baby Arch yang tergolong sangat tenang di gendongannya.
"Ntahlah. Tapi, aku yakin adikku tak akan mundur untuk mengenalkan mereka ke seluruh dunia ini."
"Jika mereka tak paham soal apa yang terjadi, pasti mereka akan menyalahkan putri Latizia!" Gumam menteri Ruud menatap dalam wajah baby Arch.
Setelah beberapa lama kemudian, mereka dikejutkan dengan kedatangan putri Veronica.
Wanita itu tergesa-gesa berjalan mendekat ingin melihat baby Arch di gendongan Franck yang menjauhkan keponakannya.
"Kau ingin apa?"
"Melihat anakku!" Santai putri Veronica berdiri di hadapan Franck.
"Anakmu? Kau masih sehat?"
"Anak Latizia juga anakku. Berikan!" Paksanya sudah tak sabar tapi Franck takut jika wanita ular ini akan berbuat jahat.
"Jangan harap. Kau tak bisa menyakiti keponakanku!"
"Kauu.."
"Pangeran!" Lirih Grigel membisikan sesuatu pada Franck yang seketika terdiam.
"Nona sudah berteman dengannya, pangeran!"
"Kau yakin?" Selidik Franck waspada.
"Iya, pangeran! Nona sudah berdamai dengannya."
Franck ingin bicara dengan putri Veronica tapi sayangnya, wanita arogan itu segera melesat mengambil alih baby Arch dari gendongan Franck.
Walau masih kaku tapi putri Veronica tampak senang bukan main. Matanya memancarkan kekaguman sekaligus rasa bahagia seperti melihat anaknya sendiri.
"Sayang! Selamat datang di dunia baru!"
"Cih," Umpat Franck melengos kan wajahnya. Putri Veronica sibuk memuja-muja baby Arch yang membuka mata sebentar tapi kembali terpejam seperti tak begitu tertarik.
"Pangeraaan!!!"
Suara salah satu pengawal istana yang datang dengan wajah cukup khawatir. Ia memberi salam hormat pada Franck yang mengerutkan dahi.
"Ada apa?"
"Ada banyak media di luar istana. Mereka datang bersama rombongan penduduk yang kembali melakukan pemberontakan!"
__ADS_1
Franck tersentak. Ia menatap Grigel yang segera pergi turun ke lantai bawah begitu juga yang lainnya.
"Mereka memberontak lagi?" Tanya putri Veronica tampak cemas.
"Ini tak akan pernah berakhir."
"Jika tak segera di tangani, akan banyak peluang dari musuh dari luar untuk menghancurkan Madison!" Jelas putri Veronica pada Franck yang juga pusing.
"Kau bawa baby Arch ke dalam kamar. Aku akan turun melihat mereka."
"Aku mengerti," Jawab putri Veronica masuk ke dalam kamar Latizia.
Wanita itu tampak masih tidur di atas ranjang sementara Milano baru saja keluar dari kamar ganti karena baru selesai mandi.
Tatapan keduanya bertemu tapi, Milano segera memutus kontak matanya beralih mendekati ranjang Latizia.
"Sayang!" Panggilnya lembut duduk di samping ranjang.
"Latizia!" Menepuk halus pipi Latizia yang mulai terusik dan perlahan membuka matanya.
"Ehmm."
"Makan dulu. Nanti lanjutkan tidurmu, hm?"
Latizia diam mengerijabkan matanya. Kesadaran itu masih belum terkumpul beralih memandang putri Veronica yang hanya meredam rasa iri tapi ia tahu diri.
"Veronica?"
"Aku menjenguk anakmu!"
Latizia di bantu bersandar ke kepala ranjang oleh Milano yang menggulung rambut panjang wanita itu ke atas.
"Apa dia menangis?" Tanya Latizia menatap putri Veronica yang menggeleng.
"Tidak. Dia sangat tenang."
"Aku suka di repotkan oleh bayi tampan ini. Kau tak perlu sungkan."
"Terimakasih," Ucap Latizia yang pasrah di gendong Milano ke kamar mandi.
Putri Veronica menatap sendu semua itu. Ia melihat jelas jika Milano menjadi berbeda kala bersama Latizia, pria itu seperti bukan seorang laki-laki bajingan yang dulu hanya bermain-main saja.
"Dia memang beruntung," Gumam putri Veronica menghela nafas.
Tak berselang lama Milano menemani Latizia di dalam kamar mandi sana, tiba-tiba saja terdengar suara baku tembak di luar.
"A..apa yang terjadi?!" Panik putri Veronica terperanjat begitu juga Latizia yang tadi di bantu membersihkan diri oleh Milano.
"Milano! Apa ada yang menyerang istana?"
