GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Dia bukan pria yang baik


__ADS_3

Ximus membawa Latizia ke sebuah restoran yang ada di dekat pantai ke 2 terindah di kota ini. Keduanya terlibat perbincangan yang serius di satu meja makan yang sudah di isi dua piring spaghetti dan dua gelas anggur.


Tak ada siapapun disini selain mereka karena Ximus membooking resto agar tak menganggu Latizia yang sedang di buru media.


"Menurutmu, bagusan mana?" Tanya Latizia membandingkan dua desain di tangannya pada Ximus yang justru lebih fokus menikmati wajah cantik Latizia.


"Jika kau pilih ini, desainnya simpel tapi punya berbagai makna. Aku sudah melihat lambang kerajaanmu dan berusaha mendesain sama walau hasilnya mungkin tak sesuai."


"Semuanya bagus. Desain utamamu dan cadangan yang kau tunjukan benar-benar luar biasa. Aku ingin mengambil seluruhnya," Jawab Ximus serius. Ia juga seorang pebisnis dan tak akan rugi mengambil semua ini.


Latizia memang begitu berbakat sampai apapun yang di buat oleh tangannya pasti punya nilai yang tinggi.


"Kau yakin ingin mengambil semua?"


"Yah, lagi pula kami juga akan mendapat keuntungan dari festival itu. Kau tenang saja."


Latizia mengangguk paham. Ia menepikan kertas-kertas itu agar lebih santai sekarang. Jujur, Latizia lapar dan tak cukup dengan satu piring spaghetti dan segelas anggur.


Tapi, karena Ximus ada di depannya dan akan malu jika makan dengan rakus akhirnya Latizia menahan nafsu makan ganasnya.


"Apa ibumu sudah kembali ke kerajaan kalian?" Tanya Latizia meneguk kecil gelas anggur itu dengan elegan.


"Sudah. Saat peristiwa pembunuhan itu aku langsung membawa ibu kembali. Di sempat syok dan terus menanyakan-mu tapi, aku bilang kau akan baik-baik saja."


"Kerajaan Madison memang tengah kacau," Gumam Latizia menahan agar tak makan dulu sebelum Ximus menyentuh piringnya.


Latizia berusaha santai tapi perutnya bergejolak. Ia mulai meletakan gelasnya anggun lalu mengambil garpu yang ada di piringnya.


"Boleh aku makan?"


"T..tentu saja. Maaf, aku terlalu asik bicara sampai lupa makan," Canggung Ximus agak malu tapi juga gemas melihat Latizia yang minta persetujuannya hanya untuk makan.


"Makanlah! Apapun yang kau suka dan kau mau ada disini."


"Emm, terimakasih," Jawab Latizia makan dengan suapan kecil. Ia berusaha tak melahap spaghetti ini dalam satu suapan besar yang lebih terasa nikmat.


Latizia yang berusaha menjaga porsi dan gaya makan lalu Ximus yang terus memandangi wanita pujaan hatinya seraya sesekali menyuap.


Timbul rasa ingin menyatakan sesuatu pada Latizia karena tak tahan untuk memiliki wanita ini.


"Aku menyukaimu!"


"Uhuuk!"


Latizia langsung batuk. Ximus yang sadar segera bangkit menepuk-nepuk punggung Latizia yang menegguk tandas anggur di gelasnya.


"Kau baik-baik saja?"


"A..aku..baik-baik saja," Gumam Latizia menepis halus tangan Ximus di punggungnya.


Ximus melihat ada sisa saos di bibir Latizia yang masih berusaha menormalkan kerongkongannya.


"Kau makan seperti anak kecil. Aku tadi hanya bercanda, jangan dianggap serius."


"Aku hanya terkejut," Gumam Latizia tertegun saat Ximus mengambil serbet di atas meja dan mengelap bibirnya secara halus.


Latizia yang merasa tak nyaman berusaha menghindar tapi Ximus terlihat tulus padanya.


Dalam posisi ini, tiba-tiba saja Ximus dan Latizia merasa hawa di sekitar mereka jadi aneh. Dingin dan suram seperti dewa laut tengah murka melihat mereka.


"Kau merasa merinding?" Tanya Latizia mengusap tengkuknya.


"Sedikit. Mungkin karena angin pantai."


Latizia hanya mengangguk. Ia menatap area di sekelilingnya karena merasa familiar dengan aura ini.


"Lanjutkan makan-mu. Nanti dingin!"


"Kau juga," Jawab Latizia seadanya. Ia segera makan dengan pelan tapi merasa terus di awasi oleh sesuatu yang ganas.


