
Milano dan Latizia sudah ada di mobil yang di kemudikan oleh Darren keluar dari kediaman. Mereka memantau Franck lewat layar Tab yang di peggang Milano.
Sejak mobil keluar dari gerbang, cctv dari lantai dasar memperlihatkan Franck menatap kepergian mereka dari arah teras.
"Kakakmu tampak biasa saja, Milano!" Gumam Latizia melihat Franck yang tak melakukan apapun selain diam memandang keluar.
"Dia memandangi kepergian mobil kita tanpa ada pergerakan apapun."
"Dia akan keluar!" Gumam Milano tahu gerak-gerik Franck yang tengah memastikan jika mobil mereka benar-benar pergi.
"Tapi, dengan siapa? Semua pengawalmu pasti akan melapor jika membawanya pergi menemui.."
"Dia bisa menyetir sendiri, Latizia!" Jawab Milano dan benar saja.
Franck terlihat menghubungi seseorang melalui ponselnya lalu berdiri. Walau tertatih-tatih dan bertumpu pada dinding, Franck menyuruh salah satu pengawal di depan mengeluarkan mobilnya dari garasi.
"Kakakmu sudah bisa j..jalan?" Syok Latizia tak percaya.
"Hm, dia bisa menyetir sendiri dengan kondisi seperti itu."
Latizia cukup terkejut. Ia terus mengamati Franck dari Tab ini sampai satu pesan masuk ke ponsel Milano.
PRINCE. PANGERAN INGIN BELAJAR MENYETIR SENDIRI. DIA INGIN BERKELILING DAERAH KEDIAMAN.
Isi pesan yang membuat Milano terpaku pada Franck. Pria itu sudah masuk ke mobilnya dan menjadikan ini alasan.
"Kakakmu tak membawa pengawal bersamanya. Ini sangat berbahaya," Gumam Latizia cemas.
"Buntuti mobil itu!" Titah Milano pada Darren yang membelokan mobil ke arah dua jalur yang berbeda.
Ia berhenti di jalur pertama yang agak menjorok dengan tatapan beralih ke spion samping menunggu mobil Franck lewat.
Saat mobil merek Bugatti La Voiture Noure itu sudah lewat di belakang, Darren segera memutar kemudi mengikuti dari belakang.
"Ini jalan mengarah ke Golden Beach. Tempat itu cukup ramai, Prince!"
"Apa kakakmu ingin bertemu mentri Human lagi?" Timpal Latizia heran.
Milano hanya diam. Tatapan netra elangnya justru terus memburu ke arah mobil Franck yang berkendara cukup cepat dan tak stabil.
Latizia tahu Milano tengah menahan amarahnya sampai pinggiran Tab itu retak karena mendapat tekanan kuat dari cengkraman tangannya.
"Tenanglah! Jika nanti dia dalam bahaya, kita akan segera membantunya!"
Milano tak menjawab. Wajahnya mendingin beku pertanda kali ini ia benar-benar di penuhi oleh emosi.
Perjalanan ini ternyata cukup panjang. Franck nyatanya tak melewati jalan utama menuju pantai itu tapi ia pilih jalur lama yang notabennya sepi dan cukup tinggi kriminal.
Sampai-lah mereka ke sebuah jalan aspal kosong yang sangat sepi tapi di tepinya ada pantai Golden Beach yang juga tak ada penghuni.
"Ada mobil yang menunggunya!" Ujar Latizia saat melihat dari kejahuan.
Mobil Franck berhenti di samping mobil yang sudah lebih dulu terparkir di sana. Ia tampak turun segera mendekati mobil itu dengan kaki masih tertatih-tatih.
Darren yang memelankan laju mobil mereka hanya bisa mengamati itu. Hawa di dalam sini benar-benar terasa menakutkan karena Milano tengah berusaha menahan amarahnya.
__ADS_1
"Tenanglah!" Pinta Latizia beralih menggenggam tangan kekar Milano yang sudah membuat kaca Tab retak.
Wajah tampannya semakin merah meradang kala yang keluar dari mobil itu adalah mentri Human di dampingi dua pengawal istana.
Keduanya bicara dengan serius. Wajah Mentri Human tampak merendahkan Franck yang terlihat serius mengeluarkan sesuatu dari dalam sweater yang ia kenakan.
"Itu bukannya berkas perusahaan, Prince!" Gumam Darren terkejut.
"Jadi, kakakmu mengambil surat-surat penting beberapa perusahaan Madison yang kau ambil dan di serahkan padanya?!" Syok Latizia tak percaya itu.
"Tidak mungkin. Surat itu sudah benar-benar di amankan dan kenapa bisa .."
Ucapan Darren terhenti kala melihat wajah dingin Milano tak bergeming menatap hal itu. Sedetik kemudian ia mulai paham saling pandang dengan Latizia.
"Milano sengaja meletakan surat itu sembarangan untuk menguji, apa Franck akan mengambilnya?! Dan ternyata benar. Ini pasti berat bagi Milano," Batin Latizia mengerti kala Milano meremas tangannya cukup kuat tapi Latizia menahan sakitnya.
Mereka terus memperhatikan interaksi Franck dan Mentri Human yang tampak mulai aneh.
Keduanya berdebat dan wajah Franck sampai emosi mendorong bahu mentri Human tapi tubuhnya yang lemah juga langsung di tendang kasar oleh dua pengawal pria itu.
"M..Milano!" Gugup Latizia saat Milano turun dari mobil dengan langkah lebar mendekati dua kubu yang tak menyadarinya.
"Kau sudah tak berguna!" Desis mentri Human melihat-lihat berkas di tangannya.
"Jangan ganggu adikku!! Kau sudah berjanji, jangan mengusiknya!!!"
