GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Benih premium adikku!


__ADS_3

Dokter Dee di dampingi oleh dua suster untuk membantu Latizia melahirkan. Semua peralatan bahkan persiapan sudah di lakukan jauh-jauh hari untuk mencegah kontraksi mendadak seperti ini.


Metode persalinan yang Latizia jalani adalah water birth. Milano memilih metode ini agar rasa sakit dan nyeri saat mengalami kontraksi bisa lebih ringan.


"Prince! Masukan nona ke dalam bathub!" Pinta dokter Dee yang sudah mengecek suhu air di bathub yang sudah ada di tengah kamar.


Milano yang tadi menemani Latizia di atas ranjang segera menggendong ringan ke arah benda itu.


"S..sakit, ehmm!" Meremas bahu Milano.


"Tenanglah. Kau pasti bisa," Bisik Milano memasukan Latizia ke dalam bathub.


Tubuh wanita itu sudah polos. Hanya mengenakan bra hitam yang kontras dengan kulit putihnya. Lekukan yang seksi ini memang terlalu membuat para suster dan dokter Dee yang melihat jadi berkecil hati.


"Berapa lama lagi?" Tanya Milano berjongkok di belakang bathub menyandarkan kepala Latizia di bahunya.


"M..milano,sakitt, hiks! Sakitt!"


Kedua tangan Latizia mencengkram pinggiran bathub menahan nyeri bahkan rasa sakit yang teramat sangat menjalar di bawah sana.


"Nona! Ini masih pembukaan 5. Sebentar lagi!"


"Ya tuhan!" Geraman Latizia mengigit bibirnya sendiri tak tahan dengan nyeri di bawah sana.


"Jangan gigit bibirmu!"


"T..tapi, sakit!" Desis Latizia dengan bibir pucat begitu juga wajahnya.


Baru pertama kali bersalin dan rasanya benar-benar membuatnya tak ingin mengalami untuk kedua kalinya. Tapi, mengingat ada mahluk kecil yang akan hadir jadilah Latizia berusaha tetap kuat menahan kontraksi ini.


"Gigit tanganku!" Menyodorkan tangannya tapi Latizia lebih memilih menggenggam tangan kekar Milano.


"P..pinggangku terasa mau putus!"


"Karena takut jarum kau jadi menolak operasi. Sekarang, jangan mengeluh," Bisik Milano membuat Latizia kesal beralih menjambak rambut Milano.


"Aku tak tahu jika akan sesakit ini, brandall!!"


"Rasanya sama saja-kan?! Sekarang tanggung sendiri," Ketus Milano semakin membuat Latizia dongkol mengacak-ngacak rambutnya dengan kesal.


"Semua salahmu!! Salahmu!!"


"Hm."


"Kau menyebalkan!! ***..ya tuhan!" Desis Latizia mencengkram rambut Milano kala rasa sakit itu datang lagi.


Milano bicara seperti itu hanya untuk mengalihkan rasa sakit yang di alami Latizia. Wanita ini sangat mudah untuk di alihkan.


"Jika anak kita laki-laki aku akan kirim dia ke hutan lepas."


"Coba saja. Aku..aku akan membuat kepalamu botak total!!" Geram Latizia membuat para suster disini mematung antara syok dan tak percaya ada yang bisa menghina prince mereka seperti itu.


"Jangan terlalu di lihat!" Tegur dokter Dee yang sudah biasa melihat pertengkaran manis sepasang kekasih ini.


"Putri Latizia memang sangat hebat. Dia bisa mengendalikan Elang Madison kerajaan."


"Susst! Kita lihat saja, kapan prince akan marah?" Bisik temannya ingin melihat lebih jauh.


Tapi, setelah beberapa lama di tarik-tarik Latizia tak ada respon marah dari Milano. Ia justru tampak tenang bahkan menyerahkan diri pada monster betina itu.


"Masih sakit?" Tanya Milano kala Latizia mengernyit.


"I..iya, apa masih lama?" Tanya Latizia berkeringat.


Milano menatap tajam dokter Dee yang segera melihat bagian inti Latizia. Sudah pembukaan delapan tapi tampaknya Latizia mulai tak kuat.


"M..masih lama?"


"Sebentar lagi, nona!" Jawab dokter Dee dengan wajah serius.


"Milano!" Lirih Latizia menghela nafas sesak.


