
Setelah kembali ke istana Madison, Latizia sama sekali tak menyapa Milano atau memandang pria tampan tapi malang itu. Latizia memilih pergi ke kamarnya dan menutup pintu rapat membiarkan Milano diluar merutuki kebodohannya selama ini.
Dan sampai pukul 8 malam, Milano menunggu Latizia keluar kamar. Ia mondar-mandir dan sesekali pura-pura sibuk dengan ponsel kala ada panglima Ottmar yang menemuinya.
"Prince!" Sapa panglima Ottmar melihat Milano yang bersandar di pintu kamar.
"Hm."
"Prince! Kau sedang apa?" Tanya panglima Ottmar padahal ia tahu Milano tengah menghadapi amarah bumil cantik itu.
"Banyak pekerjaanku yang tertunda."
"Prince bisa kerjakan di ruang baca. Aku akan membantumu."
"Kau tak bisa menyelesaikan masalah satu ini," Gumam Milano dengan ekspresi wajah dinginnya.
Panglima Ottmar tersenyum kecil dan pamit pergi karena tak ingin mengganggu elang Madison pemarah itu.
Saat tak ada lagi yang lewat, Milano kembali mengetuk pintu kamar dengan intonasi tegas yang masih terkesan angkuh.
"Buka pintunya!" Pinta Milano mempertahankan harga diri.
Latizia yang baru saja selesai keluar dari kamar mandi hanya acuh. Ia pergi ke ruang ganti memakai gaun malamnya yang tipis tapi ia selalu nyaman menggunakan ini.
"Buka pintunya!! Selesaikan ini baik-baik!"
"Suaranya begitu memerintah. Dasar brandal," Umpat Latizia bertambah jenuh dengan Milano.
Ia tak memusingkan pria itu dan terus menyelesaikan ritual pakaiannya lalu mengeringkan rambut dengan hair dryer di depan meja rias.
Milano masih mengetuk-ngetuk pintu kamarnya seakan tak lelah berjam-jam di luar sana.
"Latizia!! Buka pintunya, atau ku dobrak!"
"Jika kau dobrak, aku akan pergi dari sini!" Tegas Latizia membuat Milano terdiam dengan stress menggunung.
Ia bisa saja menyelinap ke dalam tapi, Latizia akan semakin marah padanya. Kali ini lebih berbahaya dari yang di rumah sakit dulu.
Alhasil, karena sudah frustasi Milano punya satu ide. Ia membuka ponselnya dan mentransfer uang sebanyak mungkin ke rekening Latizia.
Tentu saja ponsel wanita itu berdering nyaring. Latizia yang selesai menata rambutnya segera meraih ponsel di atas ranjang dan..
"Milanooo!!" Teriak Latizia kala melihat nominal uang yang masuk tak main-main.
"Buka pintunya atau ku kirim lagi!"
"Apa kau gila??! Pergilah dari depan pintu kamarkuu!!" Teriak Latizia sesak nafas melihat uang di rekeningnya.
Drett..
Satu notif masuk dan kali ini lebih ganas dari sebelumnya. Dengan marah Latizia berjalan ke arah pintu dan membukanya kasar.
"Kau ingin membuat rekeningku meledak, haa??!"
Milano hanya santai berdiri dengan gagahnya memeggang ponsel di tangan kanan dan tangan kiri masuk ke saku celananya.
"Kurang?"
"AKU TAK BUTUH UANGMU," Tekan Latizia ingin menutup pintu kembali tapi, Milano segera masuk dengan kilat.
"Kauu.."
"Sudahlah! Masalah ini selesai," Tegas Milano dengan angkuhnya berjalan ke arah kamar mandi.
Latizia dengan nafas memburu menarik pinggir kaos yang di pakai Milano sampai robek memperlihatkan tubuh seksi dan atletis pria itu.
"Kau begitu agresif, hm?!" Goda Milano tersenyum mesum melihat penampilan Latizia yang malam ini sangat membuatnya panas dingin.
