GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Panggilan kesayangan


__ADS_3

Rembulan di atas sana sudah tampak terang pertanda malam semakin larut. Hawa dingin udara dari luar juga semakin naik masuk ke balkon kamar Latizia yang baru saja selesai mandi dan berniat untuk menutup balkon tapi, ia terdiam sejenak.


"Sudah semalam ini tapi Milano belum juga ke kamar," Gumam Latizia merasa kesal.


Setelah menerima pengajaran dewasa dari Franck tadi, Latizia di minta untuk berdandan yang cantik dan memakai pakaian dinas panas.


Sebenarnya Latizia hanya menghargai Franck saja. Ia bersedia di depan pria itu tapi saat selesai mandi, Latizia lebih nyaman memakai kemeja biru kebesaran milik Milano yang terasa adem di kulitnya.


"Seharusnya aku membujuk dari siang tadi. Tapi-kan aku tak salah, dia yang marah-marah tak jelas," Bingung Latizia segera menutup balkon lalu mondar-mandir di depan ranjang.


"Kalau aku menemuinya nanti pasti dia akan besar kepala. Lebih baik aku tunggu sebentar lagi."


Latizia berbaring di atas ranjang king size itu dan memejamkan mata. Sedetik kemudian ia berbalik badan dan begitulah selanjutnya sampai Latizia mulai frustasi.


"Bisa tidak kau jangan terlalu peduli padanya. Kita sekarang sedang perang dingin, Latizia!" Jengkelnya mengacak rambut panjang yang di urai cantik itu.


Karena tak tahan lagi, Latizia segera bangkit. Ia memakai bando kain di atas meja rias lalu mengambil blazer di lemari ganti.


"Bilang saja kau sedang mengambil air," Gumamnya segera keluar dari kamar.


Hal pertama yang menyapa Latizia ada kesunyian. Sepertinya Franck sudah di kamarnya begitu juga para pelayan yang tak akan sembarangan berkeliaran.


Saat tiba di dekat tangga, Latizia melihat Darren yang sibuk dengan laptopnya di sofa bawah. Tak ada satu-pun orang lain apalagi Milano.


"Kemana dia?!" Tanya Latizia segera turun dari tangga.


Darren memang sibuk bahkan ia tak sadar jika sekarang Latizia berjalan ke arahnya.


"Apa ada masalah?"


"Nona!" Sentak Darren segera menutup laptopnya.


"Kau tampak sibuk."


"Iya, nona! Ini urusan perusahaan yang menumpuk."


Latizia manggut-manggut mengerti. Ia melirik kiri kanan tak ada penampakan pria brandal itu disini.


"Nona mencari prince?"


"T..tidak. Aku...aku ingin minum ke dapur," Elak Latizia mengusap tengkuknya canggung.


Darren mengambil nafas dalam. Ia tak tahu harus mengatakan ini atau tidak tapi, sangat prihatin jika prince-nya tak ada teman untuk menemani.


"Nona! Aku rasa hanya kau yang bisa menemani tuan saat ini."


"Maksudmu?" Tanya Latizia sampai Darren menghela nafas. Ia melirik kiri kanan memastikan jika tak ada orang selain mereka disini.


"Aku tak bisa mengatakannya. Lebih baik nona temui prince sendiri."


"Dia dimana?" Tanya Latizia heran.


"Di belakang kediaman. Ada jalan setapak menuju area hutan yang terhubung langsung dengan air terjun. Nona harus hati-hati!"


Latizia mengangguk. Ia berjalan pergi keluar dari kediaman melalui pintu samping yang terhubung ke taman.


Ia berkeliaran pergi ke area belakang dimana ada satu gerbang yang diterangi oleh lampu di pagarnya.


"Malam-malam begini dia pergi ke hutan. Memang pria yang aneh."


Latizia merutuki Milano. Ia buka gerbang itu dan berjalan mengikuti jalur yang ada. Jalan setapak yang terurus dan bersih.


Hanya saja tak ada lampu, untung saja cahaya bulan di atas sana cukup untuk menunjukan jalan.


Tak beberapa jauh ke depan, Latizia bisa mendengar suara alunan harmonika seseorang. Ia sempat berhenti sejenak karena cukup familiar.


"Bukankah harmonika inilah yang dulu meneror kerajaan Madison?!" Batin Latizia mencari-cari asal suara itu.


Bedanya, alunan harmonika kali ini tak menyimpan dendam atau amarah. Latizia bisa merasakan jelas irama dan lantunannya seperti tengah sendu dan membendung kesedihan.


Latizia mulai mengikuti arah suara itu sampailah ia kesebuah tebing dimana suara itu berasal.


"M..milano!" Gumam Latizia berdiri di dekat pohon besar yang bisa rimbun sampai menutupi area langit di dekat tebing.


