GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Dia mengandung anakku!


__ADS_3

Masih di malam yang sama. Pesta dansa di ballroom istana Artefea berjalan sangat lancar dan meriah. Kedatangan Milano tak di sadari siapapun karena pesta dansa ini mengusung tema topeng.


Setengah wajah cantik Latizia di tutupi topeng kucing dan Milano memakai topeng bulu elang yang terlihat sangar tapi berkharisma.


"Keduanya terlihat serasi!"


"Siapa pria itu? Apa rekan kerja putri Latizia?!"


"Suaminya baru saja tiada tapi, dia menari dengan pria lain. Benar-benar tak termaafkan."


Desas-desus para tamu di sekeliling mereka menepi ke sudut ballroom. Alhasil, hanya Latizia dan Milano-lah yang menguasai lantai dansa itu dengan gerakan yang sangat indah.


Kokohnya belitan Milano ke pinggang Latizia di tambah perputaran anggun dari tubuh jenjang di baluti gaun panjang satu lengan itu membuat mata semua orang terpukau.


"Gerakan yang indah!" Decah para tamu yang menyukai dansa romantis penuh perasaan mereka.


Tempo dan irama musik yang di mainkan juga semakin menambah kesan hangat tapi juga tegas menggambarkan sepasang kekasih yang menari diantara cahaya lampu yang bersinar ke arah mereka.


"Yang Mulia prince! Apa kau tak ingin menunjukan hal yang lebih menakjubkan?" Bisik Latizia kala tangannya sudah ada di bahu Milano.


"Kau ingin pertunjukan?"


"Yah, terlihat lebih menawan," Jawab Latizia tersenyum tipis membuat jiwa jantan Milano memberontak.


Musik itu semakin keras beriring dengan Latizia yang memutar tubuhnya mengelilingi Milano dengan gerakan tangan gemulai tapi tegas.


Kibasan gaunnya menyerukan aroma mawar yang khas. Milano menjentikkan jarinya hingga bagian atas ballroom terbuka, cahaya lampu tadi berganti kilauan rembulan.


"Luar biasa!!" Decah mereka terperangah melihat bagaimana Latizia mengguncang lantai dansa dengan liukan kaki dan tangan yang indah.


"Hanya ini?" Tanya Latizia sesekali memeggang bahu kokoh Milano yang menyeringai.


"Jangan meremehkan-ku."


Milano meraih lembut pinggang Latizia yang tersentak saat tubuh keduanya mengambang. Semua orang juga syok melihat itu apalagi ada taburan bunga yang turun dari langit-langit ballroom yang tadi terbuka.


"M..milano! Kau.."


"Tenanglah. Kerajaan Artefea terkenal canggih. Mereka akan mengira ini tipuan teknologi," Bisik Milano memberi Latizia kepercayaan dirinya kembali.


Karena sudah seperti itu akhirnya Latizia melanjutkan pesta dansa ini dengan menari anggun di atas angin yang setiap ia pijaki akan berkumpul menahan bobot tubuhnya.


"Ini sangat menyenangkan!"


"Menari sepuasmu!" Ucap Milano menemani Latizia menciptakan keajaiban di setiap tempo musik dansa ini.


Gerakan mereka berdua di ikuti cahaya keemasan yang menabur serbuk berkilau yang indah. Semakin lama di pandang maka mereka di buat seperti masuk ke dalam dunia fantasi.


Tempo musik semakin beradu dan gerakan tentu makin intens. Milano menarik paha Latizia sedikit ke atas sesuai musik yang akan berakhir dengan pelukan yang hangat.


"Wowww!!!"


"Ini sangat menakjubkan!!" Teriak semua orang bertepuk tangan meriah.


Latizia yang sadar segera menepuk lembut bahu Milano hingga keduanya kembali turun menapaki lantai dan deraian kelopak bunga terhenti menabur.


"Luar biasa, putri!"


"Kau sangat memukau!"


Latizia hanya tersenyum. Ia tak sengaja beradu pandangan dengan Ratu Artefea yang ternyata juga disini bersama Raja Hanzo suaminya.


"Tak di sangka kerajaan Artefea begitu canggih. Kami tak pernah melihat hal seperti ini di tempat lain."


