GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Darren kesepian


__ADS_3

Pagi ini adalah momen dimana pemilihan gaun pengantin. Franck tampak bersemangat menunjukan berbagai model gaun pada Iriszen yang duduk di kursi ruang tamu tersenyum-senyum melihat semangat Franck.


"Yang ini bagus. Bagian dadanya tertutup. Tapi yang ini..emm.."


Franck menimbang-nimbang dua gaun yang ada di tangannya. Ia berdiri di hadapan Iriszen yang hanya diam melihat kekonyolan pria ini sama sekali tak berubah.


Dua perancang gaun yang ada di belakang Franck hanya diam. Mereka senang melihat semangat calon pengantin ini.


Tapi, seharusnya yang hadir tak hanya Iriszen. Besok mereka akan menikah dan Latizia juga, apa kabar dengan pasangan itu?!


"Brandaaal!!!"


Suara Latizia mengguncang istana. Gema keajaiban yang mampu menghentikan Franck dan sudah menjadi suara alarm bahaya bagi Milano di istana ini.


"Itu suara putri Latizia, bukan?" Cemas Iriszen berdiri.


Tapi, bukannya ikut panik Franck justru sangat tenang. Wajahnya seperti mengungkapkan keterbiasaan atau sesuatu yang sudah lumrah.


"Franck! Mungkin putri membutuhkan bantuan. Dia.."


"Sudahlah. Mereka sudah biasa seperti itu," Gumam Franck menenagkan Iriszen yang tak mengerti.


Franck kembali mendudukan Iriszen seraya melanjutkan pemilihan gaunnya. Tak berselang lama, munculah Latizia dari pintu masuk ruang tamu dengan nafas memburu dan wajah merah karna marah.


"Kak Franck! Dimana adikmu?"


"Kalau dia pergi tak ada siapapun yang tahu persembunyiannya, Latizia!" Jawab Franck memandang santai adik iparnya itu.


Latizia semakin di buat mendidih. Ia memakai terusan simpel dengan kedua lengan panjang yang di gulung ke atas. Penampilan Latizia sangat cantik tapi jauh dari kata feminim, ia sudah seperti ibu-ibu yang tengah memarahi anaknya.


"Franck! Aku akan menemani putri untuk.."


"Jangan bertanya padanya," Sela Franck memelas. Baik Iriszen atau dua perancang busana di belakang sana juga saling pandang bingung.


"Kenapa?"


"Jika kau ingin selamat, jangan bertanya pada adik ipar," Mohon Franck tapi Iriszen tak peduli.


Ia mendekati Latizia yang masih menggebu-gebu seperti ingin menelan Milano hidup-hidup.


"Putri! Apa yang terjadi? Kau.."


"Brandal itu!!! Dia menculik putraku dan mengirim pesan singkat mengancam Ninu. Dia pikir dia siapa??!" Omel Latizia terlihat sangat kesal.


PILIH MERPATI KURUS ITU ATAU BABY. Pesan ancaman Milano pagi ini.


"Ninu? Ninu itu.."


"Kakak ipar!! Bagaimana jika keluargamu ingin di singkirkan?! Kau marah-kan? Pasti kau sangat kesal, bukan?" Tanya Latizia menggebu-gebu.


Di pikiran Iriszen, Ninu yang Latizia panggil dengan cemas dan penuh kepedulian adalah salah satu keluarga kerajaan.


"Tentu saja, putri! Mau bagaimana-pun dia keluarga kita."


"Benarkan?! Aku sangat kesal. Dia bangun pagi-pagi sekali dan bahkan membawa putraku. Dia ingin membuat baby Arch membenci pamannya, dia memang sangat menyebalkaan!!"


Franck menepuk jidat melihat Latizia yang mempengaruhi otak calon istrinya.


"Pasangan tak bermoral ini selalu saja membuat keributan," Umpatnya seraya memberikan dua gaun ke para perancang busana itu.


