
Sebuah ruangan bawah tanah yang lembab dan dingin. Ia di kurung di dalam jeruji besi yang rapat dengan dinding batu kokoh tanpa jendela atau pencahayaan.
Penerangan hanya di dapat dari bayang-bayang mentari di luar dari arah depan dimana ada cela kecil yang dapat meloloskan cahaya samar dan selebihnya hanya remang dan pengap.
"Bau bangkai ini sangat pekat," Gumam Latizia menahan nafas sebentar kala aroma bangkai yang ada di dalam ruang tahanan ini membuatnya ingin muntah.
Kedua tangan Latizia masih di borgol. Ia berdiri di dekat sel mengamati tempat sekitar. Jujur ia tak nyaman disini tapi, pikirannya juga harus tenang sekarang.
Tak lama berdiri di sana terdengarlah suara pergerakan dari luar jeruji. Latizia berbalik menatap waspada nuansa remang di depan yang tak cukup jelas.
"Apa ada orang?" Tanya Latizia melihat lebih intens.
Suara rantai di tarik dan langkah yang berat seperti menahan luka dari arah kegelapan.
"Apa ada orang?" Panggilnya lagi tapi sunyi. Latizia mendengar suara nafas yang agak kacau dan aroma busuk yang cukup mengocok perut.
"S..siapa?"
Brugh..
Latizia terkejut melangkah mundur saat seseorang menubruk jeruji di hadapannya. Wajah Latizia cukup cemas melihat sesosok pria berambut gimbal yang di penuhi debu memeggang jeruji besi di depannya.
"T..tuan!" Lirih Latizia membatu. Pria itu memakai mantel kumu terbuat dari kulit domba yang sudah kotor. Wajahnya tertunduk tak begitu jelas terlihat.
"T..tuan!"
"Huaaaa!!!" Teriak pria itu mengejutkan Latizia yang langsung merapat ke dinding. Wajah sosok yang sekarang seperti orang gila di depannya tampak jelas memprihatinkan.
"K..kau.."
"Cantik! Cantikku, ayo kesini! Ayo!"
Latizia pucat. Pria tua dengan kantong mata lebar dan jambang tebal itu mencoba meraih Latizia dari sela-sela besi. Tatapannya terlihat sangat misterius dan suka berubah-ubah.
"Kesini! I..ini ayah, ini ..ayah, sayang!" Racaunya lembut tapi segera menggila saat Latizia tak kunjung mendekatinya.
"Putriku!!! Kembalikan dia padakuu!!! Aku..aku akan melenyapkan mu!!" Teriaknya keras mengguncang jeruji itu tanpa henti.
Latizia yang penasaran sekaligus menahan takut hanya bisa merapat ke dinding ini. Semakin lama di pandang, pria itu semakin memberontak menciptakan suara yang sangat riuh.
"Putrikuuu!!! Mereka..mereka menipuku!! Aku..aku membunuh putrikuuu!!!"
"A..apa yang dia katakan sebenarnya?!" Batin Latizia mencoba memahami kegilaan pria ini.
Jeruji besi itu di pukul-pukul dengan keras membuat Latizia semakin berkeringat dingin. Pria ini punya hawa dendam, kebencian dan luka yang sangat dalam. Dia seperti ingin masuk dan mencabik-cabik Latizia.
"Kembalikan dia padakuuu!!!! Kembalikaan!!"
"A..aku tak tahu tentang putrimu. Tapi, tapi tenanglah dulu," Ujar Latizia mencoba menenangkan pria kacau ini.
Nafas sosok itu memburu tapi sudah berhenti memukul besi dengan ikatan rantai di tangannya.
"Tenanglah! Kita bicara baik-baik, hm?"
Latizia mencoba mendekat. Jantungnya berdegup kencang karna tatapan pria ini begitu tajam dan sangat ingin melenyapkan dirinya.
"Tenanglah! Jika kau terus memberontak maka penjaga di depan akan menyiksamu!"
"A..anakku!" Lirih pria itu parau dan pandangannya mulai sendu berkaca-kaca.
