GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Merajuk!


__ADS_3

Kematian wanita tua yang tadi membantunya masih menjadi buah pikiran Latizia. Ia sudah ada di dalam mobil yang melaju sudah lebih dari 1 jam semenjak Latizia sadar tapi ternyata ia tak lagi ada di pemukiman Andolf.


Ntah bagaimana mana cara Milano membawanya turun, Latizia juga tak mau memikirkannya.


"Dia tiada karna aku," Gumam Latizia meremas jari-jemarinya di atas paha.


Milano yang sedari tadi duduk di samping Latizia dan menjadikan dadanya sandaran wanita itu sangat paham perasaan Latizia.


"Dia tiada secara terhormat."


"Milano! Andai saja tadi aku tak masuk ke penginapan dan melibatkan dia, mungkin saja.."


"Dia melindungimu dan aku bersumpah akan memakamkannya dengan layak dan terhormat!" Sela Milano tegas dengan hawa pemimpin yang kuat.


Latizia diam. Ia tak bisa berkata-kata selain kembali memejamkan matanya untuk merilekskan pikiran. Darren yang melihat dari kaca spion agak ragu ingin menyampaikan laporan anggota mereka yang ada di wilayah kerajaan Madison.


"Prince!"


"Katakanlah!" Titah Milano tahu keraguan Darren.


"Pasukan pemberontak yang ingin menyerang penduduk Madison sudah tertangkap seluruhnya!"


"Orang-orangku?" Tanya Latizia yang sudah membuka mata.


"Iya, nona! Mereka tertangkap saat ingin meracuni sumber air bersih disana. Racun yang mereka pakai di dapat dari akademi pengobatan di pegunungan Andolf."


"Benar. Disana juga gudangnya banyak orang misterius. Para murid dari akademi itu tak tahu apapun karena para tetuanya yang melakukan hubungan dengan pihak luar," Jelas Latizia sudah menyelidiki itu sebelumnya.


"Nona benar. Hanya saja, mereka bergerak di bawah naungan orang yang lebih berkuasa dari itu. Jika menyerang akademi sekarang kita hanya akan gegabah."


"Yang harus di lakukan sekarang adalah mendirikan kerajaanmu kembali dan mengambil alih kerajaan Madison!" Tegas Milano sudah memperhitungkannya.


"Bagaimana caranya?"


"Para pejabat kerajaan sudah lengah. Mereka tak tahu jika orang-orangku sudah masuk kesana dan mengambil bukti sebanyak mungkin. Tak hanya itu saja, Barack dan Clorris juga tengah melakukan sidang. Mereka tak akan sempat mengurus istana yang begitu besar."


Latizia mangut-mangut mengerti. Berarti Milano menunggu jatuhnya pemerintahan Raja Barack hingga dunia bisa mengakuinya.


"Tapi, bagaimana dengan kakek Tean? Kapan kita akan menyelamatkannya."


"Selama dia masih bisa meramu obat. Pasti, akan hidup," Jawab Milano tapi eskpresi wajahnya agak lain.


Latizia diam. Di samping masalah yang terus mereka hadapi, Latizia cukup lega karena perlahan-lahan mereka bisa menangkap orang-orang yang berkaitan dengan si pengecut itu.


Apalagi kekuasaan Raja Barack pasti tak akan berjalan lagi dan Milano akan segera kembali ke istana miliknya.


"Selamat, ya?"


"Untuk?" Singkat Milano menaikan satu alisnya kala Latizia memangku dagu di pundaknya.


"Kau tak akan jadi pria brandal lagi. Pasti nanti kau akan sombong tak mau menyapaku."


"Cih," Decih Milano memutar mata malas.


"Aku serius. Nanti kau pasti akan memalingkan wajah saat bertemu denganku. Soalnya-kan aku putri yang tak punya kerajaan."


"Jangan asal bicara."


"Lalu, nanti kau akan apa?" Tanya Latizia menunggu.


"Kau begitu ingin aku sapa, hm?"


"Tidak juga. Jika kau tak menganggu-ku itu sangat baik. Aku jadi punya waktu untuk bersenang-senang dengan anakku," Jawab Latizia mengusap perutnya dengan binar bahagia.


Milano sangat salut pada Latizia. Padahal hubungan mereka termasuk sebuah kesalahan tapi wanita ini berbesar hati untuk menerima bayinya.