Franck berjalan mendekati Iriszen yang tampak serius menanggapi amarah Latizia.


"Putri! Aku akan membantumu."

__ADS_1


"Sudahlah. Kau tak perlu ikut campur urusan mereka," Bisik Franck masih kesal pada Latizia soal semalam.


Ia tak bisa memarahi ibu negara ini karena akan kalah telak. Mulut Latizia lebih lancip bahkan ada Elang Madison yang menjadi tamengnya.


"Maksudmu apa?! Putri Latizia adik iparmu dan dia.."


"Masalahnya, mereka itu tak normal. Jangan ikut-ikutan," Bisik Franck pelan agar tak bisa di dengar oleh Latizia.


Jika wanita itu tahu, maka ia akan ikut terlibat dalam perang dua manusia aneh ini.


Iriszen yang kebingungan hanya bisa diam. Latizia kembali keluar dari ruang tamu. Iriszen yang tak tenang segera mengikutinya dan mau tak mau Franck ikut terlibat.


"Aku yakin dia masih di sekitar istana. Jika ku temukan, lihat saja apa yang terjadi," Geram Latizia keluar dari istana utama.


Para pelayan yang melihat Latizia dalam keadaan marah hanya bisa tersenyum. Ntah apalagi yang di perbuat prince-nya sampai wanita cantik itu selalu mengguncang istana?!


"Brandaaal!!! Kau jangan coba-coba bersembunyi!!"


Latizia pergi ke paviliun belakang. Para prajurit yang melihat hanya menunduk sudah biasa dengan ini.


"Nona!"


Tiba-tiba saja Darren mencegat langkah Latizia untuk pergi ke area belakang. Ia masih berdiri di samping jalan setapak istana.


"Dimana tuanmu?" Geram Latizia menatap tajam Darren.


"A..itu, prince sedang ada di perusahaan. Dia.."


"Omong kosong," Sela Latizia mendorong Darren menyingkir dari jalannya.


Ia bergegas pergi ke area labirin di dekat paviliun yang mempunyai area luas. Setibanya di sana baik Latizia atau Iriszen di kejutkan dengan pemandangan mengerikan.


Milano berdiri berjongkok di hadapan seekor singa besar dan dengan gilanya ia menaikan baby Arch yang tampak senang menarik-narik rambut lebat hewan buas itu.


Baby Arch tak di bedong memakai celana dan baju bayi.


Keduanya tak sadar jika Latizia sudah berjalan ke sini dengan langkah besar.


"Dan satu lagi. Jika kau melepaskan ibumu besok malam, aku berjanji akan memberikan Leon padamu. Deal?"


Baby Arch langsung menatap tajam Milano yang memanfaatkan situasi. Tahu jika putranya menolak, Milano tak pernah mau kalah.


"Tak hanya Leon. Kau juga akan mendapatkan Galaksi, dia.."


"Disini kau rupanya!" Suara geram Latizia langsung menjewer telinga Milano yang tersentak.


Baby Arch menyeringai licik. Manik coklat pekat bening miliknya terlihat puas memandangi sang ayah yang harus menghadapi kemarahan singa betina.


"Latizia!!"


"Apa?! Masih berani kau menyebut namaku!" Kesal Latizia beralih mencubit bagian dada Milano yang pasrah. Menolak-pun ia justru akan kehilangan kesempatan besok malam.


Setelah mencubit dengan sangat pahit, Latizia mengambil alih baby Arch di atas punggung Leon.


Di mata Latizia, hewan buas ini masih saja sangar dengan wajah menyeramkan.


"Kau masih sehat meletakan bayi kita di atas singa??"


"Dia suka. Aku bisa apa?!" Jawab Milano santai seraya mengusap dadanya yang terasa nyeri di cubit Latizia.


Telinga Milano sebelah kanan merah. Walau bagi Milano itu bukan apa-apa tapi tetap saja, saat bersama Latizia ia akan jadi pria paling manja, pencemburu, menyebalkan bahkan komplit.