"K..keluar! Ini bukan kamarmu!"
"Ini istana-ku dan semua kamar di dalamnya milikku. Termasuk kamar ini!"
Latizia diam dengan kedua tangan mengepal. Ia dengan cepat berbalik pergi keluar dari kamar sampai Milano gelagapan mengejarnya.
"Latizia! Kau keluar dengan pakaian seperti ini!!" seraya menyimpan ponselnya.
Latizia hanya diam. Ia turun dari lantai atas menuju lantai dasar dengan buru-buru dan tentunya sangat berapi-api.
Milano terus mengikutinya seraya membujuk agar kembali ke kamarnya.
"Baiklah! Aku tak akan mengganggumu, ayo kembali ke kamar!"
Latizia menuli. Ia pergi ke luar istana utama melewati banyak prajurit yang tengah berjaga. Saat mereka ingin menoleh, Milano langsung menghempaskan tangannya ke atas hingga semua prajurit di luar sini tak bisa bergerak dan pandangan mereka kabur.
"Siall!!" Umpat Milano kala tahu tujuan Latizia adalah paviliun belakang tempat pertama ia tinggal.
"Baiklah!! Aku salah, Latizia! Aku yang terlalu brengsek!" Ucap Milano mendahului langkah Latizia yang akhirnya berhenti.
Tatapan wanita itu sangat tajam dan tentunya tak suka. Mungkin, ditambah sedang hamil jadi ia semakin sensitif.
__ADS_1
"Aku salah, maafkan aku!"
Milano beralih memeggang kedua bahu wanita itu dengan pandangan yang melemah tak angkuh seperti tadi.
"Aku minta maaf! Aku memang menganggap remeh masa laluku karena aku pikir itu tak penting. Untuk apa memberitahu-mu soal mereka yang..."
"Lalu aku seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa saat mereka datang di hadapanku. Sebenarnya berapa banyak wanita yang kau permainkan, ha?! Apa aku..aku juga akan jadi seperti mereka?" Tanya Latizia dengan mata berair.
"Hari ini putri Athena besok, mungkin saja ada banyak putri dari kerajaan lain. Sedangkan aku.."
Latizia menjeda kalimatnya. Ia menepis tangan Milano dari kedua bahunya dengan halus.
"Kau pilih saja salah satu dari mereka," Gumam Latizia ingin pergi tapi Milano langsung menarik pinggangnya hingga tubuh mereka bersentuhan tanpa jarak.
Milano meremas pinggang Latizia lembut sampai wajah cantik sendu itu mengadah padanya.
"Benihku berakhir di rahimmu. Mana mungkin aku melirik wanita lain."
"H..hanya karena aku hamil?" Tanya Latizia miris.
"Tidak. Kau hamil, karena aku MENCINTAIMU!"
DEGG..
Latizia terkejut dengan jantung seakan mau berhenti. Hembusan angin tiba-tiba menerpa tubuh mereka dengan sangat hangat dan taburan bintang di atas sana semakin menyala mengelilingi rembulan yang cerah menggoda.
"Aku tak akan menghamili wanita jika aku tak menginginkannya!" Bisik Milano segera memangut lembut bibir Latizia yang perlahan memejamkan matanya.
Ratusan kelopak mawar yang ada di labirin bunga tak jauh dari mereka tiba-tiba terbang di giring angin yang seakan mengerti bagaimana menciptakan suasana semanis ini.
Latizia merasa sangat bahagia kala ciuman Milano kali ini benar-benar lembut tanpa unsur pemaksaan. Kedua tangannya terangkat berkalung ke leher kokoh itu seraya menikmati sensasi syahdu yang tak pernah hadir dimanapun.
Keduanya hanyut dengan cinta dan suasana hati yang sedang menggebu-gebu sampai lupa jika dari atas teras kubah sana, ada dua pria kesepian yang tengah menikmati momen romantis dan langka ini.
