GAME LOVE

GAME LOVE
bab 20 ancaman tuk Lili


__ADS_3

Lili yang kini tengah terduduk di tempat tidurnya hanya memandang ke luar jendela, dimana ada pemandangan yang indah disana, lautan lepas yang begitu indah dengan gulungan ombak yang menghantam dan pecah karena menerjang karang yang kokoh.


Meskipun ada pasang mata yang dingin tajam menusuk terarah kepadanya. Namun ia tetap santai menyaksikan ombak yang berkejar kejaran.


" Sudah, hentikan syuting konyol ini, lihatkan hasilnya, hanya akan melukai dirimu sendiri. Biar semua aku yang urus, untuk kali ini aku tak mau debat denganmu, dan tak mau ada bantahan darimu."


Reza mencondongkan tubuhnya ke arah wajah Lili hingga jarak mereka begitu dekat, hanya beberapa inchi saja.


Namun Lili tetap terdiam, meskipun tatapan mereka kini saling beradu, bukan tatapan yang penuh kasih melainkan tatapan penuh dengan tantangan. Senyum sinis terukir dari bibir gadis itu.


" Bagaimana caramu membereskan masalah ini, yang mereka mau adalah aku, bukan yang lain."


Jarak mereka semakin dekat, bahkan mereka bisa merasakan hangatnya hembusan nafas masing masing.


" Apa pun akan aku lakukan, asal kau tetap aman, tak terusik oleh apa pun."


Reza semakin mendekatkan wajahnya, bahkan dikit saja kening mereka saling beradu.


Lili terdiam dan hanya memejamkan matanya.


Hatinya terasa sakit sekarang, entah karena apa, sekilas hadir kembali di memori otaknya bagaimana kejadian semalam, dan ucapan yang ia dengar menggema di pikirannya, membuatnya merasakan sakit yang amat dalam.


" Pergi dari kamarku sekarang!"


Ucapnya pelan namun penuh penekanan.


Karena Reza tak beranjak juga dari tempatnya, Lili pun membuka matanya dan mendorong tubuh Reza menjauh darinya.


" Jangan berpikir karena kamu menyelamatkan aku, maka ku bisa baik sama kamu, pergi dari hadapanku sekarang, urusi saja kekasih hatimu, dia yang butuh kamu bukan aku."


Lili melirik sekilas ke arah Reza yang sudah bangkit dari duduknya. Kemudian ia merebahkan tubuhnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut setelah tadi pakaiannya sempat ganti di kamar mandi, Reza hanya bisa membuang nafas kasar. Lalu berjalan keluar kamar Lili.


Setelah terdengar pintu kamarnya terbuka dan tertutup, Lili pun membuka selimutnya. Lalu perlahan turun dari tempat tidurnya.


Dengan tertatih menahan rasa sakit kakinya ia melangkah ke balkon kamarnya. Semilir angin menerpa tubuhnya, menampar lembut wajah dan melambaikan anak rambutnya yang tergerai indah tertimpa cahaya senja.


Nampak warna jingga menghiasi cakrawala yang membentang luas, Sang Surya kini akan kembali ke peraduannya. Begitu indah senja hari ini di mata Lili yang melihat mentari tenggelam tertelan lautan.


Sekilas senyuman tipis terbit di wajahnya, saat ia melihat seorang pria bertelanjang dada asyik bermain selancar.

__ADS_1


Ketampanannya memang tak diragukan lagi, bahkan semua cewek kampus sangat menggilainya, tapi bagi Lili dia hanya tak lebih dari sekedar sahabat terbaiknya, meski ia tau pria ini sangat tulus padanya.


Lili pun melambaikan tangannya saat pria itu melambaikan tangannya pada Lili. Dan di sudut lain, gadis itu bisa melihat tatapan tajam yang mengarah kepadanya. Namun Lili tak menghiraukan tatapan itu dan berpaling ke arah Jay berada yang sibuk dengan aktifitasnya bermain dengan ombak yang menggulungnya.


Iya, tatapan itu datang dari seorang Abymana yang duduk santai di tepi kolam renang, yang ditemani oleh Salsa tentunya. Mereka cukup tak tahu malu untuk tak menunjukkan kemesraan mereka di depan orang lain. Membuat Lili jengah dan membuang pandangannya.


"Kau pikir aku akan cemburu atau terluka, kau salah besar Tuan Aby, aku tak selemah itu."


