GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Aku mencintaimu


__ADS_3

Setelah prosesi pernikahan tadi selesai mereka langsung di boyong Milano pergi ke luar dari Madison. Mereka melakukan perjalanan cukup panjang turun dari jet pribadi dan sekarang naik ke mobil yang sudah berbeda negara.


Di sepanjang perjalanan Latizia tidur begitu juga baby Arch. Saat turun dari jet tadi ia juga tak bangun hingga di gendong Milano naik ke mobil.


Sementara Franck dan Iriszen juga ikut. Milano menjadikan tempat ini sebagai hadiah bulan madu kakaknya dengan Darren yang sudah mengatur segalanya.


"Prince! Mereka sudah bersiap. Malam ini semua lampion siap di terbangkan!"


"Hm," Gumam Milano sama sekali tak beristirahat dengan baik.


Ia hanya tidur 3 jam sejak berangkat dari Madison ke Garalden. Tiba di sini sudah malam tapi ia masih belum lelah untuk memastikan bahwa semuanya aman dan sempurna.


Setelah beberapa lama, Darren yang mengemudi segera memasuki area istana. Hebatnya sudah banyak rakyat Garalden yang memenuhi area luas ini bahkan tak lupa media juga hadir.


Mobil mereka yang di kawal memasuki gerbang istana. Dari dalam mobil tak begitu banyak yang bisa di jabarkan karena begitu banyaknya orang yang menanti kepulangan Latizia.


Tapi, herannya semua hening. Mungkin mereka sudah di beritahu jika Latizia tertidur dan jangan sampai mengejutkannya.


"Prince! Sekarang giliranmu!" Gumam Darren menghentikan mobil di depan istana.


5 mobil di belakang juga ikut berhenti dengan para prajurit yang keluar membuka pintu mobil Franck.


Sementara Milano, ia mengusap halus pipi Latizia agar bangun.


"Kita sudah sampai. Ayo bangun!" Suaranya tegas tapi terdengar lembut. Karena Latizia tak juga bangun, akhirnya Milano memencet hidungnya.


"Ehmm!!" Latizia bergumam tak jelas dengan mata malas terbuka.


Milano tak lagi memencet hidung mungil itu karena Latizia sudah bangun menatap sayu ke area dalam mobil. Darren tersenyum dan Milano yang menunggu.


"Ini dimana?" Serak khas bangun tidur. Baby Arch masih tertidur di pangkuan Latizia yang mengerijab mengumpulkan kesadaran.


Pintu tiba-tiba di buka. Iriszen muncul mengambil alih baby Arch secara tiba-tiba membuat Latizia bingung.


"Kakak ipar?"


Iriszen hanya tersenyum membawa baby Arch ke dekat mobilnya. Milano juga turun bersama Darren yang bersiap.


"Ayo turun!" Mengulur tangan pada Latizia.


"Kau jangan aneh-aneh," Gumam Latizia ngeri menerima uluran tangan Milano keluar dari mobil.


Saat kedua kakinya yang memakai heels pendek menapak ke lantai tiba-tiba saja ledakan kembang api bergemuruh memenuhi langit malam berkilau meriah.


Latizia mematung menatap kosong ratusan manusia di sekitar istana dan banyak lagi di luar gerbang yang bersorak keras.


"SELAMAT DATANG YANG MULAI PUTRI LATIZIA MARCELLIE!!!"


Ucap mereka sangat bahagia menghidupkan lampion yang di peggang masing-masing orang hingga istana seperti di penuhi oleh kunang-kunang cantik.


"I..ini.."


"Selamat datang di kerajaan Garalden-mu," Bisik Milano mengusap kepala Latizia.


Tatapan ungu mistik itu masih tak percaya. Bangunan megah dengan didominasi kristal merah dan banyak bunga yang mengelilingi tempat ini seperti tak asing.


Apalagi, yang paling membuat Latizia terpaku adalah patung kedua orang tuanya yang berdiri megah di dekat istana dengan dikelilingi banyak mawar yang mekar.


"A..ayah! I..ibu!" Gemetar Latizia berkaca-kaca. Tanpa sadar air matanya lolos berjalan mendekati kedua patung itu.


Hawa dingin tak bisa mengalahkan kehangatan yang sekarang Latizia rasakan. Grigel dan Poharden berdiri di depan pintu istana dengan tatapan hangat.


"Selamat datang kembali YANG MULIA!" Ucap mereka memberi salam hormat pada Latizia dan begitu juga yang lain lalu berdiri kembali.


Mata Latizia mengigil embun. Tatapannya beralih pada kedua patung itu dengan tangan perlahan terangkat.


"I..ibu!" Hanya satu kata tapi terdengar memilukan.