Latizia melihat Milano yang tengah duduk di ujung batu besar tebing dimana ada air terjun di bawahnya seraya memainkan harmonika.


Dia tampak berbeda, pikir Latizia mengamati sisi lain Milano.


Semakin ia mendengarkan irama lembut dan merdu harmonika itu maka, Latizia di buat jatuh ke dalamnya.


Emosional, rasa cinta dan kasih sayang bisa ia rasakan dari setiap irama yang mengalun membuai telinga dan hati pendengar.


Baru kali ini Latizia melihat Milano tampak feminim. Feminim dalam artian penuh dengan jiwa kasih dan perasaan yang tak pernah bisa ia jabarkan dengan kata-kata.


Lama Latizia memandang Milano sampai lantunan itu berhenti. Hembusan angin dingin datang menerpa tubuh Latizia yang seakan di tarik mendekat.

__ADS_1


"Dia tengah bersedih," Batin Latizia berjalan maju tapi hatinya merasakan kegundahan pria itu.


Latizia dengan hati-hati duduk di samping Milano yang tahu akan kedatangannya.


"Pemandangannya bagus," Ujar Latizia memecah kebisuan.


Ada kolam air terjun di bawah sana dan penghijauan mengeliling. Udara yang segar dan cahaya bulan yang terpantul kan membuat pandangan jadi ringan.


"Pantas kau nyaman disini. Air yang jernih dan suara air terjun. Ada juga bayangan bulan di kolam sana. Aku tak pernah melihat pemandangan di malam hari sampai seindah ini."


Milano tetap diam. Tatapannya fokus ke arah bayangan bulan di air yang tadi Latizia bicarakan.


"Cantik-kan?" Tanya Latizia menatap wajah Milano yang terlihat suram.


"Cantik!" Singkatnya datar.


Latizia akhirnya diam menunduk. Ia sudah berusaha mengajak Milano bicara tapi pria sama sekali tak ingin terbuka padanya.


"Ini tempat dimana aku tumbuh besar bersama kakakku!"


Ucapan Milano membuat Latizia menoleh. Wajah yang serius dan mengenang masa lalu tampak jelas di pahatan tampan Milano.


"Dia yang mengajariku cara berenang walau hanya bisa duduk di kursi rodanya. Kolam itu selalu di penuhi oleh mainan bola saat ulang tahunku yang ke 7, dia memang kekanak-kanakan."


"Yah, tapi dia sangat sayang padamu!" Jawab Latizia tapi Milano tersenyum kecil membolak-balikkan harmonika di tangannya.


"Dan dia juga yang mengajariku bermain harmonika."


"Benarkah? Berarti Franck bangsawan hebat," Decah Latizia kagum.


Milano mengangguk. Ia menceritakan bagaimana kerasnya Franck belajar menjadi putra mahkota penerus tahta dari sejak lahir tapi, karena ia lumpuh semua harapan itu pupus dan menimbulkan trauma.


"Dia didik harus serba bisa dan merakyat. Kakek-ku selalu ingin kami menjadi penerus yang bisa membawa Madison pada kejayaan tapi, ..."


"Milano!" Lirih Latizia beringsut lebih dekat dan menarik kepala pria itu agar bersandar ke bahunya.


Milano akhirnya luluh. Ia tak bisa menahan ini sendirian karena sungguh rasakan sangat berat.


"Seharusnya aku yang lumpuh."


"Milano! Kau.."


"Jika aku yang di kursi roda maka kakak pasti akan hidup bahagia," Sesal Milano tapi Latizia langsung memeluknya.


"Walaupun kau yang lumpuh tetap saja keadaan tak akan berubah bahkan, bisa lebih rumit. Kakak Franck punya jiwa yang lembut dan dia tak akan bisa menangani masalah seperti yang sudah kau lakukan."


"Aku pikir selama ini yang-ku lakukan sudah benar. Aku tak pernah menginginkan tahta itu bahkan sedikit-pun tak pernah, Latizia!"


"Aku mengerti. Kau melakukan semuanya demi kakakmu."


"Tapi,..."


Milano tak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia meremas punggung Latizia karena merasa frustasi.


"Apa kakakmu mengatakan jika kau ingin mengambil tahtanya?"


Milano menggeleng. Ia kembali duduk dengan benar menatap ke depan penuh kebingungan.


"Kakak berbohong padaku. Dia bertemu dengan mentri Human kaki tangan Raja Barack diam-diam."


"Kak Franck melakukan itu?" Syok Latizia membuat Milano cukup menjadi gundah.


"Apa mungkin dia pikir aku melakukan semua itu untuk diri sendiri?! Apa mungkin kakak takut aku mengambil tahtanya?! Latizia, aku.."


"Tenanglah!" Lirih Latizia mengusap punggung Milano agar bisa lebih tenang dan stabil.


