
Setelah beradu mulut dengan Milano tadi, Latizia akhirnya keluar sendirian pergi ke toko khusus pakan hewan kerajaan yang tentunya tak akan sama dengan yang di jual di toko biasa.
Apalagi Ninu tak pernah di beri makan sembarangan. Latizia punya cara sendiri bahkan ia punya beberapa produk pilihan untuk menghidupi Ninu yang sudah seperti saudara baginya.
"Nona! Akhirnya kau datang lagi," Ucap seorang pria paruh baya yang berpakaian rapi menyambut Latizia.
Wanita itu memakai celana kulot jeans panjang dan kaos lengan pendek dibaluti kardigan. Latizia memakai masker dengan rambut terurai mengingat identitas pentingnya.
"Tuan! Bisa ambilkan aku satu kotak pakan Merpati kerajaan dan beberapa pembersih bulu unggas?!"
"Ouh, siap!" Jawab pria berambut gondrong itu segera mengambil pesanan Latizia di rak belakang.
Toko ini cukup ramai dan banyak di datangi oleh orang-orang kelas atas. Tapi, karna tak melihat wajah Latizia mereka jadi enggan menyapa.
"Ini, nona!"
Memberikan bungkusan plastik berisi produk pesanan. Latizia menyodorkan kartu gold ke tangan pria itu hingga dengan senyum ramah ia segera melakukan transaksi pembayaran.
"Sudah lama tak melihat, nona! Biasanya satu pekan selalu kesini."
"Ada kesibukan, Tuan! Mungkin akan sering berkunjung esok hari!" Jawab Latizia meladeni keramah-tamahan pria itu.
Setelah selesai berbelanja, Latizia keluar dari toko Brugandi. Ia berjalan dengan santai karna mengingat sudah lama tak keluar seperti ini.
"Udara di kota ini cukup baik. Hanya saja kurang bersih dari penjilat," Gumam Latizia yang melihat ada banyak pencopet di sekitarnya.
Disini tak asing lagi dengan tindakan kriminal. Karena desakan ekonomi dan gaya hidup elite membuat rakyat Madison tak peduli lagi soal norma. Apalagi, kerajaan juga tak peduli soal kriminal yang semakin tinggi ini. Asal kerajaan jaya dan mendapat keuntungan, siapapun korban tak akan di perhatikan.
Selama berkeliling di sekitar sini Latizia merasa di ikuti. Ia beberapa kali berhenti melirik ke belakang penuh waspada.
"Ada yang membuntutiku," Batin Latizia merasa terancam. Ia melihat situasi sekitar yang cukup ramai.
Tapi, ini sama sekali tak membantu. Di situasi apapun pasti penjahat akan tetap mengincarnya.
"Aku harus ke tempat pos keamanan," Gumam Latizia mengencangkan kardigannya dan berjalan sesantai mungkin seakan tak terjadi apapun.
Semakin Latizia menjawab, perasaan cemas itu kian meningkat. Latizia berusaha tenang keluar dari keramaian menuju area pos keamanan yang cukup jauh dari sini.
Saat situasi sepi dan cukup dekat dengan post yang ada di persimpangan jalan. Latizia mempercepat langkahnya.
"Permisi!" Panggil Latizia berdiri di tepi jalan.
Ia melihat ada satu aparat kepolisian yang tengah bertugas di dalam sana. Saat melihat Latizia ia membungkukkan tubuhnya di jendela kecil di depan.
"Nona? Ada masalah?"
__ADS_1
"Aku rasa ada yang mengikuti-ku dan rasanya tak nyaman. Bisa periksa sebentar?" Lirih Latizia tapi masih di dengar pria itu.
Petugas kepolisian ini melihat ke sekeliling. Ia diam sejenak menatap Latizia yang tak begitu ia kenal dengan masker itu.
"Bisa kau buka maskermu?"
"Aku rasa tak masalah menunjukan wajahku," Batin Latizia melihat kiri kanan lalu ingin membuka masker di wajahnya tapi.
"Hello, Sayang!"
Seseorang tiba-tiba merangkul pinggang Latizia mesra. Sosok gagah bermasker dan topi yang mengiring Latizia pergi.
"Lepass!!" Ketus Latizia berontak tak suka dipeggang seperti ini tapi pria itu semakin mengeratkan belitannya.
"Kauu.."
"Kau ingin mati secepat mungkin?!" Suara dingin seseorang yang sangat Latizia kenal. Ia mulai kesal langsung menarik turun masker di wajah sosok itu sampai langkahnya terhenti totol.