"Pangeran!" Gumam Darren berdiri di samping Franck yang juga terlihat terharu akan percintaan adiknya.
"Inilah yang seharusnya terjadi. Adikku sudah kembali ke jalan yang benar. Aku bangga menjadi kakaknya."
"Lalu, apa pangeran juga akan kembali ke jalan yang benar?" Tanya Darren tapi langsung mendapat pukulan khas dari Franck ke bahunya.
"Kau pikir aku tersesat. Dasar pria kesepian!!"
"Kau juga kesepian, pangeran!" Gumam Darren mengusap bahunya yang nyeri di pukul Franck.
Keduanya kembali melihat Milano dan Latizia yang sudah tampak lebih bergairah. Milano membelitkan kedua kaki Latizia ke pinggangnya tanpa melepas ciuman mereka yang mulai buas.
"Ehmm!"
"Ini tontonan dewasa. Jangan di lihat!"
"Aku jadi ingin punya satu seperti nona Latizia!"
"Husst! Kau jangan tersesat seperti adikku," Gumam Franck membawa Darren pergi agar jiwa mereka tak terlalu menangis melihat itu.
...
Sementara di bawah sana, Milano menggendong Latizia menuju kamar paviliun belakang. Mereka masih berciuman dengan sangat erotis sampai lupa jika malam ini bukan hanya mereka saja yang ada di sekitar istana.
Milano mendorong pintu kamar itu cepat karena pembengkakan di bawah sana harus segera di selesaikan.
"Ehmm!" Geraman Latizia kala Milano membaringkannya di atas ranjang kamar ini.
Latizia melepas paksa ciuman itu dengan nafas memburu keduanya saling berbenturan. Wajah Milano benar-benar merah bahkan matanya penuh dengan birahi.
"Aku ingin!"
"Kunci pintunya!" Lirih Latizia menahan bahu Milano untuk mengungkungnya. Walau gairah sudah membukit, Milano menuruti perintah Latizia.
Ia menjentikkan jarinya hingga pintu itu tertutup sendiri.
"Sudah?"
"Caramu cukup instan," Geli Latizia kala Milano sudah mengendus lehernya. Ia membiarkan pria tampan ini melakukan apapun yang dia mau termasuk menurunkan tali gaunnya sampai ke pinggang hingga dada sekang indah itu masih di bungkus rapi dalam balutan bra berwarna abu.
Wajah Latizia memerah kala Milano terus memandangi bentuk dadanya yang indah dan sangat pas.
"J..jangan menatapnya begitu!"
"Aku tak ingin berbagi dengan pengganggu di perutmu," Posesifnya.
"Tapi-kan, memang harus begitu. Kau.."
"Dia minum susu formula saja," Serak Milano meniup belahan gunung kembar itu membuat Latizia meremang segera menepuk kepala Milano halus.
"Jangan aneh-aneh."
"Kau yang terlalu sensitif," Gumamnya kembali melakukan hal yang sama dan kali ini tak ada lagi penghalang di bagian itu.
Latizia bingung, kapan Milano melepas branya?! Pria ini memang benar-benar profesional.
__ADS_1
Melihat dua bukit kembar yang ranum ini sudah menantang tentu saja Milano tak lagi menunda. Ia melahap keduanya secara bergantian bahkan sangat nakal mengigit kecil membuat Latizia terpekik.
"Milanoo!!"
"Ini masih belum berakhir," Gumam Milano terus mencumbu dua bukit sekang kesukaannya ini.
"Eghnmm!"
Latizia hanya bisa di buat menahan erangan halus karena sensasi geli dan nikmat itu membuatnya sulit menjabarkan.
Ia meremas rambut Milano yang semakin tertantang untuk melakukan hal yang lebih buas dan tentunya cukup ganas tetapi, tiba-tiba Latizia menjauhkan wajahnya.
"Kenapa?" Tanya Milano gugup jika Latizia tak mau.
"Aku yang di atas!"