"A..anakku! Aku..membunuh anakku!"
Imbuh pria itu parau seperti sangat menyesali sesuatu. Latizia mengangguk paham berdiri di hadapan pria itu agar lebih bisa mengamati dari dekat.
__ADS_1
"Siapa yang membunuh anakmu?"
"D...dia! D..dia menipuku! D..dia.." Ucapan pria itu terhenti dan langsung menarik rambut Latizia yang terpekik saat kepalanya di benturkan ke besi baja ini.
"Kau membunuh putriku!!! Kau iblis penipu!!"
"L..Lepasss!!" Geraman tertahan Latizia mencoba melepaskan cengkraman pria ini tapi sangat kuat di rambutnya.
Kulit kepala Latizia seakan mau terlepas bahkan sekarang ada darah yang meleleh di pelipisnya.
"Kau pembunuuh!!" Teriak pria itu semakin menjadi-jadi. Karena tak ingin mati disini, Latizia langsung mengigit pergelangan tangan yang ada di dekat pipinya kuat hingga cengkraman pria itu terlepas barulah Latizia tersungkur ke lantai.
Darah itu menetes mengalir di pipinya. Latizia memejamkan mata karna pusing dan denyutan di kepalanya semakin tak tertahankan.
"K..Kepalaku!" Gumam Latizia dengan pandangan yang samar dan agak gelap.
Ia melihat sosok yang tadi melukainya kembali mendekat ke arah jeruji. Pria itu tertegun menatap Latizia yang juga memandangnya.
Darah yang mengalir seperti di tatap penuh makna olehnya. Latizia bingung, ia tak lagi mau mendekat tapi masih ingin tahu kebenaran.
"Siapa yang..membunuh putrimu?"
"K..kau hamil?"
Degg...
Latizia terkejut bukan main. Ia melihat dengan samar pria itu tersenyum dengan haru tapi juga tersirat kepedihan di sana.
"P..penerus Madison!" Gumam pria itu menundukkan kepalanya seperti memberi hormat pada Latizia yang memeggang perutnya.
"H..Hamil?" Lirih Latizia tak percaya.
"Kau!! Kau pergi dari sini! Mereka..mereka tak akan membiarkan anak itu lahir!!!" Ucapnya dengan raut wajah ketakutan.
"Tuan! Maksudmu aku.."
"Kau mengandung benih murni seorang penguasa! Elang Madison dan.."
"Tuaaan!!!" Teriak Latizia saat ada seseorang yang tiba-tiba menusuk pria itu dari belakang.
Waktu seakan terhenti. Pria itu muntah darah menatap sendu Latizia dan perlahan luruh tapi matanya masih berusaha terbuka.
"P..Pergi!" Lirihnya langsung tumbang tanpa nyawa.
Tatapan Latizia semakin sendu dan terluka. Pria itu sudah tewas berlumuran darah di tangan seseorang yang sekarang tersenyum puas melihat keadaanya.
"Woww, Latizia! Kau sangat terlihat menakjubkan!" Decah Delvin seraya menunjukan pisau di tangannya yang sudah berlumuran darah.
"K..kau membunuhnya," Gumam Latizia dengan wajah berubah keras dan tatapan penuh kebencian.
"Yah. Aku tak ingin di ganggu dengan suara berisiknya."
"Kau memang pria menjijikan," Geram Latizia mengetatkan rahang dan giginya rapat.
Delvin tersenyum kecut. Ia mengeluarkan kunci di sakunya dan membuka jeruji itu mudah.
"Ayolah! Di saat seperti ini kau masih berani memakiku, hm?"
Latizia membisu. Delvin melangkahi mayat pria tadi dan melempar kunci itu sembarangan tapi tatapannya begitu jahat.
"Latizia! Jika kau memohon padaku, aku akan mengampuni-mu sekarang!"
"Aku tak sudi!" Jawab Latizia membuat emosi Delvin semakin meluap-luap. Ia mendekat dan langsung mencekik leher Latizia yang tak bisa melawan karna kedua tangannya di ikat.