Latizia melihat tak ada satupun yang berubah dari kerajaan ini. Hanya monumen patung yang baru dan ini sangat luar biasa.


Mata Latizia yang panas terus menyapu keadaan istana. Kedua tangannya turun mengepal dengan perasaan campur aduk.


"M..milano!" Seraknya parau seperti takut dan menahan isak.


Milano berjalan mendekat. Ia tahu, Latizia pasti sangat terkejut akan perubahan wilayah Garalden. Kerajaan itu seakan kembali jaya seperti saat ia kecil.


"M..milano! I..ini..ini tak mimpi-kan? Ini.."

__ADS_1


"Tidak. Kerajaan Garalden sudah berdiri kembali!"


Latizia menatap dalam manik coklat pekat Milano serius. Dari pencahayaan lampu istana ia seakan mencari-cari kebohongan tapi tak ada secuil pun.


Bibir Latizia bergetar bahkan ia tak bisa berkata-kata.


"T..terimakasih, hiks! Terimakasih!"


"Semuanya untukmu," Bisik Milano membawa Latizia dalam pelukannya. Suara tangis wanita itu terdengar.


"Milano, hiks!"


"Sudahlah. Madison akan selalu berdiri bersama Garalden. Aku tak akan membiarkannya hancur lagi."


Latizia semakin tak bisa membendung perasaannya. Ia di giring untuk melepaskan lampion untuk memperingati bangkitnya Garalden sekaligus penghormatan bagi para bangsawan yang dulu gugur terutama kedua orang tua Latizia.


"Semoga YANG MULIA RATU DAN RAJA SEBELUMNYA BAHAGIA DI ALAM LAIN DAN MENYAKSIKAN KEJAYAAN GARALDEN!!" Gema suara Grigel memberi do'a diikuti yang lain.


Latizia memejamkan matanya. Bayangan maca kecil bersama kedua orang yang begitu penting dalam hidupnya itu terlintas.


"Ibu, ayah! Aku harap kalian tenang di sana. Aku bersumpah tak akan membiarkan kerajaan kita jatuh untuk kedua kalinya!" Batin Latizia mengenang kedua orang tuanya.


Setelah meredam semua perasaan haru itu, Latizia berdiri diantara rakyat Madison yang menatapnya hangat.


Bahkan, Zehen ternyata juga hadiri disini dan menunduk padanya.


"Terimakasih atas kerja sama kalian! Sekarang kita sudah melewati masa kritis yang amat sangat menyakitkan. Kedepannya, aku mohon teruslah bersama untuk menghadapi kekacauan kerajaan. Aku atas nama putri Garalden mengucapkan TERIMAKASIH YANG SANGAT BESAR!!!"


Semua rakyat Garalden bertepuk tangan. Mereka melakukan beberapa pesta masal dimana ledakan kembang api dan banyak lagi acara mengeratkan kebersamaan.


Latizia berbaur baik dengan masyarakat Garalden mengenalkan baby Arch yang tak lagi tidur. Sementara Milano, ia sejenak memberikan waktu pada Latizia untuk melakukan apa yang dia mau.


"Kau melakukan hal yang benar, adik!" Franck mendekat ke arah Milano.


Mereka diam memandangi kedua istrinya yang tampak bahagia bicara dengan orang-orang Garalden di dampingi Poharden.


Grigel yang tadi ada di depan istana mulai berjalan mendekati Milano.


"Prince!"


Milano menatap datar pria paruh baya seukuran panglima Ottmar ini.


"Latizia istriku. Dia bagian dari Madison. Apapun yang menyangkut dirinya juga akan jadi urusanku!" Tegas Milano tanpa embel-embel basa-basi.


Grigel mengangguk. Mereka membiarkan para rakyat Madison bersuka cita sampai Milano melihat jam di pergelangan tangannya.


"Pukul 2 dini hari? Cepat sekali!" Franck tersentak.


"Kak! Kau melewatkan malam pernikahanmu!"


"Iriszen sudah lelah. Lagi pula aku tak terburu-buru," Gumam Franck bersandar ke mobil.


"Bukankah dia tidur selama perjalanan?" Datar Milano membuat Franck berkerut namun tersentak..


"Jangan bilang kau membiarkan Latizia tidur hanya untuk.."


"Tak ada pekerjaan yang gratis," Sela Milano menyeringai licik.


Franck seketika membatu. Ia tak percaya kalau Milano masih saja mengingat malam pernikahan mereka.


"Adik! Kau kejam."


"Titip iblis kecilku!" Ucap Milano menepuk bahu Franck yang mematung.


Milano mendekati Latizia yang masih bercengkrama dengan rakyat Madison. Mereka mengagumi baby Arch untuk kesekian kalinya.


