
Setelah deklarasi besar-besaran yang tadi Milano umumkan, akhirnya berita soal siasat kenaikan tahta dan rencana busuk keluarga kerajaan tersebar menyeluruh.
Media Global News yang di naungi langsung di bawah perusahaan MA milik Milano melakukan penyiaran besar hingga dalam sekejap saja berita itu langsung mendunia.
Sekarang, Milano mengadakan pers di dalam aula istana yang sudah di perbaiki. Banyak media dari luar datang tak berhenti mengambil foto Franck dan Milano yang duduk di atas kursi yang di susun rapi dan megah di hadapan mereka semua.
"Prince! Apa yang akan kau lakukan dengan tahta kerajaan Madison?"
"Apakah pangeran Franck akan menjadi Raja selanjutnya?"
"Maaf, dalam keadaan seperti itu apa pangeran bisa memimpin kerajaan?"
Tanya mereka teratur. Milano diam sejenak melirik Franck yang tampak tak percaya diri dengan kondisinya saat ini.
"Walaupun kondisi pangeran Franck masih dalam tahap penyembuhan, bukan berarti dia tak bisa membangun Madison kembali."
"Milano!" Gumam Franck merasa jika adiknya terlalu percaya padanya.
"Sejak kecil dia di didik menjadi seorang pemimpin dan sekarang, aku yakin dan percaya jika orang yang di pilih langsung oleh Yang Mulia Facsionus itu tak salah!"
Franck diam sejenak. Ia melihat Latizia dan Darren yang berdiri di sudut aula dengan tatapan yang penuh harapan dan tentu bangga melihat mereka bisa kembali ke posisi awal.
Adik sudah berusaha keras mendapatkan ini semua. Aku tak bisa mengecewakannya, pikir Franck yang akhirnya memantapkan wajah dan pandangannya.
"Kalian tenang saja. Selagi aku masih hidup akan-ku pastikan seluruh wilayah Madison akan bangkit kembali!!"
Milano memandang hangat Franck yang sudah berani dan percaya diri. Inilah yang selalu ia lihat dari kakaknya sebelum pria itu lumpuh.
"Hari ini kami kembali dan mari kita sama-sama membangun Madison seperti masa emas yang dulu kita tempuh. Aku bersumpah atas nama kakekku untuk berjuang membangun tanah ini kembali!!"
Prokkk..Prokk..
Mereka semua bertepuk tangan dengan meriah. Melihat Franck sudah tahu dan bisa menangani ini, Milano segera berdiri dan beranjak dari kursinya membiarkan media lebih fokus pada kakaknya.
"Aku pergi dulu!" Bisik Darren pada Latizia
kala prince-nya berjalan ke arah sini.
"Kenapa?"
"Tampaknya kau akan di eksekusi, nona" Kelakar Darren membuat Latizia malu bukan main.
Ia membiarkan pria muda itu pergi lalu memandang Milano dengan senyum tertahan.
"Salam YANG MULIA!" Ujar Latizia ingin membungkuk tapi Milano segera menahan bahunya.
"Atas apa kau berani menunduk padaku?"
"Bukankah yang berdiri sekarang adalah Prince Milano Dylan Madison Altariz?!" Tanya Latizia menaikan satu alisnya dengan maksud mengejek.
"Baiklah putri Latizia Marceillie Garalden!"
Keduanya langsung tersenyum geli dengan panggilan formal seperti itu. Latizia ingin kembali menggoda Milano tapi tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggil dari arah pintu besar aula.
"Prince Milano!"
Latizia menatap datar seorang wanita bertubuh tinggi dengan rambut pendek sebahu yang tampak cantik berjalan mendekati mereka. Para media yang sibuk pada Franck jadi tak begitu memperhatikan kedatangannya.
"Prince! Sudah lama tak bertemu!" Sapanya dengan senyum yang sangat memikat dan tentunya manis.
__ADS_1
Pandangan netra almond itu beralih pada Latizia yang seketika menatap tajam Milano.
"Putri Latizia?"
"Yah!" Jawab Latizia tersenyum simpul.
"Aku Athena dari kerajaan Clenausten," Ucapnya ramah mengulur-kan tangan.
Latizia tak segan untuk berjabat tangan dengan putri Athena yang tampak sangat senang berhadapan dengan Milano.
Dari binaran mata hitam wanita ini, Latizia tahu jika Milano dan Athena pernah bertemu dan cukup dekat.
"Prince! Selamat atas kembalinya kerajaanmu!"
"Hm," Gumam Milano seadanya. Putri Athena tampak canggung ingin bicara dengan Milano karena ada Latizia.
Tentu wanita cantik dengan netra ungu mistik yang khas itu tahu diri dan segera pamit.
"Aku permisi. Kalian bisa mengobrol dengan nyaman!"
"A..tidak perlu, Putri!" Cegahnya menahan lengan Latizia yang merasa cukup jengkel.
Apalagi para media yang tadi sibuk segera sadar akan kedatangan putri dari kerajaan Clenausten hingga segera mendekati mereka.
"Putri Athena! Kau berkunjung dengan cepat ke Madison?"
"Apa hubunganmu dan prince Milano masih belum berakhir?"
Latizia diam mendengar pertanyaan dari media yang tampaknya tahu masa lalu Milano. Ia mulai tak nyaman disini apalagi kamera yang terus mengambil gambar membuatnya pusing.
"Putri Latizia! Kami lihat kau cukup dekat dengan prince Milano. Apa tanggapanmu soal ini?"
Melihat pertanyaan mereka semakin mendalam, Milano segera menarik lengan Latizia keluar dari kerumunan.