__ADS_1
"Kau memang begitu angkuh," Geram Delvin menguarkan cekikannya sampai wajah Latizia pucat karna tak bisa bernafas.
"K..kau..b..ba..jingan."
Plakkk..
Delvin langsung menampar Latizia yang segera terhuyung ke lantai dengan keras. Ia mengambil nafas cepat mengisi rongga dada yang sempat kosong dan terasa terbakar.
Tapi, seakan tak puas melihat ini. Delvin segera menarik rambut Latizia bangkit untuk mengadah padanya.
Senyum puas itu muncul melihat sudut bibir Latizia sobek dan pipi sebelah kiri wanita itu memar.
"Ouhh, ternyata penyakitmu belum juga hilang!" Ejeknya melihat bercak-bercak merah yang timbul di kening dan wajah Latizia.
"Sayang! Kenapa kau begitu keras kepala?! Bicaramu begitu pedas tapi kau tak bisa apa-apa."
"K..kau..kau dosa terb..besarku!" Gumam Latizia meludahi wajah Delvin hingga pria itu tak lagi tahan.
"Wanita sialan!!" Bentak Delvin mengayunkan ke arah dada Latizia yang memejamkan mata.
Jika aku mati hari ini aku hanya ingin semua rakyatku dan kerajaanku kembali berdiri. Batin Latizia pasrah dengan kematian. Terlintas wajah Milano di benaknya sampai Latizia merasa ajal akan datang padanya.
Tapi, sudah lama menunggu Latizia tak merasakan ada yang menusuk tubuhnya. Perlahan mata Latizia terbuka dan ..
Degg...
Mata Latizia melebar melihat Delvin yang tadi mengangkat pisau ke arahnya tiba-tiba mematung dengan mulut berdarah. Tubuh Delvin kaku dengan pisau yang terlepas dari tangannya.
"K..kau.." Lirih Delvin melirik ke belakang. Latizia syok setengah mati melihat Milano yang berdiri di belakang Delvin.
Wajah Milano begitu menakutkan. Tatapan membunuh dan hawa intimidasi yang kuat. Latizia sampai gemetar pucat mengarahkan pandangannya kebawah dimana darah kental dan amis menetes lancar di balik punggung Delvin yang ternyata sudah di tusuk Milano dengan tangannya.
"M..Milano!" Gumam Latizia mematung kosong.
Melihat luka di pelipis dan kondisi wajah Latizia yang penuh lebam dan bekas tamparan membuat darah di tubuh Milano mendidih. Matanya mengigil dengan kepalan tangan menguat.
"Berani kau menyentuhnya!" Bisik Milano menekan tangannya yang tadi sudah masuk ke dalam tubuh Delvin sampai tembus keluar membuat Latizia menjerit keras.
"Milanooo!!!"
Ia melihat dengan jelas jantung dan organ dalam Delvin yang di tembus oleh tangan kekar Milano yang sudah berlumuran darah.
Latizia gemetar dengan nafas tak stabil dan pandangan berputar gelap. Milano yang tak bisa mengendalikan dirinya lagi langsung merobek dada pria itu sampai Latizia tumbang tak sadarkan diri.
"Prince!!"
Darren yang baru datang langsung terpaku melihat tubuh Delvin yang sudah tak layak pandang bahkan begitu mengerikan.
"P..Prince! Tenanglah. Sekarang kau harus pergi bawa nona Latizia! Mereka akan datang kesini!" Jelas Darren hati-hati.
Milano diam. Sungguh, ia ingin sekali meratakan tempat ini tapi mengingat tujuannya belum usai tentu Milano tahan sekuat tenaga.
"Ratakan kerajaan Sauveron!" Titah Milano menahan hasrat membunuhnya.
"Baik, prince! Bersihkan tanganmu dan akan ku tangani ini!"
Darren memberikan sapu tangan pada Milano yang membersihkan lumuran darah di tangannya. Setelah benar-benar bersih, barulah Milano menggendong ringan Latizia.
Ia tak mau darah kotor Delvin menyentuh tubuh wanita ini dan itu terasa menjijikan.
....
Vote and like sayang..
__ADS_1