GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Merebut milikku


__ADS_3

Hawa dingin dari luar mulai masuk ke selimut tebal Latizia terusik segera menaikan selimut itu menutupi kepalanya. Ia meringkuk di dalam selimut dengan satu tangan meraba tempat di samping lalu berpindah ke belakang yang terasa dingin dan kosong.


"Ehmm!" Gumam Latizia mulai menggeliat dan menyibak selimutnya.


Ia lihat jika ranjang besar ini kosong. Tubuhnya juga sudah memakai gaun malam dengan tali tipis di bahu.


"Dia dimana?!"


Latizia mengiring pandangan ke arah balkon yang terbuka. Pantas saja terasa dingin, balkonnya tak di tutup, pikir Latizia segera turun dari ranjang.


Ia berjalan ke arah balkon berniat menutup tapi segera terhenti melihat sosok pria tampan yang ia cari tadi tengah duduk di sofa balkon.


"Dia sudah lama disini," Batin Latizia melihat ada 3 putung rokok di lantai dan satu batang masih di pakai Milano.


Bayang-bayang mentari di atas sana sudah terlihat. Tampaknya suasana hati pria ini tengah bermasalah.


"Apa ada masalah?" Tanya Latizia berdiri di belakang Milano dan mengulur tangannya menyentuh bahu kekar di baluti bathrobe itu.


"Kau bangun?"


"Hm, kedinginan," Jawab Latizia membungkuk dengan dagu tersandar ke bahu Milano yang segera membuang rokok di tangannya.


"Pergilah istirahat. Ini masih sangat awal." Seraya mengusap lengan mulus Latizia yang berkalung ke lehernya.


"Kau sudah lama disini?"


"Baru saja," Jawab Milano mengiring Latizia duduk di pangkuannya.


"Kurangi merokok-mu. Aku tak ingin merawat orang sakit," Ketus Latizia terselip perhatian besar di dalamnya.


"Kau tak perlu merawat-ku. Kerajaan tak kekurangan pelayan."


"Cih, coba saja," Gerutu Latizia memukul dada bidang keras Milano yang tersenyum kecil.


Milano menyisir rambut panjang Latizia yang terurai dengan jarinya. Aroma mawar ini sangat lembut dan menenagkan.


"Apa masalah wabah itu masih mengganggumu?" Tanya Latizia seraya memainkan simpulan tali bathrobe di perut kekar Milano.


"Mencoba mencari solusi."


"Yah, jika di biarkan maka semuanya akan hancur. Aku sangat kasihan melihat anak-anak kecil yang menangis sakit dan ibunya meraung tak berdaya. Rasanya.."


Latizia tak bisa melanjutkan kalimatnya barusan. Ia usap perutnya yang mulai terasa menonjol dengan lembut.


"Aku juga akan punya anak. Jika di posisi itu, aku pasti tak akan bisa bernafas lega."


"Pasti ada jalan keluar. Kau tenang saja!" Ucap Milano menarik Latizia dalam pelukan hangat dan amannya.


Latizia membenamkan wajah ke sela dada bidang Milano yang terlihat dari sela bathrobe. Pria ini sangat sempurna dalam segi apapun.


"Jika kau butuh sesuatu, kau katakan padaku! Jangan memendam sendiri."


"Hm, pasti!" Jawab Milano tapi hanya sekedar menenagkan Latizia.


Masalah sebenarnya tak akan ia katakan sampai kapanpun. Dengan watak dan karakter Latizia yang keibuan Milano takut sesuatu yang buruk akan terjadi.


"Oh iya,aku pergi 2 jam lagi!" Mengangkat kepalanya dari dada Milano yang menaikan alisnya.


"Kemana?"


"Tunggu sebentar!"


Latizia bangkit dengan cepat masuk ke dalam kamar. Tak butuh waktu lama baginya untuk kembali menunjukan undangan berlapis emas mewah yang hari itu Ximus berikan.


"Aku di undang secara khusus ke kerajaan Artefea!!"


"Tidak boleh," Tegas Milano mengambil undangan itu lalu membuangnya ke bawah balkon.


Sontak saja Latizia langsung kesal bukan main.

__ADS_1


"Kenapa di buang? Kau inii!!"


"Tak ada izin untuk itu," Tegas Milano bertopang kaki angkuh.


"Di mobil kemaren kau membolehkan aku untuk datang. Kau jangan plin-plan!!"


"Aku tak pernah mengizinkanmu," Sangkal Milano menatap tajam Latizia yang langsung menangkup kedua rahangnya serius.


"Ingat saat aku tanya, boleh pergi besok?!"


"Tidak."


"Itu, yang kau bilang boleh. Jangan belagak lupa ingatan, yaa!!" Pekik Latizia kesal karena ia ingin sekali pergi.


Milano diam sejenak. Seketika ingat jika di mobil saat itu Latizia memang minta izin padanya tapi, ia kira bukan ke tempat penjilat Ximus.


"Boleh. Katanya boleh, ayolah!"


"Tidak. Di sana pasti sangat ramai," Tolak Milano menurunkan kedua tangan Latizia dari rahangnya.


"Itu karenanya aku ingin ke sana. Lagi pula rangkaian bungaku di pamerkan. Boleh, ya?"


"Tidak."


"Boleh atau tidak. Aku akan tetap pergi!" Ketus Latizia melipat kedua tangan di depan dada sekaligus membuang muka kesal.


Milano diam sejenak. Rangkaian bunga yang Latizia kerjakan dengan keras itu akan di pamerkan, tak ada salahnya membiarkan wanita ini pergi hanya saja..