"Walau-pun Leon itu patuh tapi, baby masih kecil. Jangan biarkan dia me.."

__ADS_1


"Lalu, apa kau ingin mengenalkan putraku pada Merpati kurusmu itu?!" Sarkas Milano dengan sorot mata tak suka.


Dari semalam mereka berdebat soal Ninu dan Milano pasti tak akan mau kalah.


"Namanya NINU! Dia bukan merpati sembarangan. Dia baik dan.."


"Leon dan Galaksi tak kalah baik. Bahkan, lebih pantas menjadi paman dan bibi bagi putraku!"


Keduanya masih bertengkar sampai-sampai baby Arch jengah. Ia justru lebih fokus pada kedua mata emas Leon yang juga memandangnya dalam.


Baby Arch seakan mengatakan untuk mengaum keras menghentikan peperangan kedua orang tuanya.


"Aku membencimu!!! Aku bencii!!"


"Aku tidak!"


"Kauu.."


Tiba-tiba Leon mengaum keras mengejutkan Latizia yang sontak langsung mendekap Milano yang juga memeluknya penuh penjagaan.


"M..milano!"


Wajahnya pucat masih menggendong baby Arch yang justru tertawa menyukai itu.


"Leon!" Tekan Milano dengan sorot mata tajam membunuh.


Leon menciut mundur satu langkah. Senyuman lebar baby Arch membuat Milano menoleh.


Seketika ia paham, siapa yang sudah berani memerintah bawahannya sekarang?!


"A..ada apa dengan Leon? Dia.."


"Tak perlu takut. Dia di bawah perintah iblis kecil ini!" Jawab Milano mengusap kepala Latizia yang menoleh pada baby Arch.


Tatapan bayi tampan itu berubah polos dan lugu seakan-akan ia tak melakukan apapun.


"Baby?"


Baby Arch melebarkan senyuman menampakan gusi merah yang menggemaskan. Latizia tak bisa marah, ia justru menghujami wajah baby Arch dengan kecupan kasih sayang.


"Mulai nakal seperti ayahmu, hm?!"


"Keturunanku tentu harus nakal," Goda Milano mendapat pukulan telak dari Latizia di area dadanya.


Alhasil, Latizia tak jadi marah. Ia seakan melupakan kekesalannya dan bermain dengan Leon di dampingi Milano yang selalu ada untuk mereka.


Iriszen yang tertegun seketika di sadarkan Franck melalui tepukan lembut di bahu.


"Pemandangan seperti ini sudah biasa. Milano dan Latizia memang suka bertengkar akan hal-hal konyol tapi cinta mereka kuat. Begitulah cara mereka mengekspresikan kasih sayang masing-masing."


"Mereka sangat manis," Gumam Iriszen tersenyum kagum melihat Milano yang berubah total.


Saat bertemu pertama kali di restoran itu, ia melihat sosok kekar dan mempesona yang penuh intimidasi. Seakan-akan siapapun yang melihatnya akan merasa terancam hebat bahkan bisa mati di tempat.


Tapi, hari ini ia melihat jika Milano punya banyak posisi. Jika sebagai prince dia akan jadi mendominasi bahkan tak bisa di singgung, berbeda kala ia sudah menjadi suami sekaligus ayah bagi anaknya.


"Kelak kita akan menyaingi mereka. Jangan iri!"


"S..siapa yang iri?!" Malu Iriszen menutupi wajahnya dengan kedua tangan kala Franck menyeletuk tanpa segan.


Darren yang masih ada di belakang mereka seketika mendengus. Biasanya Franck-lah yang menemaninya melihat kemesraan Milano dan Latizia tapi sekarang..


"Nasibku sangat tak beruntung," Gumam Darren segera menarik diri pergi. Jika di sini terus ia akan mati mendadak karena terlalu kesepian.

__ADS_1


Vote and like sayang..


Besok tamat ya say. Satu bab lagi ya😊


__ADS_2