Yahh!!! Tentu saja Milano bersorak gembira bukan main. Ia selalu di buat mabuk jika wanita ini sudah memimpin.
"Kau mulai berinisiatif sekarang, hm?!"
"Yah. Akan-ku bersihkan jejak mereka di tubuhmu," Desis Latizia mendorong Milano hingga terbaring di atas ranjang yang cukup sempit bagi mereka.
Latizia membuka seluruh helaian di tubuhnya dengan wajah dan tatapan yang sensual dan memancing birahi Milano semakin meledak.
"Kau semakin seksi," Desis Milano mengigit bibir bawahnya meremas bokong bulat kencang Latizia yang merangkak ke atas tubuhnya.
Latizia duduk di atas paha Milano dan membuka gesper yang terbelit di pinggang kekar itu.
"Mau yang bagaimana?" Goda Latizia dengan tatapan ungu mistik indahnya yang nakal seraya menurunkan bawahan Milano sampai menyisakan boxernya saja.
Latizia beralih mengungkung Milano yang tampak tak tahan dengan apa yang Latizia lakukan.
"Cepatlah!"
"Aku yang memimpin, terserah kapan aku memulainya," Bisik Latizia menautkan ciuman yang sangat liar.
Milano meremas bagian belakang Latizia yang juga tengah memijat pusaka perkasanya yang sudah membengkak hebat sampai di sentuh sedikit saja maka akan terasa menyengat.
Ciuman Latizia turun ke leher dan menyusuri dada bidang berotot pria itu dengan sangat nakal.
"Kau suka?" Tanya Latizia mempermainkan Milano yang sudah panas dingin.
"Cepatlah!"
"Masih belum," Gumam Latizia mengeksplor semuanya.
Ia memberi jejak di setiap ciumannya sampai dada bidang Milano di penuhi bekas kenakalan sang kekasih. Bergulir ke perut berkotak Milano-pun tak di lewatkan.
"K..kebawah lagi!" Pinta Milano karena tak sabar.
"Masih belum."
"Latizia! Itu sakit," Decah Milano tak tahan di permainkan seperti ini.
Latizia yang tak tega segera menurunkan bagian terakhir yang membungkus pusaka perkasa Milano yang tampak sangat gagah dan menantang.
Latizia menelan ludah. Sungguh, ia merasa malu setiap melihat benda kekar yang selama ini menyiksanya dengan kenikmatan.
"Sekarang! Dia sudah tak sabar!"
"Cih, kau atau dia?!" Ketus Latizia menunduk.
"Keduanya."
"Tapi, kau tak boleh menyentuhku," Pinta Latizia yang dengan cepat di angguki oleh Milano.
Latizia menggulung rambutnya ke atas lalu duduk di antara paha kekar ini. Milano terus memandangnya dengan tatapan mendamba dan sangat ingin di manjakan.
"Kenapa semakin besar?!" Gumam Latizia ngeri memeggangnya lembut.
Milano meremas selimut di bawahnya dengan nafas memburu dengan aliran darah mendidih panas.
"L..lakukan!"
"Susst!! Kau lihat perkembanganku," Dsesis Latizia nakal menjilati dengan lembut dan sangat teratur.
"Y..yaah, sss sayang!"
"Aku tak boleh kalah dengan para wanita itu. Milano punya hasrat yang tinggi, siapapun bisa saja merebutnya," Batin Latizia mulai posesif.
Karena ketidak relaan Latizia dengan semua wanita yang pernah merasakan keperkasaan pria ini jadilah ia semakin mendominasi.
Latizia melambungkan Milano ke puncak kenikmatan yang belum pernah ia dapatkan dari para wanita liar yang dulu ia mainkan.
Sikap Latizia 100% berubah di atas ranjang semenjak kedatangan Athena. Ia jadi lebih nakal, buas dan tahan lama.
Milano-pun merasa senang karena Latizia tak segan untuk melakukan fantasi yang biasanya Milano-lah yang berperan aktif.
....
__ADS_1
Vote and like sayang..