"Tahan sebentar lagi. Kau pasti bisa!"


Latizia hanya diam memejamkan matanya bersandar ke bahu kokoh Milano yang memasukan tangannya ke dalam air lalu mengusap perut besar Latizia.


"Begini?"


"Lebih baik," Gumam Latizia merasa tak begitu sakit kala Milano mengusap perutnya.

__ADS_1


Kehangatan dari telapak tangan Milano seperti menenagkan si kecil di dalam sana. Latizia jadi lebih rileks berpeggangan ke pinggir bathub.


"Kami keluar dulu, nona! Pembukaan terakhir akan tiba dalam beberapa menit lagi."


"T..terimakasih," Gumam Latizia tanpa membuka matanya.


Dokter Dee memboyong dua suster itu keluar karena mereka mulai mimisan melihat wajah tampan Milano yang terlihat sangat bersahabat bersama Latizia.


"Aku merasa di luar hujan," Gumam Latizia mendengar suara rintikan air.


"Yah, mereka menyambut kelahiran anak kita."


"Tapi, anginnya kuat," Imbuh Latizia bisa mendengar perputaran angin dan air hujan di luar sana.


Telinganya jadi sensitif, Latizia mengernyit kala mendengar ada banyak langkah kaki yang ada di sekeliling istana dan suara Franck bicara dengan profesor Lineaus juga terdengar padahal orang-orang itu berdiri jauh dari kamar.


"Ada yang memasak di dapur istana, tetesan hujan ke dedaunan dan.."


Mata Latizia langsung terbuka segera menatap syok Milano yang setia dengan wajah datarnya.


"Suara kibasan sayap elang-elangmu."


"Jadi?" Tanya Milano sudah tahu alasannya.


"Aku kenapa? Sedari awal semuanya aneh, Milano!"


"Itu kelebihan keturunanku. Dia punya ketajaman indra yang melebihi orang normal. Setelah melahirkan, kau akan kembali seperti biasa, hm?"


"Jadi, anak kita akan sepertimu?" Tanya Latizia seperti ada rasa tak rela.


"Kenapa? Sepertinya kau tak suka." Milano menarik alis sinis.


"Jika hanya kekuatan aku tak masalah tapi, jangan sampai dia menuruni sikap brandalmu. Aku tak ingin anakku jadi penjahat kelamin!" Ketus Latizia menyipitkan mata tajam.


Namun,sedetik kemudian ia mulai merasa jika ada yang ingin mendesak keluar di bawah sana.


"M..milano!"


"Kalian masuklah!!" Titah Milano hingga dokter Dee dan dua suster yang tadi di luar segera masuk ke kamar.


Dokter Dee melihat Latizia sudah kembali merasakan kontraksi. Kali ini bahkan lebih gila dari sebelumnya.


"Ini sudah saatnya, Prince!"


Dokter Dee membuka agak lebar kedua paha Latizia. Ia memakai dua sapu tangan sedangkan dua suster di dekatnya memeggang nampan berisi peralatan bersalin.


"Ss..sakitt!! Ini..ini lebih sakitt!!"


"Nona! Atur nafasmu dengan baik. Rileks-kan tubuhmu!" Pinta dokter Dee mengarahkan Latizia yang menurut.


Milano terus mengusap perut Latizia yang mencengkram pinggir bathub dengan kuat. Ia beberapa kali menggeleng merasa nyawanya akan lepas.


"Tenang-nona! Tarik nafas dan buang. Kita mulai, ya?!"


"Emm!" Jawab Latizia mengangguk menyiapkan tenaganya.


"Mengejan, nona!"


Latizia mengejan sekuat tenaga sampai wajahnya yang tadi pucat menjadi merah dengan cengkraman menguat.


"Tarik nafas, buang dengan pelan!"


"Ss..sakit, hiks! Milano!!"


"Kau bisa, sayang!" Bisik Milano menyemangati Latizia yang terengah-engah.


Dokter Dee terus mengarahkan Latizia yang sekuat tenaga mencoba tetap mengejan sampai beberapa kali menangis tapi, Milano sigap membantu dengan dorongan halus dari atas.


"A..aku..aku tak kuat!"


"Nona! Sedikit lagi, ayo!" Pinta dokter Dee karena kepala si kecil itu sudah muncul.