"Iya, kalian sangat hebat."


Puji para tamu undangan beralih pada Raja Hanzo dan Ratu Artefea yang hanya tersenyum menjawab.


Raja Hanzo bersitatap dengan netra elang tajam Milano lalu membuang pandangan setelahnya.


"Prince Milano! Dia memang tak memberi cela sedikitpun," Batin Raja Hanzo merasa kedatangan Milano begitu mengejutkannya.


Berbeda dengan Raja Hanzo yang tak suka, Ratu Artefea justru perlahan mendekati Latizia.


"Nak!"

__ADS_1


"Yang Mulia!" Sapa Latizia tapi tidak dengan Milano yang menyebar hawa tak bersahabat.


Latizia melirik Milano dari ekor matanya. Apa mungkin dia tahu kalau Ratu Artefea tadi siang membujukku untuk bersama Ximus?! Pikir Latizia ngeri.


"Apa bisa kita bicara putri Latizia?"


"Bi.."


"Ayo!" Sela Milano mengiring Latizia keluar area ballroom di ikuti Ratu Artefea yang juga tahu jika itu Milano.


Mereka pergi ke area luar dimana hanya ada dua pengawal di depan pintu ruang dansa, selebihnya sepi.


"Ada apa Yang Mulia?" Tanya Latizia berbalik.


"Apa kau melihat Ximus?"


"Ximus?" Gumam Latizia mengernyit.


"Yah. Beberapa jam yang lalu dia pergi untuk menemui-mu tapi sampai sekarang belum menampakan diri."


"Sedari tadi aku tak bertemu dengan pangeran Ximus. Mungkin dia ada urusan lain, Yang Mulia! Jangan terlalu cemas," Jawab Latizia menenagkan Ratu Artefea yang menghela nafas berat.


Bagaimana caranya mengatakan pada Latizia jika tadi Ximus berencana untuk menyatakan perasaanya?!


"Dia tak ada urusan apapun. Tadi dia ingin memberi tahumu sesuatu yang penting."


"Yang penting?! Baiklah, akan-ku bantu mencarinya, Yang Mulia!" Ucap Latizia pamit dan segera pergi ke area lift tapi Milano masih diam di tempat.


Berhadapan dengan sosok pria  penuh dengan hawa intimidasi tak biasa ini membuat Ratu Artefea tak nyaman.


"Prince datang begitu mendadak. Kami tak sempat menyambut-mu!"


"Jauhkan putramu dari ISTRIKU!"


Duarr..


Ratu Artefea terkejut mendengar pengakuan Milano. Ia mematung kosong menatap tak berkedip Milano yang melangkah mengikuti Latizia masuk ke lift.


"I..istri!" Lirihnya masih tak percaya itu.


Raja Hanzo yang datang menepuk bahu Ratu Artefea yang tersentak.


"Suamiku. Itu prince Milano!"


"Aku tahu. Dia memang sulit di tangani," Jawab Raja Hanzo tak mau menyinggung Milano apalagi bermasalah dengan pria itu.


"Dia mengatakan jika Latizia itu istrinya. Apa mereka sudah menikah?! Apa mungkin Latizia.."


"Jangan ikut campur lagi. Nasib baik hanya satu perusahaan yang hancur dan jangan ada lagi bencana baru karena kebodohan Ximus," Tegas Raja Hanzo jelas menentang niat putranya.


Sementara di dalam lift yang sudah bergerak sana, Latizia penasaran tentang apa yang Milano katakan pada Ratu Artefea tadi sampai wanita paruh baya itu memucat.


"Apa yang tadi kau katakan padanya?"


"Hanya perintah," Singkat Milano tapi Latizia tak percaya.


"Perintah apa?"


"Ini sudah larut. Kau harus istirahat!" Ujar Milano mengalihkan pembicaraan.


Latizia mendengus kesal. Saat lift itu terbuka mereka segera keluar tapi, Latizia di kejutkan dengan banyaknya media di depan kamar 102 dan tampaklah dua orang yang di desak.


"Pangeran! Bagaimana bisa kalian bersama?"


"Apa kalian punya hubungan yang tersembunyi?"


"Putri Athena! Apa pangeran Ximus adalah kekasihmu?"