Tawa renyah mentri Human langsung pecah menyerahkan berkas itu pada dua pengawalnya. Franck yang masih tersungkur di lantai tampak sangat memprihatinkan.
"Kau ini memang terlalu polos."
"A..apa maksudmu?" Tanya Franck yang sangat takut jika Milano menjadi target orang-orang licik ini.
"JANGAN KAU SENTUH DIA!!! DIA TAK ADA HUBUNGAN APAPUN DENGAN ORANG-ORANG MENJIJIKAN SEPERTI KALIAN!!!" Teriak Franck meludahi sepatu mentri Human yang emosi.
"Lenyapkan pria cacat ini!" Geramnya merampas berkas itu dari tangan dua pengawalnya yang segera mengambil palu di dalam mobil.
"A..apa yang kau lakukan?" Tanya Franck merapat ke mobil.
"Jika kau masih hidup, ada kemungkinan kau yang akan menduduki tahta Madison!"
"Aku tak peduli dengan kerajaan itu. Jangan kau sentuh adikku maka kami tak akan kembali!!"
"Ayolah. Adik-mu bukan orang yang mudah menurut," Desis mentri Human menjentikkan jarinya.
Dua pengawal itu segera mengayunkan palu itu ke arah kepala Franck yang memejamkan mata karena ia akan berakhir disini.
Tapi...
Brakkk..
Suara hantaman keras ke body mobil di depan membuat Franck terkejut. Matanya terbuka lebar kala dua pria kekar yang tadi ingin membunuhnya tiba-tiba saja terpental dengan keras.
Dan lebih mengejutkannya lagi, tubuh tegap, tinggi kekar seseorang yang berdiri di membelakanginya dengan dua palu sudah ada di genggamannya.
"M..milano!"
__ADS_1
Mentri Human mulai pucat. Kedua kakinya tak berhenti bergetar melihat wajah iblis Milano yang menatapnya bak singa kelaparan dan elang pengintai.
"B..bunuh! Bunuh mereka berdua!" Gugup mentri Human pada dua pengawalnya yang masih hidup tapi tulang belakangnya patah.
Dua pengawal itu berdiri membuat Franck cemas jika Milano akan terluka.
"Adik!! Adik kau pergi dari sini, cepaat!!" Paniknya mendorong betis Milano tapi sayang sekali tak ada reaksi apapun.
"Bunuh dua parasit cacat ini!"
"Milanoo!! Cepat pergii!!" Teriak Franck panik kala dua pria itu mendekat mengeluarkan pisau di jaket mereka lalu melayangkan sabetan ke arah Milano.
"Adiiik!!" Panik Franck tapi kemudian hal di luar ekspektasinya muncul.
Milano dengan gagah dan kejamnya menghantamkan dua besi palu itu ke rahang dua pria di depannya dengan sangat kuat sampai giginya rontok dan tulang pipi patah.
Tak cukup di situ saja. Milano dengan darah mendidih menendang tubuh mereka ke dekat ban mobil yang tiba-tiba bergerak melindas keduanya hingga mentri Human ketakutan.
"K..kau..."
Mentri Human sampai tak bisa bergerak melihat dua tubuh pria kekar tadi sudah terpisah dengan darah meleleh ke aspal panas ini.
Mereka tewas dengan bagian organ keluar mengerikan bahkan, baru kali ini mentri Human melihat jiwa Milano yang sebenarnya.
"K..kau..kau siapa?! D..dimana kau belajar semua ini?!" Gugupnya gemetar seraya mundur kala Milano berjalan mendekat.
Darah di ujung palu itu terus menetes seakan menggambarkan betapa mendidihnya darah di tubuh Milano sekarang.
"K..kau.."
"Kau tak PANTAS merendahkan KAKAKKU!" Geram Milano dengan menggebu-gebu melayangkan dua palu itu ke leher mentri Human yang ingin lari tapi sayang ia tak bisa lepas dari mata elang Milano.
Lehernya di tebas sampai menampakan tulangnya dan tersungkur di aspal. Seakan tak puas dengan ini semua, Milano menginjak kepala mentri Human dengan rahang mengetat dan gigi merapat geram.
"Apa kaulifikasi-mu sampai berani bertemu dengannya?!"
"A..mmm..pun.i..a.."
"KAU BAHKAN LEBIH RENDAH DARI BINATANG!!!" Murka Milano mencabik-cabik tubuh mentri Human dengan palu di tangannya.
Wujud Milano sekarang sudah benar-benar tak bisa di kenali Franck yang mematung kosong seakan tak percaya jika itu adiknya.
Milano seperti hewan buas mengoyak dan memutus semua bagian yang ia rasa tak pantas utuh. Dirinya tak lagi punya pengendalian sampai langit di atas sana mulai menghitam dan angin berhembus cukup ekstrem.
"Ini buruk," Gumam Darren melihat langit yang gelap dan banyak elang yang datang menyerbu ke arah sini.
Latizia yang sudah berdiri di luar mobil bersama Darren merasakan jika elang ini akan membuat kegaduhan di kota.
"Prince lepas kendali! Elang-elang itu akan membahayakan seluruh masyarakat kota!"
"A..aku akan mengurus Milano!" Gumam Latizia ingin pergi tapi Darren mencegahnya.
"Dalam keadaan seperti ini Prince hanya ingin menghabisi musuhnya sampai keinginan membunuh itu lepas. Kau juga akan terluka jika mendekat!"
"Aku tak bisa biarkan dia dalam bahaya. Semua kota akan menganggapnya monster dan psikopat!" Bantah Latizia menyentak tangannya dari peggangan Darren yang seketika frustasi saat Latizia berlari kecil mendekati Milano yang sudah gelap mata dan menuli.
__ADS_1
....
Vote and like sayang