Latizia yang pucat segera mengambil nafas dalam lalu kembali mengejan dengan kedua tangan berpindah meremas bagian leher Milano yang membiarkan itu.


"Ehmmmm!!! Sakiiitt!!!"


"Sedikit lagi, Nona! Tarik nafas dan dorong!"


"Ibuuuu!!" Jerit Latizia mencengkram bagian leher Milano hingga kuku-kukunya mencakar kulit pria itu.

__ADS_1


Dokter Dee sudah memeggang kepala bayi mungil itu lalu terus mengarahkan Latizia yang mulai tak kuat.


"M..milano!"


"Sebentar lagi, Sayang! Kita akan melihatnya!" Bisik Milano seraya mengusap keringat di kening wanita itu.


"Dorong, Nona!"


Latizia kembali mengejan beberapa kali sampai sesuatu yang tadi menyekang di bawah sana mulai berangsur keluar hingga dokter Dee sigap membawa si kecil itu naik ke permukaan air secara perlahan.


"Syukurlah!" Gumam dua suster yang tadi ikut tegang dan ngeri.


Latizia tersandar lelah tak lagi bertenaga di bahu Milano yang melihat bayi mungil merah itu sudah ada di tangan dokter Dee.


"Latizia!" Lirih Milano kala Latizia sayu-sayu memandang ke arah bayi merah itu.


"B..bayiku?"


"Bayi kita," Jawab Milano mengecup puncak kepala Latizia penuh perasaan dan rasa terimakasih.


Dua suster itu terpana melihat ketampanan dan aura wajah prince kecil itu sampai melamun.


"Gunting!"


"I..ini, dokter!" Jawab keduanya jadi gagal fokus memberikan gunting pada dokter Dee yang segera memotong tali pusar bayi tampan ini.


"Bayinya laki-laki, Nona! Dan sangat tampan!"


"K..kenapa tak menangis?" Tanya Latizia lemah dan agak cemas.


"Hey, prince kecil! Menangislah!" Pinta dokter Dee mengusap dada dan punggung bayi mungil itu tapi tak ada suara atau gerakan membuat Latizia panik.


"Milano! Milano, bayi kita.."


"Dia sangat licik," Gumam Milano mengigit ujung jarinya hingga berdarah.


"Milano! Kau mau apa?"


"Dia butuh pengakuan," Tegas Milano menatap datar dokter Dee yang mendekat membawa bayi mungil itu.


"Prince!"


Milano meneteskan darahnya ke kening mulus bayi merah ini sampai muncul cahaya keemasan.


"Milano!" Cemas Latizia.


"Tak apa. Dia hanya ingin di akui sebagai anakku," Jawab Milano mengusap kening bayi tampan itu barulah terdengar tangisan keras ke seluruh penjuru istana yang terguncang.


Brakk..


Pintu di dobrak dan Milano sigap menghalangi pandangan dua pria itu ke arah Latizia yang terkejut.


"Berbaliiik!!" Titah Milano membuat Franck dan Darren yang tadi tak sabaran segera berbalik.


"Maaf adik. Apa ponakanku sudah lahir?"


"Prince! Kami ingin melihatnya!"


Ucap mereka tak tahu malu. Dokter Dee yang sudah biasa melihat kekonyolan para petinggi kerajaan ini hanya bisa menggeleng halus.


"Kalian bersihkan prince kecil!"


"Baik!" Jawab dua suster itu segera mengambil handuk bayi dengan tatapan kagum tersihir oleh pesona kuat dari penerus Elang Madison ini.


"Sangat tampan!"


"Pesona prince turun pada putranya."


Lirih mereka merasa bangga menggendong bayi mungil ini pergi ke kamar mandi untuk di bersihkan.


Franck dan Darren tak bisa menahan lagi. Keduanya berjalan menyamping ke kamar mandi tak memandang Latizia yang mengulas senyum lemah di sudut bibir pucatnya.


"Ponakanku!! Ini baru ponakanku!!"


"Pangeran! Wajahnya mirip dengan prince kita!"


"Haiss! Ini benih premium adikku, jangan main-main!"


Para suster yang ada di dalam sana di buat pusing oleh Franck dan Darren yang seperti kesetanan ingin memandikan bayi mungil itu tapi, Milano menegur hingga mereka gelagapan takut di usir.

__ADS_1


....


Vote and like sayang..


__ADS_2