"Kau ingin tahu, apa yang-ku lakukan nanti?"


"Aku tak memaksa. Jika kau.."


"Aku akan menikahimu!"


Degg..


Latizia terkejut. Darren yang tadi menyetir-pun nyaris menginjak rem tapi ia masih sayang nyawa.


"K...kau bicara apa?!" Gugupnya.


Wajah Latizia tiba-tiba kaku. Ia membuang muka ke arah jendela mobil dimana mereka akan segera tiba di kediaman.

__ADS_1


"Kau mau?" Tanya Milano melihat Latizia yang canggung.


"A..aku.."


"Jangan di jawab sekarang. Aku memberi-mu waktu sampai anak itu lahir!" Tegas Milano tak mau Latizia terlalu memikirkannya.


"K..kau tak sedang main-main-kan?" Tanya Latizia hati-hati menatap Milano yang berwajah serius.


"Hm. Kau mengandung anakku dan siapapun itu akan-ku nikahi!"


"Bagaimana jika wanita liar yang bersamamu juga.."


Cup..


Milano tak tahan untuk tak mencium bibir Latizia. Sedari di hutan tadi wanita ini terus membahas soal ja**lang yang sebenarnya tak bisa menandingi sebutir debu-pun di sepatu Latizia.


"Ehmm!"


Latizia mengerang kecil saat Milano mengigit halus bibirnya. Hisapan pria ini begitu sensual bahkan meng**lum bibirnya penuh dengan sangat rakus tapi juga posesif.


"Nimmnuu!"


Mendengar nama itu lagi, Milano segera menghisap lidah Latizia agak kuat sampai wanita itu terbelalak mendorong bahunya.


"Milanoo!!" Kesal Latizia kala bibir dan lidahnya kebas.


Wajah Milano mendingin bahkan sangat murka. Darren tahu prince-nya pasti tengah cemburu.


"Masih berani kau menyebut namanya?!" Geram Milano dengan darah mendidih.


"Nama apa?! Aku.."


Milano langsung berubah. Ia menatap lurus kedepan dengan nafas memburu karena aliran darahnya tengah mendesir ke ubun.


"Bibirku sampai sakit," Gerutu Latizia memeggangi mulutnya.


Sesekali ia melihat Milano yang tampak benar-benar marah. Saat bercinta maka Latizia akan menyebut nama itu dan sekarang juga.


Milano merasa tak terima dan sangat emosi bukan main.


"Kenapa jadi marah?! Memangnya aku melakukan apa?!" Batin Latizia tak mengerti.


Brak..


Tertutup dengan kuat. Latizia dan Darren sampai saling pandang ditengah kaca mobil yang menghalangi mereka.


"Ada apa dengannya?" Tanya Latizia keluar dari mobil.


"Mungkin saja prince tak suka dengan teman lelakimi, nona!"


"Teman lelaki?" Gumam Latizia heran. Ia berjalan masuk ke dalam kediaman besar ini seraya memikirkan soal ucapan Darren tadi.


"Ximus?! Tapi, bukannya masalah itu sudah selesai saat di pantai?!"


"Latizia!"


Sapa Franck yang mendekat dengan kursi rodanya. Ia tadi berpapasan dengan Milano yang tampak tak sedang dalam suasana hati yang baik dan langsung ke kamar.


"Kalian bertengkar?"


"Ntahlah. Tadi, dia baik-baik saja," Jawab Latizia mengernyit.


Franck akhirnya mengambil nafas dalam. Sepertinya Milano tengah marah dan ia tahu apa yang akan di lakukan adiknya itu.


"Temui dia! Pasti sekarang minum dan merokok berat!"


"Nanti pasti bertengkar lagi. Dia itu sangat menyebalkan," Gumam Latizia ikut jengkel.


"Ya sudah. Jika begitu lebih baik sekarang kau ikut aku!"


Franck menggulir kursi rodanya ke arah dapur. Latizia mengikut saja sampai tiba di meja makan, tampaklah segelas air yang berwarna agak kekuningan dan kental.


"Ini.."


"Telur kocok dan susu! Bisa menambah stamina dan kesehatan rahim!" Jawab Franck menyodorkannya.


"M..maksudnya?"