Latizia seperti di pandangi oleh singa yang kelaparan dan siap menerkamnya.


"Tak mungkin Milano disini-kan?!" Batin Latizia keheranan. Ia sesekali melihat Ximus yang tampak sedang di hubungi seseorang.


"Latizia! Aku menjawab panggilan dulu sebentar."


"Silahkan!"

__ADS_1


Ximus berjalan pergi ke area belakang yang cukup jauh dari Latizia. Dari raut wajah pria itu sepertinya tengah mengalami kesulitan.


"Dia sibuk dengan urusannya dan aku akan sibuk makan," Gumam Latizia tersenyum puas. Ia segera makan dengan suapan besar dan tentunya rakus seperti biasa.


Ada suara langkah kaki seseorang di belakangnya hingga Latizia langsung mengunyah dengan cepat, mengelap bibirnya dengan serbet secara kilat lalu berdiri.


"Ximus! Aku.."


"Sudah puas berselingkuh?"


Duarr..


Latizia terkejut setengah mati melihat wajah dingin Milano yang sekarang terpampang di hadapannya. Kilatan marah dan emosi tampak jelas bahkan Latizia sampai menelan sisa makanan di mulutnya bulat-bulat.


"K..kau.."


Milano diam. Ekspresi wajahnya sudah seperti banteng yang siap menyeruduk melihat pakaian kurang bahan yang Latizia kenakan begitu seksi.


"Apa kau kekurangan uang untuk membeli pakaian?"


"Dimana Ximus?" Tanya Latizia cemas saat tak melihat pria itu di dekat pagar pembatas resto.


"Kau begitu mengkhawatirkannya?"


"Apa yang kau lakukan padanya, ha??" Pekik Latizia segera berjalan ke arah dimana tadi Ximus berdiri.


Ia melihat ke sekeliling dan tak ada siapapun. Perasaan Latizia mulai tak tenang karena Ximus adalah rekan kerjanya.


"Milano!! Kau jangan main-main!"


Milano hanya diam. Ia justru tak menghiraukan amarah Latizia yang beralih menelpon Ximus tapi hanya suara operator yang menjawab.


Seketika pandangan tajam Latizia beralih pada Milano yang berdiri tegap di dekat pagar pembatas dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celananya.


Pria berjas bak CEO itu memang tampan tapi di mata Latizia sangat menyebalkan.


"Dimana Ximus?"


Milano diam dan mengalihkan pandangan ke hamparan laut pantai.


"Dimana Ximus? Kau jangan menyakitinya!! Dia rekan bisnis dan temanku!!"


Milano memandang area bibir pantai. Latizia segera mendekat menyipitkan matanya.


"I..itu.."


"Dia akan mati dengan tenang," Gumam Milano santai dan sangat kejam.


Latizia menutup mulutnya tak percaya melihat Ximus tergeletak di bibir pantai dengan keadaan tak sadarkan diri.


"Milano! Kau keterlaluan!" Geram Latizia ingin pergi tapi Milano segera menarik lengannya hingga Latizia dikukung lengan kekar itu di pagar.


"Jauhi dia!"


"Kenapa?" Tanya Latizia menatap pekat manik elang Milano yang sangat serius.


"Dia bukan pria yang baik."


Seketika Latizia tersenyum geli. Ucapan Milano seakan mengatakan jika dirinya-lah pria yang begitu baik di dunia ini.


"Hey! Kau begitu percaya diri. Disini dengan jelas kau-lah pria yang sering bergonta-ganti wanita dan bukan Ximus."


"Kau pikir laki-laki normal sepertinya tak pernah bermain wanita?" Desis Milano geram.


"Mungkin ada. Tapi, tak jelalatan sepertimu."


Milano diam. Ia sudah lama menjelajahi berbagai macam kehidupan di dunia ini dan sangat paham bagaimana otak laki-laki dan sifat tersembunyi manusia.


"Kenapa? Kau merasa terhina?"


"Ini yang dia mau darimu!" Desis Milano membalikan tubuh Latizia membelakanginya.


"M..milano! Apa..apa yang kau lakukan??!"


"Kau tak bisa paham jika-ku jelaskan."


Latizia berusaha melepaskan diri tapi Milano begitu gesit dan terlatih menurunkan daleman Latizia lalu menaikan bawahan wanita itu sampai ke pinggang.

__ADS_1


"M..Milano! Lepass!!"


"Susst!! Akan-ku tunjukan isi kepala pria itu!" Desis Milano menjilati telinga Latizia yang meremang.