Cih, memikirkan Ximus ada disana saja sudah membuat suasana hati Milano bertambah buruk.


"Pergilah!"


"Kau setuju?" Tanya Latizia tak merubah tatapan jengkelnya.


"Hm," Gumam Milano mengangguk. Sontak Latizia langsung mengecup bibirnya sebanyak tiga kali lalu segera pergi ke dalam kamar.


Milano tersenyum tipis meraba area bibir sensual miliknya yang tadi Latizia cium. Ntahlah, Milano selalu di buat berbunga-bunga.


Drett..


Ponsel Milano berdering di atas ranjang sana. Latizia yang tadi ingin ke kamar mandi segera mendekat ke ranjang.


"Siapa yang menelponnya pagi-pagi begini?!" Gumam Latizia mengambil ponsel itu.


"Milanoo!! Ponselmu berbunyii!" Serunya melihat nomor tak di kenal.


"Siapa?" Tanya Milano melangkah masuk.


"Tak ada nama." Menunjukan layar ponsel itu.


Milano mengambilnya. Ini bukan kontak anggota atau orang di lab tapi siapa?! Tak ingin menebak-nebak Milano segera menjawabnya.


"Hm."


Tak ada suara sama sekali. Latizia yang penasaran segera berjinjit mendekatkan telinganya ke bahu Milano.


"Jika tak penting jangan.."


"Apa ini prince Milano?"


Suara wanita yang begitu lembut dan mendayu-dayu terdengar menggelikan di telinga Milano.


"Aku Athena. Untung saja aku masih punya nomermu."


Latizia seketika geram. Ia menatap tajam Milano yang cepat mematikan sambungan lalu mengusap tengkuknya mulai terasa dingin dan terancam.


"Sudah sejauh itu rupanya," Decah Latizia tersenyum miring.


"Aku akan mengganti nomer ponselku," Jawab Milano waspada.

__ADS_1


"Tidak perlu. Mulailah kencan buta dengannya." Berlalu ke kamar mandi.


"Aku.."


Brakk..


Suara pintu tertutup nyaring sampai vas yang ada di dekatnya jatuh.


Milano menghela nafas ringan. Ia tak pernah mengganti nomor ponselnya tapi, juga tak ingat jika saat bermain-main dulu ia memberi nomor ponselnya pada Athena.


"Kenapa bisa aku semenjijikan itu?!" Gumam Milano mulai merasa muak dengan apa yang ia lakukan dulu.


"Adiik!!"


Suara Franck di luar mengetuk pintu kamar. Milano berjalan membuka benda itu hingga tampaklah Franck yang masih duduk di kursi roda.


"Ada apa? Kak!"


"Bersiaplah lebih awal. Ada pertemuan mendesak dengan para mentri pagi ini," Ujar Franck dan diangguki Milano.


"Baiklah! Bagaimana dengan tubuhmu?" Tanya Milano sudah mengumpulkan berbagai cara untuk mendetoks racun di tubuh Franck.


"Masih sama. Hanya saja terjadi beberapa keanehan. Setiap mencoba berdiri pasti kakiku terasa keram dan sakit."


"Hm, akan-ku coba mencari solusinya," Jawab Milano tapi, Franck merasa begitu banyak beban yang ada di bahu adiknya.


"Adik! Tak perlu sampai merepotkanmu. Kita tangani dulu masalah wabah dan perkembangan kerajaan. Lagi pula aku merasa tak begitu sekarat."


"Tak perlu cemas. Akan-ku lakukan selagi aku bisa," Tegas Milano pamit segera menutup pintu.


Franck diam menatap sendu ke depan. Seandainya ia tak lumpuh, pasti Milano tak akan bekerja begitu keras.


"Kakak tahu, kau pasti menyembunyikan sesuatu dari Latizia!"


.....


Di dalam ruang rias yang tampak besar dan mewah itu, terlihatlah seorang wanita cantik dengan rambut sebahu duduk di depan cermin tengah di dandani oleh dua perias ternama di kota ini.


Ia terlihat marah sampai membuat dua wanita di belakangnya takut dan gugup.


"Dia benar-benar sulit ku dapatkan," Geram putri Athena mengepal.


"P..putri!"


"Aku ingin hari ini riasan dan penampilanku-lah yang jadi pusat perhatian!" Pintanya tak mau kalah.


Salah satu dari perias itu diam tapi pikirannya melayang.


Jika bisa membantu putri Athena mendapatkan apa yang dia mau, maka aku pasti akan dapat keuntungan yang besar, pikirnya licik.


"Putri! Apa kau sedang kesal dengan seorang wanita?"


Putri Athena melirik tajam perias itu hingga menunduk.


"Katakan!"


"Menurutku. Sebaiknya putri jebak saja wanita itu dengan pria lain. Buat mereka tertangkap oleh media hingga beritanya tersebar. Jika sudah seperti itu, pria manapun tak akan lagi mau dengannya."


Usulan wanita itu sukses membuat putri Athena tersenyum licik. Akhirnya ia punya rencana untuk menjauhkan Latizia dari Milano.


"Idemu tak buruk. Dia memang harus di jebak," Gumam putri Athena dengan suasana hati kembali baik.


Membayangkan Latizia di tinggalkan Milano yang pergi sendiri padanya sudah membuat putri Athena kegirangan bukan main.


"Tunggu saja. Akan-ku rebut MILIKKU kembali."


...


Vote and like sayang

__ADS_1


__ADS_2