Bisiknya yang tersapu oleh angin lalu.


" Lili, cepat atau lambat kamu pasti akan berlutut padaku dan memintaku untuk menikahimu, tunggu saja sayang, permainan baru kita mulai."


Nampak senyuman penuh arti dari bibir seorang Abymana yang memandang Lili dari tempatnya saat ini.


Villa ini hanya dihuni oleh Aby, Salsa, Lili, Jay, Reza, Alin dan asisten asisten mereka. Sedangkan semua anggota kru menempati Villa di sebelahnya.


Mata Lili kini di manjakan dengan pemandangan yang indah di depan matanya.


Nampak Reza sedang berjalan jalan dengan Alin menyusuri tepian pantai.


Sesekali mereka tertawa lepas, nampak kebahagiaan terlihat jelas di wajah mereka.


Buliran bening pun mengalir dari mata indahnya, hatinya terasa sakit, sungguh ia tak berdaya dengan semua kenyataan yang harus dihadapinya nanti. Dadanya terasa sesak saat membayangkan harus jauh dari dari orang orang yang sangat dia cintai.


"Maafkan Lili Ma, Pa, Reza dan Alin, setelah ini aku akan menyakiti hati kalian, meski itu tak ku inginkan."


Air mata terus membasahi pipinya, dan ia biarkan air mata itu terjun bebas jatuh ke pergelangan tangannya yg kini menopang di pagar balkon.


" Drrtt,, drrtt,, drrttt"


getaran ponsel Lili yang berada di sofa. Ia pun segera berjalan mengambil ponsel itu lalu menerima sambungan tlp dari seberang.


"Hallo,,," jawabnya.


"Kau masih ingat dengan perjanjian kita, dan ingat nasib keluargamu ada di tanganku, aku bisa menghancurkannya setiap saat."


Suara bariton terdengar dari seberang, yang terdengar sangat tegas dan arogant.


"Bukankah ia juga putramu?"

__ADS_1


" Ha,,, ha,,, ha,,, jika aku tak dapatkan yang kuinginkan, akupun tak segan menghancurkannya, meskipun ia putraku, apa lagi kau dan keluargamu,,,"


Sambungan tlp pun terputus, menyisakan Lili yang geram dan meremas ponselnya.


"Aku tak akan membiarkan kau menyakiti orang orang yang kucintai."


Lili pun memandang ke arah Alin dan Reza yang kini tengah berjalan kembali ke arah Villa, diikuti Jay di belakang mereka yang tersenyum dan melambaikan tangannya pada Lili.


Gadis itu pun tersenyum dan melambaikan tangannya pada Jay.


"Maaf Jay, jika aku harus memanfaatkan kebaikanmu,,,,"


Reza dan Alin hanya saling pandang melihat sikap Lili yang berubah ubah terhadap Jay.


"Bos, semua sudah siap."


Tiba tiba Vino datang menghampiri Reza dan Alin.


Reza hanya mengangguk, lalu menatap ke arah Lili yang kini menatap ke arah laut lepas.


" Alin kau pergi dulu dengan Vino, aku masih ada urusan,"


Alin yang ingin membantah ucapan Reza pun mengurungkan niatnya karena melihat raut wajah Reza yang nampak menahan marahnya.


" Baiklah aku pergi dengan Vino, tapi jangan terlalu lama aku sudah lapar."


"Vino sudah menyiapkan semuanya, kamu bole makan dulu kalau sudah lapar, tak perlu menunggu kami."


Mendengar itu Alin pun cemberut," nggak peka banget jadi cowok."


lalu berlalu pergi meninggalkan Reza yang masih terpaku mencerna ucapan Alin.


Lili yang masih memandang lautan lepas, meski kini angin semakin kencang menerpa tubuhnya, tanpa disadarinya ada tangan yang membekapnya, meskipun ia pandai ilmu bela diri, namun efek obat bius yang tinggi akhirnya ia pun terkulai dalam hitungan detik saja.


Segera pria itu mengangkat tubuh Lili dan membawanya ke dalam kamar Lili.


Apa yang akan terjadi? Siapa pria itu?


bersambung🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Terima kasih ku ucapkan tuk semua yang telah memberikan rate, fav, like, komen, vote n hadiah nya,, moga Allah membalas dengan pahala yg berlipat ganda, amiinn🤲🤗


__ADS_2