Hal itu membuat putri Athena tersentak karena cara Milano mengiring wanita itu sangat lembut.
"Kalau tidak salah, putri Latizia adalah adik ipar prince Milano. Pantas mereka dekat karena keduanya masih satu keluarga!" Batin putri Athena mengira jika itulah yang terjadi.
Alhasil putri Athena menangani masalah media ini. Ia menjawab dengan teratur dan masuk akal tentang rumor hubungannya dan Milano yang dulu memang punya jalinan yang cukup membuatnya berharap.
"Prince Milano sudah menikah dengan putri Veronica. Putri Athena sebagai mantan kekasihnya, bagaimana menanggapi soal masalah keluarga Madison?"
"Aku tak berhak mengomentari. Apapun yang di lakukan prince Milano itu pasti yang terbaik. Masalah hubungan kami, itu tak perlu di pertanyakan," Jawab putri Athena lalu melangkah pergi untuk menyapa Franck yang tadi melihat jika Latizia tengah kesal.
"Pangeran Franck!"
"Dia putri Athena dari Clenausten!" Bisik panglima Ottmar yang ada di samping Franck.
"Putri Athena! Senang mendapat kunjungan mendadak darimu," Ujar Franck tapi terselip makna mengejek.
"Ouh, terimakasih pangeran! Aku hanya merasa bahagia atas pencapaian prince Milano!"
"Kalian saling kenal?" Tanya Franck membiarkan putri Athena duduk di sampingnya.
Wanita ini memang punya nilai dan aura seorang bangsawan. Dia juga cantik dan tubuhnya lumayan. Tak bisa di tepis jika ada kemungkinan Milano dan Athena pernah berhubungan, pikir Franck ikut geram.
"Aku dan prince Milano sudah lama kenal sebelum dia menikah. Kami cukup dekat."
"Benarkah?" Tanya Franck tersenyum tapi satu tangannya mengepal untuk segera memukul kepala adiknya.
__ADS_1
Senyum malu di bibir Athena sudah membuktikan jika ada kenangan manis diantara keduanya. Sungguh, Franck sampai mendidih.
"Hanya saja takdir tak merestui. Tapi, aku senang karena prince Milano bisa mendapatkan apapun yang dia mau. Dan tak di sangka jika keluarga kerajaan sangat tak adil pada kalian."
"Yah, tapi aku rasa adikku cukup setia pada satu wanita."
Mendengar jawaban Franck tentu saja putri Athena tersenyum tak percaya itu. Franck tak mengerti, kenapa bisa Milano seperti ini?!
"Dimata seorang kakak tentu saja adiknya akan selalu menjadi malaikat."
"Milano! Ternyata kau juga penjahat kelamin," Batin Franck muak dengan tabiat ini.
.........
Sementara di luar sana. Latizia berjalan mendahului Milano yang tak tahu harus menjelaskan dari mana. Apalagi, ia tak menduga jika Athena akan datang ke sini.
"Latizia!"
"Aku sibuk. Kau urus saja urusanmu!" Ketus Latizia mengeluarkan ponselnya dari saku mantel dan segera membuka pesan dari Ximus kemaren.
"Latizia! Kau tahu-kan, aku bagaimana?! Aku tak serius dengan wanita itu."
"Hallo! Kau dimana?" Tanya Latizia menelpon Ximus.
"Latizia! Kau baik-baik saja?"
"Aku ingin membahas soal bisnisnya. Kau bisa temui aku di restoran pantai kemaren!" Tegas Latizia tak menghiraukan Milano yang sungguh langsung mendidih segera memotong langkah wanita itu dengan cepat.
Milano merampas ponsel di tangan Latizia dengan ekspresi marah dan tentu panas.
"Kau masih mau bertemu dengannya!!"
"Apa masalahmu?! Lagi pula aku hanya mengurus bisnis saja. Bukan seperti seseorang YANG MENGENANG MASA LALU!" Tekan Latizia berjalan cepat pergi ke area depan istana.
Darren yang ada di dekat mobil tentu saja ingin menyapa Latizia tapi ia urungkan saat melihat wajah wanita itu tengah mengajak perang.
"Restoran di pantai kemaren!"
"A..baiklah!" Jawab Darren membuka pintu mobil membiarkan Latizia masuk.
Ia saling pandang dengan Milano yang mengisyaratkan agar Darren menjaga Latizia yang tengah marah padanya.
Namun, sepertinya Latizia tak cukup sabar menunggu Darren untuk masuk ke mobil. Ia segera pindah ke kursi kemudi dan untung saja ada kunci mobil di dalam.
"Semua pria di dunia ini tak ada yang bisa di percaya selain ayahku," Gumam Latizia segera menghidupkan mesin mobil dan melaju stabil ke arah gerbang besar di ujung sana.
"Nonaa!! Nonaa kau meninggalkan akuu!!" Teriak Darren tapi Latizia tak peduli dan bahkan menambah kecepatan mobil yang berbunyi gagah dengan kemampuan menyetirnya yang handal.
"Prince! Tampaknya akan ada perang lagi."
Milano hanya diam. Ia tahu jika dalam keadaan marah seperti itu, Latizia tak akan mau mendengarnya.
"Kau ikuti dia! Jika penjilat itu menyentuh sehelai rambut saja, langsung habisi!"
"Baik, Prince!" Jawab Darren siap siaga menjadi penguntit sekaligus pengawal.
Milano kembali ke dalam istana utama tapi tak ke aula karena malas bertemu wanita itu.
.....
__ADS_1
Vote and like sayang