Ximus dan Athena yang tampak linglung berusaha menjauhi kamera yang mengarah pada mereka. Banyak bekas ciuman di leher putri Athena yang di sembunyikan oleh wanita itu tapi tampak oleh mata jeli Latizia.


Melihat Latizia ada disini, tentu saja Ximus panik. Ia segera mengurus Media yang tak henti-henti mengambil gambar mereka.


"Kalian pergilah! Kami hanya berteman!"


"Pangeran! Kalian ada dalam satu kamar dan tampaknya pakaian kalian tak cukup rapi," Jawab salah satu media yang seketika membuat Ximus naik pitam.

__ADS_1


"Pergi!"


"Tapi.."


"Pergi!!!" Bentak Ximus hingga mereka langsung pergi ketakutan masuk ke dalam lift melewati Latizia dan Milano.


Wajah Ximus seketika kelap. Ia menatap membunuh putri Athena yang menunduk karena cukup sadar jika apa yang mereka lakukan itu salah besar.


"Jika kau tak berteriak. Mereka tak akan membuat ulah!"


"Aku tak tahu jika ada media di luar," Jawab putri Athena tapi segera berubah marah melihat Latizia.


"Kauu!! Kau yang pasti menjebakku!!"


"Aku?" Tanya Latizia menunjuk dirinya sendiri.


"Yah. Kau ingin merusak reputasiku di hadapan semua orang termasuk di depan prince Milano. Kau memang kejam Latizia!!" Makinya histeris.


Latizia memiringkan bibirnya acuh. Putri Athena tak sadar jika yang berdiri di samping Latizia adalah Milano.


"Seberapa baik reputasi-mu sampai aku begitu ingin merusaknya?! Lagi pula aku tak punya waktu mengurusmu."


"Kauu.."


"Cukup!!" Sela Ximus tak ingin putri Athena menambah petaka untuknya.


"Kau ingin membela wanita ini?"


"Jangan samakan dia denganmu! Kau hanya berkhayal setiap saat!" Geram Ximus hingga putri Athena mendidih.


"Aku tak akan melepaskan mu, Latizia! Kau menghancurkan citra kerajaanku!!"


"Athenaa!!" Murka Ximus mencengkram lengan putri Athena yang seketika memberontak.


"Kau juga pria bajingan. Kau memanfaatkan situasiku!"


"Kau gila, haa?! Sudah jelas sedari tadi otakmu hanya di isi oleh penjahat kelamin itu!!"


"Tutup mulutmu. Permainannya bahkan lebih baik darimu!!"


Glek..


Milano langsung dalam bahaya. Ia melirik Latizia yang tampak mendidih mendengar kalimat yang di lontarkan putri Athena.


"Permainanmu ternyata membuat mereka tergila-gila, hm?!"


"Aku tak ingat," Datar Milano tak mau membahas itu. Latizia membuang muka kesal segera mendekati Ximus dan putri Athena.


"Kau bahkan tak bisa menandingi pria manapun!!"


"Athenaa!!!"


"Diaam!!" Tegas Latizia menarik bahu Ximus menjauh dari putri Athena yang sudah kacau dengan rambut berantakan.


"Latizia!"


"Pangeran Ximus! Bertanggung jawablah atas apa yang kau lakukan pada putri Athena!" Ujar Latizia membuat Ximus terkejut.


"Dia yang memaksaku. Aku bersumpah tak ada niatan untuk memanfaatkan situasinya, Latizia!"


"Aku tahu tapi, demi kehormatan dua keluarga kalian harus mengumumkan hubungan resmi secepat mungkin. Berita itu akan menyebar ke seluruh wilayah."


"Ini kemauanmu, bukan?!" Sarkas putri Athena marah.


"Kau sengaja melakukan ini agar aku tak bisa mendekati Milano!!"


"Aku tak pernah melarangmu mendekatinya. Coba saja kalau bisa," Jawab Latizia mulai kesal.


"Kau tak setuju mendekatkanku pada Milano karena kau juga menyukainya. Apa yang kau-punya sampai begitu percaya diri untuk memiliki prince Milano??"


"Dia mengandung anakku!"


Degg...


....

__ADS_1


Vote and like sayang..


__ADS_2