"Kau harus tetap di kamar, mengerti?" Tegas Milano tapi Latizia tak tenang.
"Tidak. Ini pasti soal wabah itu lagi. Aku sudah lelah!!" Emosi Latizia tak tahan lagi akan kekacauan ini.
"Aku akan menghadapi mereka. Aku yang.."
"Tetap disini!" Pinta Milano bergegas memakaikan Latizia handuk lalu menggendong kembali keluar.
Sudah ada dokter Dee yang masuk dengan wajah khawatir.
"Prince! Tiba-tiba saja ada banyak pemberontak yang menyerang istana!"
"Aku yakin mereka bukan hanya penduduk Madison. Pasti ada campur tangan wilayah lain," Timpal putri Veronica geram.
Milano diam tapi tersirat amarah berkobar di netra elangnya. Ia mendudukan Latizia di pinggir ranjang lalu berjongkok di hadapan wanita itu.
"Milano!"
__ADS_1
"Jangan keluar, hm?!" Milano mengecup kening Latizia lalu bangkit dan pergi keluar kamar.
Suara kekacauan di bawah sana membuat Latizia tak bisa tenang. Suara pecahan kaca dan tembakan beradu nyaring membuat kepanikannya meningkat.
"Nona! Tenang saja, prince pasti bisa menyelesaikan mereka," Ujar dokter Dee pergi ke kamar ganti mengambil pakaian Latizia.
Putri Veronica duduk di samping Latizia yang diam dengan pikiran melayang.
"Milano pasti bisa menanganinya."
"Tapi, sampai kapan?" Gumam Latizia sudah lelah. Dokter Dee datang membawa pakaian Latizia.
Wanita itu dengan telaten memakaikan terusan santai yang ringan di tubuh Latizia yang menatap sendu wajah putranya.
"Nona istirahatlah! Saya akan kupaskan buah untukmu!"
"Tak perlu," Gumam Latizia perlahan berdiri. Ia berjalan pelan ke arah balkon di ikuti putri Veronica dan dokter Dee yang saling pandang.
Latizia berdiri melihat ke sekitar istana yang bisa tampak dari sini. Banyak penduduk asli Madison yang melempar sampah ke dalam istana dan mereka meneriakkan kata-kata kasar yang menyakitkan.
"HANCURKAN SAJA KERAJAAN INI!!"
"DASAR TAK BERGUNA!!! LEBIH BAIK RAJA BARACK YANG ADA DI SANA!!"
"INI PASTI KESIALAN TUAN PUTRI GARALDEEN!!"
"LENYAPKAN SAJA WANITA ITU!!"
Teriak mereka bahkan memakai pengeras suara. Media yang hadir memanfaatkan keadaan untuk melakukan siaran ke seluruh stasiun tv tentang kacaunya istana sekarang.
"KELUAR KALIAN DARI MADISSON!!"
"BEBASKAN KAMII!!"
"USIR WANITA ITU DARI KERAJAAN INI!! KAMI TAK SANGGUP MENAHAN MALAPETAKA YANG DIA BAWAA!!"
"Sialan!!" Geram putri Veronica panas mendengar makian itu.
Latizia diam. Ia meremas pagar balkon kuat bahkan matanya dipenuhi oleh rasa benci dan emosi.
"Latizia! Kau jangan pedulikan mereka. Kau.."
"Berikan padaku!" Mengambil alih baby Arch dari gendongan putri Veronica.
Latizia duduk di kursi balkon beralih memberi asi pada baby Arch yang menatap hangat wajah ibunya.
"Dengan situasi seperti itu apa mereka akan menerima anakku?"
"Latizia! Milano pasti me.."
"Kau jangan sampai bercerai dari Milano!"
Mereka terdiam. Putri Veronica duduk di samping Latizia yang tampak sudah punya keputusan sendiri.
"Kau.."
"Aku hanya percaya padamu," Gumam Latizia tersenyum kecil beralih mengecup kening baby Arch yang terus memandangnya.
Mereka tak mengerti apa maksud Latizia sebenarnya. Ia terus melihat kekacauan di bawah sana bahkan, melihat jelas jika Milano berusaha memundurkan para penduduk Madison agar tak terkena lesatan peluru dari para suruhan wilayah lain itu.
Tapi, putri Veronica melihat ada yang ia kenal dari salah satu orang-orang misterius yang terlihat brutal menembak ke dalam istana.
"Ituu.."
"Kau mengenal mereka?" Tanya Latizia pada putri Veronica yang berdiri dengan marah.
"Latizia! Itu adalah pembunuh bayaran dari kerajaan kami. Aku kenal dengan mereka!"
__ADS_1
Vote and like sayang