Ia mencengkram pinggir pagar pembatas ini kala Milano menekan-nekan bagian intinya untuk memancing hasrat Latizia yang sungguh tak tahan.


"Matanya terus menatap wajahmu tapi kepalanya berfantasi, Sayang!"


"S..sudah," Gumam Latizia berusaha tak terpancing tapi ia bisa merasakan dengan jelas bagian bawa Milano mengeras dan terasa panas.


K..kenapa aku selalu tak bisa menolaknya?! Kenapa tubuhku tak pernah bisa berbohong?!


Batin Latizia yang tadinya sudah mengambil keputusan untuk tak melayani Milano lagi tapi pria ini sulit di tolak.


"Jangan di tahan. Kau juga menginginkannya!" Bisik Milano membuka resletingnya lalu mengeluarkan pusaka perkasa yang tampak sudah meneggang kuat.


Urat-urat keperkasaan itu mampu membuat para wanita memohon padanya bahkan bisa menyerahkan apapun.


"J..janinnya masih kecil. Dia..dia t..tak akan tahan ehmm!" Lirih Latizia dengan nafas tak stabil menahan pinggang Milano.


"Aku akan pelan-pelan!"


"T..tapi.."


Latizia mencengkram pinggang Milano saat pria itu sudah mulai memasukinya. Pelan dan sangat hati-hati terasa begitu menyiksa bagi Milano yang tak mau melakukan kesalahan saat di resto dulu.


"M..masih sempit," Gumam Milano mengigit bibir bawahnya saat merasakan sensasi spesial ini.


"I..itu kebesaran!"


"Tapi kau suka-kan?!" Bisik Milano mengecupi bahu mulus Latizia yang bersemu malu memukul manja lengan kekar Milano di sebelahnya.


"Aku tak begitu."


"Jadi, begini!"


Milano menekan agak kuat dan bisa terbenam sempurna. Latizia terpekik dengan kedua kaki gemetar lemas saat merasakan sesuatu yang keras memenuhi miliknya


"Sss m..milano!"


"Hm, milikmu selalu hangat!" Bisik Milano merasa selalu candu dengan ini. Jika posesifnya meningkat dalam presentasi tinggi karena tak sudi jika Latizia menjadi milik orang lain.


Dengan nafas yang sama-sama memburu, Milano merilekskan tubuh Latizia yang tadi pasti agak syok. Ia menggulunb rambut wanita itu ke atas agar tak tertiup angin pantai yang segar.


"Bagaimana jika..jika ada yang lihat kita?"


"Selingkuhan-mu sudah menyewa tempat ini, bukan?"


"Dia bukan selingkuhan-ku!!" Pekik Latizia tak suka itu. Milano hanya diam memangku dagu ke bahu Latizia dengan mata menatap Ximus yang ada di bibir pantai dalam keadaan yang tak berubah.


"Jangan terlalu percaya dengan kata-kata manis seorang pria."


"Kenapa?"


"Karena kau belum tahu isi kepalanya," Bisik Milano mengecup bahu Latizia yang tak mengerti, kenapa Milano begitu pandai menebak niat seseorang?!


"Aku tak percaya. Ximus tak pernah punya niat jahat padaku!"


"Bodoh. Kau pikir dia akan tahan dengan penampilanmu seperti ini?!" Sarkas Milano tapi Latizia hanya acuh. Ia yakin Ximus pria baik-baik karena selama ini ia cukup nyaman dan tak pernah merasa terganggu.


.......


Di tempat yang berbeda. Sebuah dapur yang cukup tua dengan banyak dedaunan kering tersaji di beberapa nampan.


Satu tungku tanah liat yang di bakar dengan api menguarkan asap dari air yang di rebus di dalamnya. Tangan seseorang tampak telaten mengaduk air jernih tanpa aroma atau warna yang terlihat seperti air putih biasa.


"Pria itu sangat cerdas. Dia sudah membuat orang-orang kita satu persatu mendekam di penjara!"


Kaki tangannya yang tadi datang menyaksikan pembuatan racun pria misterius itu.


Pembawaanya begitu tenang dan stabil. Ia seperti hanya fokus pada air yang ia aduk tanpa tercengang atau merespon dengan gegabah.


"Tuan! Jika di biarkan seperti ini terus, kita akan tertangkap."


"Pohon tak akan bisa hidup tanpa akarnya!" Gumam pria itu tersenyum licik dan penuh rencana. Ia seperti sudah yakin akan meraup kemenangan dalam peperangan dari dua generasi ini.


...

__ADS_1


Vote and like sayang..


__ADS_2