"Pria brandal. Apa yang kau lakukan disini? Dan.."
"Susst!!" Desis Milano membekap mulut Latizia dengan satu tangan dan memaksa wanita itu untuk berjalan beriringan dengannya.
"Milamm!!"
"Ada seseorang yang sedari tadi mengikuti-mu," Bisik Milano serius melepas bekapannya.
"Aku tahu. Itu karenanya aku bicara dengan aparat yang.."
"Nyatanya kau memang benar-benar depresi," Gumam Milano membuat Latizia emosi.
"Apa maksudmu, ha?! Aku bertindak benar dengan mendekati pos keamanan agar.."
"Agar kau dengan mudah di habisi?"
Sela Milano tenang dan santai. Latizia sungguh tak mengerti, ia berusaha mencerna semua yang Milano lakukan dan cukup membingungkan untuknya.
"Aku..aku tak mengerti."
"Kau pikir setelah merusak wajah putri kerajaan besar kau bisa di lepaskan begitu saja?"
"Jadi..."
Milano mengangguk. Latizia langsung syok terhenti berjalan dan menatap kebelakang dimana tak ada lagi rasa was-was yang tadi menghantuinya. Ntahlah, kedatangan Milano seperti mengusir ancaman itu kilat.
"Tapi, mereka itu ..."
__ADS_1
"Pengaruh kerajaannya cukup besar. Tak ada yang bisa di percaya di sini," Jawab Milano masih berjalan meninggalkan Latizia yang menghembuskan nafas lega.
Pantas pria tadi memintanya melepas masker. Jika Milano tak datang tepat waktu mungkin ia akan tewas di tempat.
"Untung saja dia cepat datang," Gumam Latizia berjalan kembali mengejar Milano yang tak begitu jauh karna pria itu memelankan langkahnya dengan niat yang sudah pasti menunggu Latizia.
"Dari mana kau tahu jika aparat di negara ini tak bisa di percaya?! Dan lagi, orang-orang itu apa memang ingin membunuhku?"
"Menurutmu?" Tanya Milano menaikan satu alisnya penuh arti.
Latizia seketika paham. Yang di katakan Milano ada benarnya juga. Putri Veronica merupakan putri tunggal di kerajaan Sauveron. Pasti orang-orangnya tak akan tinggal diam dan membalas dendam.
Belum lagi situasi kerajaan Madison yang tak tahu salah atau benar. Selagi ada uang disini akan berjalan dengan lancar.
"Lalu, untuk apa kau kesini?"
"Tersesat," Jawab Milano tapi itu bukan alasan yang tepat. Latizia yang mendengarnya-pun masa bodoh cukup tahu saja sisi misterius Milano yang menyebalkan.
Di sepanjang perjalanan Latizia diam. Milano tahu Latizia masih memikirkan soal pembunuh dan masalah yang ada di kerajaan.
"Aku rasa jika berjalan kaki kita tak akan sampai."
"Aa?" Tanya Latizia yang tadi kurang fokus. Milano tak lagi mengulang perkataanya.
Saat melihat restoran yang ada di dekat sini, ia langsung menarik lengan Latizia ke sana bahkan tanpa meminta persetujuan dari wanita itu.
"Aku lapar! Temani makan!"
"Cih," Decih Latizia akhirnya menurut masuk ke dalam resto. Tempat ini tak begitu ramai jadi keduanya nyaman untuk makan.
Latizia di suruh memesan oleh Milano yang pergi menepi sebentar. Ia memeriksa ponselnya yang menerima panggilan dari Darren.
"Katakan!"
"Prince! Mereka sudah di bawa ke ruang gelap. Semuanya berjumlah 5 orang dan membawa senjata tajam."
Suara Darren yang tadi Milano perintahkan untuk mengurus orang-orang suruhan untuk membunuh Latizia.
"Aku ingin kau selalu bereskan pengerat kotor itu. Awasi selalu pergerakannya!" Titah Milano dengan raut wajah berubah mengerikan. Ia tak pernah menunjukan sisi gelapnya pada Latizia karna Milano tahu, wanita itu tak akan siap melihat darah dan mayat bertebaran.
Milano sudah menguji saat mayat pelayan di kamar itu saja sudah membuat Latizia gemetar.
"Pria brandal! Cepatlah kesini atau akan-ku habiskan semuanya!!"
Suara Latizia terdengar kesal dari arah meja mereka yang tersudut. Milano segera mematikan panggilan lalu mendekat dengan wajah tanpa ekspresi tapi sangat menyebalkan bagi Latizia yang cemberut masam.
__ADS_1
...
Vote and like sayang..