"Putri! Prince kecil sangat tampan."


"Sama seperti prince Milano!"


Mereka yang tadi berani bicara tiba-tiba ciut saat Milano sudah mendekat. Baby Arch merasa ada gelagat dan niat busuk dari ayahnya hingga mencengkram erat kancing atasan Latizia.


"Ini sudah larut. Semuanya bisa kembali ke rumah masing-masing!" Tegas Milano membuat mereka mengangguk.


"Baik, prince!"


"Selamat malam, Yang Mulia!"

__ADS_1


Mereka berangsur-angsur pergi dari sekitar istana. Latizia masih berdiri memandangi mereka sementara Iriszen tahu maksud Milano.


"Adik ipar! Berikan baby Arch padaku!"


"Kakak! Ini sudah malam. Sebaiknya kau dan kak Franck istirahat," Segan Latizia hangat.


"Aku masih ingin bersama putramu. Aku mohon berikan padaku dulu malam ini."


"Tapi.."


"Berikan saja," Paksa Milano mengambil baby Arch yang langsung menangis lantang tak mau melepas cengkramannya dari kancing atasan Latizia.


Melihat rencana Milano gagal, Franck tersenyum sumringah berjalan mendekat.


"Iris, Sayang! Kau pasti lelah, bukan? Ayo istirahat!"


"Tapi.."


"Ayo! Besok masih bisa bermain dengan baby Arch!" Sela Franck cepat-cepat membawa istrinya masuk ke istana.


Milano seketika kesal. Baby Arch ia kembalikan pada Latizia dan barulah tangisan bocah itu mereda.


"Baby! Jangan menangis, sayang!" Bujuk Latizia menepuk-nepuk halus bokong baby Arch.


Milano diam. Wajahnya jelas kesal dan mengkerut tak suka dengan iblis kecil ini.


"Prince! Aku dalam!" Seru Darren tersenyum mengejek pada Milano lalu lari ke dalam istana begitu juga Grigel dan Poharden.


"Ayo masuk! Atau kau ingin jadi penjaga istana?!" Kelakar Latizia jiga meninggalkan Milano di luar.


Sebelum ia masuk ke dalam Latizia tersenyum kecil tahu jika Milano marah.


"Cih, aku menghadirkan siangan sendiri," Gumam Milano menatap langit Garalden. Tapi, Milano tak sepenuhnya marah. Ia hanya kesal bukan berarti tak bahagia.


"Mertua! Aku akan menjaga putrimu dengan nyawaku!" Gumam Milano memberi salam terakhirnya dengan tulus.


"Aaaaa!!!"


Suara teriakan Latizia dari arah kamarnya. Milano yang tersentak segera menghilang di tempat dan muncul di depan pintu kamar megah Latizia.


"Latizia!!" Suara berat tapi cemas Milano seketika keluar.


Ia dengan cepat membuka pintu kamar ini tapi, tiba-tiba sesuatu yang lembut menempel di bibirnya.


Milano terpaku diam dengan mata tak berkedip kala Latizia menciumnya secara spontan.


Ciuman yang lembut dan memancing. Seakan tak ingin tersiksa sendirian malam ini, Milano menjauhkan wajahnya.


"Jangan memancingku atau kau akan menyesal!" Gumam Milano kala Latizia menempel padanya.


Tatapan manik ungu itu seketika nakal. Milano sangat tak tahan tapi ia tak mau memaksa.


"Sayang! Jangan tunjukan tatapan seperti ini pada pria lain," Gemasnya meremas kedua bokong Latizia yang tersenyum kecil.


Kedua lengannya terangkat membelit leher kokoh Milano yang tak meladeni ini.


"Jika kau bergerak lebih jauh, tak ada kata ampun lagi, hm?"


"Baby sedang tidur di kamar kak Franck. Apa kau akan biarkan aku kesepian?"


Milano terdiam. Wajahnya mulai di sirami angin surga yang menyegarkan.


"Kau yakin?"


"Baiklah. Jika tak mau aku.."


Milano tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia segera menutup pintu rapat lalu menggendong Latizia yang di lempar halus ke atas ranjang besar itu.


Latizia tak bisa menahan geli kala Milano benar-benar tak sabaran. Padahal, mereka bukan pengantin baru lagi tapi masih saja sangat hangat.


Namun, kali ini Milano agar berbeda. Ia mengecup setiap inti tubuh Latizia seakan meluapkan kekaguman sekaligus cinta yang besar. Selain itu Milano juga terus mengatakan ucapan cinta yang lebih romantis dan mengesampingkan hasratnya.


"Aku mencintaimu!"


Vote and Like sayang..


TAMAT..

__ADS_1


Besok otw sinopis ya😊


__ADS_2