"Aku tahu kau dan Milano masih muda dan pasti belum memikirkan soal anak. Tapi, ada baiknya kalian cepat punya anak agar hubungan kalian semakin erat," Jelas Franck membuat Latizia menelan ludah.

__ADS_1


"Asal kau tahu saja. Adik-mu bahkan sudah lebih dulu menghamiliku," Batin Latizia yang menahan gejolak di perutnya melihat telur kocok itu.


"Minumlah! Jepit hidungmu agar tak begitu amis."


"A..aku.."


"Tak apa. Setengah saja cukup!" Rayu Franck menyemangati.


Pelayan Wey yang melihat dari arah meja dapur hanya menunjukan kepalan tangan yang di tarik memberi semangat.


"Aku akan meminumnya nanti setelah membersihkan diri. Aku.."


"Jika di minum nanti pasti tak akan enak lagi."


"Ini tak ada enaknya sama sekali," Batin Latizia tersiksa. Keinginan Franck untuk menjadi paman begitu kuat sampai melakukan hal biasanya di buat oleh ibu mertua.


"Ayo minum!"


Mau tak mau Latizia menerima gelas itu. Ia menelan ludah kala aroma amis samar, bau lemon ini meruak masuk ke hidungnya yang punya sensitifitas tinggi hingga sangat menyiksa.


"Sedikit saja. Ini demi kau dan Milano!" Ujar Franck tapi ia tertawa membatin tak sabar menerima kabar baik.


Saat sudah berjarak 5 senti dari mulutnya, Latizia langsung mau muntah.


"A..aku hoeekmm!!"


"Jepit hidungmu. Haiss.. Anak zaman sekarang memang sangat manja," Omel Franck membuat Latizia pasrah.


Ia menjepit hidungnya dan bersiap untuk meminum paksa tapi tiba-tiba gelas itu berpindah tangan.


Latizia syok kala Milano yang menegguk tandas minuman aneh itu tanpa ekspresi.


"Yah. Kaulah targetku yang sebenarnya adik," Batin Franck gembira.


Jika menyuruh secara langsung Milano tak akan mau. Tapi, melalui Latizia pasti pria ini akan pasang badan.


"Luar biasa, Milano!"


"Hm," Gumam Milano datar meletakan gelas itu di atas meja.


Tanpa menatap Latizia ia berlalu ke lemari pendingin. Milano mengambil sekaleng vodka dan meminumnya dengan sekali tegukan.


"Kau tak merasa mual?" Tanya Latizia penasaran tapi Milano acuh seakan tak mendengarnya.


"Cih, ntah apa yang terjadi padanya?!" Umpat Latizia kesal.


"Hey! Jika kau mau, aku punya banyak stok buku CARA MEMBUJUK PRESDIR DINGIN. Kau mau coba?" Tawar Franck dengan ekspresi mengerikan bagi Latizia.


"T..tidak perlu. Aku.."


"Ayo! Akan-ku tunjukan!"


Latizia tak bisa menolak. Ia terpaksa mengikuti Franck yang tengah bahagia bukan main.


Milano memandang datar itu semua. Ia sangat kesal saat Latizia tak ada inisiatif sama sekali untuk membujuknya.


"Prince!" Gugup pelayan Wey saat Milano meremas kaleng vodka itu sampai remuk.


"Dia satu-satunya wanita yang membuatku kepalaku selalu pusing," Umpat Milano membuang asal kaleng di tangannya lalu pergi.


Pelayan Wey memungut kaleng itu dengan perasaan lega karena prince-nya tak menghancurkan barang disini.


....


Milano yang sedang mode marah, mengalihkan perhatiannya pada pekerjaan. Ia duduk di sofa ruang tamu dimana Darren datang membawa laporan di dalam Tab-nya.


"Prince! Keberadaan kakek Teans masih belum bisa di temukan."


"Bagaimana dengan kakaku?" Tanya Milano serius.


Darren mengambil nafas dalam. Ia juga tak percaya ini tapi laporan anggota mereka seperti itu.


"Saat prince tak ada di kediaman beberapa minggu lalu, pangeran Franck pernah keluar dari kediaman. Dia bertemu .."


Darren agak ragu tapi ia yakin Milano bisa mencari jalan keluarnya.


"Pangeran bertemu dengan mentri Human kaki tangan Raja Barack!"


....

__ADS_1


Vote and like sayang..


__ADS_2