"Aku tak mengerti, kenapa dia melakukan itu?!"


"Jangan dulu berpikiran yang buruk. Aku yakin kakak Franck punya alasan kuat. Dia sangat menyayangimu, Milano!" Ujar Latizia sangat tahu dan merasakan bagaimana eratnya hubungan adik dan kakak ini.


Milano diam. Latizia terus memberikan sentuhan yang hangat. Mengusap punggung kekar itu dan beralih ke kepala Milano.


"Kau tahu?"


"Hm?" Gumam Milano memejamkan matanya menikmati belaian tangan Latizia ke rambutnya.


"Kau terlihat seperti anak kecil," Geli Latizia menurunkan tangannya dari rambut Milano yang ia sasak ke belakang.


Milano membuka matanya lalu meraba rambutnya yang sudah rapi tersasak kebelakang seperti bocah.


"Kau punya bakat merubah penampilan pria tampan."


"Pakai ini!"


Latizia membuka pita di rambutnya lalu memasangkan benda itu ke kepala Milano yang seketika pasrah.

__ADS_1


Tawa geli Latizia lolos kala melihat wajah tampan Milano yang ternistakan. Pesona pria itu tak berkurang bahkan lebih imut dan menggemaskan.


"Kau bawa ponsel?" Tanya Latizia menahan tawa.


"Kau ingin balas dendam?!" Sinis Milano ingin membuka pitanya tapi di cegat Latizia.


"Jika kau lepas, aku tak mau bicara denganmu!"


"Kau belum membujuk-ku. Kenapa kau yang.."


"Susst! Barbie jantan harus menurut, hm?" Geli Latizia mencubit pipi Milano yang tersenyum tipis tak kuat iman.


Ia memberikan ponselnya pada Latizia yang segera membuka kamera.


"Cisssss!!"


Latizia berpose memeggang rahang Milano yang bereskpresi seperti robot.


"Senyum! Bisa senyum?"


"Tidak bisa."


"Ya sudah, aku akan berfoto dengan Ninu saja," Kesal Latizia ingin pergi tapi Milano mengambil ponsel itu dan menarik Latizia jatuh ke pangkuannya.


"Ninu-mu akan wafat sebentar lagi!"


"Kauu ..."


Cekreek..


Satu foto diambil kala Milano tersenyum dan Latizia terkejut menatapnya.


"Kau bilang apa?"


"Lelaki sialan itu akan wafat!"


Mendengar kata lelaki yang Milano ucapkan dengan emosi membara, tentu saja Latizia tak bisa menahan tawanya lagi.


"Kau..kau bilang Ninu itu laki-laki?" Kekeh Latizia memeggangi perutnya


"Lalu?"


"Astaga, Milano! Jadi karena itu kau mengajakku perang dingin, ha?" Geli Latizia tak tahan membayangkan kekonyolan ini.


Wajah Milano datar. Ia menatap dingin Latizia yang masih berusaha mengendalikan diri itu-pun setiap menatap wajah Milano pasti perutnya akan tergelitik.


"Kau menganggap ucapan-ku lelucon?!"


"Bukan begitu. Tapi.."


"Akanku bunuh dia!" Geram Milano berdiri ingin pergi tapi Latizia meneriakinya.


"KAU CEMBURU PADA SEEKOR MERPATI!! APA KAU MASIH WARAS, HA??"


"M..merpati?" Gumam Milano bingung tapi sedetik kemudian ia langsung mengumpat.


"Merpati murahan milikmu itu?"


"Yah."


"Shitt!" Umpat Milano merasa sangat konyol. Kepalanya nyaris pecah memikirkan pemilik nama itu dan ternyata hanya seekor merpati.


"Ninu itu nama kesayangan-ku berikan."


"Nama kesayangan-ku apa?" Tanya Milano tak mau kalah dengan seekor merpati.


Mendengarnya saja Latizia geli. Tapi, jika tak ia katakan maka Milano akan memulai perang dunia ketiga karenanya.


"Kau tak punya nama kesayangan," Acuh Latizia berdiri membuat Milano mendidih.


"Aku tak ingin tahu. Jika dia punya maka aku juga harus punya! Kau.."


CUP...


"Pria brandal!" Sela Latizia setelah mengecup bibir Milano yang mematung kosong.


"Lain kali ajari aku main harmonika!!!"


Latizia berlari pergi karena sangat malu bukan main tapi, Milano perlahan meraba bibirnya lalu beralih ke bagian dada dimana jantung di dalam sana sedang maraton.


"Pria brandal," Gumam Milano mengigit bibir bawahnya gemas.


Tiba-tiba saja hatinya yang tadi gundah langsung berubah berbunga-bunga bahkan tak bisa dijabarkan bagaimana rasanya sekarang.


....

__ADS_1


Vote and like sayang


__ADS_2